Showing posts with label Cerpen Normal. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Normal. Show all posts

Saturday, September 23, 2017

Chapter XII - Au Revoir, France



Laila

Avignon, awal musim gugur 2016.

Saat-saat paling membahagiakan di Avignon telah berlalu, musim panas telah berakhir dan digantikan musim gugur dengan semilir anginnya yang menyejukkan. Kebahagiaan musim panas di Avignon membuat seluruh sudut kota ini menjadi hidup. Terkhusus Rocher des Doms, taman itu hampir tak pernah sepi tiap harinya sehingga membuatku yang kerap duduk sendirian di bangku taman favoritku tak pernah benar-benar merasa sendiri.

Because i need to be alone, but not to be lonely.

Mungkin hanya aku dari lebih dari 90 ribu penduduk Avignon yang melewati musim panas dengan raut wajah—bagaimana ya aku mengatakannya? Ah, menyedihkan.

Sekitar dua bulan lalu, Mbak Aya memberi kabar bahwa kondisi Ibu kritis. Kabar itu menjadi pukulan telak bagiku yang berada ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Kala itu Mas Fahri sedang ada banyak tanggungan pekerjaan dan mengatakan bahwa aku saja yang pulang ke Indonesia, sedangkan Mbak Aya telah lebih dahulu berada di Jakarta untuk menjaga Ibu.

Kurang dari dua minggu aku berada di Jakarta, menemani dan merawat Ibu setiap hari, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa kala Yang Memberikan Nyawa telah mencabut apa yang telah Ia tiupkan pada makhkuknya. Detik itu pula waktu dan putaran bumi serasa terhenti. Sosok malaikat yang menjaga, merawat hingga membesarkan aku serta Mbak Aya telah meninggalkan kami untuk selamanya. Mas Fahri segera menyusul ke Indonesia ketika aku memberitahu kabar duka ini.

Mbak Aya menyuruhku kembali ke Avignon setelah masa cuti yang diambil Mas Fahri habis. Aku menolak untuk berangkat dan mengatakan ingin kembali tinggal di rumah selepas Ibu pergi. Mas Fahri yang mendengar aku menolak ke Avignon nampak murung, namun ia tak banyak bicara mengenai keputusanku itu.

Pasca cekcok cukup lama dengan Mbak Aya, akhirnya aku (terpaksa) mengikuti sarannya dengan keputusan akhir Mbak Aya akan tinggal di rumah setidaknya sampai 40 harian Ibu dan untuk selanjutnya ia akan kembali ke Jepang dan rencananya rumah akan dikontrakan untuk sementara waktu. Mbak Aya juga mengatakan selama di Indonesia ia akan mencari calon penyewa rumah yang tepat karena ia tak ingin sembarangan orang mengisi rumah keluarga ini.

And here it goes, berada di balkon apartemen kecil ini dengan ginger tea dalam genggaman. Menikmati angin musim gugur yang menyeka rambutku lembut dan melihat orang-orang yang bergerak dinamis di Rue Viala.

Oh ya, berbicara mengenai hubunganku dengan Mas Fahri, sebelum kabar tentang Ibu menghampiri, Mas Fahri tampak semakin berusaha menjadi suami seutuhnya dan ia benar-benar mengusahakan kami menjadi pasangan suami-istri selayaknya.

Mungkin semua itu nampak normal dan justru terdengar baik bagi orang luar. Tapi bagiku, keadaan ini malah semakin terasa memburuk. Semakin dalam perasaan Mas Fahri yang kurasakan, maka akan semakin sulit pula hubungan ini untuk diselesaikan. Begitulah sekiranya.

Setelah berpulangnya Ibu ke hadapan Allah, pikiranku berkecamuk mengenai hal-hal lain yang berkaitan tentang Ibu dan pernikahanku. Bagaimana aku dan Mas Fahri bisa bersatu hingga kini, dan sekarang bagaimana aku menyudahi hubungan ini karena Mas Fahri dirasa telah benar-benar mencintaiku.

Sepulang dari Paris, setelah ia bangun dari tidurnya di sofa dan mendapati tubuhnya ditutupi selimut, ia berpikir bahwa aku telah memiliki rasa perhatian selayaknya seorang istri pada umumnya.

Ya, memang aku mulai menaruh perhatian padanya saat itu.

Tapi,

Bukan berarti perhatianku bisa disamakan seperti perhatian seorang istri pada suaminya. Perhatianku hanya sebatas menghargai orang yang juga punya perhatian terhadapku.

Maybe what i’ve done sounds like an evil for everybody, but that’s the truth.

“Jangan lagi-lagi coba kayak apa yang kamu lakukan kemarin,” ucapnya kepadaku dengan nada yang menenangkan.

‘Shit. Don’t do this,’ pikirku.

Selepas itu, ada satu kebiasaan baru yang ia ciptakan yang sempat membuatku canggung ketika pertama kali diterapkan—bahkan hingga kini, yaitu setiap ingin berangkat dan saat pulang dari kantor, ia mencium keningku. Sekali lagi, sebenarnya ini wajar bagi suami istri dimanapun itu, tapi sekali lagi pula aku katakan, ini sudah terlalu jauh buatku.

Hingga pada suatu sore di akhir pekan aku duduk berdua dengan Isabel di sebuah kedai kopi kecil di Rue Vieux Sextier—tak jauh dari apartemen kami. Aku memesan hot chocolate dan souffle au chorizo, sedangkan Isabel sedang menyeruput chocopom d’amour mereka yang lezat.

Pada titik ini, aku merasa butuh seorang teman untuk mencurahkan isi pikiranku. Hey, aku tak setegar itu dalam memendam perasaan. Sebenarnya aku lebih memilih Nadine sebagai pendengarku untuk perkara ini, namun perbedaan waktu yang cukup ketara dirasa mengganggu menentukan kapan saat yang tepat untuk berbagi.

“Isabel,” sahutku sembari memutar sendok dalam cangkir di hadapanku tanpa melihat ke arahnya.

“Ya, Laila?”

“Jika kau berada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?”

Isabel berdehem sebentar.

“Aku tak tahu, Laila. Setiap orang punya masalahnya sendiri untuk dihadapi. Dan kemampuan tiap orang dalam menghadapi masalah itu berbeda-beda. Mungkin aku bisa melewati masalahmu dengan mudah, atau bahkan aku tak mampu bertahan melebihi yang kau lakukan sekarang, karena aku tak tahu bagaimana rasanya, Laila.” Aku berhenti memainkan sendok, namun bola mataku masih tertanam pada souffle au chorizo yang sedari tadi belum kusentuh.

“Coba kau lihat pasangan di luar sana,” Isabel menunjuk ke arah kaca besar di belakangku. Aku sedikit memutar badan, lalu mendapati seorang pria dengan polo shirt hitam memandang sayu wanita cantik dengan dress putih di depannya. Wanita itu menatap cangkir yang telah kosong di tangannya. “Si wanita merasa sedih karena memergoki si pria yang ketahuan selingkuh untuk kali ketiga. Sedangkan si pria mencoba mengklarifikasi dan meyakinkan bahwa hal itu nggak akan terjadi lagi,” terusnya.

Aku melayangkan tatapan ragu pada Isabel. Ia hanya tersenyum.

“Lalu yang di sana itu.” Kali ini ia menunjuk seorang pria berkacamata dengan rambut di kuncir kuda yang tengah menatap layar laptop dengan menopang dagu menggunakan punggung tangannya.

Aku mengangguk, ia melanjutkan. “Ia seorang penulis di sebuah media lokal yang tengah dikejar deadline namun tak tahu apa yang harus ia tulis karena dalam pikirannya berkecamuk banyak hal, termasuk, ‘mengapa aku memilih kedai ini? Ah, sisa uangku untuk hari ini habis hanya untuk membeli minuman macam ini.’

“I hear what you say, lady,” ujar pria yang sedang dibicarakan Isabel. Aku membelalak sembari menahan tawa pada Isabel. Aku melihat pemilik kedai menggelengkan kepala. Isabel meminta maaf sambil tergelak dari tempatnya duduk.

“Sudahlah, ilmu cenayangmu makin lama makin keterlaluan,” kataku.

“But, there’s one thing that i see from you, Laila,” aku mengangkat dagu. “You’re on of the strongest girl that i’ve ever met. I believe you can handle this. I believe that you can through all of that shit.” Isabel tertawa, dan senyum pertamaku hari itu tersungging.

“Just follow your heart, Laila,” Ia melanjutkan. “Meskipun beberapa kali logikamu mengatakan, ‘ah, kamu jahat,’ atau, ‘yang akan kamu lakukan itu kejam, tak berperasaan.’  
Biarlah, jangan didengar. Anggap saja bahwa logikamu itu bagai sebuah lautan, kamu seorang nahkoda kapal dan hatimu adalah dermaga tujuanmu. Kemana pun lautan mencoba membawa kapalmu, tapi pahamilah kalau kamu mampu mengatasi itu karena kamu sejatinya tahu kemana tujuanmu sesungguhnya.”

Aku tersenyum.

“One more thing, Laila, and it’s very very important to hear.” Aku menaikkan sebelah alisku, memposisikan kedua tanganku di atas meja dan sedikit mencondongkan badanku ke arahnya.

“Kalau kamu nggak mau memakan souffle au chorizo itu, sebaiknya buat aku saja,” katanya sambil menahan tawa. Rasanya kuingin melempar sendok kecil ini ke arahnya saat itu.

---

Kembali ke kondisi saat ini, dimana suasana sore Avignon yang menenangkan membawa pikiranku melayang ke belasan tahun lalu. Dimana kali pertama aku diajak Ayah dan Ibu pergi ke Kebun Binatang Ragunan,  bersama dengan Mbak Aya juga tentunya.

Usiaku yang begitu belia dan penuh dengan pertanyaan membuatku menjadi bocah yang cerewet.

“Bu, itu apa?” Kataku menunjuk salah satu kandang.

“Itu singa, Laila,” balas Ibu.

“Lalu, itu apa?”

“Itu simpanse, Laila,” Ibu selalu membalas tiap pertanyaanku dengan senyuman.

“Kenapa dia bisa jalan kayak manusia, Bu?”

“Anak Ayah ini banyak tanya, ya. Kelak kamu jadi manusia yang cerdas,  Nak,” potong Ayah sebelum Ibu menjawab pertanyaanku. “Kamu mau es krim, Laila?” Tawar Ayah. Aku girang bukan kepalang mendengarnya.

Aku berpikir, kebahagiaan itu akan bertahan selamanya. Namun semua itu hanya titipan yang bersifat sementara. Kebahagiaan itu bisa berakhir kapan saja.

“Hey,” suara berat itu menyadarkanku, lalu sebuah tangan melingkari pinggangku dari arah belakang. Mas Fahri.

‘Oh crap, not again,’ balasku dalam hati.

“Hey, Mas,” aku meliuk sejenak, mencoba melepaskan diri dari pelukannya. “Tumben pulang cepat?” Lanjutku setelah terbebas dari sergapannya.

“Kangen istri,” ucapnya tersenyum.

“Yeee ditanya serius juga, malah gombal.”

Mas Fahri kemudian memegang pagar balkon apartemen, menegakkan punggungnya dan menghirup nafas dalam. “Emangnya nggak boleh ngegombalin istri sendiri?” Jawabnya melirik padaku.

‘Enggak boleh, Mas, nanti perasaan ini bisa terlalu jauh. Hati ini masih punya Andre walau sekeras apapun kamu mencoba merebutnya, Mas.’

“Yaaa....boleh sih,” balasku ragu.

Keheningan menyeruak diantara kami selama beberapa saat, sebelum ia kembali bersua.

“La?”

“Ya, Mas?”

“Aku terkadang ngebayangin deh, di sore hari gini, aku dan kamu menikmati hari di balkon ini sembari salah satu diantara kita merangkul si kecil.”

Aku terperanjat sejenak, melihat ia yang kini memandang luas ke arah langit.

Itu merupakan yang keempat untuk minggu ini dirinya menyinggung masalah buah hati. Intensitasnya berbicara seperti itu semakin meningkat dari waktu ke waktu. Padahal pada awal terciptanya hubungan ini, kami setuju untuk menyingkirkan pembahasan mengenai anak karena kami sadar hubungan ini tak akan bertahan selamanya.

Dan dengan adanya anak, maka cincin di jari manis ini akan terpasang lebih lama.

Memang, banyak pasangan yang mengakhiri status pernikahan mereka walaupun telah memiliki buah hati, namun aku tak bisa melakukan hal serupa. Aku, tak mau mengorbankan anak yang tak berdosa dan tak tahu masalah sesungguhnya dibalik perpisahan orang tuanya.

Aku tak mau, dan tak bisa.

“Kalau menurutmu, bagaimana, La?” Tanyanya lagi, ku merasakan pandangannya berganti padaku, namun mataku tertuju pada kedua kakiku.

Mulutku masih terbelenggu. Aku tak ingin menjawabnya.

“La?”

Sial, dia memaksa.

“Iya, Mas?”

“Kamu ada di sini, kan?”

“Ha? Maksudnya? Iyalah, Mas, aku di sini,” sergahku.

“Bukan, maksudku pikiranmu, La.”

‘Kau ingin jawaban jujur atau jawaban yang memuaskanmu, Mas?’

“Iya, Mas, aku di sini, kok,” jawabku.

“Lalu, gimana menurutmu, La?”

Aku menatapnya kini. “Tentang anak?”

Dia mengangguk.

“Entahlah, Mas,” kataku lirih.

Kembali terjadi keheningan. Aku tahu Mas Fahri menunggu jawaban utuhku, maka aku lanjutkan. “Aku nggak tahu apakah dengan adanya anak bisa menyelamatkan pernikahan kita. Aku juga nggak tahu mengapa sekarang kau sangat sering menyinggung permasalahan ini, padahal ide tak adanya anak kau sendiri yang menyuarakan di awal hubungan ini, Mas.”

Aku merasa tak berani menatapnya lagi setelah mengatakan itu. Sebelumnya, acap kali Mas Fahri mencoba membahas persoalan ini, aku selalu bersikap acuh tak acuh atau mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Namun, kali ini aku mengatakannya dengan lantang, suara hatiku yang terpendam selama ini.

“Kenapa, La?” Firasatku mengatakan tak enak tentang ini. “Kenapa? Kita, udah satu tahun, La, kenapa seakan ini semua tak ada artinya bagimu?”

I wish i can go away from here now.

“Kita ada di satu atap yang sama setiap harinya. Bangun dan ingin tidur yang pertama kali aku lihat adalah kamu. Setiap aku pulang kerja, kamu orang yang ada untuk menyambut aku, begitupun ketika aku berangkat, kamu orang yang mengantarku sampai ke depan pintu dan melihat punggungku semakin menjauh sampai mata tak mampu menjangkaunya lagi.” Ia diam. Aku semakin erat menggenggam cangkir di tanganku. 

“Beberapa kali kita pergi ke berabagai tempat di Prancis, sewaktu aku ajak kamu ke Marseille untuk melihat kantorku, atau ketika kita keliling Paris bersama. Apa itu tak ada artinya bagimu? Apa semua keceriaanmu hanya fana belaka?”

Suaranya kian memberat.

“Hentikan, Mas.”

“Kenapa, La? Kenapa kamu bisa bersikap seakan tak ada apa-apa diantara kita?”

‘Memang tak ada apa-apa, Mas, dari dulu tetap dan akan selalu begitu.’

“La, aku mau jujur soal perasaanku,” katanya lagi dengan suara semakin lirih.

‘Mas, hentikan, aku nggak mau dengar.’

“La, pada awalnya aku memang menganggap hubungan ini sebatas formalitas belaka demi membuat tenang hati kedua orang tua kita, terutama almarhum Ibumu. Namun, hari demi hari dilalui bersama dengan hanya satu orang membuat hati ini tergerak juga untuk membawa hubungan ini ke jalan yang seharusnya. La, aku percaya bahwa cinta datang dengan berbagai cara, salah satunya ialah cinta bisa datang karena terbiasa.”

‘Tapi aku bukan tipe orang yang bisa cinta karena terbiasa, Mas.’

Bibirku masih terkatup.

“La, aku telah meninggalkan semua peristiwa masa lalu dan bersiap menghadapi masa depan yang terlihat nyata di depanku kini. Aku tak pernah berbicara mengenai ini sebelumnya karena aku pun melihat kamu merasakan hal yang sama, La, tapi kelihatannya kamu tidak terpengaruh itu semua.” Desau angin berhembus menyapu kulit tipisku dan membelai rambutku. Aku sama sekali tak berkeinginan untuk membalasnya, mencoba tidak menggores hatinya sekecil apapun.

“La, lalu apa arti kebahagiaan itu? Kebahagiaan yang kerap terpancar dari wajahmu? Sorot mata yang berbinar acap kali aku menggenggam tanganmu? Apa arti semua itu, La? Apakah itu karena aku, atau hanya murni karena kamu terpana dengan indahnya Prancis?”

“Mas, hentikan....”

“Apa hidup dengan memakai topeng seperti itu selama ini terasa nyaman bagimu?”

Aku sudah tak tahan lagi mendengarnya. “MAS!”

Ia tersentak, nampak tak percaya dengan reaksiku.

“Aku bilang sedari tadi untuk hentikan omongan ini. Aku nggak bisa, Mas, aku nggak bisa,” aku berusaha menatapnya yang masih tergambar perasaan shock di sana. “Aku berusaha untuk tak mengatakan apapun karena....aku takut....takut melukai hatimu, Mas.”

“Tapi, diam mu cukup menciderai hatiku, La, meskipun kecil. Dan, dengan begini kamu tetap akan meninggalkanku, bukan?” Lagi, aku tak membalasnya.

“Jadi, sampai kapanpun posisi Andre nggak akan tergeser dari hatimu, begitu? Huh, Aku kira aku dapat mengisi tempatnya setelah semua ini,” ia tersenyum sinis.
Kala ia mulai membawa Andre dalam percakapan ini, emosiku meninggi dengan sendirinya.

“Mas, cukup, memasukan Andre dalam obrolan, kalau ingin bahas tentang aku, ya bahas ini, Mas.”

“Tapi perasaanmu terikat dengan Andre, jadi namanya tak luput ku sebut,” ia membalas dengan cepat. “Lagian, kenapa sosoknya begitu kokoh tertanam di hatimu, La? Kamu punya aku di sini yang juga telah jatuh hati padamu, dan siap menafkahimu lahir batin.”

“Jadi, maksud Mas, Andre nggak siap untuk menafkahi aku?” Nada suaraku sedikit meninggi.

“Aku melihatnya demikian. Aku juga beberapa kali menengok isi feed instagramnya. Ia seakan belum punya konsep hidup yang matang. Jiwa mudanya masih nampak terlalu dominan sehingga menjadikan ia sedikit liar. Dia juga---“

“CUKUP!!!!” Seruku lantang. Aku melihat sejenak ke arah bawah, ada seorang remaja yang menengadah ke arah kami. Biarlah, aku hanya perlu menghentikan omongan Mas Fahri.

“Mas...kamu nggak tahu apa-apa tentang Andre. Jangan mengatakan apa-apa yang tidak kamu ketahui betul, Mas,” aku mencoba merendahkan suaraku kembali.

“Then tell me, La, what makes him so special in your eyes?” Balasnya.

Aku berpikir sesaat. Should i tell him now?

“Hati ini nggak bisa memilih kepada siapa ia akan berlabuh. Saat bertemu dengannya, aku adalah sosok yang rapuh. Bersamanya, aku merasa memiliki malaikat pelindung. Meninggalkannya, hatiku serasa mati. Kamu bisa bilang ini semua hanya omong kosong, tapi kamu tahu apa, Mas? Aku yang merasa, kamu tak berhak menilai,” jawabku dengan bibir gemetar. 

“Kita sudahi saja pembicaraan ini.”

Aku melangkah meamsuki apartemen meninggalkan sosoknya yang mematung. Aku tak ingin air mata ini sampai tumpah di hadapannya, karena air mata ini siap keluar dari bendungannya.

“Lalu apa ada jaminan kalau dia masih menerima kehadiranmu setelah kamu menghilang sekian lama dan membohonginya sekian banyak?!” Ujarnya setengah berteriak.

Kakiku tertahan mendengarnya. Ia meneruskan kalimatnya. “Belum pasti dia masih mencintaimu sama seperti terakhir kali kamu meninggalkannya, terutama setelah ia mendengar apa yang telah terjadi, La.”

Aku berbalik arah menghadapnya. “Satu hal yang pasti, Mas, hubungan ini akan segera berakhir dan aku nggak perlu ragu lagi untuk mengucapkan ini. Sebaiknya kita segera pulang, kita urus perceraian kita,” ujarku dengan suara parau.

Senja di Avignon perlahan dilahap kelamnya langit malam. Petang itu, air mataku luruh bersama dengan hilangnya Avignon dari hati.

to be continued

Thursday, August 10, 2017

Chapter XI - Worry





Laila
 
Avignon
 
Matahari sore menyentuh permukaan kulitku dengan hangatnya. Lambaian angin menyisir pelan rambutku. Aku duduk dengan laptop terbuka di atas kedua pahaku di tempat favoritku; Rocher des Doms. Aku menyapu pandangan ke sekeliling. Pasangan lanjut usia, mungkin sekitar 60 tahun atau lebih, sedang berjalan bergandengan di sebalah baratku menuju ke bangku tempatku duduk. Si Pria yang memakai flannel cokelat muda dan celana bahan warna senada mengapit tangan istrinya dengan tangan satunya terangkat menunjuk ke pepohonan yang berjajar jauh di depan mereka. Melihat itu, tanpa sadar senyumku tersungging.
 
Aku mengalihkan pandangan ke arah sebaliknya. Seorang wanita 23 tahun terlihat sedang mengabadikan objek dalam memori kameranya. Ia membidik sekumpulan burung yang bertengger di patung perempuan dengan tangan melintang di atas kepala di tengah danau mini taman ini. Ia menurunkan kameranya, melirik padaku dan melontarkan seringai.
 
Wanita itu berjalan mendekatiku.
 
Haven’t done yet?
 
Aku menggeleng.
 
“Udah berapa banyak?” tanyanya lagi.
 
Aku menatap layar laptop. Terisi setengah halaman.
 
Not that much,” jawabku singkat.
 
Wanita itu bernama Isabel. Seorang fotografer lepas sebuah majalah dan media online berkewarganegaraan Inggris yang menetap di sebelah kanan apartemenku. Usianya yang sebaya menjadikan kami cepat akrab. Ia seorang wanita muda yang cantik. Rambutnya keemasan, hidungnya bangir, pipinya tirus dan jalannya anggun. Meskipun begitu, ia belum menentukan tambatan hatinya, padahal ia bercerita sudah banyak pria yang berusaha mendekatinya. Aku kurang tahu mengapa, mungkin ia belum sepenuhnya membuka diri padaku karena memang kita baru akrab beberapa pekan belakangan.

Isabel duduk disampingku. Ia menyandarkan punggungnya dan mendengus pelan. “Terlalu banyak pikiran, Laila?”
 
Aku mengangguk pelan sembari tersenyum risau.
 
Aku masih menulis untuk beberapa media online dengan menggunakan nama penaku; Laura Michelle. Karena menulis menjadi alasan bagiku untuk menjalani hari-hariku di kota ini yang semakin lama semakin menjemukan. Bukan, bukan karena kebahagiaan di kota ini mudah menguap, melainkan karena hampir seluruh bagian hatiku tertinggal di Indonesia, pada seorang lelaki pemimpi bernama Andre.
 
Beruntung aku mengenal Isabel. Mas Fahri tidak pernah menceritakan padaku perihal tetangga kami satu ini karena memang mereka jarang berpapasan, dan jikapun begitu mereka hanya saling menegur sekenanya.
 
Pertama kali aku bertemu dengannya kala aku baru pulang dari Galerie Ducastel tak jauh dari apartemenku. Saat itu aku mendapati seorang wanita yang nampak kebingungan di depan pintu kamar sebelah kanan kamarku. Ia berjalan mondar-mandir dengan satu tangan memegang keningnya, menandakan ia cukup jangar.

Ketika aku berada tepat di depan pintu, ia menilikku.
 
“Kamu tinggal di situ?” adalah kalimat pertama yang ia lontarkan. Aku segera menyimpulkan bahwa ia seorang Britania, terdengar dari aksennya yang begitu kental.
 
“Iya,” jawabku singkat.
 
“Bukannya di situ tempat tinggal Fahri?” Ia bersandar menghadapku pada tembok diantara kamar kami.
 
“Ya, saya istrinya,” ucapku dengan berat hati.
 
“Oh,” balasnya singkat sambil memerhatikanku dari atas ke bawah. Aku mafhum, Mas Fahri pernah cerita kalau Florencia sempat tinggal di sini. Jadi wanita ini keheranan karena aku yang mengaku sebagai istri Mas Fahri begitu berbeda dari yang biasa ia lihat.
 
I know what you thinking. Aku bukan dia yang sempat kamu lihat sebelumnya,” jelasku.
 
Okay, sorry then. I’m Isabel by the way.” Ia mengulurkan tangannya.
 
“Laila,” aku menyambut uluran tangannya. “Apa yang mengganggumu, Isabel? Kamu nampak pusing aku perhatikan,” lanjutku.
 
Ia menepuk dahinya. “Ah, iya! Aku kehilangan kunci kamarku ketika perjalanan pulang tadi. Dan kunci cadangan ada di lemari kamarku, sekarang aku bingung bagaimana caranya masuk.” Dia diam sejenak. “Ah! Benar! Untung ada kau, apakah kau punya kawat?”
 
Aku mengangkat kedua bahuku. “Entahlah, tapi mungkin ada.”
 
Can you bring me some?” Aku mengangguk dan berlalu memasuki kamar.
 
“Mungkin ada di dapur,” desisku pelan. Setelah mencari di berbagai counter, akhirnya aku menemukan kawat sepanjang, entahlah, mungkin setengah meter. Segera aku bawa kawat itu keluar.
 
Wajah Isabel sumringah kala aku membawakan kawat yang ia cari. Ia lalu membuat meminta gunting dan memotong seperempat dari panjang kawat. Kemudian ia tekuk kawat pada titik tengahnya hingga membentuk huruf U. Setelah itu ia memasukan kawat ke dalam lubang kunci dan melakukan sedikit ‘sulap’ hingga beberapa saat kemudian bunyi ‘krek’ terdengar dari pintu.
 
Isabel tersenyum puas ketika apa yang ia kerjakan berhasil. Aku yang sedari tadi menjadi penonton hanya terpana melihat ‘perampokan’ terhadap apartemen sendiri ini.
 
Semenjak saat itu kami yang pada awalnya jarang bersitatap menjadi hampir tiap hari menghabiskan waktu bersaama dan pada beberapa kesempatan Mas Fahri mengajak Isabel untuk makan malam bersama di apartemen kami.
 
Kembali ke Rocher des Domes, aku mengerling ke arah Isabel yang kini duduk di tempat kosong di sebelahku. “Kau sudah selesai dengan aktifitas fotomu?”
 
“Untuk sekarang, sudah. Mau lihat?” Isabel mencondongkan badannya ke arahku. Aku melihat seksama display kameranya. Ia menekan tombol next untuk memperlihatkan beberapa foto yang ia tangkap.
 
“Bagus seperti biasa, matamu sangat jeli menilai objek mana yang pantas untuk diabadikan.”
 
“Ah, tidak juga, Laila. Menurutku, semua orang bisa menjadi fotografer. Sama sepertimu, semua orang bisa menjadi penulis. Ini hanya masalah jam terbang, bahkan ada beberapa orang yang ditakdirkan dengan bakat fotografi,” jelasnya.
 
“Bagaimana sekarang? Kau masih ingin di sini atau kita pergi ke tempat lain?” tanya Isabel.
 
“Aku rasa duduk di sini untuk beberapa menit ke depan bukan ide yang buruk. Hey! Bagaimana kalau kita memberi makan burung-burung itu?” Aku menunjuk kumpulan burung dara yang sedang mengais makanan di jalan tak jauh dari tempat kami duduk. Isabel hanya mengangguk dan bergerak mengikutiku.
 
“Isabel,”  aku memanggilnya tanpa mengindahkan pandangan dari kumpulan burung yang kini berada tepat di sekitar kakiku.
 
“Ya?”
 
“Apakah kau pernah tinggal bersama orang yang tidak kau cintai?” entah mengapa aku menelurkan kalimat itu.
 
Tidak ada jawaban selama beberapa saat. “Itukah yang sedang kamu rasakan, Laila?” Isabel menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan. Aku terdiam. Gerakan tanganku yang sedari tadi menebar makanan ringan ke kawanan burung ikut tertahan.
 
“Aku tidak tahu sampai kapan ini akan berakhir,” jawabku lemah.
 
“Mungkin sebaiknya kita ke Le Cid Cafe. Aku rasa di sini bukan tempat yang cocok untuk membicarakan perkara ini, Laila.”
 
Aku mengiyakan dan kami berlalu menuju tempat yang telah di tentukan. Sebuah kafe kecil di dekat apartemen kami, namun ramai oleh pengunjung setiap harinya dikarenakan arus manusia yang melalui Rue de Republique tak pernah lenggang.
 
Kami duduk di bagian luar kafe yang langsung menghadap ke Jalan Republik karena di dalam sudah tidak memungkinkan tersedia tempat kosong. Isabel memesan andromaque, salad dengan potongan daging ayam dan disajikan ala Thailand. Sedangkan aku hanya memesan cappuccino.
 
“Aku rasa aku mengerti masalahmu,” Isabel membuka percakapan. “Setidaknya itu yang sempat aku pikirkan kala pertama kali melihatmu di kamar sebelah. Kamu bukan wanita yang kemarin sempat tinggal di sana.” Tukasnya.
 
“Aku tahu kau berpikiran begitu. Tapi, apakah kamu mengenalnya?”
 
“Tidak begitu, ia jarang bersosialisasi. Bahkan dibanding dengan Fahri yang sudah terhitung jarang bertemu denganku, wanita itu masih di bawahnya.” Isabel berbicara sembari menyantap saladnya.
 
“Sifatnya sangat berbeda darimu, Laila. Entahlah,mungkin karena kalian orang Indonesia yang pernah kudengar peringainya ramah dan hangat hingga terbuka bagi siapapun. Sebenarnya aku pun mempunyai sifat yang sama seperti wanita itu, tapi berbicara denganmu membuatku tak acuhkan sisi lainku yang satu itu.” Aku tersenyum mendengar penjelasannya.
 
“Oh ya, tentang pertanyaanmu di Rocher des Doms tadi, aku tidak pernah mengalami seperti apa yang kamu alami sekarang, tapi aku tau rasanya ditinggal pergi oleh orang yang sangat kucintai.”
 
Aku menaikkan satu alis. “Dia meninggalkanmu seperti....memilih bersama perempuan lain?”
 
Isabel terkekeh sampai makanan di mulutnya hampir keluar. Ia mengambil tisu untuk membersihkan daerah mulutnya sebelum menanggapi ucapanku. “Tidak, bukan begitu.”
 
“Lalu?” aku semakin penasaran dibuatnya.
 
Ekspresi Isabel berubah seketika. Kini nampak kemurungan yang kentara terhias diwajahnya. “Dia meninggalkanku selamanya. Kecelakaan tunggal 2 tahun lalu di London.”
 
“Eh? Maaf kalau begitu, tidak seharusnya aku bertanya,” kataku merasa tak enak.
 
It’s okey, Laila,” ia tersenyum getir padaku. “Anyway, life must go on, right?” hanya dalam beberapa detik ia mampu mengubah raut wajahnya seperti sedia kala kembali.
 
“Aku tarik dari kata-katamu tadi, berarti sekarang kamu tinggal dengan orang yang tidak kamu cintai dan ada seseorang yang kamu cintai nun jauh di sana yang kamu tinggalkan?”
 
Aku terkesiap menangkap kalimatnya. Isabel cukup melihat mimik keterkejutanku untuk memastikan tebakannya tidak salah.
 
“Boleh aku memberi saran, Laila?”
 
Aku mengangguk.
 
“Aku memang tak tahu bagaimana kamu bisa sampai ke titik ini. Aku hanya ingin mengatakan, jangan terlalu lama mendustakan isi hatimu sendiri. Segera pulang ke tempa dimana kau semestinya, sebelum semua terlambat. Sebelum orang yang memang kamu cintai hanya bisa didatangi di pemakaman setempat,” Isabel menjeda kalimatnya. “Aku tahu, tempat ini cukup bagus untuk ragamu, tapi tidak bagi hatimu. Dan sampai saat itu tiba, saat dimana kamu akan kembali ke pelukan sesungguhnya, aku ada 2 meter di samping kamarmu.” Ia menutup perkataannya dengan sebuah senyuman.
 
---

Ada beberapa aturan yang aku dan Mas Fahri setujui bersama. 1). Hubungan ini didasari oleh keinginan orang tua kita, jadi jangan menggunakan hati di dalamnya. 2). Tidak ada singgungan tentang anak dalam hubungan ini. Meskipun aku tetap melayaninya karena bagaimana pun juga ia merupakan suami sahku.
 
Hubungan kami memang terkesan seperti antara abang dan adiknya, meskipun itu tak berlaku kala kami bergumul di ranjang beberapa kali. Namun, suatu ketika, kala hubungan ini berjalan lebih dari setahun, aku menangkap gelagat berbeda ditujukan Mas Fahri.
 
Aku paham aku tak sebodoh itu, aku paham kalau ia berusaha membawa hubungan ini ke arah yang semestinya; suami istri sesungguhnya. Bahkan dalam beberapa kesempatan ia turut memasukkan ‘anak’ dalam topik pembicaraan kami, juga ia mulai menjadi protektif dan menguarkan perhatian lebih.
 
Aku tahu itu bukanlah sesuatu yang salah dalam hubungan suami istri, tetapi tidak pada hubungan ini.
 
Saat dimana hal-hal demikian itu mulai terlihat adalah ketika aku menyambangi Paris untuk pertama kalinya. Aku berpikir, sekarang aku berada di salah satu destinasi favorit di Eropa, mengapa aku tak mengunjungi Eiffel tuk pertama kali selagi kesempatan ini ada?
 
Aku memang biasa pergi keliling Avignon tanpa mengabari Mas Fahri terlebih dahulu, terlebih aku selalu kembali ke apartemen sebelum Mas Fahri pulang kerja. Aku tahu, tidak seharusnya seorang istri bepergian tanpa sepengetahuan dan seizin suaminya. Tapi untuk kasus satu ini, aku bahkan meragukan status istri yang kusandang sendiri.
 
Maka, pada hari itu aku putuskan pergi ke Paris seorang diri. Isabel berhalangan mendampingiku karena ada urusan pekerjaan di Bordeaux.
 
Perjalanan dari Avignon menuju Paris ditempuh dalam waktu 3 jam dengan TGV. Bermodal peta dan rekomendasi tempat yang aku dapatkan dari internet, membuatku merasa pede dalam kenekatanku untuk berkeliling Paris.
 
And here i am. Paris dengan segala keelokannya. Aku nampak berseri kala menginjakkan kaki pertama kali di Kota Cahaya ini. Mataku menyapu sekeliling, memerhatikan bagaimana wajah Parisian atau penduduk paris yang sangat khas. Dagunya, raut mukanya, hidungnya, seakan Paris bukan hanya elok dari segi aristekturnya, melainkan juga dari penduduknya.
 
Berhubung aku sampai pada waktu hampir tengah hari, aku langsung menuju destinasi utamaku, sebuah sutet yang dibanggakan warga Paris, Eiffel Tower. Aura romantis langsung menguar setiba aku di sana. Aku mengabadikan beberapa foto dalam pocket camera yang aku pinjam dari Isabel; muda mudi yang berciuman tak jauh dari tempatku berdiri, lalu ada pasangan yang asyik bercanda sambil tak henti menunjuk menara eksotis itu. Aku tersenyum melihat mereka. Dan dalam hati kecilku, aku pun ingin berada di posisi mereka, dengan Andre tentunya.
 
Sebetulnya Eiffel akan ramai menjelang malam hari, karena orang-orang dapat melihat pemandangan Paris yang gemerlap dari puncak Eiffel. Namun, karena waktuku yang terbatas, maka aku mengantri tiket Eiffel pada siang hari. Biarlah, setidaknya rasa penasaranku terbunuh dengan ini. Toh, berada di puncak Eiffel saja udah lebih dari cukup bagiku.
 
Aku hanya punya sedikit waktu di sini, sehubungan dengan telah terpuaskan rasa penasaranku dengan menara Eiffel, maka selanjutnya kuputuskan membawa kakiku ke Saint-Pierre de Montmarte, salah satu gereja tertua di Paris yang terbuka untuk umum dan turis. Letaknya yang berada diketinggian membuat siapapun yang berdiri di sana dapat melihat Paris dari atas dan itu sangat sangat luar biasa indahnya. Seakan ada sensasi berbeda yang diberikan apabila melihat Paris dari ketinggian di sini dan dari puncak Eiffel. Dan beruntung, di sekitar Montmarte ada Flea Market atau pasar loak yang menyediakan begitu banyak barang mulai dari jam hingga ornamen khas Prancis. Riuhnya pasar loak tersebut juga kuabadikan dalam lensa kamera milik pinjaman ini.
 
Aku sudah memesan tiket pulang berupa penerbangan paling malam dari Paris ke Lyon yang kemudian dilanjutkan naik TVG ke Avignon. Sengaja kulakukan karena aku ingin mengeksplore Paris lebih lama. Meskipun hanya dua landmark Paris yang bisa kukunjungi, tapi aku cukup puas telah melihat keanggunan Paris dari tiap kelok jalanannya, orang-orangnya dan bangunannya.
 
Hingga saat aku sedang menunggu waktu boarding-ku dengan menghabiskan makanan di salah satu restoran cepat saji asal Amerika, ponselku berdering. Mas Fahri.
 
“Laila, kamu dimana?” tanyanya dengan suara terburu-buru.
 
“Paris,” kataku singkat.
 
“PARIS?!” ia menyentak. Membuatku harus menjauhkan ponsel dari telingaku. “Ngapain kamu ke sana?!”
 
“Iseng, liat Eiffel, terus pulang.” 
 
Mas Fahri menggeram sesaat. “Laila! Pulang sekarang! Kenapa nggak bilang sih kalau kamu ke Paris?!”
 
Aku mengrenyitkan dahi. Tak biasanya ia semarah ini kalau aku bepergian sendirian. Memang sebelumnya aku biasa sampai sebelum Mas Fahri pulang, tetapi toh ini baru pertama kali aku begini. Dan ini pertama kali Mas Fahri marah dengan kelakuanku.

Akan tetapi di situ aku merasakannya.

Mas Fahri berbuat begitu karena ia takut aku mengalami kejadian tidak mengenakkan. Terlebih aku orang asing yang hanya mengandalkan jalanan Paris dari smartphone miliknya. Aku tahu, ada hal lebih yang ingin diperjuangkan Mas Fahri. Dan itu berusaha aku tampik.

Aku sampai di apartemen setelah hampir 12 jam berada di luar. Setelah menaruh jaketku di holder dekat pintu, aku mendapati pemandangan yang membuat hatiku meringis.

Mas Fahri tidur telengkup di sofa depan TV masih lengkap dengan pakaian kerjanya. Aku tahu ia menungguku pulang hingga tertidur.

Dan saat itu pula pertama kali aku menaruh perhatian padanya.

to be continued


Friday, July 7, 2017

Chapter IX - A Truth



Chapter sebelumnya dapat dibaca di sini

---

Laila

Aku terbangun dari tidurku. Bersiap menjalani hari baru dengan perasaan lama. Rasa bersalah dan menyesal yang tak bisa dilupakan, bahkan untuk mencoba sekali pun.

Aku duduk di tepi ranjang dengan rambut berantakan. Aku heran dengan mereka—perempuan, yang gemar mengunggah foto mereka mendusin di Instagram dan mendapati wajah mereka sudah dihiasi make up tipis juga rambut yang begitu tertata. Sedangkan aku? Rambut acak-acakan, muka beler seakan semalam habis menenggak berbotol alkohol serta kaos yang kugunakan kerap melorot mempersilakan bahu diterpa matahari yang menyusup dari balik tirai.

Setelah memastikan nyawaku terkumpul, aku bangkit dari ranjang, melakukan streching ringan untuk meregangkan otot tubuhku.

“Another day, another pain, old mistakes, same feeling,” desisku berulang kali dalam pemanasan dengan mata terpejam.

Kegiatan ini berlangsung selama 5 menit. Aku berjalan gontai menuju pintu. Aku melihat jam di ruang tengah menunjukkan pukul setengah 10. Hmmm, lebih cepat satu jam dari biasanya.

“Eh, Si Kebo udah bangun,” sambut Mbak Aya, kakakku, yang sedang menonton televisi dengan gelas berisi teh digenggamannya. Ia menoleh ke belakang saat tahu pintu kamarku terbuka.

Aku mengabaikannya. Aku bawa langkah yang kian berat ini menuju sofa tempat Mbak Aya duduk, mata Mbak Aya mengamati gerakanku yang super lamban hingga aku membanting bokongku di sofa dan menaruh lenganku di pinggirannya, kemudian memposisikan kepalaku di atas lenganku. Mataku terpejam kembali.

“Eleh eleeeeh,” suara Mbak Aya melengking. “Baru juga bangun malah langsung tidur lagi. Ini mah pindah tempat doang namanya!” cerocosnya. Aku balas dengan gumaman.

“Bangun, Lailaaa!” Mbak Aya melempar bantal yang ada di pangkuannya kepadaku.

“Ih, apasih mbaak! Orang masih ngantuk juga!” ujarku kesal tanpa membuka mata.

“Mbak udah senang kamu bisa bangun pagi, walaupun nggak bisa dibilang pagi juga, sih. Eh, ternyata masih mau tidur juga. Bangun geura ih, katanya mau ke ngajak Mbak ke kafe.”

“Iya ih, kafenya juga tutupnya masih lama. Masih ngantuk, Mbak, semalam tidur larut soalnya,” balasku semakin gondok.

“Makanya kosongin itu pikiran. Kamu lagi stres sih jadi tidurnya larut terus. Ini mumpung Mbak lagi di sini jadi bisa ngomelin kamu,” aku nggak tahan lagi mendengar omelan Mbak Aya. Aku membuka mata, membenarkan posisi dudukku dan kupasang muka cemberut dengan pandangan ke arah televisi yang menayangkan Ant Man di HBO.

“Tong cemberut kitu ah. Kayak anak kecil aja kamu mah, La, udah tua juga,” kata terakhirnya membuatku mengalihkan mata ke arahnya. “Cie sadar kalau dibilang tua.” Ia tergelak. Ingin rasanya kucengkram lehernya agar ia diam.

“Nih, La, minum teh dulu biar enakan paginya,” Mbak Aya menyodorkan gelasnya. Awalnya aku enggan menerimanya karena masih kesal, tapi aku teringat semenjak bangun tadi aku belum minum dan kini tenggorokanku terasa kering.

Kekesalanku memudar setelah air teh mengaliri tenggorokanku. Benar apa yang ia katakan, aku merasa lebih rileks. “Mbak, Kenji mana?” ku sudahi pertengkaran pagi hari dan mencoba membangun percakapan normal dengan bertanya tentang Kenji, keponakanku.

“Lagi anteng sama Bi Asih di halaman belakang,” Kenji Satria Rahardja. Anak lelaki tampan Mbak Aya yang berusia 6 tahun. Nama Kenji diberikan karena ia lahir di Negeri Sakura. Mbak Aya tinggal di Jepang sejak 9 tahun lalu. Suaminya, Mas Angga, merupakan seorang pengajar mata kuliah Bahasa Indonesia di Tokyo University of Foreign Studies.

Mbak Aya tinggal di Setagaya, salah satu distrik di Toyko dan membuka usaha kedai kopi kecil-kecilan yang turut menjual makanan Indonesia, juga tempat tinggal bagi mahasiswa yang kuliah di Jepang.

Sebelum semesta mempertemukan aku dengan Andre, aku beberapa kali mengunjungi Mbak Aya. Bisa dibilang, rumah Mbak Aya merupakan escape plan ku dari segala tekanan yang aku terima, baik dari perkuliahan maupun dari Ibu.

Menulis di Kinuta Park adalah aktifitas mayorku jika sedang menetap di sana. Sungguh, tak ada tempat yang begitu mudahnya mendatangkan inspirasi selain Kinuta Park. Taman yang begitu indah dalam segala musim, khususnya ketika sakura mulai mekar. Aku merasa Tuhan berbaik hati memberikanku kesempatan menikmati bagian kecil dari Surga-Nya ketika duduk di bawah pohon sakura dan melihat daun merah muda berguguran karena menerima sentuhan lembut angin. Dan saat momen itu tiba, aku tak acuh lagi dengan laptop di pangkuanku, atau apapun itu yang membawaku ke sana.

Mbak Aya tiba di Indonesia 4 hari silam. Setelah pertemuan terakhirku yang tidak-terlalu-berjalan-baik dengan Andre, aku acap menghubungi Mbak Aya tuk mengatakan betapa gegabahnya aku dalam mengambil keputusan itu.

Sejujurnya, aku ingin ke sana, ke kediaman Mbak Aya. Akan tetapi sepulangnya aku dari Prancis dan mendapati apa yang aku harapkan urung menjadi nyata, keputusan pergi ke Jepang malah semakin menasbihkan diriku sebagai pengecut yang terus lari dari masalahnya.

Alhasil tak hentinya aku menghubungi Mbak Alya melalui media sosial. Karena merasa gusar terus menerus mendengar keluhanku, Mbak Aya memutuskan pulang ke Jakarta, membawa Kenji dan menitipkan kedainya pada mahasiswa yang tinggal di rumahnya.

“Mereka nggak kerepotan tuh, Mbak, diberi tanggung jawab buat ngurus keseluruhan kedai?” tanyaku sewaktu menjemput Mbak Aya di bandara.

“Ah, mereka udah biasa kok. Lagi pula, sebagai imbalannya Mbak memotong biaya sewa tempat tinggal untuk bulan berikutnya. Mahasiswa mana sih yang nggak suka kosannya dikasih diskon setengah harga?”  jawabnya enteng.

---

 “Tanteh...tanteh, mau kemanah?” suara itu menyambutku ketika aku keluar kamar dengan pakaian rapih. Kenji melihatku dengan mata bulatnya yang berwarna cokelat muda. Aku suka caranya berbicara karena selalu ada huruf ‘h’ mengekor di belakangnya.

Aku berjongkok agar sejajar dengannya. “Tante pergi ke dokter sebentar sama Bunda,” dustaku seraya mengusap rambutnya yang lurus.

“Kenji, kamu di rumah dulu ya sama Bi Asih, Bunda kelur bentaaar aja,” Mbak Aya yang baru selesai berhias menghampiri Kenji yang berada di dekatku. Kenji tergolong anak cerdas dan tidak rewel. Ia tak keberatan jika harus ditinggal di rumah bersama Bi Asih. Toh, ia sibuk bermain dengan mainannya yang menumpuk di salah satu kamar meskipun keluargnya jarang pulang ke Indonesia.

“Tapih, tapih, pulangnyah beliin popkoln yah?” dan itu syarat kedua Kenji--dibelikan popcorn. Aku melihat Mbak Aya yang tersenyum padaku. Sudah pasti Kenji menyukai popcorn karena Bundanya termasuk maniak cemilan yang biasa disantap ketika menonton film tersebut.

Aku mengacungkan jempol pada Kenji, sedangkan Bundanya merunduk untuk mencium keningnya.

Kafe tempat kami tuju berada di daerah Kemang, tak jauh dari rumah kami di Cilandak. Aku senang dengan design interior kafe ini; didominasi warna hitam yang dilengkapi kursi, meja dan bar berbahan kayu. Kami mengambil tempat duduk di sudut ruangan dekat kaca besar yang mempersilakan sinar matahari masuk memberi cahaya natural ke seluruh ruangan.

“Jadi, gimana? Kamu sama Andremu?” tanya Mbak Aya tanpa basa-basi seraya menyeruput cappuccino-nya.

Ia terbelalak sebelum aku menjawab pertanyaannya. “Gila, enak banget cappuccino-nya! Pakai house blend apa, ya, mereka? Duh, La, asli enak banget! Kira-kira mereka mau kirim ke Jepang nggak, ya?” girang Mbak Aya. Aku hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum.

“Ah, nanti aja deh biar Mbak tanya, sekarang kamu dulu,” ia menaruh cangkirnya, menegakkan punggung dan melipat tangan di atas meja. Ia dalam posisi siap untuk mendengarkan.

Aku bersandar pada kursi, menatap tepat pada pupil mata Mbak Aya, lalu menghela nafas.

“Nggak gimana-gimana, Mbak. Setelah malam itu kita nggak pernah ketemu lagi. Bahkan saling mengirim kabar via media sosial pun tidak. Aku merasa...merasa bahwa pada malam itu seakan tak ada kejadian apa-apa. Kita kembali ke kehidupan masing-masing. Kehidupan sebelum kita bertemu, lagi. Dia dengan band dan kafenya, sedangkan aku dengan kebiasaanku dulu; mengikuti kegiatannya lewat akun kedua instagramku. Beruntung dia punya ratusan ribu pengikut, sehingga tak mungkin mengenali siapa yang mengikuti dia,” aku berhenti sementara tuk menyesap kopiku, Malabar Natural—kopi kesukaan Andre.

Mbak Aya tak akan bersuara sebelum aku menyelesaikan ocehanku, maka aku melanjutkan, “Aku nggak tau apa yang ada dipikiran dia sekarang. Dia berhak merasa apa saja kepadaku—marah, benci, ilfeel. Apapun. Mbak, apa ada yang bisa melebihi ini? Saat kita merasa lega karena mengutarakan sesuatu, namun menyakitkan pada saat bersamaan.”

Aku memutar-mutar gelasku.

“Terkadang aku turut menyalahkan Ayah dan Ibu. Terutama Ayah, pikiran Ibu jadi bebal karena tindakannya yang meninggalkan kita untuk...,” ku raih tisu dari dalam tasku. Aku terisak. Air mataku menggenang spontan. “Untuk tinggal bersama perempuan sialan itu. Saat itu Mbak Aya sudah berpacaran dengan Mas Angga dan Ibu menyetujui hubungan kalian, karena kalian telah menjalin hubungan sejak SMA—dimana suasana sangat baik-baik saja masa itu. Sedangkan aku? Aku yang baru memasuki SMP harus terus hidup di bawah sifat protektif Ibu, terutama dalam berteman dengan lelaki. Bahkan...bahkan sampai Ibu meninggal. Sehingga aku harus meninggalkan Andre dan bersanding dengan lelaki pilihan Ibu, walaupun kita nggak saling mencintai.” Air mata Mbak Aya nampak memenuhi tepian matanya, bersiap untuk jatuh.

“Aku ingin mengutuk kebebalan Ibu. Aku tau Ibu trauma setelah Ayah pergi. Aku tau Ibu ingin aku tidak merasakan penderitaan yang sama, meskipun aku mendapat penderitaanku sendiri. Kalau Ibu tidak bersimpuh memohon padaku mengikuti kemauannya, aku nggak mungkin ninggalin Andre. Kalau Ibu tak mengatakan itulah permintaan terakhirnya, bahwa ia ingin melihatku menikah dengan pria pilihannya...aku...” nafasku tercekat selama beberapa saat. Mbak Aya menyapu lenganku dengan tangannya.

Entah apa yang Tuhan inginkan dariku. Ia selalu mengujiku dengan memberi pilihan sulit yang mampu menguras emosiku untuk menentukan mana yang terbaik.

Andre dan Ibu. Salah satu contoh ujian yang Ia berikan. Aku harus memilih antara dua orang terpenting dalam hidupku.

Aku menemukan warna hidupku kembali semenjak berjumpa dengan Andre. Ia mampu memberikan secercah cahaya terhadap jalan ke depanku yang selama ini kelam. Namun, aku terlambat. Aku membuang kesempatan emas yang sempat Ibu berikan kepadaku; memilih lelaki. Kesempatan yang selama ini tak diberikannya padaku.

Hanya dua. Dan dua pria yang singgah dihidupku sebelum Andre tak mampu membuat Ibu memberikan restunya. Sehingga ia lekas memilihkanku pendamping yang menurutnya tepat, tapi tidak bagiku.

Jikalau ditanya, ‘Kenapa Andre nggak diperjuangin?’, jika ada yang bisa melunakkan kedegilan Ibuku, maka aku bersedia melakukan apapun yang ia inginkan. Selama masih dalam batas wajar. Dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Andre.

Dan memilih Andre tanpa memikirkan Ibu? Aku semakin tak mampu. Aku paham Ibuku sangat keras kepala sehingga membuatku naik pitam dibeberapa kesempatan. Tapi beliau Ibuku. Seseorang yang mengandung dan menjagaku sembilan bulan lamanya dalam rahimnya, dan orang yang merawat, membiayai, serta mendidikku sampai umurku dua puluh tiga tahun. Ibu tetaplah Ibu. Sepahit apapun peringainya, tetaplah mustahil bagiku membalas semua hal yang telah ia berikan padaku.

Lagi pula, sejak kami—aku dan Mbak Aya, tahu Ibu divonis terkena kanker, durhakalah aku sebagai anak kalau ikut serta membuat sakit perasaannya dalam mengindahkan permohonan itu.

Aku tahu, terlalu sulit untuk memilih antar dua orang yang sejatinya dapat memberi kesempurnaan dalam kehidupanku.

Lidahku acap kelu untuk mengatakan perihal ini kepada Andre. Beban ini menjadi mimpi buruk yang datang tiap malam. Tentang bagaimana reaksi Andre jika mendengar pengakuanku, dari mulai yang buruk hingga ke paling buruk.

Aku bergidik membayangkannya. Maka aku putuskan untuk bungkam dan akan kuutarakan hingga saatnya tepat. Dan ternyata aku salah. Tak ada saat tepat. Tak ada hati yang utuh ketika ditinggalkan pemiliknya sekalipun berkata bahwa ini adalah yang terbaik.

Yang terbaik tak mungkin pergi.

Ia akan bertahan dan memikirkan jalan keluar bersama. Bukan sepihak dan kabur selayaknya pecundang.

“Laila, kamu wanita kuat. Jujur, Mbak nggak mengalami hal seperti kamu di usia yang sama. Tapi Mbak salut sama kamu, Laila. Secara perlahan kamu mampu melewati cobaan ini. Hatimu menjadi kian teguh karena rentetan peristiwa yang kamu lalui. Percaya bahwa ini bagian dari proses..proses menuju akhir yang bahagia,” kata Mbak Aya selembut mungkin. “Dan percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan yang terbaik bagi kamu, La.”

Tuhan telah menyiapkan yang terbaik.

Aku tahu, terlalu angkuh jika turut menyalahkan-Nya. Tapi aku merasa labirin ujian yang aku hadapi kini semakin menyempit, hingga raga dan jiwaku terhimpit. Aku tak merasa ada pintu keluar di sana. Apakah memang ini yang dikatakan terbaik?

Kami terdiam sesaat. Mbak Aya masih menatapku. Aku melihat cangkir kopi di meja.

“Satu lagi, Mbak,” aku mengangkat dagu. “Aku merasa bersalah pada dua orang; Andre dan Mas Fahri—mantan suamiku.”

Kening Mbak Aya berkerut.

“Pada awalnya kami emang nggak saling mencintai. Tapi...semakin lama ia menunjukkan kalau perasaannya padaku berubah. Bahkan ia mulai menyinggung perihal anak, padahal sejak awal kami sepakat bahwa pernikahan ini hanya sementara dan tidak memiliki anak.”

Mbak Aya terkesiap mendengarnya. Aku memang belum membagi mengenai bagian ini pada siapapun.

“Aku nggak bodoh, Mbak. Meski hatiku mati sejak meninggalkan Andre, tetapi aku masih bisa ada sesuatu yang sedang diusahakan Mas Fahri. Terutama menjelang kami berpisah. Aku kira aku mengubur harapannya agar aku bertahan. Keseluruhan hatiku mengatakan Andre lah tempatku pulang dan menetap.”

Meski sempat tercengang, Mbak Aya mampu menguasai rautnya dalam sekejap. Ia tidak banyak berbicara, karena memang bukan itu yang aku butuhkan. Aku hanya butuh didengarkan, tidak ada yang lebih mengerti hal ini selain Mbak Aya.

Ia memberiku waktu untuk beristirahat, beranjak menuju bar meninggalkanku sendiri. “Mbak mau tanya perihal pengiriman house blend mereka sama Masnya.”

Aku menumbukkan pandangan pada deretan pohon di luar kaca besar. Pikiranku berkelut dengan gambaran ‘what if’ di dalamnya. Bagaimana kalau Andre benar-benar nggak mau bertatap muka lagi denganku? Sampai bagaimana kehidupan Mas Fahri setelah kami bercerai—apakah kembali seperti sebelum kami menikah atau lebih buruk?

“Alhamdulillah bisa. Masalah ongkos kirim mah gampang. Anak-anak pasti bakal suka deh,” suara Mbak Aya memecah lamunanku. Ia kembali menempati posisinya.

Mbak Aya menghela nafas. “Sekarang kamu jangan begadang lagi deh. Kasihan fisik sama batinmu kalau begini terus. Udah deh, kalau mau nonton Blue Jay sama Eternal Shine of the Spotless Mind nggak usah mulai jam 10. Bisa, kan, nonton dua film itu siang-siang? Lagi pula, nggak bosen apa nonton itu terus?”

Aku tersenyum getir.

“Nggak pernah bosen kayaknya, Mbak. Aku sebenarnya pengin reaksi Andre pas pertama melihat aku sama kayak reaksi Jim melihat Amanda setelah bertahun-tahun nggak ketemu. He said, ‘Hai’, walau dengan senyum canggung,” senyumku tersimpul karena membayangkan adegan film Blue Jay itu benar terjadi dalam kisahku. “Atau karena our first meeting not going well, aku berharap bisa menghapus memoriku seperti Clementine menghilangkan ingatan tentang Joel dari pikirannya.”

Aku mengangkat bahu sembari menggelengkan kepala. Merasa bodoh karena menggambarkan reka ulang adegan dua film tersebut dalam khayalanku dengan aku dan Andre sebagai tokoh utamanya.

“Tapi pada akhirnya, baik Jim dan Amanda serta Joel dan Clementine saling melempar senyum juga tawa, kan? Meskipun ada air mata yang mengiringi mereka.”

Aku terperangah. Mbak Aya tersenyum melihatku.

Semoga aku mendapati akhir yang sama seperti mereka.

Semoga.

“Udah yuk, kasihan Kenji ditinggal kelamaan,” Mbak Aya berdiri dari kursinya seraya mengemas barangnya ke dalam tas. “Eh, ke XXI Kemang dulu deh. Mumpung dekat.” Lanjutnya.

Aku mendongak keheranan. “Ngapain? Emang ada film seru?”

“Loh, siapa yang bilang mau nonton? Mbak cuma mau beli popcorn kok,” ujarnya. Aku melongo. Ia tersenyum.

“Kenapa nggak di minimarket aja sih?” protesku.

Mbak Aya telah selesai memasukkan barangnya. Ia mematung di depanku. Merunduk sedikit lalu menempelkan telunjuknya ke hidungku. “Karena nggak ada popcorn caramel yang lebih enak dari punyanya XXI, Laila,” ujarnya sambil berlalu melewatiku.

“Dasar maniak!!!” Aku sedikit meninggikan suaraku. Mbak Aya menoleh sembari memeletkan lidah. Aku terkekeh melihatnya.

---

Di perjalanan pulang aku hanya duduk diam mengamati jalanan. Sedangkan Mbak Aya menyetir dengan tangan kanan pada kemudi dan tangan kiri yang berulang kali menggerus popcorn caramel dari cup holder di bagain tengah. Dua cup popcorn caramel dan satu salty popcorn large size untuk di rumah masih terbungkus rapih dalam plastik di kursi  belakang.

“Mbak,” sahutku tanpa melihatnya.

“Hmm?”

“Makasih ya,” tatapanku berpindah ke arah Mbak Aya. Ia tersenyum dan mengacak rambutku.

“Mbak! Kotor ih! Abis makan popcorn juga!” kesalku seraya menghentikan gerakan tangannya di kepalaku. Ia malah tertawa tapi tidak menyudahi aktifitasnya.

“Kamu itu,” ia menaruh tangannya pada kemudi. Aku merapihkan rambutku. Bibirku mengerut kesal. “Adikku yang paling kuat. Yang paling teguh hatinya. Paling ceria peringainya, jadi sudahi sedihmu, La. Mbak selalu berdoa yang terbaik untukmu. Mbak percaya akan akhir yang bahagia. Kamu juga harus tanamkan kepercayaan itu dalam hatimu.” Ia mengerling melontarkan seringai.

Kerut dibibirku digantikan oleh senyuman.

Ya, aku harus percaya,

akan akhir yang indah,

Percaya...

Harus.

Dan berbicara mengenai masa sulitku ketika harus terpisah dari Andre dan hidup dengan seseorang yang tak saling mencintai. Proyektor memoriku seakan memutar kisah itu, kisah ketika aku berada di negeri yang disebut banyak orang negeri yang romantis, tapi aku jalani dengan hati teriris tiap harinya, yaitu Prancis.
to be continued