Saturday, February 11, 2017

Why I Write?

gambar: discardedimage.com
Serius. Terkadang pertanyaan di atas masih sering terngiang di pikiran gue. Meskipun untuk saat ini gue sudah mengantongi satu jawaban, tapi pertanyaan itu masih kerap muncul. 

Kenapa, sih, gue harus nulis? Kenapa seseorang itu harus nulis? Bahkan saat gue menulis ini, gue search di Google dengan keyword, “kenapa kita harus menulis?” Nulisception.

Berdasarkan beberapa artikel yang gue baca, terdapat alasan-alasan yang masuk akal yang digunakan sebagai dasaran untuk menulis. Tapi tidak dari semua alasan itu cocok menjadi alasan gue untuk menulis. Sebagai contoh, terdapat alasan “untuk merekam sejarah”, seperti tulisan yang dibuat saat ini, kelak akan dibaca anak cucu kita dan mereka akan belajar dari karya nyata ayah atau kakeknya. Bahkan, masa depan kita bisa bangga terhadap diri kita yang sekarang karena tulisan-tulisan kita saat ini.

Ya, kalau tulisannya bermanfaat dan berfaedah. Lah, kalau tulisannya macam ini? Mungkin anak gue berpikir dia dilahirkan dengan ayah yang salah...

Salah satu teman berkata, “menurut gue, nulis itu sebagai self healing aja, sih.” Gue agak setuju.

Menulis sebagai self healing... Emang terkadang saat gue menulis, ya, gue ngerasa enjoy. Mungkin saat orang lain melihat gue sedang serius menatap layar laptop, tapi percayalah tangan gue gak berhenti untuk menekan keyboard mengikuti apa yang otak gue perintahkan. Dan, ya, rasanya seperti ada beban yang terangkat. Tapi ternyata jawaban dan perasaan itu belum cukup jadi alasan kenapa gue menulis dan terus menulis.

Throwback sejenak ketika pertama kali gue memutuskan untuk menulis dan langsung membuat blog. Gue bukan berasal dari keluarga yang gemar baca, bahkan gue sendiri sedari kecil gak suka dengan dunia tulis menulis. Baru pada tahun 2013, waktu dimana gue suka banget sama setiap karya dari Raditya Dika, mulai dari buku sampai filmnya. Setelah membaca semuanya, secara tiba-tiba muncul hasrat untuk menulis seperti yang Radit. Maka dari itu isi dari blog gue mostly adalah personal life gue dengan gaya yang Radit-banget istilahnya.

Saat itu tulisan gue bener-bener apa adanya. Apa yang gue pikirkan, gue tuangin dalam bentuk tulisan untuk kemudian dengan pedenya gue post dan gue share tanpa ada pikiran lain. Sederhananya, waktu itu gue nulis untuk iseng dan ikut-ikutan doang. Bermodal pede dan nekat.

Tahun itu, gue memposting 33 kali di blog. Belum termasuk tulisan yang masih dalam bentuk draft di blogger dan yang terlupakan di drive laptop. Sampai ketika di beberapa tulisan terdapat komentar yang menunjukkan kesukaannya terhadap apa yang gue tulis. Semakin banyak komentar itu, semakin membuat gue terus ingin menulis.

Ternyata jawabannya sederhana, gue bukannya suka menulis. Gue suka bikin orang bahagia. Gue suka membuat orang tersenyum atau membuat harinya kembali baik setelah diterpa banyak masalah. Dalam kasus gue, yaitu dengan membaca tulisan yang gue buat.

Apresiasi atau feedback yang gue dapat membuat gue terus membenahi cara menulis gue. Awalnya gue menulis dengan asal-asalan. Tulis. Share. Sekarang gue bahkan harus melalui proses editing kurang lebih tiga kali untuk setiap post hanya untuk memastikan bahwa tulisan gue nyaman untuk dibaca. Memikirkan jokes seperti apa yang akan gue gunakan, meskipun lebih sering garing, tapi tujuan gue tetap sama; membuat pembaca tertawa. Ya, seenggaknya senyumlah. Kalau masih engga, ya, nanti kalau baca tulisan gue senyum aja udah, apresiasi kecil-kecilan gitu.

Setiap orang punya alasan menulisnya masing-masing. Bahkan gue yakin, ada jutaan penulis di luar sana yang punya alasan yang sama dengan gue. Jadikan setiap alasan itu sebagai batu loncatan untuk terus menulis. Juga sebagai reminder kenapa lo nulis disaat mungkin nantinya lelah karena terus menulis. Dan buat kalian yang mau menulis tapi belum berani memulai, temukan alasan itu dan jangan ragu tuk memulai. Semakin lama memulai, maka sama artinya menunda satu tulisan luar biasa yang siapa tau bakal bermanfaat bagi banyak orang.

Anjay.

Wednesday, February 1, 2017

Nyimeng

sekedar ilustrasi, mereka gak sekeren ini kok
Setelah dinasti Emak yang udah gue ceritain di postingan sebelumnya (bisa dibaca di sini), tinggal satu ekor kucing lagi yang tinggal di rumah gue. Sialnya, kucing ini betina dan feeling gue dia akan meneruskan jejak ibunya untuk terus beranak di sini.

Kucing ini tanpa nama. Jadi kalau manggil dia hanya dengan sebutan paling sederhana yaitu, “Meng, sini meng, makan.” Meng, itu diambil dari suara kucing mengeong dan berdasarkan pendengaran nyokap. Gue sih ngikut aja.

Beberapa lama kemudian hal yang dikhawatirkan nyokap kejadian juga. Kucing betina ini melahirkan 3 ekor anak kucing yang lucu. Awalnya nyokap kesel juga, tapi setelah liat anak-anaknya, nyokap agak lega. Dikarenakan ketiga anaknya jantan semua! Ya! Untuk pertama kali dari beberapa kelahiran kucing di rumah ini, anak yang lahir berjenis kelamin jantan semua! Di situ gue berpikir bahwa mereka adalah generasi terakhir kucing turunan Emak di rumah.

Semenjak itu pula kucing betina di rumah gue resmi mendapat nama sama seperti ibunya, Emak.

Meskipun punya nama sama, ternyata kelakuan Emak yang sekarang dengan Emak yang dulu sangat berbeda. Emak yang sekarang lebih penyayang sama anak-anaknya (bahkan sampai Emak mati). Dan sisi baiknya adalah, Emak yang sekarang hanya satu kali hamil! Beda banget sama Emak yang dulu yang setiap pulang ke rumah, perutnya selalu berisi janin bayi.

Semakin hari, nyokap juga semakin peduli juga sama kucing-kucing ini. Saat lagi lucu-lucunya, nyokap sering ngajak bercanda di teras depan rumah. Nyokap rajin ngasih makan mereka bukan hanya dengan tulang, melainkan nasi dicampur ikan dan nungguin mereka makan sampai habis. 

Nyokap juga memutuskan untuk memberi mereka nama, dan nama yang dipilih nyokap adalah... Nyimeng.

Bukan, bukan berarti nyokap gue gak tau arti sesungguhnya dari kata itu. Tapi nyokap cuma nyari nama paling sederhana seperti yang udah gue bilang di atas. Pada awalnya gue juga mempertanyakan nama pemberian nyokap. Tapi pembelaan nyokap demikian, “Itu cuma panggilan keluarga doang kok, lagian nggak akan dibawa kemana-mana juga.” Saat itu gue hanya bisa mengangguk dan gak tahu ke depannya ada kejadian apa..

Karena nama Nyimeng hanya untuk satu kucing, sedangkan anak kucingnya ada tiga, maka nyokap menambahkan panggilan berdasarkan ciri fisik ketiga anak kucing itu di belakang nama Nyimeng. Contohnya ada satu yang ekornya pendek, nyokap panggil Nyimeng Ekor Pendek. Begitu pula dengan dua saudaranya yang lain harus jadi ‘korban’ pemberian nama nyokap. Sehingga nama ‘resmi’ ketiganya ialah, Nyimeng Ekor Pendek, Nyimeng Ekor Panjang dan Nyimeng Banyak Belang. Sungguh bervaedah.

Sejak saat itu gue mulai manggil mereka sesuai nama yang nyokap berikan. Dan memang ini cuma panggilan dari keluarga ini doang, jadi gue ngerasa gak ada masalah dengan nama itu walau gue selalu punya perasaan aneh tiap gue manggil mereka dengan nama itu. Kasian aja sih. Mungkin mereka senang dipanggil Nyimeng, tapi kalau mereka tahu arti sesungguhnya dari kata itu, mungkin mereka akan menyesal dilahirkan sebagai kucing dan berpikir kenapa orang tua mereka bukan anjing aja.

Sampai ketika ada satu kejadian yang membuat gue sadar betapa pentingnya sebuah nama, bahkan untuk hewan sekalipun.

Gue baru pulang dari tanah rantau dan menemukan Ekor Pendek dalam kondisi mengenaskan. Dia kayak kena infeksi yang kata bokap gue, dia masuk ke selokan. Jalannya pincang, mukanya berantakan, badannya kurus dan dia terkena diare parah. Sehingga nyokap meminta gue untuk ngebawa dia ke klinik hewan.

Keesokan harinya gue bawa Ekor Pendek ke klinik. Sesampainya di sana, ada satu perawat dan satu penjaga yang menunggu. Kemudian gue disuruh masuk ke ruang periksa dan ditanya soal kondisi Ekor Pendek dan gue hanya menjelaskan apa yang gue pahami. Semua berjalan lancar sampai si perawat berkata, “Baik, mas. Sekarang diisi datanya dulu, ya. Nama kucingnya siapa?”

Mampus. Gue diem agak lama. Perawatnya masih ngeliatin gue, nunggu jawaban. Dengan ragu-ragu gue bilang, “Nyimeng, mas.”

Dia masih diem ngeliatin gue. Gue ulangi sekali lagi, “Ehm.. Nyimeng, mas. Namanya.. Nyimeng.”

Dia ngakak. Gue mau ngambil suntikan dan ngebius dia.

“Sekarang kondisi dia kayaknya sesuai sama nama dia yah.” Kata perawat itu karena ngeliat kondisi Ekor Pendek yang kalau jalan pincang seakan abis nyimeng beneran.

“He he he, iya mas.” Jawab gue sambil ketawa canggung. Berharap percakapan ini gak dilanjutin lagi. Atau beneran gue bius dia.

Dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya gue jawab dengan sangat tidak baik. Karena emang gue kurang tau banyak dengan kondisi kucing-kucing di rumah. 

Mulai dari pertanyaan, “Umurnya berapa?” yang gue jawab, “Kurang tau mas, pokoknya udah cukup umur buat ngehamilin kucing lain aja.”

Sampai, “Ini sakitnya dari kapan?”

“Dari saya sampai rumah udah begini mas,” sumpah gue udah gak fokus.

Karena dokternya lagi gak ada di tempat, jadi Ekor Pendek disarankan untuk ditinggal sehari di sana dan nanti pihak kliniknya ngehubungin gue lagi. Dan apa yang dia bicarakan selanjutnya hanya gue iyakan karena gue mau secepatnya pergi dari sana.

Dari situ gue berpikir bahwa nama adalah sesuatu yang penting. Meskipun pada awalnya hanya untuk satu keluarga aja yang tahu, tapi kita gak akan tahu apa yang akan terjadi ke depan. Seperti kejadian Nyimeng Ekor Pendek satu ini. Tahu gitu gue kasih nama Joni kayak dulu.

Beberapa bulan setelah di bawa ke klinik, kondisi Ekor Pendek berangsur membaik. Sebelumnya dia benar-benar gak bisa keluar rumah, tapi nyokap dengan sabar ngerawat dia dengan memberi obat yang dikasih dari klinik. Sekarang dia udah bisa kembali jalan-jalan dan badannya terlihat lebih sehat. Walaupun jalannnya masih sedikit pincang. Sedangkan dua saudaranya yang lain udah jarang pulang ke rumah. Mereka lebih memilih merantau entah kemana tapi terkadang mereka juga sempat untuk pulang.

Gue yang di awal berpikir bahwa generasi tiga kucing jantan ini adalah generasi kucing terakhir di rumah gue, harus mengubur dalam-dalam pikiran itu ketika di suatu sore nyokap menghampiri gue dan berkata, “A, kamu bisa naik ke atas gak? Tolong turunin kucing. Udah beberapa hari dia di atas sana.”

Gue diem sejenak. Kemudian gue tanya, “Kucing siapa, Mah?”

“Pacarnya Ekor Pendek. Udah beberapa hari ini di rumah.”

Mampus. Gue gak tahu dia cerita apa tentang kondisinya ke kucing betina lain sampai kucing itu bisa tertarik sama Ekor Pendek. Mungkin dia cerita kalau jalannya yang pincang itu akibat berantem sama kucing lain dan ia terlihat jantan. Andai betina itu tahu cerita aslinya, mungkin kondisi sekarang akan sedikit berbeda.

Gue emang gak banyak tahu kondisi kucing-kucing di rumah karena gue harus merantau. Dan ketika gue pulang ke rumah, selalu ada hal baru yang gue lihat terutama dari perkembangan kucing-kucing ini.

Dan sekali lagi, pikiran gue bahwa tiga saudara ini adalah generasi terakhir kucing di rumah harus benar-benar kandas, ketika pada suatu sore, gue diperintahkan untuk memasukan mobil ke dalam garasi dan gue mendengar suara anak kucing. Ya, anak kucing. Dia anak-anak. Dan dia kucing. Damn.

Gue memasukan mobil dengan hati-hati, takut anak kucing itu ada di teras. Setelah mobil terparkir sempurna, gue cari sumber suara yang sudah menganggu fokus gue tadi. Dan benar saja, gue menemukan satu anak kucing di bagian samping rumah. Gue tepok jidat dan kisah tentang generasi kucing di rumah ini nampaknya tidak akan berakhir dengan cepat.

kerjaan Ekor Pendek tiap hari


Friday, January 13, 2017

Emak

Kucing merupakan hewan peliharan yang lucu, menggemaskan dan (terkadang) ngeselin. Gue juga suka kucing, tapi keluarga gue bukan tipe keluarga yang suka memelihara binatang, terutama nyokap. Nyokap paling males kalau udah ngurusin hewan peliharaan, wong ngurusi dua anak laki-lakinya yang buandel aja udah ngribetin, apalagi ditambah hewan peliharaan.

Namun sekarang keluarga gue udah terbuka akan hal itu dan mulai menerima kehadiran kucing di rumah. Bukan kucing ganteng dan instagram-able yang followersnya lebih banyak daripada followers manusia lainnya, melainkan hanya kucing kampung biasa. Ya, dia kampung dan dia biasa.

Kehadiran kucing itu di rumah bukan ujug-ujug bisa diterima, khususnya oleh nyokap. Ada sejarah tersendiri dalam perjalanannya dan juga memerlukan proses yang panjang. Mungkin kali ini gue akan menceritakan bagian awalnya saja dan pada kesempatan lain gue akan bercerita tentang bagian lainnya.

Semuanya berawal saat gue masih SD, kurang lebih 10 tahun yang lalu..

Dulu, ada seekor kucing betina warna putih yang dateng ke rumah. Awalnya nyokap membiarkan dia yang dateng dengan seenak jidat. Tapi makin hari frekuensi dia datang ke rumah semakin sering. Mungkin ia berpikir bahwa ia sudah mendapat tempat tinggalnya. Dan nyokap ini emang perempuan tulen, beliau gak mau punya peliharaan di rumah, tapi tiap kucing putih itu dateng, beliau pasti ngasih makan. Sama seperti cewek yang bilang dia gak suka sama cowok yang lagi deketin dia, tapi kalau diperhatiin terus juga senyum-senyum sendiri. Benci-benci tapi cinta gimana gitu.

Kucing putih ini tanpa nama dan emang kita sama sekali gak minat buat ngasih dia nama. Kata nyokap kalau dia dikasih nama nanti kesannya udah resmi jadi binatang peliharan. Sip, Mah, sip.

Ternyata dia bukan tipe kucing yang kalau udah nemu tempat tinggalnya hal yang bakal ia lakukan cuma tidur-tiduran dan minta makan. Kucing ini lebih sering keluar rumah. Gue sempet berpikir kalau dia kerja, pastinya kerja apa dan dimana, entahlah. Semacam kucing kantoran gitu. Dan dugaan gue benar, dia kerja. Kalau orang kantoran pulang ke rumah bawa tugas atau laporan yang dijadikan beban pikiran, beda sama kucing putih ini. Dia pulang emang gak bawa pikiran apa-apa, tapi beban pikirannya ada pada nyokap. Ya, dia pulang bawa anak dalam perutnya. Dia hamil.

Kejadian itu terus berulang. Nyokap sendiri udah pusing sama ‘kerjaan’ kucing satu ini. Beberapa hari ngelayaban, pulang-pulang udah hamil aja. Masalahnya tiap dia melahirkan jumlahnya selalu antara 3-5 anak kucing. Tapi yang mampu bertahan hidup hanya 1-2 saja.

Masalah lainnya adalah, kucing ini tergolong ibu yang tidak bertanggungjawab. Siklus hamilnya berantakan. Ia selalu hamil tiap anak-anak yang lain masih pada kecil. Jadi tiap anaknya udah lepas menyusui,dia udah melahirkan lagi. Itu yang ngebuat nyokap lama kelamaan lelah sama kelakuannya. Anaknya numpuk di rumah!

Pernah pada suatu sore, di teras depan rumah, nyokap terlibat obrolan dengan si kucing putih ini. Obrolan berat antar sesama ibu, “kamu tuh jangan gini-gini amat, Cing. Kasihan anak-anakmu, belum tumbuh besar udah ditinggal sama ibunya. Tobat, Cing, tobat. Zina itu dosa.” Kucing itu menatap nyokap dengan tatapan nanar, kemudian dengan lirih dia mengucapkan sebuah kata, ‘meong..’.

Saking seringnya kucing itu hamil dan melahirkan sehingga ia punya banyak anak, nyokap memutuskan untuk memberi dia nama; Emak. Semenjak itu dia resmi jadi ‘peliharaan’ keluarga.

Lokasi melahirkan favorit Emak ialah di tempat jemuran di bagian atas rumah. Rumah gue punya satu atap yang difungsikan sebagai tempat jemur baju. Di pojok tempat itu, tepat di bagian genteng-genteng cadangan tersimpan, itulah tempat kesukaan Emak mengeluarkan bayi-bayi kucing lucu dari perutnya. Emak biasanya melahirkan pada malam hari sampai menjelang subuh. Dulu, setelah gue selesai shalat subuh, nyokap sering manggil gue buat nemenin ke atas, denger suara anak kucing katanya. Walaupun nyokap kesel sama kelakuan Emak, tapi beliau selalu excited tiap denger suara anak kucing dari tempat jemuran. 

Dengan membawa senter (karena di atas gelap gak ada penerangan), gue sama nyokap nyari sumber suara tersbut. Ketika gue mengarahkan senter ke balik tumpukan genteng, sorot cahaya menangkap di sana terdapat bayi-bayi kucing yang masih lucu parah dan juga Emak yang menatap tajam ke arah kita berdua, seakan ia berbicara, “rasakan kalian, pusing-pusing lo pada, ha ha ha,” diakhiri dengan tawa sinis dalam hatinya.

Setiap Emak hamil, gue selalu menebak-nebak, kucing garong mana yang abis ‘main’ sama dia. Karena begini, anak yang dilahirkan Emak itu coraknya dan warnanya selalu beda-beda. Emak emang putih dengan sedikit corak hitam, tapi anak-anaknya ada yang warna cokelat, oranye bahkan ada satu yang menurut gue dia anak paling gagah yang pernah Emak lahirkan, seekor garong hitam yang ganteng.

Emang sih, gak semua anak-anak Emak bisa bertahan hidup dengan lama, walaupun katanya nyawa kucing itu ada sembilan. Tapi seberapa pun keselnya nyokap sama kelakuan Emak, beliau tetap menguburkan tiap anak Emak yang mati dengan cara yang tentunya berprikucingan.

Anak-anak Emak yang mati dikubur di pekarangan salah satu rumah kenalan bokap. Saking banyaknya anak Emak yang dikubur di sana, tanah itu seakan udah jadi kuburan keluarga Emak.

Dari sekian banyak anak Emak yang lahir, pergi hingga mati, hampir semuanya ‘menetap’ di rumah gue. Tepatnya di teras depan rumah. Nyokap paling gak suka kalau ada salah satu di antara mereka yang masuk ke rumah dan tetap menganggap bahwa mereka bukanlah peliharaan dalam konteks sesungguhnya, melainkan hanya kucing kampung biasa yang numpang tidur di teras depan rumah. Ya, mereka kampung dan mereka biasa. Tapi tetep aja nyokap masih ada hati buat ngasih mereka makan yang kelak jadi bagian dari kebiasaan nyokap.

Salah satu anak Emak yang hidup paling lama ialah garong hitam yang tadi gue sebut dan kakaknya, kucing betina warna oranye yang nantinya mengikuti jejak Emak (cabut, balik ke rumah udah hamil). Garong ini satu-satunya ‘jebolan’ Emak yang gue kasih nama secara priadi, dia gue panggil Joni. Yoi. Joni.

Kebiasaan Joni ini anti-mainstream. Dia gak kayak kakak kandung dan kakak-kakak tirinya yang kerjaannya cuma males-malesan dan nunggu makanan dari nyokap. Joni lebih suka makan di luar dan ketika dia pulang ke rumah pas waktu makan malam, dia lebih milih tiduran sambil ngeliatin kakaknya makan.

Hal lain yang gue suka dari Joni adalah dia sering pulang dalam kondisi badan penuh luka, lecet dan sebagainya. Yoi... DOI STREET FIGHTER, MEN! SADIS! Balik ke rumah penuh luka, tidur, besok siang keluyuran lagi dan terkadang balik dengan luka baru. Kehidupan kucing tidak semudah yang kalian kira, kawan. Joni adalah salah satu petarung sejati di dunia perkucingan. Mungkin ia disegani di komplek tempat gue tinggal, karena pada satu kesempatan gue ngeliat dia lagi jalan jauh dari rumah. Sendirian. Sorot matanya tajam. Seakan ia akan menghabisi sembilan nyawa kucing sekaligus hari itu. Sangar.

Tapi sayang, nasib Joni berakhir tragis. Suatu hari bokap nemuin dia di depan pagar rumah dengan kondisi kulit sebelah kiri terbuka yang nampaknya bekas sabitan senjata tajam. Mungkin dia kepergok saat melakukan tindak kriminal (mencuri makanan). Tapi tetap apa yang dilakukan seseorang terhadap Joni tidak berprikucingan. Manusia melawan kucing preman yang paling ditakuti di komplek. Cih.

Joni mati terlalu muda. Saat badannya sedang bagus-bagusnya. Bahkan Emak pun masih belum mati, tapi semakin terlihat tua dengan uban dimana-mana (percayalah, walaupun bulunya putih, tapi masih keliatan kok mana uban mana bukan). Joni yang malang, namun ia tetap menjadi anak Emak favorit gue.

Selang beberapa lama setelah kematian Joni, suasana duka kembali menyelimuti keluarga gue. Emak mati. Murni karena umur. Dia udah tua banget saat meninggalkan dunia ini. Nyokap yang pada kesempatan pertama bertemu Emak menolak mati-matian kehadirannya di rumah, tapi saat tahu Emak mati, nyokap ikut bersedih juga.

Saat usianya sudah memasuki usia nenek-nenek bagi kucing, Emak terlihat lebih bersahaja dan banyak diam di rumah. Nyokap juga mulai sering ngobrol sama Emak saat waktu makan malam. Sambil nemenin Emak makan katanya. Mungkin ikatan batin antara kedua ibu yang ngebuat nyokap sedih atas kepergian Emak.

Emak dikuburkan di kuburan keluarganya sendiri. Tertimbun di bawah tanah dengan bangkai anak-anaknya yang sudah lebih dulu menyatu dengan tanah. Namun kematian Emak bukan berarti ‘dinasti’ keluarga yang ia ciptakan di rumah berakhir, masih ada satu anaknya lagi yang tersisa, kucing oranye betina, kakak dari Joni yang melanjutkan kehidupan ibundanya sebagai supplier anak kucing di rumah.

Ilustrasi Emak
 Eh, maaf salah foto.

Ya, kurang lebih begini lah...


Saturday, December 24, 2016

Jadi Diri Sendiri, Apakah Ada?

source: imagesbuddy.com
Sering kali saya mendengar istilah ‘jadilah diri sendiri’, ‘just be yourself’ atau apa pun yang berkaitan tentang itu. Biasanya kata demikian ditujukan seseorang untuk memotivasi orang lain. Tapi pertanyaanya, apakah kita sebagai manusia sosial yang dituntut untuk berinteraksi dengan sesama dan selalu berkontak dengan lingkungan sekitar bisa menjadi diri sendiri seutuhnya?

Saya rasa tidak ada yang manusia yang 100% menjadi dirinya sendiri. Karena manusia itu dinamis. Pada dasarnya manusia akan terus berubah. Saya esok hari belum tentu sama dengan saya hari ini. Manusia itu terus berubah setiap harinya, bahkan setiap jam juga tiap detik.

Menjadi diri sendiri berarti tidak terpengaruh dengan sesuatu yang sifatnya eksternal. Seorang yang benar-benar menjadi dirinya sendiri tentu mempunyai sifat unik yang tidak akan pernah kita temukan pada diri orang lain. Karena memang hanya dia seorang yang punya. Jika ada orang lain yang mempunyai peringai, gelagat atau cara berpikir yang sama, berarti ada kemungkinan orang-orang itu mendapatkan pandangannya dari sumber yang sama.

Saya pribadi tidak bisa menjadi diri sendiri seutuhnya. Saat saya membaca buku karya Tan Malaka, saya terpengaruh dengan cara berpikir beliau yang pada zamannya sudah melangkah jauh ke depan memikirkan kemerdekaan bangsa. Ketika saya membaca buku karya tokoh lain, seperti Gus Dur, saya punya pandangan baru mengenai permasalahan agama negeri ini dan bagaimana cara yang tepat untuk menyikapinya. Saya tidak benar-benar menjadi saya.

Bukan hanya bacaan, menonton sebuah film pun dapat memengaruhi pribadi seseorang. Misalnya seseorang menonton film tentang American Football, setelah menonton seketika timbul keinginan untuk bermain American Football atau mencari informasi tentang olahraga itu yang sebenarnya bukan olahraga yang dia banget.

Di mesin pencarian Google, banyak ditemukan situs yang memuat kiat-kiat menjadi diri sendiri. Seperti yang ditemukan di laman wikihow.com tentang beberapa cara untuk menjadi diri sendiri. Lucunya, cara-cara tersebut ditulis oleh orang lain yang dengan penilaiannya sendiri, bahwa cara yang ia tulis bisa dikategorikan cara yang umum sehingga dapat digunakan oleh banyak orang. Katanya jadi diri sendiri, tapi mengetahui caranya saja dari pendapat orang lain, piye toh?

Menurut saya, perkataan yang tepat bukanlah ‘jadi diri sendiri’, melainkan ‘mengenal diri sendiri’. Kita tidak akan bisa menjadi diri sendiri seutuhnya, tapi kita tentu mengenal kapasitas, kemampuan dan potensi diri kita masing-masing. Walau potensi itu hanya di hal kecil, seperti susah-bangun-pagi-meski-sudah-memasang-alarm-dengan-jeda-3-menit-sekali, sekali pun.

Ketika seorang yang terpengaruh film tentang American Football tadi tertarik untuk terjun ke dunia American Football. Ia mengkaji ulang kapasitas, kemampuan dan potensi dirinya sendiri terlebih dahulu. Ia sadar bahwa kemampuannya bukan di American Football, tapi di bekel, misalnya. Ia juga menilai fisiknya kurang menunjang dalam American Football dan ia sadar ada di daerah dimana gobak sodor lebih populer dibanding American Football.

Ia sadar akan kemampuan dan kapasitasnya, sehingga ia memaksimalkan seluruh potensinya di bekel. Siapa tahu ia bisa menjadi juara di ajang World Bekel Championship, bukan?

Untuk mengetahui kadar kemampuan diri, hanya orang itu sendiri yang mampu menakarnya. Saya pun tak mau banyak berbicara banyak kali ini. Intinya, seseorang tidak akan 100% menjadi dirinya tanpa adanya pengaruh dari buku yang dibaca, film yang ditonton, sesuatu di dunia maya, dari media sosial, orang lain, atau lingkungan sekitar. 

Jadi jangan heran kalau ada orang yang bersikap manja akan tetapi di kemudian hari ia menjadi orang yang tenang dan dewasa. Bukan berarti ia tidak menjadi dirinya sendiri, ia hanya telah menemukan batu loncatan dalam perjalanan hidupnya yang mempengaruhinya dalam berpikir, bertindak juga berprilaku.

Btw, kalau beneran ada World Bekel Championship bakal keren kali, ya?

Monday, December 19, 2016

AFF 2016: Kenangan dan Harapan (Bagian Dua)

google.com
Bagian satu.

Berbagai kejuaraan diselenggarakan dengan tujuan setidaknya mampu mengobati kerinduan akan panasnya kompetisi sepak bola nasional. Namun itu semua tetap tak bisa mengalahkan sengitnya sebuah kompetisi dan kerinduan itu terbayar setelah pada tahun ini hadir kembali sebuah liga yang disebut banyak orang sebagai ‘Liga Kopi.’

Sampai akhirnya sanksi FIFA itu dicabut pada kongres FIFA di Mexico City, hanya beberapa bulan sebelum Piala AFF 2016 bergulir. PSSI langsung tancap gas dengan mempersiapkan timnas untuk ajang tersebut. Pelatih Alfred Riedl kembali dipercaya sebagai arsitek utama tim. Namun sayang seribu sayang, entah apa yang ada dipikiran empunya liga sehingga Liga Kopi hanya membatasi kuota maksimal 2 pemain per klub untuk dipanggil ke timnas Indonesia.

Lucu. Ketika seharusnya seluruh masyarakat mendukung timnas, justru hambatan yang datang berasal dari dunia sepak bola itu sendiri.

Tapi tak apalah, nyatanya coach Alfred masih mampu memilih pemain terbaik untuk dimasukkan ke dalam squad Garuda. Semoga ke depannya Liga Kopi diberikan kesadaran akan pentingnya mengutamakan timnas dibanding kompetisi yang tidak ada degradasi dan yang juara tidak berlaga di AFC Cup atau Liga Champions Asia.

Dan akhirnya penantian panjang pun berbuah manis. Kerinduan akan permainan timnas terbayar sudah ketika timnas mulai mengadakan beberapa pertandingan uji coba menjelang Piala AFF 2016. Saya termasuk salah satu yang menyaksikan aksi kembalinya timnas saat uji coba dengan Vietnam di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Bahkan yang saya simpulkan di akhir pertandingan adalah kita punya modal mental yang kuat setelah mampu come back dari ketertinggalan dua gol dan membuat hasil akhir menjadi imbang dengan kedudukan 2-2.

Pemanggilan pemain yang merumput di luar negeri, seperti Stefano Lilipaly dari Belanda, Irfan Bachdim dari Jepang serta Andik Vermansyah dari Malaysia, mampu menaikkan animo supporter yang berharap pengalaman mereka dapat memperbaiki kualitas permainan timnas kita. Meskpun dua dari tiga nama yang saya sebutkan tadi tak bisa menyelesaikan gelaran ini dengan sempurna. Bahkan Irfan harus dicoret menyusul cideranya menjelang turnamen diselenggarakan.

Hasil dari serangkaian uji coba yang cukup baik serta rindu yang tak terbendung akan partisipasi timnas di ajang internasional membuat semua mata tertuju ke Philippines Sports Stadium pada 19 November kemarin. Pertandingan pertama pada AFF 2016 dan juga momen kembalinya timnas pada turnamen resmi harus diawali dengan kekalahan atas salah satu tim kandidat juara, Thailand. Kemudian dilanjutkan dengan hasil imbang melawan tuan rumah Filipina dan dengan luar biasa come back atas Singapura sehingga meloloskan timnas ke fase play-off.

AFF 2016. dok.AFF
Bertemu lawan berat Vietnam di babak semi-final tidak lantas membuat timnas kita ciut. Sebaliknya, gelombang dukungan yang tak ada putusnya membuat semangat timnas membara dan berhasil memukul Vietnam 2-1 pada leg pertama di Stadion Pakansari, Bogor. Mesikpun pada leg kedua para pendukung timnas harus lebih sering menahan nafas karena gempuran 7 hari 7 malam yang dilakukan pasukan Vietnam.

AFF 2016. Sumber: google.com
Lolos dengan agregat 4-2 setelah berhasil menahan imbang 2-2 di kandang Vietnam melawan 10 orang (setelah kipernya yang saya tau ada nama Nguyen-nya) dikartu merah. Dengan dibombardirnya timnas kita oleh 10 orang pemain Vietnam, timbul lagi sebuah pertanyaan, apakah mental juara pemain kita hanya jika kita bermain di kandang sendiri?

Jikalau pertanyaan saya benar adanya, maka saat tau akan berhadapan kembali dengan Thailand di partai final saya sudah bisa memprediksi bahwa timnas akan memetik kemenangan saat bermain di Indonesia. Tinggal pertanyaannya, siapa yang main di kandang terlebih dahulu? Saat jadwal perandingan final keluar, rasa pesimis kembali timbul mengingat Indonesia harus menjalani laga kandang pada leg pertama.

Prediksi saya terbukti tepat, timnas berhasil mempermalukan Thailand dengan skor yang sama kala memukul Vietnam di semi-final lalu. Dan bayangan bahwa mental juara kita tak berlaku saat laga tandang juga terbukti tepat. Timnas Indoesia seakan lesu dan ciut saat menjalani leg kedua di Thailand, sehingga harus rela kehilangan kesempatan merengkuh gelar juara AFF untuk pertama kalinya.

Sepak bola lah yang berhasil menyatukan kita, rakyat Indonesia. Begitu kata sebagian orang jika melihat hiruk pikuk yang melanda negeri belakangan ini. Seakan akhir-akhir ini yang ada di tanah air hanyalah konflik, masalah, perdebatan dan tetek bengeknya. Namun, saat timnas berlaga di Piala AFF 2016 seperti semuanya diistirahatkan. Tak ada lagi perdebatan tentang agama, suku juga ras. Semuanya sepakat untuk bersatu mendukung timnas Indonesia.

Namun kenapa timnas kita masih gagal menjadi juara? Waktu persiapan yang minim saya yakin dapat dimaksimalkan dengan baik. Bahkan jika dibilang sepak bola menyatukan Indonesia, dengan berbagai keyakinan yang ada di negeri ini, dengan Tuhannya masing-masing kita berdoa agar timnas diberi kesempatan mengangkat piala AFF tahun ini, tapi hal itu tak jua terwujud?

Kalau saya beranggapan 200 juta penduduk Indonesia berdoa dengan keyakinan masing-masing, kenapa doa kita masih kalah dengan 67 juta penduduk Thailand yang bahkan belum tentu animo dukungan kepada timnasnya sebesar yang kita berikan kepada timnas kita?

Saya tau masih banyak yang harus di evaluasi pasca turnamen ini berakhir. Efektivitas permainan harus lebih ditingkatkan. Juga beberapa nama di timnas harus di rotasi demi menciptakan komposisi ideal bagi timnas.

Salah satu hal yang saya lihat setelah AFF 2016 berakhir ialah proyeksi komposisi timnas untuk ajang serupa 2 tahun dari sekarang. Hansamu Yama, Evan Dimas, Yanto Basna, Manahati dan pemain muda lain bisa menjadi tumpuan timnas kita di masa depan dan semoga bisa menjadikan mimpi tiap pecinta sepak bola tanah air menjadi kenyataan; berjaya di ajang internasional.

Saya bukanlah seorang pemain sepak bola yang merasakan beban bermain dengan tekanan  juara dibenak saya. Bahkan jikalau disuruh bermain, pun saya belum tentu bisa. Saya juga bukan seorang pelatih sepak bola yang tau bagaimana cara meramu strategi yang baik, menyiapkan tim dalam waktu singkat atau kapan waktu yang tepat untuk mengganti pemain dalam pertandingan. Bahkan merakit sebuah tim dalam gim football manager juga saya masih sering menderita kekalahan, apalagi di dunia nyata?

Saya hanyalah seorang pecinta sepak bola tanah air yang rindu akan kejayaan sepak bola Indonesia. Seburuk apapun yang orang katakan tentang timnas, saya selalu berusaha menjaga pikiran positif saya kepada timnas. Saya selalu berpikir kalau kita selalu menjadi Sang Macan Asia. Saya selalu merinding kala menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum pertandingan dimulai. Juga air mata saya mampu keluar dengan sendirinya kala timnas mengalami kegagalan yang menyakitkan untuk kesekian kali.

Bukan karena saya terlalu nasionalis, tapi ini semua menyangkut sepak bola dan negara. Dimana sebuah timnas sepak bola adalah hal yang sakral dan selalu diharapkan kemenangannya.

Cukuplah kebanggaan kita akan keberanian Abduh Lestaluhu yang membela harga dirinya dengan tidak mau diremehkan kubu lawan. Saya rasa level kebanggaan kita harus ditingkatkan lagi, yaitu saat timnas kita mampu mempersembahkan gelar juara di ajang internasional dan membuka mata dunia bahwa pesepakbolaan tanah air ada dan menakutkan. Saya rasa itulah kebanggaan yang hakiki.

Sejatinya harapan itu akan terus berevolusi seiring berjalannya waktu dan tidak akan pernah mati sampai generasi berapa pun. Saat timnas kita berhasil merengkuh gelar juara AFF kelak, niscaya selalu ada harapan baru yang muncul, entah itu mempertahankan gelar atau merengkuh gelar pada level yang lebih tinggi lagi; Asia atau bahkan dunia.

Cepat atau lambat, saya selalu percaya akan tiba waktunya kita berada pada level tertinggi dunia sepak bola. Tidak akan pernah surut doa yang saya panjatkan untuk kalian, para pejuang merah putih. Tetaplah jaga asa dan harapan kami yang setia mendukungmu. Dan sertakan mimpi kami saat Garuda terbang tinggi ke angkasa.

Dari yang setia mendukungmu,
Serang, 19 Desember 2016.

Indonesia tanah air beta

Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

Tetap di puja-puja bangsa

nb: Tulisan ini memang penuh akan penilaian subjektif, semuanya murni menurut pandangan dan kegelisahan saya pribadi sebagai seorang pecinta sepak bola dan penggemar timnas. Jadi tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan pendapat mengenai apa yang tertera di sini. Silahkan berkomentar apabila ada kata atau data yang salah. Salam satu jiwa!



AFF 2016: Kenangan dan Harapan (Bagian Satu)


google.com
Gelaran Piala AFF 2016 berakhir sudah. Thailand keluar sebagai juara untuk kelima kalinya setelah mengalahkan Indonesia yang juga kali kelima harus puas menjadi runner up di turnamen dua tahunan tersebut. Nyatanya, Thailand masih menjadi momok menakutkan bagi Indonesia. Karena pada pertandingan penentuan yang digelar di Stadion Rajamangala, Bangkok (17/12) merupakan ketiga kalinya mimpi Garuda untuk mengangkat trofi paling bergengsi seantreo Asia Tenggara itu dihempaskan oleh tim yang sama, Thailand, setelah final tahun 2000 dan 2002.

Jika menilik dari masa persiapan timnas menjelang Piala AFF 2016 memang bisa dikatakan sangat singkat, yaitu kurang dari 3 bulan. Namun, dengan sangat luar biasa timnas kita mampu lolos dari grup yang disebut banyak orang sebagai grup neraka, bersama Thailand, Filipina dan Singapura. Bahkan, timnas Indonesia mampu membungkam caci maki mereka yang meremehkan kapasitas timnas diajang ini dengan berhasil menembus babak final. Meskipun harus bertemu lawan super berat yang sempat mengalahkan timnas dengan skor 4-2 pada babak grup, Thailand.

Aura pesimisme kembali mengudara. Walau tidak sedikit yang tak lelah berteriak ‘AYO INDONESIA! KITA PASTI BISA!’ dengan lantang. Mencoba mengusir ketidakyakinan tuk mengalahkan tim terkuat di ASEAN tersebut. Sayang, kenyatannya teriakan semangat saja tak cukup kuat tuk membawa trofi perak itu ke tanah air.

Timnas Indonesia kembali tertunduk lesu. Harapan jutaan rakyat Indonesia yang mereka panggul di pundak masing-masing, seakan ikut runtuh. Gulungan ombak caci maki dan hinaan kembali datang, meskipun karang pujian mencoba menghadang datangnya ombak tersebut dengan mengatakan, “Timnas sudah berjuang dengan maksimal. Jangan patah semangat dan tetap terbang tinggi, Garuda!”

Selepas itu semua, timbul pertanyaan; kalau tau akan kalah di final, apa bedanya dengan mereka yang gugur di fase grup? Karena dunia tidak akan pernah peduli dengan juara 2 dan orang-orang tidak akan bertanya, ‘siapa yang jadi runner up-nya?’

AFF 2016 merupakan turnamen pertama yang diikuti timnas setelah bebas dari sanksi FIFA. Kerinduan akan permainan sepak bola tim nasional sudah terlalu lama dipendam. Juga harapan akan membaiknya persepakbolaan negeri ini pasca diberikannya sanksi tersebut.

Atmosfer pendukung timnas selama Piala AFF 2016 ini berlangsung mengingatkan saya pada gelaran Piala AFF 6 tahun lalu, saat kita menjadi tuan rumah bersama dengan Vietnam. Kala itu seakan yang ada di benak masyarakat Indonesia hanyalah sepak bola dan sepak bola! 

Setelah membantai saudara satu rumpun, Malaysia, pada pertandingan pertama dengan skor telak 5-1, optimisme menggumpal di seluruh langit negeri ini. Semua percaya bahwa saat itu, ialah waktunya Sang Garuda terbang tinggi menjemput trofi AFF untuk pertama kali.

Kombinasi pemain senior seperti Firman Utina, Markus Horison, Nova Arianto hingga Bambang Pamungkas dipadukan dengan semangat membara anak-anak muda, mulai dari Irfan Bachdim juga Okto Maniani dan jangan lupakan pemain yang baru dinaturalisasi saat itu, Christian ‘El Loco’ Gonzales dan terakhir hadirnya juru taktik berkebangsaan Austria, coach Alfred Riedl, seakan melengkapi skuad timanas Indonesia pada Piala AFF 2010.

Timnas AFF 2010. Sumber: google.com
Saat itu Garuda seakan menemukan jati dirinya sebagai predator yang mengerikan. Terbukti dari gelontoran 13 gol selama berada di fase grup dan hanya kebobolan 2 gol saja! Filipina yang saat itu mulai bangkit dengan skuad yang dipenuhi pemain berdarah campuran berhasil kita hempaskan di babak semi-final. Namun sayang, di babak final kita harus merasakan balas dendam yang sempurna oleh Malaysia setelah harus menyerah dengan agergat 4-2. Belum cukup sakit hati dengan kekalahan yang diderita, isu adanya mafia dalam pertandingan final seketika menyeruak dan menimbulkan pertanyaan di benak masyarakat kita, ‘apakah kebanggaan bangsa bisa begitu mudahnya dibeli dengan uang?’

Atmosfer serupa saya rasakan 3 tahun berselang, ketika segerombolan anak muda di bawah usia 19 tahun membuat bangga seluruh negeri dengan mempersembahkan gelar pertama Piala AFF U-19.

Permainan mereka sungguh memukau dengan gaya tiki-taka-nya, mengingatkan kita semua kepada tim asal Catalan, Barcelona. Karena biasanya permainan timnas Indonesia tekenal dengan long ball yang sering tidak akurat atau direct ball yang kerap dipotong pemain lawan. Tapi anak-anak muda ini sungguh ajaib, mereka berani memegang bola, melakukan passing satu dua sentuhan dengan sangat baik dan mengirim direct ball dengan begitu jeli sehingga kerap lolos dari jebakan offside kemudian diakhiri oleh finishing touch yang sangat manis.

Evan Dimas, dkk  juga melakukan uji coba di berbagai negara, mulai dari Eropa sampai Timur Tengah. Bahkan, mereka mampu menaklukan sejumlah negara kuat Timur Tengah seperti Qatar, Oman dan UAE yang notabene hal tersebut sulit dilakukan oleh seniornya.

Pada saat itu saya yakin, bahwa mereka lah masa depan timnas kita. Saya yakin tidak lama lagi timnas kita akan berjaya dengan skuad dipenuhi anak muda berbakat. Keyakinan saya bertambah ketika anak-anak ajaib ini mampu mempecundangi salah satu tim kuat Asia, yaitu Korea Selatan dalam play-off AFC Cup 2014. Mesikpun mereka gagal pada gelaran tersebut, namun dalam perjalanannya mereka telah memunculkan harapan dibenak masyarakat bahwa dalam waktu dekat ini Indonesia akan kembali menjadi Sang Macan Asia.

Timnas U-19 Saat Menjuarai AFF U-19 2013 lalu. Sumber:bola.kompas.com
Kembali ke level senior, pada ajang AFF Cup 2012 harapan rakyat masih tetap sama, yaitu Indonesia dapat merengkuh gelar juara. Dengan berstatus sebagai runner up pada gelaran sebelumnya, timnas tampil jauh dari harapan di bawah komando pelatih Nil Maizar saat itu.

Timnas berlaga dengan skuad yang mungkin sebagian besar nama pemainnya masih terdengar asing untuk masyarakat. Tapi timnas tetaplah timnas, mereka yang bisa berseragam merah putih tentu adalah yang terbaik di negeri ini. Ditambah dengan 3 pemain naturalisasi yang salah satunya ialah striker ‘gelonggongan’, Jhonny van Beukering, ternyata masih tak mampu membawa timnas juara bahkan tak mampu lolos dari grup setelah hanya finish di posisi 3 klasemen akhir.

Timnas AFF 2012. Sumber: google.com
AFF 2014 timnas kembali ditunggangi coach Aflred Riedl dan dalam squad timnas kembali diisi nama baru pemain hasil naturalisasi, yaitu Sergio van Dijk yang sedang on fire bersama Persib Bandung dan Victor Igbonefo, tembok tangguh klub Arema Cronous. Juga adanya pahlawan alumni timnas U-19, Evan Dimas, yang melengkapi skuad saat itu.

Saya pribadi menilai komposisi squad timnas pada AFF 2014 sudah ideal. Namun entah kenapa dalam perjalannya timnas tampi ‘konyol’ setelah dipermalukan 0-4 dari Filipina yang tercatat sebagai kekalahan pertama timnas dari pasukan yang dipimpin oleh Suami Muda itu. Dan lagi-lagi timnas harus keluar lebih awal dari turnamen pasca finsih di posisi yang sama seperti gelaran sebelumnya.

Timnas AFF 2014. Sumber: google.com
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Lima bulan setelah berakhirnya Piala AFF 2014, PSSI mendapat sanksi dari FIFA akibat kisruhnya dengan KEMENPORA. Sanksi tersebut berimbas kepada timnas yang tidak bisa berlaga pada ajang internasional selama sanksi berlaku. Tentu sebuah kerugian besar bagi pesepakbolaan tanah air.

Tidak adanya kompetisi resmi dan ‘matinya’ timnas saat itu membuat saya khawatir akan masa depan timnas. Terutama pada pemain muda yang telah mempersembahkan gelar perdana AFF U-19 bagi negara ini. Sehingga saya pun bertanya-tanya, haruskah mereka berada pada situasi seperti ini? Haruskah masa depan mereka berantakan hanya gara-gara segelintir petinggi mereka yang hanya memikirkan keuntungan pribadi semata?

Bersambung ke bagian dua.

Friday, December 9, 2016

Sebuah Tulisan Random - Kata Hati

 
source: google.com
Sering gue denger perkataan, “udah, ikutin aja apa kata hati lo. Dia lebih tau mana yang terbaik.” Tapi kini gue bertanya, apakah yang hati gue katakan selalu benar? Apakah yang ditunjukkan olehnya selalu mengarah kepada suatu nilai positif bagi gue pribadi? Pada sore hari yang gabut ini gue tertarik tuk sedikit membahas tentang apa yang namanya ‘kata hati’.

Perkataan di atas sering dilontarkan apabila seorang sedang bimbang dalam menentukan pilihan. Karena pada umumnya, kata hati dapat menuntun seorang itu untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Namun tidak semua orang (termasuk gue) bisa menerima pilihan hati gue gitu aja, karena biasanya apa yang telah dipilih oleh hati itu mempunyai resiko dan memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman dimana dua hal itu udah cukup membuat gue menahan langkah untuk mengikuti apa yang hati gue katakan.

Maka dari itu beberapa orang mungkin lebih menyarankan untuk mengikuti logika atau berpikir rasional yang notabene kebalikan dari hati. Karena dengan berpikir rasional seseorang dapat meninjau kembali baik-buruk serta resiko keputusan yang akan ia buat. Meskipun itu bertentangan dengan kata hatinya.

“Kayaknya gue lebih milih kerja di A deh. Gajinya lebih gede, tapi gue harus jauh dari keluarga.  Ah, gapapa deh, daripada di B gajinya cuma segitu walaupun deket sama rumah.” Untuk seorang family man, berada jauh dari keluarga bukanlah suatu keputusan yang mudah. Ia lebih memilih pendapatan yang lebih besar karena ia berpikir biaya hidup sekarang ini semakin mahal, meskipun hatinya mengatakan jangan jauh dari keluarga, tapi ia tetap mengikuti logikanya.

Atau contoh lain ketika gue melaksanakan ujian dengan soal pilihan ganda. Disaat gue frustasi pada satu jawaban, di situlah gue mengandalkan kekuatan tebakan dan insting dalam memilih jawaban. Saat itu logika gue memilih opsi C karena terlihat paling bersinar juga lebih masuk akal dibanding jawaban lain. Tapi di sisi lain, hati gue merujuk pada opsi A dengan alasan yang gak bisa gue mengerti. Pertentangan antara logika dan hati membuat gue mengambil jalan tengah untuk tidak memilih keduanya. Akhirnya gue pilih opsi B. Setelah dikoreksi, jawaban yang benar adalah opsi D. Shit.

Iya, iya. Itu guenya aja yang bego.

Tapi terkadang banyak orang yang sulit membedakan mana kata hati, mana ego. Karena emang keduanya mempunyai perbedaan yang sangat tipis. Keduanya sama-sama muncul dari dalam diri. Disaat lo merasa yakin pada satu pilihan, pastikan bahwa itu adalah kata hati lo, bukan ego semata. Karena apa yang diinginkan oleh ego adalah kenyamanan atau kesenangan yang hanya bersifat sementara. Dan pastikan pilihan yang lo buat apakah sejalan dengan keinginan lo atau tidak. Kalau sejalan, kemungkinan besar itu adalah ego yang jika diikuti kemauannya hanya akan bermuara pada penyesalan di akhir.
 
Pada kenyataannya, pilihan hati selalu punya resiko lebih besar dibanding pikiran rasional. Bahkan terkadang ia membutuhkan pengorbanan. Termasuk sesuatu yang ia sayangi. Tapi menurut gue, mengikuti kata hati dapat membuat kita belajar untuk keluar dari zona nyaman. Belajar untuk berani mengambil resiko dan belajar untuk siap dalam menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Selama ini sering gue mengabaikan kata hati dan berbohong padanya, padahal ia gak pernah berbohong dengan putusannya. Menurut gue, mengikuti kata hati itu penting. Kata hati yang sesungguhnya akan menuntun kita pada pilihan dan keputusan terbaik. Karena sejatinya ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Tuhan ingin kita melakukan apa yang Ia inginkan dan Tuhan tau apa yang baik untuk kita. Ikutilah kata hati kita, bukan ego kita. Seburuk apapun pilihan yang ditentukan hati kita di mata manusia, percayalah bahwa putusan itu baik di mata Tuhan. Percaya bahwa selalu ada hal positif yang terkandung di dalamnya.

Sekian dan salam super.