Friday, July 21, 2017

Chapter X - Bonjour, France



Chapter I-IX bisa dibaca di sini

---

Laila

Prancis, 2015

Aku terbangun di sofa ruang tengah dengan kepala sedikit pening. Aku rasa, aku masih terkena jetlag meski sudah berada di sini selama dua hari. Ditambah, kondisi apartemen ini lebih layak dijadikan tempat syuting film hantu dibanding tempat singgah ketika pertama aku tiba, dan baru selesai kubersihkan siang hari tadi sehingga membuat energiku terkuras habis yang membuat aku tertidur di sofa sejak siang sampai menjelang malam hari.

Di perjalanan, Mas Fahri sudah mewanti kepadaku perihal kondisi apartemennya yang mengkhawatirkan. Aku menanggapinya dengan santai, ku pikir seorang berpenampilan necis sepertinya tak mungkin seburuk itu dalam mengurus tempat tinggalnya. 

Hingga kami sampai di depan pintu, Mas Fahri kembali meyakinkan agar aku tidak sampai shock melihat berbagai barang berserakan dimana-mana.

“Ini orang lebay banget sih,” batinku waktu itu. Aku mengangguk yakin. Mas Fahri memasukan kunci ke lubang pintu, memutarnya perlahan hingga bunyi ‘krek’ terdengar menegangkan. Ia mendorong pintunya dengan pelan, leherku mendongak tak sabar memastikan perkataannya.

“ASTAGFIRULLAH!”

Aku tercengang. Mataku terbuka selebar-lebarnya, mulutku pun tanpa sadar sedikit menganga. Aku menatap Mas Fahri dengan mata memicing. Ia tertawa kecil dengan tatapan kan-udah-aku-bilang miliknya.

Aku tak menyangka hari pertamaku di negeri yang menjadi salah satu destinasi wajib di Eropa bisa seburuk ini. Pakaian kotor bertebaran disembarang tempat. Makanan yang belum dibuang sebelum Mas Fahri pulang ke Indonesia—yaitu dua minggu lalu, masih ada di posisi sama seperti sebelum ditinggalkan. Sampah makanan ringan serta kaleng minuman tergeletak begitu saja di meja depan televisi, bahkan hingga jatuh ke kolong meja.

Tak sampai di situ, kondisi serupa juga terpampang di dua kamar apartemen ini. Entah karena malas membersihkan salah satu kamar, sehingga Mas Fahri memilih tidur di kamar lain dan membuat kondisi sama buruknya di kamar itu atau memang sebelumnya tempat ini merupakan war zone bagi tentara Prancis. Aku tak habis pikir.

“Maaf ya, La, kemarin aku lagi ngerasa stres. Jadi nggak sempat membereskan ini semua.” Iya, Mas, aku juga stres karena harus berpisah dengan orang yang seharusnya mengenakan cincin yang sama denganku pada kondisi ini. Tapi seharusnya kamu juga mikir dong, Mas, kalau dalam waktu dekat akan ada perempuan yang menetap di sini untuk waktu yang tidak ditentukan.

Aku tak menyuarakan yang satu itu.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu hari dari Jakarta menuju Marseille, kemudian ekstra enam puluh menit lagi perjalanan dengan TGV ke tempat tujuan akhir,  Avignon, menjadikan tulang-tulang ditubuhku seakan terlepas semua. Hal ini membuat kekesalanku terhadap kondisi apartemen yang mengenaskan tersumbat sementara. Aku hanya menyingkap pakaian Mas Fahri yang berhamburan di atas kasur, lalu membanting tubuh ke kasur dan segera memejamkan mata. 

Belum banyak aktiftas yang kulakukan selain membersihkan ruangan mengerikan ini. Namun tadi pagi tetangga sebelah barat apartemen kami, Leroy Devaux, datang dengan membawakan croissant terenak yang pernah aku makan. Ia tinggal bersama istrinya, Nathalie Devaux.

Melalui perbincangan singkat, aku mengetahui ternyata ia mempunyai boulangerie, atau toko kue, di Cannes, kota sebelah tenggara Avignon. Toko kue itu kini dikelola oleh putranya dan mereka tinggal di Avignon sejak 8 tahun lalu, membuka usaha home bakery lalu menjualnya dengan sistim door to door. Pelanggannya tak banyak, tapi mereka pelanggan yang setia karena rasa croissant atau baguette yang ditawarkan Leroy tak mungkin ditolak lidah mereka.

“Saya bisa sedikit bahasa Indonesia,” ujarnya dengan aksen khas bule yang mencoba pelafalan bahasa Indonesia. “Fakhri yang mengajarkan saya.” Aku tertawa pada caranya menyebut nama ‘Fahri’. Menurutku itu cukup lucu.

Leroy, pria 60 tahun yang kerap mengenakan flat cap tuk menutupi rambut putihnya, memiliki kontur wajah kotak dengan kumis putih yang menutupi setengah dari bibir atasnya. Tubuh tambunnya mungkin diakibatkan banyaknya alkohol yang ia konsumsi. Kepribadiannya hangat, sehingga saat berbincang dengannya aku merasa seperti seorang anak yang merindukan pembicaraan dengan ayahnya. Dan aku memang merindukan itu.

Leroy sadar aku belum menguasai bahasa Prancis sehingga dengan berbaik hati ia mengajakku bicara menggunakan bahasa Indonesia meskipun dengan cara bicaranya yang lucu dan terpatah-patah.

“Istri anak saya cantik seperti kamu,” ucapnya sambil tertawa renyah. Aku tersipu mendengarnya.

Obrolan terhenti mengingat masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Leroy berjanji akan memberi kami kue buatannya selama seminggu ke depan, lalu minggu berikutnya kami harus membayar kue miliknya seharga dua minggu. Ia berlalu sambil tertawa meninggalkanku yang pula tergelak di ambang pintu.

Pasca seluruh pekerjaan rumah beres, aku beranjak ke dapur untuk menyeduh teh. Mungkin dengan ini pusing di kepalaku bisa reda.

Aku berjalan menuju balkon dengan tangan menggenggam secangkir teh hangat. Langit jingga mulai takluk pada warna biru tua. Beberapa bangunan sudah menyalakan lampu menandakan gelap segera tiba. Aku memposisikan kedua lenganku di atas pagar pembatas dengan sesekali menyesap teh dari gelas yang ku pegang.

Aku melirik arloji. 20.15.

Sebentar lagi Mas Fahri pulang. Aku melihat orang berlalu-lalang di bawah sana dari posisiku di lantai empat. Rue—jalan, Viala masih nampak ramai dengan aktifitas orang-orangnya, begitu juga Jalan Republik di sebelah kananku yang sepanjang jalannya banyak ditemui berbagai macam toko, mulai dari sepatu hingga tas. Mungkin lain hari aku berbelanja di salah satu toko itu.

Aku suka melihat kondisi jalanan yang didominasi manusia, bukan mesin. Aku juga suka bagaimana orang-orang di sini dapat berjalan dengan tenang di trotoar tanpa harus khawatir mendapat teguran dari pengendara motor yang mencoba mencari ‘jalur alternatif’ akibat dari jalan utama yang sesak.

Aku teringat ketika aku sedang berjalan santai di daerah Sudirman. Kala itu aku sibuk dengan ponselku dan hanya sesekali melirik ke depan untuk memastikan tidak menabrak siapapun. Aku yang juga menggunakan earphone tiba-tiba terdengar bunyi nyaring secara samar. Lalu ku lepas satu earphone ku dan suara nyaring itu semakin memekakkan telinga. Aku berbalik arah dan mendapati pengendara motor dengan wajah geram terus menekan klakson.

“Woy Mbak! Budek ya? Minggir, gua mau lewat!”

Lah? Siapa lo berani nyuruh gue buat menepi dari trotoar? Argh, ingin berkata kasar! Umpatku kala itu, dalam hati.

Aku memberinya jalan. Saat ia tepat melewatiku, ia menoleh dan memberi tatapan yang entah aku artikan apa, mungkin ‘nah gitu dong dari tadi kek’ yang aku balas dengan pandangan sinis.

Melihat kondisi di sini tidak seperti di Indonesia, sepertinya aku bisa merasakan menjadi pejalan kaki seutuhnya yang belum pernah aku rasakan di Jakarta.

Berbicara mengenai Jakarta dan Indonesia, pikiranku langsung merujuk satu nama; Andre. Andre apa kabar ya?  Sekarang di Indonesia pukul tiga sore, hmm mungkin ia sedang bersiap menunaikan ibadah shalat ashar. Andre nyariin aku nggak ya? Kalau iya, mungkin segala cara ia usahakan untuk mencari keberadaanku. Kalau enggak, ah, aku nggak yakin dengan satu itu. Aku jahat ya, Ndre, udah ninggalin kamu gitu aja tanpa kejelasan? Bahkan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal. Aku bahkan mempertanyakan ulang keputusanku, ini demi kebaikan kita, atau hanya aku? Aku nggak tahu, Ndre, sekarang aku merasa udah gila karena pikiranku terus berbicara mengenai ini.

“Kalau melamun terus di situ, nanti bisa kesambet loh.”

Aku menoleh. Mas Fahri.

Aku memutar badan, punggungku bersandar pada pagar pembatas. “Barusan pulang, Mas?”

“Enggak sih, 5 menit lalu kayaknya, ngeliatin kamu bengong dulu,” ucapnya sambil menaruh  kotak hitam di atas meja depan televisi. “Sini, La, makan dulu. Pasti belum makan, kan?”

Benar. Perutku berontak mendengar kata ‘makan.’

Aku mendekat ke sofa tempat Mas Fahri duduk. Aku tertegun ketika melihat meja penuh dengan sushi. California rolls dengan tepung ayam dan udang, salmon rolls yang menggiurkan, lalu ada yang dinamakan rouleaux de printemps, semacam lumpia yang di dalamnya terdapat udang, wortel hingga sayuran namun dengan kulit yang lebih tipis cenderung transparan. Kemudian ada sushi yang di bagian atas dan bawahnya terdapat kiwi untuk makanan penutupnya.

“Mas, ini kita nggak lagi ngadain syukuran seapartemen, kan?”

Ia menatapku sejenak, lalu terbahak.

“Ini bukan porsi kamu ya? Désolé alors. Semisal nggak habis, ditaruh kulkas aja buat besok sarapan, maaf ya sekali lagi.” Aku memaklumi. Mas Fahri belum tahu banyak tentang aku—makanan kesukaanku, hobiku, apa yang aku benci, termasuk ini, seberapa banyak kapasitas makanan yang mampu masuk ke lambungku. Aku nggak takut gemuk, bahkan aku sering makan tanpa mengkhawatirkan kondisi perutku, tapi ‘sering’ bukan berarti porsinya ‘banyak’, untuk kasus ini...just too much

Beda cerita kalau Andre yang menyodorkan makanan sebanyak itu untukku, aku nggak berani jamin esok hari keberadaannya masih eksis di dunia ini.

Aku memegang sumpit dan mengambil satu yang menurutku paling enak. Aku lahap satu itu. Enak. Aku ambil yang lain. Enak juga. Sumpitku bergerak ke arah lain. Ini juga enak. Coba yang di sebelah sana. Sial, enak. Bahaya kalau terus begini.

Tanpa kusadari Mas Fahri ternyata belum mengambil satu makanan pun. Ia terpaku menatapku sambil menahan tawanya.

“Mas, jangan diliatin gitu ah.” Aku menaruh sumpit di meja, melirik ke arahnya sambil mengunyah dengan tanganku ku tempatkan menutupi mulutku.

“Tadi shock liat porsinya, sekarang malah kayaknya kamu yang mau ngehabisin sendiri.”

“Abis enak. He he he he he he he he,” kataku malu-malu. “Beli dimana sih ini, Mas?”

“Sushi Ball di Saint-Etienne, nanti kapan-kapan kita makan di sana.”

Aku terdiam sejenak. “Saint-Etienne, Mas? Bukannya itu jauh ya?”

Mas Fahri menepuk keningnya. “Bukan kotanya, di dekat sini ada Jalan Saint-Etienne, tadi sekalian lewat kok, La.”

“Oooooh, kirain, he he he,” tawaku canggung.

Akhirnya 3/4 porsi sushi tadi masuk dengan penuh penyesalan ke dalam perutku. Setelah tak ada suhsi tersisa rasa bersalahku muncul melihat Mas Fahri hanya makan sedikit padahal seharusnya ia yang banyak makan setelah seharian bekerja. Aku meminta maaf berkali-kali, sungguh, yang tadi itu khilaf, Mas Fahri berkata tak apa sama banyaknya.

Oh ya, aku belum berbicara tentang Mas Fahri, pria yang baru menginjak usia kepala tiga, yang berarti sama dengan Mbak Aya yaitu berjarak 7 tahun denganku. Rambutnya hitam bergelombang dan mempunyai lesung pipi yang tertanam di kedua pipinya. Raut wajahnya keras menggambarkan ia seorang tegas padahal hatinya lembut. Ia lulusan Universitas Sorbonne di Paris dan kini bekerja sebagai akuntan di Marseille.

Sewaktu di pesawat aku pernah menanyakan hal ini padanya. “Mas, kenapa kerja di Marseille tapi tinggal di Avignon? Aku ngeliat di Google Maps jaraknya satu jam perjalanan. Apa nggak capek?”

Dia menatapku, nampak ragu untuk menjawab pertanyaan tadi. Namun akhirnya ia menjelaskan kalau sedari masa kuliah dulu ia ingin tinggal di Avignon bersama Florencia, mantan kekasihnya yang berkebangsaan Belanda. Ia jatuh cinta dengan Avignon sewaktu liburan musim panas tahun ketiga ia di Sorbonne. Mas Fahri suka suasana abad pertengahan yang menjadi ciri khas dari Avignon. Banyak kastil masih berdiri dengan angkuh menampakkan kegagahannya telah merebut hatinya. Sejak saat itu Mas Fahri dan Florencia menetapkan bahwa Avignon adalah tujuan akhir mereka.

Setelah menabung pada masa awal-awal bekerja di Paris, ia akhirnya sanggup membeli satu apartemen sederhana di Rue Viala, yaitu apartemen yang kami tempati sekarang. Lalu ia pindah ke satu kantor yang bertempat di Marseille--sampai sekarang, sedangkan Florencia sempat bekerja di biro hukum di Avignon. Ia tak keberatan dengan perjalanan super pagi, dan pulang malam hari. Karena tinggal di Avignon adalah keinginannya, jadi ia tak merasa itu sebuah masalah besar.

“Awalnya sih kerasa banget capeknya, La, tapi mungkin karena udah terbiasa, jadi rasa capek di perjalanan udah nggak kerasa banget kayak dulu.”

Aku mangut-mangut. Berhubung dia menyinggung tentang Florencia, aku turut penasaran dengan kisah mereka. Mas Fahri garuk-garuk bagian belakang kepalanya mendengar keingintahuanku.

“Yaaa, we broke up, La, gimana lagi? Dia nggak habis pikir sama pikiran orang tua aku yang dengan mudahnya mengakhiri hubungan kami yang udah bertahun-tahun. Bahkan kalau masalahnya agama, Floren udah bersedia untuk pindah. Akhirnya dia blame aku karena aku nggak bisa nolak keinginan Mama, dia ngira aku udah cinta mati sama kamu jadi dia berpikir itu bukan maunya Mama, tapi mauku,” ia menghentikan kalimatnya untuk menarik nafas sejenak. “Yaudah, kita berantem hebat, putus dan dia milih pulang ke Belanda. Jujur, aku stres, La, karena kita pacaran udah lama tapi harus berakhir dengan seperti ini.” Roman wajahnya menunjukkan kesedihan yang nyata. Saat itu juga, Andre melintas dipikiranku. Dan mungkin kondisi apartemen yang sangat sangat berantakan itu tak lepas dari masalah yang Mas Fahri alami sendiri.

“Kamu sendiri gimana, La?” Aku tersentak.

“Kalau nggak salah, bukannya kamu juga punya pacar ya? Artis, kan?” Ia bertanya lagi.

“Iya, Mas, tapi...,” aku ragu untuk mengatakan itu.

“Tapi?” Nada bicaranya agak ditekan dan ia menaikkan satu alisnya.

Aku menarik nafas panjang. Sepertinya perjalanan panjang di udara saja masih belum cukup menguras tenagaku.

“Aku nggak seperti Mas, aku pergi tanpa pamit.” Itu dia. Kalimat pertama sudah dilontarkan, kalau sudah begini maka harus kuteruskan.

Tak ada perubahan ekspresi pda roman Mas Fahri. Aku melanjutkan kisahku.

“Aku terlalu pengecut untuk bilang mengenai ini sama Andre.” Aku melengos, menatap kabin pesawat memerhatikan pramugari yang sibuk menawarkan makanan kepada tiap penumpang.

Selesai mendongeng timbul perasaan lega. Aku merasa seperti curhat dengan Mbak Aya, mungkin faktor kesamaan umur diantara mereka berdua yang menjadikan aku nyaman dengannya. Sejak saat itu aku dan Mas Fahri lebih condong ke abang-adik daripada suami istri.

---

Hari-hari berikutnya di Avignon aku gunakan untuk menyisiri tiap sudut kota ini. Aku mengunjungi berbagai tempat, diantaranya Palais des Papes, sebuah istana peninggalan abad pertengahan yang terdiri dari balai kota hingga teater. Berada di tengah halaman istana seakan menarik ragaku mundur ke ratusan tahun lalu menuju masa dimana Paus Benedict III mulai membangun istana sebagaimana yang terpampang di hadapanku ini. Aku takjub melihat bagaimana megahnya dua belas tower batu yang melintangi istana ini. Kemudian di lain hari aku pergi ke Pont d’Avignon, jembatan abad pertengahan yang terkenal di barat laut pusat kota Avignon. Jembatan ini membentang di atas sungai Rhône dan memiliki panjangnya sekiar 900 meter. Aku datang pada sore hari ketika langit nampak keemasan memamerkan keindahannya, berada di sini tanpa mengunggah fotoku ke media sosial sungguh menyiksa.

Namun dari beberapa tempat yang aku kunjungi, aku punya dua lokasi yang menjadi destinasi favoritku. Pertama Rocher des Doms, taman yang terletak di utara Avignon. Di salah satu sudut taman ini terdapat pohon pinus yang berjejer rapih. Rerimbuan pohon menjadi nilai plus karena membuat suasana menjadi sejuk. Tidak jauh dari deretan pohon itu terdapat bangku taman yang biasa aku hampiri untuk menulis atau duduk sembari menyantap makanan ringan melihat orang-orang menikmati harinya.

Kedua ialah Rue des Teinturies, sebuah surga kecil di Avignon. Jalan ini dipenuhi berbagai restoran, kafe hingga teater dan di sisi satunya mengalir sungai Sorgue, yaitu sungai kecil yang di ujungnya terdapat kincir air yang menambah kesan pedesaan di jalan ini. Pohon rimbun sepanjang jalan ini menambah kesan nyaman ketika hendak menyusuri Rue des Teinturies. Aku senang duduk di pembatas batu tepi sungai Sorgue dekat kincir air dengan laptop terbuka di pangkuanku. Biasanya aku menulis sembari mengenakan earphone untuk mendengar lantunan musik akustik, namun kala duduk di sini, telingaku terbuka lebar mendengarkan gemericik air yang secara tak langsung menjadi lagu latar bagi jari-jariku menari di atas keyboard.

Setelah menelusuri kota ini, aku menjadi paham mengapa Mas Fahri memilh Avignon sebagai tempat tinggalnya. Mengapa ia rela bolak-balik ke Marseille dan tidak menetap di sana. Aku mengerti setelah kakiku melangkah lebih jauh, mataku menatap lebih banyak, dan hatiku merasakan lebih dalam keseluruhan dari kota ini.

“If you are coming to visit Provence, don't stop in Avignon! Once here, like a siren, the city will entrance you and you won't want to leave!”

Aku merasakan hal yang sama seperti yang Mas Fahri rasakan.

Aku jatuh cinta dengan kota ini.

Namun aku di sini bukan bersama orang yang aku cintai.

I wish you were here, Ndre.

to be continued

Friday, July 7, 2017

Chapter IX - A Truth



Chapter sebelumnya dapat dibaca di sini

---

Laila

Aku terbangun dari tidurku. Bersiap menjalani hari baru dengan perasaan lama. Rasa bersalah dan menyesal yang tak bisa dilupakan, bahkan untuk mencoba sekali pun.

Aku duduk di tepi ranjang dengan rambut berantakan. Aku heran dengan mereka—perempuan, yang gemar mengunggah foto mereka mendusin di Instagram dan mendapati wajah mereka sudah dihiasi make up tipis juga rambut yang begitu tertata. Sedangkan aku? Rambut acak-acakan, muka beler seakan semalam habis menenggak berbotol alkohol serta kaos yang kugunakan kerap melorot mempersilakan bahu diterpa matahari yang menyusup dari balik tirai.

Setelah memastikan nyawaku terkumpul, aku bangkit dari ranjang, melakukan streching ringan untuk meregangkan otot tubuhku.

“Another day, another pain, old mistakes, same feeling,” desisku berulang kali dalam pemanasan dengan mata terpejam.

Kegiatan ini berlangsung selama 5 menit. Aku berjalan gontai menuju pintu. Aku melihat jam di ruang tengah menunjukkan pukul setengah 10. Hmmm, lebih cepat satu jam dari biasanya.

“Eh, Si Kebo udah bangun,” sambut Mbak Aya, kakakku, yang sedang menonton televisi dengan gelas berisi teh digenggamannya. Ia menoleh ke belakang saat tahu pintu kamarku terbuka.

Aku mengabaikannya. Aku bawa langkah yang kian berat ini menuju sofa tempat Mbak Aya duduk, mata Mbak Aya mengamati gerakanku yang super lamban hingga aku membanting bokongku di sofa dan menaruh lenganku di pinggirannya, kemudian memposisikan kepalaku di atas lenganku. Mataku terpejam kembali.

“Eleh eleeeeh,” suara Mbak Aya melengking. “Baru juga bangun malah langsung tidur lagi. Ini mah pindah tempat doang namanya!” cerocosnya. Aku balas dengan gumaman.

“Bangun, Lailaaa!” Mbak Aya melempar bantal yang ada di pangkuannya kepadaku.

“Ih, apasih mbaak! Orang masih ngantuk juga!” ujarku kesal tanpa membuka mata.

“Mbak udah senang kamu bisa bangun pagi, walaupun nggak bisa dibilang pagi juga, sih. Eh, ternyata masih mau tidur juga. Bangun geura ih, katanya mau ke ngajak Mbak ke kafe.”

“Iya ih, kafenya juga tutupnya masih lama. Masih ngantuk, Mbak, semalam tidur larut soalnya,” balasku semakin gondok.

“Makanya kosongin itu pikiran. Kamu lagi stres sih jadi tidurnya larut terus. Ini mumpung Mbak lagi di sini jadi bisa ngomelin kamu,” aku nggak tahan lagi mendengar omelan Mbak Aya. Aku membuka mata, membenarkan posisi dudukku dan kupasang muka cemberut dengan pandangan ke arah televisi yang menayangkan Ant Man di HBO.

“Tong cemberut kitu ah. Kayak anak kecil aja kamu mah, La, udah tua juga,” kata terakhirnya membuatku mengalihkan mata ke arahnya. “Cie sadar kalau dibilang tua.” Ia tergelak. Ingin rasanya kucengkram lehernya agar ia diam.

“Nih, La, minum teh dulu biar enakan paginya,” Mbak Aya menyodorkan gelasnya. Awalnya aku enggan menerimanya karena masih kesal, tapi aku teringat semenjak bangun tadi aku belum minum dan kini tenggorokanku terasa kering.

Kekesalanku memudar setelah air teh mengaliri tenggorokanku. Benar apa yang ia katakan, aku merasa lebih rileks. “Mbak, Kenji mana?” ku sudahi pertengkaran pagi hari dan mencoba membangun percakapan normal dengan bertanya tentang Kenji, keponakanku.

“Lagi anteng sama Bi Asih di halaman belakang,” Kenji Satria Rahardja. Anak lelaki tampan Mbak Aya yang berusia 6 tahun. Nama Kenji diberikan karena ia lahir di Negeri Sakura. Mbak Aya tinggal di Jepang sejak 9 tahun lalu. Suaminya, Mas Angga, merupakan seorang pengajar mata kuliah Bahasa Indonesia di Tokyo University of Foreign Studies.

Mbak Aya tinggal di Setagaya, salah satu distrik di Toyko dan membuka usaha kedai kopi kecil-kecilan yang turut menjual makanan Indonesia, juga tempat tinggal bagi mahasiswa yang kuliah di Jepang.

Sebelum semesta mempertemukan aku dengan Andre, aku beberapa kali mengunjungi Mbak Aya. Bisa dibilang, rumah Mbak Aya merupakan escape plan ku dari segala tekanan yang aku terima, baik dari perkuliahan maupun dari Ibu.

Menulis di Kinuta Park adalah aktifitas mayorku jika sedang menetap di sana. Sungguh, tak ada tempat yang begitu mudahnya mendatangkan inspirasi selain Kinuta Park. Taman yang begitu indah dalam segala musim, khususnya ketika sakura mulai mekar. Aku merasa Tuhan berbaik hati memberikanku kesempatan menikmati bagian kecil dari Surga-Nya ketika duduk di bawah pohon sakura dan melihat daun merah muda berguguran karena menerima sentuhan lembut angin. Dan saat momen itu tiba, aku tak acuh lagi dengan laptop di pangkuanku, atau apapun itu yang membawaku ke sana.

Mbak Aya tiba di Indonesia 4 hari silam. Setelah pertemuan terakhirku yang tidak-terlalu-berjalan-baik dengan Andre, aku acap menghubungi Mbak Aya tuk mengatakan betapa gegabahnya aku dalam mengambil keputusan itu.

Sejujurnya, aku ingin ke sana, ke kediaman Mbak Aya. Akan tetapi sepulangnya aku dari Prancis dan mendapati apa yang aku harapkan urung menjadi nyata, keputusan pergi ke Jepang malah semakin menasbihkan diriku sebagai pengecut yang terus lari dari masalahnya.

Alhasil tak hentinya aku menghubungi Mbak Alya melalui media sosial. Karena merasa gusar terus menerus mendengar keluhanku, Mbak Aya memutuskan pulang ke Jakarta, membawa Kenji dan menitipkan kedainya pada mahasiswa yang tinggal di rumahnya.

“Mereka nggak kerepotan tuh, Mbak, diberi tanggung jawab buat ngurus keseluruhan kedai?” tanyaku sewaktu menjemput Mbak Aya di bandara.

“Ah, mereka udah biasa kok. Lagi pula, sebagai imbalannya Mbak memotong biaya sewa tempat tinggal untuk bulan berikutnya. Mahasiswa mana sih yang nggak suka kosannya dikasih diskon setengah harga?”  jawabnya enteng.

---

 “Tanteh...tanteh, mau kemanah?” suara itu menyambutku ketika aku keluar kamar dengan pakaian rapih. Kenji melihatku dengan mata bulatnya yang berwarna cokelat muda. Aku suka caranya berbicara karena selalu ada huruf ‘h’ mengekor di belakangnya.

Aku berjongkok agar sejajar dengannya. “Tante pergi ke dokter sebentar sama Bunda,” dustaku seraya mengusap rambutnya yang lurus.

“Kenji, kamu di rumah dulu ya sama Bi Asih, Bunda kelur bentaaar aja,” Mbak Aya yang baru selesai berhias menghampiri Kenji yang berada di dekatku. Kenji tergolong anak cerdas dan tidak rewel. Ia tak keberatan jika harus ditinggal di rumah bersama Bi Asih. Toh, ia sibuk bermain dengan mainannya yang menumpuk di salah satu kamar meskipun keluargnya jarang pulang ke Indonesia.

“Tapih, tapih, pulangnyah beliin popkoln yah?” dan itu syarat kedua Kenji--dibelikan popcorn. Aku melihat Mbak Aya yang tersenyum padaku. Sudah pasti Kenji menyukai popcorn karena Bundanya termasuk maniak cemilan yang biasa disantap ketika menonton film tersebut.

Aku mengacungkan jempol pada Kenji, sedangkan Bundanya merunduk untuk mencium keningnya.

Kafe tempat kami tuju berada di daerah Kemang, tak jauh dari rumah kami di Cilandak. Aku senang dengan design interior kafe ini; didominasi warna hitam yang dilengkapi kursi, meja dan bar berbahan kayu. Kami mengambil tempat duduk di sudut ruangan dekat kaca besar yang mempersilakan sinar matahari masuk memberi cahaya natural ke seluruh ruangan.

“Jadi, gimana? Kamu sama Andremu?” tanya Mbak Aya tanpa basa-basi seraya menyeruput cappuccino-nya.

Ia terbelalak sebelum aku menjawab pertanyaannya. “Gila, enak banget cappuccino-nya! Pakai house blend apa, ya, mereka? Duh, La, asli enak banget! Kira-kira mereka mau kirim ke Jepang nggak, ya?” girang Mbak Aya. Aku hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum.

“Ah, nanti aja deh biar Mbak tanya, sekarang kamu dulu,” ia menaruh cangkirnya, menegakkan punggung dan melipat tangan di atas meja. Ia dalam posisi siap untuk mendengarkan.

Aku bersandar pada kursi, menatap tepat pada pupil mata Mbak Aya, lalu menghela nafas.

“Nggak gimana-gimana, Mbak. Setelah malam itu kita nggak pernah ketemu lagi. Bahkan saling mengirim kabar via media sosial pun tidak. Aku merasa...merasa bahwa pada malam itu seakan tak ada kejadian apa-apa. Kita kembali ke kehidupan masing-masing. Kehidupan sebelum kita bertemu, lagi. Dia dengan band dan kafenya, sedangkan aku dengan kebiasaanku dulu; mengikuti kegiatannya lewat akun kedua instagramku. Beruntung dia punya ratusan ribu pengikut, sehingga tak mungkin mengenali siapa yang mengikuti dia,” aku berhenti sementara tuk menyesap kopiku, Malabar Natural—kopi kesukaan Andre.

Mbak Aya tak akan bersuara sebelum aku menyelesaikan ocehanku, maka aku melanjutkan, “Aku nggak tau apa yang ada dipikiran dia sekarang. Dia berhak merasa apa saja kepadaku—marah, benci, ilfeel. Apapun. Mbak, apa ada yang bisa melebihi ini? Saat kita merasa lega karena mengutarakan sesuatu, namun menyakitkan pada saat bersamaan.”

Aku memutar-mutar gelasku.

“Terkadang aku turut menyalahkan Ayah dan Ibu. Terutama Ayah, pikiran Ibu jadi bebal karena tindakannya yang meninggalkan kita untuk...,” ku raih tisu dari dalam tasku. Aku terisak. Air mataku menggenang spontan. “Untuk tinggal bersama perempuan sialan itu. Saat itu Mbak Aya sudah berpacaran dengan Mas Angga dan Ibu menyetujui hubungan kalian, karena kalian telah menjalin hubungan sejak SMA—dimana suasana sangat baik-baik saja masa itu. Sedangkan aku? Aku yang baru memasuki SMP harus terus hidup di bawah sifat protektif Ibu, terutama dalam berteman dengan lelaki. Bahkan...bahkan sampai Ibu meninggal. Sehingga aku harus meninggalkan Andre dan bersanding dengan lelaki pilihan Ibu, walaupun kita nggak saling mencintai.” Air mata Mbak Aya nampak memenuhi tepian matanya, bersiap untuk jatuh.

“Aku ingin mengutuk kebebalan Ibu. Aku tau Ibu trauma setelah Ayah pergi. Aku tau Ibu ingin aku tidak merasakan penderitaan yang sama, meskipun aku mendapat penderitaanku sendiri. Kalau Ibu tidak bersimpuh memohon padaku mengikuti kemauannya, aku nggak mungkin ninggalin Andre. Kalau Ibu tak mengatakan itulah permintaan terakhirnya, bahwa ia ingin melihatku menikah dengan pria pilihannya...aku...” nafasku tercekat selama beberapa saat. Mbak Aya menyapu lenganku dengan tangannya.

Entah apa yang Tuhan inginkan dariku. Ia selalu mengujiku dengan memberi pilihan sulit yang mampu menguras emosiku untuk menentukan mana yang terbaik.

Andre dan Ibu. Salah satu contoh ujian yang Ia berikan. Aku harus memilih antara dua orang terpenting dalam hidupku.

Aku menemukan warna hidupku kembali semenjak berjumpa dengan Andre. Ia mampu memberikan secercah cahaya terhadap jalan ke depanku yang selama ini kelam. Namun, aku terlambat. Aku membuang kesempatan emas yang sempat Ibu berikan kepadaku; memilih lelaki. Kesempatan yang selama ini tak diberikannya padaku.

Hanya dua. Dan dua pria yang singgah dihidupku sebelum Andre tak mampu membuat Ibu memberikan restunya. Sehingga ia lekas memilihkanku pendamping yang menurutnya tepat, tapi tidak bagiku.

Jikalau ditanya, ‘Kenapa Andre nggak diperjuangin?’, jika ada yang bisa melunakkan kedegilan Ibuku, maka aku bersedia melakukan apapun yang ia inginkan. Selama masih dalam batas wajar. Dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Andre.

Dan memilih Andre tanpa memikirkan Ibu? Aku semakin tak mampu. Aku paham Ibuku sangat keras kepala sehingga membuatku naik pitam dibeberapa kesempatan. Tapi beliau Ibuku. Seseorang yang mengandung dan menjagaku sembilan bulan lamanya dalam rahimnya, dan orang yang merawat, membiayai, serta mendidikku sampai umurku dua puluh tiga tahun. Ibu tetaplah Ibu. Sepahit apapun peringainya, tetaplah mustahil bagiku membalas semua hal yang telah ia berikan padaku.

Lagi pula, sejak kami—aku dan Mbak Aya, tahu Ibu divonis terkena kanker, durhakalah aku sebagai anak kalau ikut serta membuat sakit perasaannya dalam mengindahkan permohonan itu.

Aku tahu, terlalu sulit untuk memilih antar dua orang yang sejatinya dapat memberi kesempurnaan dalam kehidupanku.

Lidahku acap kelu untuk mengatakan perihal ini kepada Andre. Beban ini menjadi mimpi buruk yang datang tiap malam. Tentang bagaimana reaksi Andre jika mendengar pengakuanku, dari mulai yang buruk hingga ke paling buruk.

Aku bergidik membayangkannya. Maka aku putuskan untuk bungkam dan akan kuutarakan hingga saatnya tepat. Dan ternyata aku salah. Tak ada saat tepat. Tak ada hati yang utuh ketika ditinggalkan pemiliknya sekalipun berkata bahwa ini adalah yang terbaik.

Yang terbaik tak mungkin pergi.

Ia akan bertahan dan memikirkan jalan keluar bersama. Bukan sepihak dan kabur selayaknya pecundang.

“Laila, kamu wanita kuat. Jujur, Mbak nggak mengalami hal seperti kamu di usia yang sama. Tapi Mbak salut sama kamu, Laila. Secara perlahan kamu mampu melewati cobaan ini. Hatimu menjadi kian teguh karena rentetan peristiwa yang kamu lalui. Percaya bahwa ini bagian dari proses..proses menuju akhir yang bahagia,” kata Mbak Aya selembut mungkin. “Dan percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan yang terbaik bagi kamu, La.”

Tuhan telah menyiapkan yang terbaik.

Aku tahu, terlalu angkuh jika turut menyalahkan-Nya. Tapi aku merasa labirin ujian yang aku hadapi kini semakin menyempit, hingga raga dan jiwaku terhimpit. Aku tak merasa ada pintu keluar di sana. Apakah memang ini yang dikatakan terbaik?

Kami terdiam sesaat. Mbak Aya masih menatapku. Aku melihat cangkir kopi di meja.

“Satu lagi, Mbak,” aku mengangkat dagu. “Aku merasa bersalah pada dua orang; Andre dan Mas Fahri—mantan suamiku.”

Kening Mbak Aya berkerut.

“Pada awalnya kami emang nggak saling mencintai. Tapi...semakin lama ia menunjukkan kalau perasaannya padaku berubah. Bahkan ia mulai menyinggung perihal anak, padahal sejak awal kami sepakat bahwa pernikahan ini hanya sementara dan tidak memiliki anak.”

Mbak Aya terkesiap mendengarnya. Aku memang belum membagi mengenai bagian ini pada siapapun.

“Aku nggak bodoh, Mbak. Meski hatiku mati sejak meninggalkan Andre, tetapi aku masih bisa ada sesuatu yang sedang diusahakan Mas Fahri. Terutama menjelang kami berpisah. Aku kira aku mengubur harapannya agar aku bertahan. Keseluruhan hatiku mengatakan Andre lah tempatku pulang dan menetap.”

Meski sempat tercengang, Mbak Aya mampu menguasai rautnya dalam sekejap. Ia tidak banyak berbicara, karena memang bukan itu yang aku butuhkan. Aku hanya butuh didengarkan, tidak ada yang lebih mengerti hal ini selain Mbak Aya.

Ia memberiku waktu untuk beristirahat, beranjak menuju bar meninggalkanku sendiri. “Mbak mau tanya perihal pengiriman house blend mereka sama Masnya.”

Aku menumbukkan pandangan pada deretan pohon di luar kaca besar. Pikiranku berkelut dengan gambaran ‘what if’ di dalamnya. Bagaimana kalau Andre benar-benar nggak mau bertatap muka lagi denganku? Sampai bagaimana kehidupan Mas Fahri setelah kami bercerai—apakah kembali seperti sebelum kami menikah atau lebih buruk?

“Alhamdulillah bisa. Masalah ongkos kirim mah gampang. Anak-anak pasti bakal suka deh,” suara Mbak Aya memecah lamunanku. Ia kembali menempati posisinya.

Mbak Aya menghela nafas. “Sekarang kamu jangan begadang lagi deh. Kasihan fisik sama batinmu kalau begini terus. Udah deh, kalau mau nonton Blue Jay sama Eternal Shine of the Spotless Mind nggak usah mulai jam 10. Bisa, kan, nonton dua film itu siang-siang? Lagi pula, nggak bosen apa nonton itu terus?”

Aku tersenyum getir.

“Nggak pernah bosen kayaknya, Mbak. Aku sebenarnya pengin reaksi Andre pas pertama melihat aku sama kayak reaksi Jim melihat Amanda setelah bertahun-tahun nggak ketemu. He said, ‘Hai’, walau dengan senyum canggung,” senyumku tersimpul karena membayangkan adegan film Blue Jay itu benar terjadi dalam kisahku. “Atau karena our first meeting not going well, aku berharap bisa menghapus memoriku seperti Clementine menghilangkan ingatan tentang Joel dari pikirannya.”

Aku mengangkat bahu sembari menggelengkan kepala. Merasa bodoh karena menggambarkan reka ulang adegan dua film tersebut dalam khayalanku dengan aku dan Andre sebagai tokoh utamanya.

“Tapi pada akhirnya, baik Jim dan Amanda serta Joel dan Clementine saling melempar senyum juga tawa, kan? Meskipun ada air mata yang mengiringi mereka.”

Aku terperangah. Mbak Aya tersenyum melihatku.

Semoga aku mendapati akhir yang sama seperti mereka.

Semoga.

“Udah yuk, kasihan Kenji ditinggal kelamaan,” Mbak Aya berdiri dari kursinya seraya mengemas barangnya ke dalam tas. “Eh, ke XXI Kemang dulu deh. Mumpung dekat.” Lanjutnya.

Aku mendongak keheranan. “Ngapain? Emang ada film seru?”

“Loh, siapa yang bilang mau nonton? Mbak cuma mau beli popcorn kok,” ujarnya. Aku melongo. Ia tersenyum.

“Kenapa nggak di minimarket aja sih?” protesku.

Mbak Aya telah selesai memasukkan barangnya. Ia mematung di depanku. Merunduk sedikit lalu menempelkan telunjuknya ke hidungku. “Karena nggak ada popcorn caramel yang lebih enak dari punyanya XXI, Laila,” ujarnya sambil berlalu melewatiku.

“Dasar maniak!!!” Aku sedikit meninggikan suaraku. Mbak Aya menoleh sembari memeletkan lidah. Aku terkekeh melihatnya.

---

Di perjalanan pulang aku hanya duduk diam mengamati jalanan. Sedangkan Mbak Aya menyetir dengan tangan kanan pada kemudi dan tangan kiri yang berulang kali menggerus popcorn caramel dari cup holder di bagain tengah. Dua cup popcorn caramel dan satu salty popcorn large size untuk di rumah masih terbungkus rapih dalam plastik di kursi  belakang.

“Mbak,” sahutku tanpa melihatnya.

“Hmm?”

“Makasih ya,” tatapanku berpindah ke arah Mbak Aya. Ia tersenyum dan mengacak rambutku.

“Mbak! Kotor ih! Abis makan popcorn juga!” kesalku seraya menghentikan gerakan tangannya di kepalaku. Ia malah tertawa tapi tidak menyudahi aktifitasnya.

“Kamu itu,” ia menaruh tangannya pada kemudi. Aku merapihkan rambutku. Bibirku mengerut kesal. “Adikku yang paling kuat. Yang paling teguh hatinya. Paling ceria peringainya, jadi sudahi sedihmu, La. Mbak selalu berdoa yang terbaik untukmu. Mbak percaya akan akhir yang bahagia. Kamu juga harus tanamkan kepercayaan itu dalam hatimu.” Ia mengerling melontarkan seringai.

Kerut dibibirku digantikan oleh senyuman.

Ya, aku harus percaya,

akan akhir yang indah,

Percaya...

Harus.

Dan berbicara mengenai masa sulitku ketika harus terpisah dari Andre dan hidup dengan seseorang yang tak saling mencintai. Proyektor memoriku seakan memutar kisah itu, kisah ketika aku berada di negeri yang disebut banyak orang negeri yang romantis, tapi aku jalani dengan hati teriris tiap harinya, yaitu Prancis.
to be continued

Saturday, June 24, 2017

Chapter VIII - Decision


Chapter I-VII bisa dilihat pada tag series.

---

Andre

Ndre, i was married...

Satu kalimat singkat yang masih melekat dipikiran gue hingga detik ini. Apa yang ia katakan setelahnya gue anggap sebagai remeh temeh belaka. Namun mengetahui bahwa ia pernah menikah? What the fuck...gue sama sekali nggak pernah terbayang mengenai hal ini. Bahkan pikiran busuk gue kalau ia menjadi korban pembunuhan dan jasadnya tak pernah ditemukan terdengar lebih masuk akal dibanding dengan kenyataan bahwa ia pernah menikah dengan...dengan seorang cowok yang bahkan nggak pernah ada di lingkaran hidupnya. 

Ah...anjing.

“Aku begini karena terpaksa, Ndre...,” persetan. 

Mungkin alasannya dapat diterima jika ia bercerita dengan orang yang secara langsung tidak terlibat dalam skenarionya. Huh, skenario...berarti penuh dengan kebohongan. Tapi alasan itu nggak dapat gue terima. Oleh pikiran gue. Oleh hati gue. Karena di sini gue berperan sebagai tokoh utama, atau lebih tepat; seorang main character yang nggak tau akhir dari peran yang ia jalani.

Seandainya ia berkata jujur sejak dulu, mungkin gue secara sukarela mundur dari kehidupannya. Terdengar begitu mudah. Atau mungkin dikarenakan sekarang gue menghadapi kondisi yang jauh lebih buruk daripada itu, sehingga apa yang tadi gue katakan terdengar mudah dilakukan? Entahlah. Tapi yang pasti, ditinggalkan tanpa alasan dan datang kembali membawa alasan tersebut itu sungguh menyakitkan.

“Tuh kan, Yan, ini anak nggak bisa ditinggalin sendirian sekarang. Takut gue.”

“Iya, gue juga khawatir...hoi, bangun!”

Gue tersadar ketika Dian menyetakkan jarinya tepat di muka gue. “Eh, sorry,” ucap gue menyadari makna tatapan ‘tuh kan’ teman-teman gue.

“Tuh kan...gue bilang juga apa. Lagi rame begini aja masih bisa bengong, gimana kalau sendirian. Setan juga kayaknya capek mau masuk ke badan dia,” Rama yang duduk berhadapan dengan gue menghembuskan asap rokoknya ke langit-langit.

“Ndre, nggak usah terlalu dipikirin, okey? Sekarang lo lagi sama kita-kita, lupain sejenak pembicaraan lo sama Laila tempo hari,” tangan Dian menepuk bahu gue dan menatap gue dengan tatapan keibuan khas dirinya.

Gue mengangguk perlahan. Gue nggak mau ngerepotin mereka lebih jauh lagi. Meskipun gue sedikit kurang suka saat Dian menyebut nama itu. Nama yang kini berusaha gue hapus dari memori gue.

Namun tak kunjung bisa.

“Eh, waiters di sini cakep juga. Jomblo nggak yah dia?” disaat Rama dan Dian mengkhawatirkan gue, Richard terpaku memandang seorang wanita dibalik mesin kasir.

“Si kampret malah ngeliatin anak orang lagi. Di sebelah lo itu loh ada teman kita yang lagi bermasalah. Fokus woy!” segepal tisu lemparan Rama mendarat tepat di muka Richard.

“Gue udah kesambet sama senyumnya doi, Ram...nah...nah, dia ngeliat ke arah gue kan!” tubuh Richard bergoncang kegirangan dan secara tak sadar ia menepuk bahu kiri gue berulang kali.

“Itu karena dia ngerasa diliatin sama orang freak, bego! Lo ngeliain dia lima menit lagi juga dia minta resign ke bosnya,” balas Rama.

“Biarin kali, Ram, Richard kan punya masalahnya sendiri. Kasihan juga dia udah lama nggak punya gandengan.” Gue menangkis tangan tepukan Richard dari bahu gue karena mulai merasa anak ini sengaja mau nyakitin gue.

“Loh, kata siapa udah lama nggak punya gandengan? Bukannya baru 3 bulan lalu, ya? Tapi...” Rama menahan kalimatnya.

“Tapi nggak taunya si cewek agen MLM yang lagi nyari korban baru,” timpal Dian cepat, membuat meja kami menjadi penuh oleh tawa.

“Bangsat kalian semua ya,” geram Richard.

Love you too, Chard,” Rama masih terpingkal. Karena menghina Richard adalah salah satu hal yang ia sukai--selain tidur dengan wanita tentunya.

Berada di antara mereka membuat gue bisa sedikit melupakan pertemuan itu. Pertemuan pertama gue dengannya dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Meskipun bayang-bayang malam itu kerap melintas dipikiran gue. Jujur, gue berharap bisa masuk ke bagian hipokampus di otak gue untuk membuang memori akan pertemuan itu. Enggak...mungkin memori gue secara keseluruhan dengan dia. Sial, bahkan sekarang gue enggan menyebut namanya.

---

Setelah sekian lama, gue kembali lagi ke sini. Kota penuh cerita akan masa kuliah gue dulu. Kota dimana gue bertemu dengannya, kemudian mulai merajut mimpi bersama serta saling mengisi kehidupan satu sama lain.

Gue sebetulnya bisa saja menolak manggung di acara clothing festival yang baru saja diselenggarakan. Teman-teman pun bahkan sampai menanyakan ketersediaan gue untuk menerima tawaran ini. “Yakin lo, Ndre, mau main di Jogja?” Dian memastikan berulang kali dan gue iyakan berulang kali pula. 

Seperti yang telah gue katakan, gue nggak mau ngerepotin sahabat gue, terutama jika sudah masuk ranah band. Meskipun gue punya alasan untuk menolak tampil di sini; gue kurang suka sama set-list acaranya. Dimana Alchemy tampil setelah Raisa dan sebelum DJ Una. Random abis. Entah kenapa gue pribadi kurang sreg kalau berada satu panggung dengan musisi lain yang genre musiknya saling berbeda. Tapi gue nggak pernah mengungkapkan hal ini. Selama personil lain dan Dian setuju, gue memilih untuk diam dan mengikuti saja.

Pada hari H, gambaran gue tentang acara itu menjadi nyata; dede gemesh penggemar Raisa mundur untuk kemudian digantikan segerombolan anak muda dengan pakaian serba hitam yang segera membentuk circle pit dan mosing ketika musik kami bergema. Setelah kami selesai mereka mundur dan digantikan oleh kelompok anak muda lainnya untuk sama-sama mengangkat tangan ke udara sambil geleng-geleng kepala mengikuti flow musik yang naik turun. Asli..random.

“Itu penggemarnya Raisa nggak usah mundur! Kita mau bawain album Raisa versi rock!” teriak Rama di atas panggung. Penonton tertawa. Gue geleng-geleng kepala.

---

Sebetulnya gue enggan singgah terlalu lama, tapi Dian dan Bram ingin sedikit nostalgia dengan Jogja. Rama mengatakan ia juga butuh jauh-jauh dari Serang. Sedangkan Richard ingin mencari pacar di Jogja. Gue yang tak ingin merusak keinginan mereka memutuskan untuk diam. 

Maka di sinilah kami, bercengkrama di sebuah coffee shop di daerah Pogung. Hanya Bram yang tidak ikut karena ia mengunjungi pacarnya yang notabene merupakan adik tingkat Bram semasa kuliah dulu.

Jogja adalah kota romantis. Itu sudah hakekatnya. Namun pandangan gue terhadap kota ini agak melenceng dari semestinya. Jogja dan kenangan seperti sudah tak bisa dipisahkan. Dan kenangan, adalah musuh terbesar gue saat ini.

Bagi gue sekarang, Jogja merepresentasikan kesedihan.

Aspal jalanannya menyimpan jejak langkah gue dan dia. Nafas kami yang pernah menyatu dengan udara sejuk Jogja malam hari. Tiap elok jalanannya yang pernah kami sanggahi untuk memastikan kebenaran sisi romantis Jogja--dan kami berbagi tawa saat itu.

Ah, anjing! Kenapa gue jadi sentimen gini sih?

“NDRE!”

Gue tersentak.

“Belum lama setelah bengong pertama, sekarang malah kambuh lagi,” kata Rama.

“Apa kita pulang aja? Mungkin lo emang lagi belum bisa ada di kota ini lagi, Ndre,” Richard menambahkan sembari menyeruput kopinya.

Gue mengambil bungkus rokok di hadapan gue, lalu menyulutnya. “Nggak usah, Chard. I’m okay, kok.” Gue mencoba tersenyum meyakinkan mereka.

“Kan, tau gini tadi kita ke Liquid aja,” ujar Rama.

“Ogah.”

“Kenapa? Masih nggak mau mengunjungi tempat yang ada alkoholnya?” balas Rama dingin.

“Lo tau sendiri gue gimana,” gue berujar singkat. Gue memang bukan peminum. Bahkan untuk mengunjungi tempat yang menyediakan alkohol gue kerap menolak.

“Iya, justru karena gue tau lo gimana makanya gue ajak ke sana. Yang gue tau, Andre yang sekarang itu cuma cowok melow yang dengan mudahnya melanggar prinsip yang selama ini dia pegang.” Gue menatap nanar ke sembarang arah, namun gue tau kalau Rama melayangkan pandangan tajam pada gue.

“Yang gue tau, Andre itu juga anti sama rokok dan selalu menolak kalau disodorkan rokok bahkan dengan kita-kita. Bukan orang yang dengan kesadaran penuh mengambil sendiri bungkus rokok di hadapannya yang bahkan bukan miliknya...” Rama menahan kalimatnya. Gue masih belum melihat ke arahnya. “So, nggak nutup kemungkinan kalau Andre yang seorang anti alkohol pun bakal ikut minum saat berada di lingkungan yang mendukung.”

“Ram, udah.” Dian membuka suara. Terdengar berusaha menenangkan seperti semestinya.

“Huh, bangsat...lo nggak tau gimana rasanya aja,” sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulut gue.

“Gue tau...”

“Lo tau karena dia udah cerita ke lo duluan, gitu? Biar lo bisa ada dipihak dia dan ngeyakinin gue untuk balik lagi sama dia? Iya?” Gue menatap Rama. Rama tercengang ketika gue memotong ucapannya. Tergambar raut keheranan pada wajahnya ketika mendengar perkataan gue. Namun dalam sekejap ia bisa kembali menguasai ekspresi wajahnya dan kembali menunjukkan tatapan elang miliknya pada gue.

“Maksud lo apa?” ujarnya dingin.

“Lo jadi orang pertama yang dia pilih buat diajak bicara. Hahahaha. Lucu. Dan lo nggak ngasih tau ke gue tentang pertemuan itu,” gue mengalihkan pandangan lagi. Richard dan Dian tampak khawatir dengan aura ketegangan yang semakin terasa diantara kami.

“Kok jadi ke gue?” Rama meninggikan nada bicaranya. Rokok yang masih setengah dalam jepitan jemarinya pun ia gerus. Gue tau, kalau ia sudah begini, berarti ia tengah kesal dengan lawan bicaranya.

Gue melempar senyum sinis. “Karena lo seakan membenarkan apa yang telah dia lakukan terhadap gue. Atau mungkin selama ini lo turut berkomunikasi diam-diam sama seperti Nadine yang juga membohongi gue?” ada perasaan aneh yang menyelimuti gue. Ada emosi yang ingin gue luapkan. Gue tau ini salah. Gue sadar apa yang terlontar dari mulut gue adalah sebuah kesalahan besar. Tapi semuanya keluar begitu saja tanpa merasa bisa ditahan.

“Tai lo, Ndre,” Rama bangkit dari duduknya. “Lo yang sekarang bukan lo yang gue kenal sebagai sahabat gue. Ini semua masalah lo dengan masa lalu lo. Ini semua tentang ego lo yang menolak menerima kenyataan. Ini semua mengenai kebebalan hati lo sehingga mulai menyalahkan sekitar lo!” Ia mengacungkan telunjuknya ke arah gue. Suaranya meninggi mengakibatkan kami menjadi fokus bagi pengunjung lain. Terlihat para barista saling berbisik, mungkin bingung bagaimana harus bersikap kepada kami. Dan beruntung malam sudah larut sehingga tempat ini tidak seramai beberapa jam lalu. 

“Anjing. Mood gue rusak di sini. Gue cabut duluan,” Rama bergerak meninggalkan kami. Tak ada satu pun dari Dian atau Richard yang menahannya.

“Duh...kok jadi gini sih...,” Richard mengusap keningnya yang berkerut, sedangkan Dian seakan tercekat dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Gue tau, gue telah membuat runyam keadaan. Gue tau bahwa gue salah. Tapi entah mengapa gue enggan mengakui ini sebagai salah gue.

Sorry udah buat chaos,” gue mendengus. “Gue cabut duluan juga ya. Maaf sekali lagi.” Gue beranjak sebelum ada respon dari Dian dan Richard. Gue memutuskan untuk kembali ke hotel yang berada di jalan Margo Utomo.

“Maaf ya, Mas, Mbak, Ded, udah ngebuat sedikit keributan di luar.” Gue juga meminta maaf kepada barista dan pemilik kedai saat berpapasan.

---

Setiba di kamar gue terduduk di tepi ranjang dengan kepala merunduk. Mengutuk kebodohan yang baru saja gue perbuat. What the hell happened to me? Kemana Andre yang biasanya, Ndre?

Berada dikesendirian memaksa memori terbang kembali ke malam itu. Satu malam ketika Kronology Coffee disanggahi tamu mengejutkan. Tamu yang sejujurnya dinanti, tapi bukan dengan cara seperti ini.

“Selamat datang, Kak, silahkan mau order apa? Kebetulan kita sudah last order ya, Kak,” terdengar Alika mengucapkan kalimat sambutan pada pelanggan yang baru datang. Gue yang sedang merapikan barang dan melakukan cek beberapa inventory di ruang belakang segera melirik arloji. “Gila, orang ini nggak tau atau sengaja nih baru datang jam 11?” gue menggerutu. Jujur, gue kurang suka jika mendapat pelanggan yang datang menjelang closing time kafe.

Gue masih disibukkan dengan kegiatan gue sehingga tak sempat melirik ke luar untuk memastikan siapa yang datang. Karena biasanya pelanggan yang datang selarut ini merupakan segerombolan anak muda atau mereka yang biasa disebut ‘pendekar kopi’ di kota ini.

Cukup lama tak terdengar adanya transaksi di kasir sebelum...ah! Wangi ini...gue hafal dengan wangi parfum ini. Wangi parfum yang terakhir kali masuk melewati cuping hidung gue dua tahun lalu. Gue masih meneruskan apa yang sedari tadi gue lakukan, meski dengan perasaan gelisah dan tangan yang mulai gemetar.

“Aku order Laila Speciality.” Gue berhenti seutuhnya mendengar suara itu. Suara lembut itu. Tubuh gue mendadak kaku. Tremor di tangan gue semakin jadi. Jantung gue berdegup lebih cepat. Nggak salah lagi...itu pasti dia.

“Eng...maaf, Kak, kita nggak ada menu itu,” tentu nggak ada, Alika. Nggak ada satu pun yang tau menu itu selain gue dan gue nggak pernah mengumbar mengenai kisah cinta masa lalu gue selain kepada sahabat-sahabat gue.

Laila speciality...sebuah menu imaji yang pernah gue ucapkan ketika kami terlibat pembicaraan sore hari penuh canda tawa di teras kos gue dulu. Sebuah kolaborasi antara pisang goreng, kopi tubruk, senja dan dia yang membuat sore itu menjadi sempurna.

“La, nanti di kafeku akan ada menu dengan namamu sebagai bagian dari signature drinks. Sekaligus, membawa sebagian dari kamu bersemayam di sana,” senyum gue padanya kala itu sambil menyeruput kopi tubruk.

“Hmmm, mulai deh gombalnya si Bapak. Lagian kayak aku udah mati aja pakai kata bersemayam segala,” sahutmu dengan senyum indah itu. “Lagian emang signature drink gimana coba?” kamu melanjutkan.

“Belum kepikiran sih, La. Mungkin campuran velvet sama espresso gitu. Kamu suka velvet dan aku tetap menggunakan base kopi. Cocok nggak?”

“Enggak!” kamu menyumpalkan sepotong pisang goreng ke mulutku sembari menampilkan ekspresi menggemaskan. Tentu siapa yang bisa kesal jika kamu menunjukkan wajah menggemaskan itu?

Ah, good old days.

Kembali ke malam itu, setelah menyuruhnya duduk, gue mulai membuat pesanan. Alika dan para barista gue memerhatikan gue dengan ekspresi heran sekaligus bingung.

Laila Speciality telah berada di atas baki. Akan tetapi gue masih terpaku menatap minuman berisi red velvet, kopi dan kenangan ini.

“Bang? Ini aku serve sekarang?” pertanyaan Alika menyadarkan gue.

“Nggak usah, Ka. Kali ini biar aku yang ngantar,” gue coba menciptakan senyum senatural mungkin. Raut wajah Alika tak berubah, seakan masih menyimpan berbagai pertanyaan yang menunggu waktu untuk diutarakan.

Gue menghela nafas. Mencoba menghadapi sosok nyata dari bagian diri gue yang hilang dua tahun lalu. Gue bahkan belum saling melempar tatap dengannya, gue hanya baru berjumpa dengan wangi parfum dan suara lembutnya saja.

Langkah gue sempat terhenti ketika gue secara langsung melihat sosoknya duduk membelakangi pintu kaca di bagian smoking area kafe. Rambutnya kini dipotong pendek. Gue membawa kaki yang kian berat melangkah menuju meja itu. Semakin dekat, tangan gue semakin bergetar.

Here’s your coffee,” adalah kalimat pertama gue kepadanya setelah dua tahun berlalu.  Kali ini jarak gue dengannya begitu dekat. Wangi tubuhnya pun semakin menusuk indra penciuman gue. Dan diantara kami ada kenangan yang menyeruak ke udara.

Saat itu pula gue kehilangan kendali. Air mata itu tak tertahankan. Gue benci dengan air mata, karena ia dapat keluar sesukanya disaat kita tidak menginginkannya. Gue mencoba tegar, tapi semakin gue mencoba, maka kerapuhan gue semakin tampak.

Malam itu, ia menceritakan segalanya. Merobohkan dinding besar yang selama ini membatasi kami. Dari masa lalunya yang tak pernah ia bagi kepada gue, hingga kehidupannya berumah tangga dengan seorang pria lain dan tinggal di suatu daerah di Prancis selama dua tahun menghilang bak ditelan bumi. Dan memang pantas tak ada kabar, Prancis, bro, haha, siapa yang nyangka? Tolol banget gue nyangka dia mati.

Tak pula banyak kata yang gue ucapkan. Gue lebih banyak terdiam menatap kosong ke berbagai arah dengan telinga terbuka lebar mendengar kebenaran yang menyakitkan.

“Sudah hampir pagi, sebaiknya kita pulang,” gue berdiri dari kursi dengan pandangan melayang ke lantai.

“Ndre...,” gue mengindahkan panggilannya dan mulai melangkah keluar. Mau tak mau ia mengikuti gue untuk menyudahi pertemuan menyakitkan ini.

Sudah sebulan sejak gue bertemu dengannya, tak ada hari tanpa memikirkan malam itu. Gue bingung bagaimana harus bertindak selanjutnya. Sosok yang gue rindukan kini telah kembali, tapi ia sekarang tidak sama dengan ketika ia pergi dahulu. Ada lubang besar yang terbentuk dan sulit untuk ditutup kembali.

“Ndre?” Rama melongok dari balik pintu kamar.

“Eh, Ram, masuk.”

“Lo nggak apa-apa?” gue mengangguk lemah.

“Gue minta maaf soal tadi. Gue juga nggak tau kenapa gue jadi sensitif kayak cewek gini,” ujar gue malu.

“Iya, geli gue kita marahan kok kayak cewek. Mending adu pukul sekalian daripada bentak-bentakan doang,” Rama berdiri bersandar pada dinding di dekat gue.

“Yaudah hayu berantem biar gentle dikit,” gue lirik Rama sambil tersenyum.

“Nggak lah, bisa dibantai gue sama lo. Badan gue kurus gini,” gue terkekeh. “Maaf juga tadi gue udah buat malu ngomong segitu kerasnya di tempat umum.”

“Gimana rasanya, Ram? Nggak enak, kan? Tadi itu lo baru pertama ya ngomong dengan nada tinggi di depan umum dengan kesadaran penuh?” 

“Hehehehehe, jadi gitu yah rasanya, mending nggak sadar sekalian deh,” Rama menggaruk bagian belakang kepalanya. Bukan hal baru kalau ia sering meracau di tempat umum. Tapi jika ia begitu tanpa pengaruh alkohol, kejadian di coffee shop tadi adalah yang pertama.

“Anjing, nggak gitu juga,” kami tertawa.

---

Gue dan Rama menghabiskan malam di pekarangan hotel dengan berbungkus-bungkus rokok dan beberapa gelas kopi. Benar kata Rama, ini hanya masalah gue dengan masa lalu gue dan apa yang akan gue lakukan untuk masa depan gue. Saat ini seakan semuanya menjadi satu; masa lalu, kini dan esok.

Dan sekarang, bergantung pada bagaimana tindakan gue menghadapi situasi pelik ini.

Memafkaan meski sulit?

Atau

Melepaskan?

to be continued

Sunday, June 11, 2017

Tentang Kopi


source: genesistransformation.files.wordpress.com
Akhir-akhir ini gue sedang sibuk bermain dengan kopi. Bukan, bukan karena gue nggak punya teman manusia lain sehingga gue memutuskan untuk berteman baik dengan kopi (which is juga menyenangkan), melainkan karena gue kembali merasakan perasaan yang sama seperti ketika gue bertemu dengan dunia tulis menulis dulu. Atau secara singkat; gue jatuh cinta dengan kopi.

Sebetulnya gue udah lama gemar minum kopi, tapi hanya sebatas itu saja; seorang penikmat kopi. Namun sejak gue mencoba mencari tahu lebih dalam tentang kopi, mulai dari bentuk ceri hingga tersaji dalam gelas, rasa itu mulai timbul. Rasa ingin tahu lebih dan lebih lagi tentang kopi. Berbagai pertanyaan tak henti bersua di dalam kepala gue, seperti kenapa rasa antar biji kopi bisa sedemikian berbeda? Kenapa ada kopi yang memiliki rasa selayaknya teh? Padahal jelas-jelas itu kopi? Kenapa suhu berpengaruh pada metode filter, dan banyak kenapa-kenapa lain yang singgah di kepala dan menunggu antrian untuk diutarakan.

Sejak itu pula gue memulai kembali kebiasaan lama yang sempat terhenti, keliling kedai kopi di Jogja untuk menikmati kopi mereka dan bercengkrama dengan mereka yang meraciknya. Semakin gue mendalami kopi dan semakin intensnya gue mengunjungi kedai kopi, gue turut memerhatikan pengunjung lain yang juga datang ke kedai tersebut. Apa yang mereka pesan, apa yang mereka kerjakan atau lakukan dan bersama siapa mereka menghabiskan waktunya--juga secangkir kopi, di kedai kopi tersebut.

Sebuah pernyataan pernah dilontarkan oleh Ben, karakter dari film Filosofi Kopi, yang mengatakan bahwa kopi yang nikmat akan bertemu dengan penikmatnya sendiri. Gue percaya itu. Gue percaya kalau ada orang yang datang ke kedai kopi hanya untuk mencicipi espresso-nya. Ada orang yang tidak suka kopi yang terlalu pahit sehingga ia lebih memilih cappuccino atau latte. Ada yang suka berbagai single origin dengan seduhan filter dan mencoba menikmati keanekaragaman rasanya. Dan ada juga yang suka kopi tubruk dengan pisang goreng dan sebatang rokok sebagai pelengkapnya.

Entah apapun yang dipesan, semua kembali kepada selera serta lidah orang itu sendiri. Setiap kopi punya penikmatnya sendiri.  Setiap hati pasti punya pasangannya sendiri. Tiap gue mendengar orang berkata, "Ah, kopinya nggak enak. Pahit banget." Di situ gue berpikir kalau itu bukan salah kopinya, karena gue percaya kopi tidak pernah salah. Bisa jadi yang menurut dia pahit, dapat terasa enak di lidah gue. Mungkin kalau ia mencoba 'kopi manis' seperti cappuccino, mungkin ia akan berpendapat sebaliknya, "Ini dia! Ini baru enak." Karena kopi tidak pernah salah, ia hanya belum berjumpa dengan penikmatnya saja. Selayaknya hati, hati tidak pernah salah, ia hanya belum berjumpa dengan takdir sejatinya saja.

Keinginan gue sebagai penikmat kopi perlahan merangsek ingin menjadi bagian dari mereka yang berdiri di belakang bar dengan dedikasi tinggi serta apron yang melekat di tubuhnya. Mimpi gue sudah berada jauh di depan sana, tapi untuk mencapai hal itu gue menyadari bahwa gue masih perlu banyak belajar. Belajar untuk lebih menghargai kopi, dan menghargai pembuatnya, serta mereka yang pertama kali menanam tanaman kopi di perkebunan sana.

Tulisan ini dibuat berdasarkan kecintaan gue terhadap kopi yang semakin bertambah belakangan ini. Gue yakin pada secangkir kopi, selain terdapat kafein, di situ juga mengandung cinta pada tiap tetesnya. Cinta yang kelak mempertemukan kopi dengan penikmatnya. Siapa tahu juga mempertemukan antar penikmatnya. Di sebuah kedai kopi kecil. Dan membangun cerita bersama. Dengan secangkir kopi digenggaman masing-masing.

Sunday, May 14, 2017

Chapter VII - Home




Chapter I-VI bisa dibaca pada kategori Series.

---

Laila

Kebahagiaan bagiku adalah suatu hal yang sifatnya abstrak. Parameter kebahagiaan tiap individu pun berbeda. Ada yang bahagia hidup dengan materi berlimpah. Atau yang bahagia hanya dengan bersama orang yang dicintainya, bagaimanapun kondisi materi yang ia miliki. Juga ada yang rela meninggalkan kehidupan yang mungkin menurut orang lain merupakan kehidupan yang ideal, namun tidak baginya, sehingga ia memutuskan mencari kebahagiaannya kembali, kebahagiaan lamanya.

Dan akulah orang itu.

Aku menemukannya, kebahagiaan lamaku. Melihatnya sejelas janji yang dulu pernah terucap dari bibir kami. Aku menemukannya, namun tak memilikinya.

Dia keluar begitu jarum panjang dan pendek pada jam menyatu di angka 12. Menyapa dua orang yang tak ku kenal, kemudian pergi dengan menaiki skuter matik hitam yang tak asing bagiku. Sosoknya segera lenyap dari pandanganku seiring menjauhnya pantulan cahaya dari back lamp skuter miliknya.

Aku masih terpaku di belakang kemudi mobil. Membayangkan sosoknya yang pergi tanpa pernah sempat melirik ke arahku. Bodoh, tentu dia tak mengenali mobil ini. Mobil yang aku kendarai kini bukanlah mobil yang sama seperti yang diketahuinya dulu. Bukan mobil yang sempat membuatnya kesal karena pernah kutinggalkan dengan bensin yang sudah hampir habis. Dan tentu, siapalah aku sekarang berharap ia melirik ke arahku?

Lima belas menit kuhabiskan dengan termenung. Setelah menarik nafas dalam, aku melajukan mobil menyusuri jalanan kota kecil ini, kembali menuju tempatku menginap selama 4 hari terakhir. Aku tahu, ini sungguh membuang-buang uang. Tapi aku tak sanggup meninggalkan kota ini tanpa bertemu dengannya. Namun, aku tak punya cukup keberanian untuk menegurnya kembali.

Sesampainya di kamar, aku merebahkan diri di atas kasur sembari membuka ponsel yang sedari tadi tak kusentuh. Aku mendapati 38 chat Line serta 14 misscalls dari kontak yang sama, satu-satunya orang yang tahu akan keberadaanku selama ini serta menepati janjinya untuk tidak membocorkan hal itu kepada siapapun, termasuk Andre.

Misscall terakhir tercatat 7 menit lalu. Aku memutuskan menghubunginya kembali.

“Halo,” sapaku.

Babe, kok baru respon sih? Gue coba hubungin lo dari tadi juga,” sahut suara di ujung telefon hampir bersamaan dengan sapaanku.

Sorry, Nad, gue baru megang hp lagi. Tadi lagi pengin sendiri aja, jadi hp gue silent, maaf ya.”

I’m worried about you, La. Gue takut lo kenapa-napa, apalagi lagi di kota orang kan,” senyumku tersungging mendengarnya.

“Iya, gue minta maaf sekali lagi. Thanks for caring me, Nad.” Kadang, aku sempat berpikir bagaimana jika Nadine tidak ada di hidupku? Sosoknya sangat sentral terutama dalam 2 tahun terakhir. She’s always got my back. Dia bahkan tetap memberi saran terbaiknya kala aku membuat keputusan yang seharusnya tidak dapat dimaafkan orang lain. Dia selalu siap menampung cerita dan tangisku. Tak ada tawa yang aku bagi dengannya. Bukan, bukan berarti aku hanya datang padanya when i’m feeling blue, melainkan aku merasa bahwa aku dan bahagia sudah berpisah sejak aku meninggalkannya. Meninggalkan Andre.

“Okay, tapi lain kali jangan gitu lagi ya, La?” Ujarnya kembali.

“Iya, Bu,” balasku singkat.

“Nanti tiap satu misscall dari gue, itu berarti lo hutang satu ice cream sama gue,” sambungnya yang membuatku spontan tertawa.

“Heh! Ngide banget ya ini orang. Main sembarangan nentuin rules. Enggak... Enggak, nanti lo sengaja lagi nelefon gue terus dimatiin biar jadi misscall dan lo akhirnya dapet ice cream gratis,” jawabku menahan tawa.

“AAAH LAILAA! Lo kenapa bisa baca pikiran gue sih? Ah, nggak asih niiih,” ia histeris sendiri. Nadine tahu bagaimana membuatku tertawa ditengah himpitan kesedihan ini.

“Gue kenal lo bukan sehari-dua hari sayaaang. Gue khatam gimana liciknya lo, hahaha,” ucapku.

“Gue licik juga karena bergaul sama lo, ya, La!!” Jawabnya ngotot.

“Gue? Licik? Jangan sembarangan yaa!” Sergahku masih dengan tawa terselip di antara pembicaraan kami.

“Udah, ah, udah. Jadi lupa, kan, gue mau nanya apa tadi.”

“Makanya seimbangin kerja sama refreshing-nya, bu. Kasihan otak lo, kinerjanya jadi nurun gitu. Alhasil lo jadi gampang lupa deh,” aku mendengar ia terkekeh. “Gue ingetin deh, lo mau nanya tadi gimana, kan? Gue berhasil ketemu Andre atau engga, kan?”

“Tapi seinget gue, gue belum bilang apa-apa deh tadi. Kok lo bisa tahu?” Tanyanya heran.

“Karena lo selalu menanyakan pertanyaan yang sama selama 4 hari terakhir ini,” jelasku.

“Eh? Iya, ya? Gue lupa, hahahahahaha,” kembali aku tersenyum mendengarnya.

“Gue jawab, ya? Jawaban yang sama dengan kemarin kok,” aku tersenyum getir.

“Kenapa, La? Kenapa nggak dicoba dulu?”

Kenapa? Katanya. Aku sendiri tak tahu. Seperti ada gaya gravitasi yang begitu besar yang menahanku agar tak beranjak dari balik kemudi mobil. Atau memang aku yang terlalu malu untuk menampakkan batang hidungku di hadapannya.

2 tahun lalu, aku pergi tanpa bertatap muka dengannya. Bahkan, tanpa ucapan selamat tinggal. Sebenarnya aku ingin, tapi aku tak mampu. Aku tak tahu bagaimana cara mengucapkannya. Dan tentu, aku tak ingin menangis dan melihatnya menangis andai waktu itu ia melihat kepergianku.

“La, gimana kalau lo coba ngasih kabar ke salah satu temannya? Setidaknya nggak semua dari mereka kaget dengan kehadiran lo yang tiba-tiba, kemudian men-judge lo sebagai perempuan nggak tahu diri yang udah bikin sahabat mereka hancur hatinya. Biarin salah satu dari mereka tahu alasan kenapa lo sempat pergi dan kini kembali,” hmm, masuk akal. Tapi kepada siapa aku harus bicara? Dian? Mungkin ia akan mengerti karena perasaan sesama wanita, namun ada keraguan yang menahan keyakinanku jika  harus menyampaikan hal ini kepadanya. Atau Rama? Dari semua personil Alchemy, dialah yang terdekat dengan Andre. Mungkin dengannya aku harus berbicara. Ah, biarah kupikirkan lagi nanti.

“Hmm, gue pertimbangin deh, Nad. But, thanks for the advice.”

“Lebay ih pakai makasih segala. By the way, nggak kerasa udah jam setengah dua aja. Ngobrol sama lo selalu kayak masuk mesin waktu, La,” ucapnya diiringi tawa kecil.

“Hahaha, yaudah lo istirahat gih. Kasian juga gue, lo capek seharian ngurusin kafe, setelahnya juga ngurusin gue. Makasih lagi, ya, Nad. Gue sering banget ngerepotin lo,” ujarku tak enak.

“Duh, La, beneran deh.. Sekali lagi lo bilang makasih, lo harus traktir gue ice cream kalau ketemu nanti.”

“Makasih ya, Nad,” balasku.

“Buat ini gue yang bilang makasih, La, karena udah ditraktir ice cream sama lo,” aku yakin kami berdua tersenyum pada saat bersamaan.

---

Aku berada di satu-satunya McDonald’s di kota ini, duduk di bagian luar karena orang yang kutunggu merupakan seorang perokok berat. Sembari menunggunya datang, aku ditemani oleh satu cup McFlurry Oreo kesukaanku. Sebenarnya aku sedikit ragu untuk bertemu dengannya, terlebih setelah semua yang terjadi terhadap kawan baiknya. Namun, pasca mengumpulkan keyakinan lebih serta mendapat dukungan dari Nadine, maka aku putuskan untuk menghubunginya dan di sinilah aku sekarang.

Tak lama kemudian sosok yang kutunggu tiba. Seorang pria dengan rambut gondrong yang diikat serta brewok lebat yang menghiasi wajahnya, seakan mempertegas penampilannya sebagai seorang rockstar. Tak ketinggalan, sebatang rokok terselip pada mulutnya. Segera aku melambaikan tangan ke arahnya. 

“Laila?” Ujarnya saat ia berdiri di hadapanku. Kehadirannya sungguh menarik perhatian orang-orang yang  sedang sibuk melahap makanannya. Aku merasakan bagaimana banyak mata terpaku pada sosoknya semenjak ia turun dari mobil, maklum vokalis band ternama. Dan kini sorotan-sorotan itu beralih padaku, mereka seakan bertanya siapa gerangan perempuan yang dihampirinya.

Ia mengambil tempat di depanku, “Sorry, gue agak pangling ngeliat lo. Kelihatan beda sama terakhir gue liat atau gue aja kali yang lupa, ya? Maklum udah lama juga,” ujarnya.

“Iya, gue manjangin rambut gue, jadi wajar kalau lo pangling gitu,” jawabku dengan senyum canggung. “Mau order dulu?” Tanyaku mencoba menghilangkan perasaan tak enak ini.

Ia menghisap rokoknya kuat, kemudian menghembuskan asap tebal ke udara. “Nanti aja,” sahutnya singkat. “So?” Ia melanjutkan perkataannya, membaca alasanku mengajaknya bertemu.

“Ehm, okay. Sebelumnnya gue mau minta maaf atas apa yang gue lakukan ke Andre. Gue tahu, nggak seharusnya gue ngilang gitu aja dari kehidupan dia. Dan mungkin lo udah bisa nebak apa alasan gue sekarang ada di sini. Dan mungkin juga lo berpikiran bahwa gue cewek nggak tahu diri yang bisa pergi lalu kembali seenaknya gitu aja. Tapi, Ram, gue punya alasan dibalik itu semua,” aku terdiam sejenak setelah kurasakan emosiku kembali naik mengingat sebenarnya aku tidak sanggup untuk menceritakan ulang semua kisahku. Mengingat betapa bersalahnya aku atas apa yang terjadi pada Andre selama dua tahun kepergianku.

Rama menatapku tajam, kembali ia membua kumpulan asap di udara sebelum berbicara, “Go on.”

Aku menghela nafas. “Gue akan ceritain semuanya dari awal, Ram. Mulai dari gue dan Andre belum bertemu. Harapan gue setelah menceritakan semua ini adalah kalau gue nggak berhasil ketemu Andre atau Andre nggak mau ketemu gue lagi, lo, sebagai sahabat terdekatnya bisa meyakinkan ia mengenai apa yang sebenarnya terjadi sama gue. Gue tahu, ini egois, banget. Tapi gue percaya sama lo, Ram. Lo satu-satunya harapan gue.” Rama tak bergeming. Keraguanku untuk menceritakan hal ini kembali menyeruak ke permukaan. Namun, aku rasa sudah terlambat untuk membatalkan semuanya.

Lantas aku bercerita mulai dari kehidupanku sebelum bertemu Andre, kemudian saat aku dan Andre berpacaran hingga aku pergi dari hidupnya, kehidupanku selama menghilang dua tahun ini, lalu mengapa kini aku datang kembali. Rama seorang pendengar yang baik. Ia memang cowok yang gemar bercanda, tapi Andre pernah bilang bahwa Rama dapat menjadi seorang yang serius ketika ada teman yang membutuhkan bantuannya dan saat ini ialah pembuktian atas apa yang pernah Andre katakan.

“Aaaargh, ribet bener,” ujarnya sambil mengacak-ngacak rambut sendiri. “Gue mau beli minum dulu deh. Lo yang cerita tapi gue yang pusing.” Ia berlalu ke dalam, meninggalkanku yang larut dalam emosi sehabis bercerita tadi.

“Nih, buat lo,” Rama menyodorkan satu cup McFloat padaku. Aku balas pemberiannya dengan ucapan terima kasih lirih.

“Cerita lo tadi bikin gue makin males ngejalanin hubungan yang serius. Terlalu ribet,” Rama berujar sembari menatap kosong ke arah dalam.

“Yah, jangan gitu dong. Ini hidup gue doang kok yang ribet, Ram, nggak semua cewek punya kehidupan seribet gue,” jawabku.

“Ribet. Males gue. Santai lah gue mah. Lo duluan aja sama Andre.”

“Gue? Andre? Gue aja belum berani buat ketemu dia, Ram. Dan nggak tahu juga gimana responnya nanti,” ucapku sambil mendengus pelan.

He still loves you, La,” ia mengalihkan pandangan ke arahku. Aku tersentak mendengarnya.

“Sejak awal, gue udah punya jawaban dari semua pertanyaan dan penjelasan lo, La. Tapi sebelum gue bilang itu, gue mau tahu alasan dibalik lo pergi dan menghilang gitu aja hingga ngebuat hidup teman gue kacau,” Rama membuka segel bungkus rokok baru. Entah sudah berapa nikotin hari ini yang ia hisap.

“Dia pernah bilang gitu, Ram? If he still loves me?” Tanya gue memastikan.

“Enggak, tapi dia gue anggap gila karena udah nolak gue comblangin sama Arestika vokalisnya Barasuara. No offense, La, gue juga nggak bisa diam aja ngeliat sahabat gue galau terus-terusan, so, gue coba kenalin dia sama beberapa kenalan gue dan dia kayak, ‘sorry, Ram, gue nggak bisa,’ gue cuma bisa bilang, udah sinting nih orang nolak Arestika. Tapi dari cara ngomongya, gue tahu dia masih sayang sama lo,” mendengar Rama membuatku tanpa sadar tersenyum. Dan pada detik itu pula hatiku berujar, i’ll never go away from your life again, Ndre.

---

Akhirnya ku putuskan membawa langkahku menuju pintu itu.

Kronology Cafe. Nama yang tidak asing bagiku. Karena dulu, ia kerap mengutarakan keinginannya membuat kafe dengan nama demikian.

“Kronologi bagus nggak, La? Itu ngegambarin kita banget nggak, sih? Urutan kejadian pertemuan kita di awali dari kafe, kayak tiba-tiba aja gitu. Sebuah kronologi yang tercipta di dalam kafe, kayak magic-nya kafe gitu, La, when strangers become lover,” ujarmu kala itu disertakan dengan gerakan ‘imajinasi’ ala Spongebob yang membuatmu tampak lucu.

Sounds great, Ndre,” ujarku sambil mengusap rambutmu. Aku selalu suka semangatmu. Karena aku tahu, kamu bukan tipe orang yang membiarkan mimpinya terhenti terkurung dalam batasan imaji. Saat sekarang aku berada di depan pintu masuk kafe yang dulu kamu gebu-gebukan, aku sudah tahu dari dulu bahwa kafe ini akan ada dan memang ada.

Jam di arlojiku menuju pukul 11. Kafe ini tutup kurang lebih satu jam dari sekarang. Kemungkinan sudah masuk waktu last order. Sengaja aku memilih selarut ini. Juga karena aku terlalu lama mengumpulkan keberanian untuk bisa sampai di sini, di depan pintu ini.

Go for him. But promise me, you’ll never leave him again,” kata-kata Rama tadi siang terdengar kembali di dalam kepalaku. Aku menghela nafas. Ku dorong pintu dan melangkahkan kaki perlahan memasuki kafe.

“Selamat datang, Kak, silahkan mau order apa? Kebetulan kita sudah last order ya, Kak,” Sambut seorang wanita dari balik mesin kasir. Juga terdapat seorang barista sedang membersihkan mesin espresso dan seorang lagi sedang membereskan counter di belakang bar.

Dan aku melihatnya. Lagi. Dari jarak cukup dekat. Ia berada di ruangan khusus staff yang berada di bagian belakang bar. Ruangan itu terdapat kaca kecil pada dindingnya sehingga aku dapat melihat ia sedang membereskan beberapa barang.

“Aku order Laila Speciality,” ucapku dengan suara sedikit keras. Waiters itu tampak kebingungan mendengar pesananku, begitu pula dengan dua cowok di dekatnya. Mereka tampak saling bertukar tatap. Aku mengerti kebingungan mereka, tapi mataku terfokus pada gerakan satu orang lagi di ruang staff yang juga ikut terhenti.

“Eng... Maaf, Kak, kita nggak ada menu itu,” jawabnya terbata-bata. Aku masih mematung di depan bar dan tak melepas tatapanku dari sosoknya. Aku yakin menu itu ada. Dulu, Andre pernah mengatakan kalau ia akan menyiapkan satu signature drink khusus untukku dengan menggunakan namaku.

“Ada, Ka,” itu dia. Ia membuka suara.

“Eh? Serius ada, Bang?” Sahut waiters itu bingung.

“Iya, biar gue yang bikin. Disuruh duduk aja,” balasnya.

“Harganya, Bang?”

Free,” sungguh, aku rindu mendengar suara itu.  Namun tubuhnya masih belum beranjak dari dalam ruangan tersebut. Sementara dua orang lainnya masih terheran, lalu mereka menatapku yang kubalas dengan senyuman.

“Kak, silahkan duduk dulu, nanti pesannya diantarkan,” katanya disertai senyum canggung. Aku mengucapkan terima kasih dan mengambil tempat di bagian luar kafe.

Ini pertama kalinya aku berada di sini, tapi aku merasa tempat ini sangat tidak asing bagiku. Sebuah kafe dengan bentuk letter L ditambah mini stage di sebelah barat pintu masuk dan mengusung konsep low light seperti milik Nadine.

Aku tahu kalau panggung itu multi fungsi. Aku tahu bahwa bukan hanya penampilan band yang disajikan di sana. Aku tahu kalau band hanya ditampilkan tiap jum’at malam. Sedangkan di rabu malam akan ada sesi pembacaan puisi. “Ini kan kafe yang merepresentasikan kita, La, jadi aku mau ada part of you yang berhubungan dengan askara juga di sini,” begitu katamu dulu. Serta kamu memberikan tempat bagi komunitas stand-up comedy lokal untuk melakukan open mic setiap minggu sore. Aku memang baru pertama kali datang ke sini, like for real. But i feel like i’ve been here for whole time.

Here's your coffee,” suara itu memecah lamunanku. Suara yang sangat ku rindukan kini terdengar sangat sangat dekat. Aku mendongkakkan wajah dan akhirnya aku melihatnya. Lagi. Ini merupakan jarak terdekat kami dalam dua tahun terakhir. Namun ia tidak memandangku. Ia menatap lekat cangkir kopi yang dipegangnya.

Lama kami terdiam, sampai aku putuskan untuk membuka perkataan, “Ndre..-“

“Kenapa?” Ucapanku langsung dipotongnya. Suaranya bergetar, begitu juga dengan cangkir dalam genggamannya.

“Kenapa baru sekarang?” Kini aku merasakannya. Luka karena kehilangan itu kini sangat terasa. Perasaan itu seketika menghujam relung hatiku dan mengingatkanku kembali terhadap dosa yang telah kulakukan padanya.

Aku berdiri dan memegang satu lengannya. “Can you take a seat? I want to talk, Ndre,” ia tidak menjawab, namun ia menuruti perkataanku. Sekarang, kita berada pada satu meja yang sama. Duduk berhadapan. Tanpa kata. Tanpa suara.

Andre masih belum menatapku. Matanya terpaku pada cangkir kopi yang terletak di antara kami. Tangannya mengepal erat menggambarkan bagaimana perasaannya. Aku tahu ia ingin bicara banyak hal dan aku pun tahu ia tak bisa melakukannya. Itu memang termasuk kelemahannya yang dengan kejam pernah ku manfaatkan.

Kini, aku rasa saat ini adalah waktunya. Waktu untuk menjelaskan segala yang terjadi. Waktu untuk membawa pulang perasaan yang pernah pergi. Meskipun dibutuhkan keteguhan dalam mendengar kenyataan yang akan ku utarakan sekarang, tapi aku rasa tak ada pilihan untuk menundanya lagi.

Aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Ndre, i was married...”

to be continued