Showing posts with label Sebuah Tulisan Random. Show all posts
Showing posts with label Sebuah Tulisan Random. Show all posts

Sunday, October 1, 2017

Untitled

Halo

Sudah lama rasanya nggak ada di sini. I mean, dalam artian gue yang sesungguhnya, bukan gue sebagai Laila atau Andre yang belakangan mengisi bagian dari blog ini.

Gue rindu juga menulis sebagai gue, dan kali ini rindu itu tak bisa tertahankan lagi sehingga gue memutuskan mencurahkan apa yang gue rasa dan pikirkan seperti dulu kala.

Tulisan ini dimulai tepat 10 menit sebelum September bergulir dan bersiap digantikan oleh Oktober. Rasanya di tengah malam ini pikiran gue nggak bisa diam, dia seakan berjalan menyusuri lorong ruang dan waktu ke beberapa waktu lalu. Ya, dia emang gemar flashback disaat gue sendiri kurang menyukai hal itu.

Ah, rasanya perasaan gue jadi lebih sentimentil belakangan ini.

Let me talk about love.

Basi banget nggak sih bahasannya? Love...cinta...mungkin sebagian dari kalian spontan bilang, “Cih,” atau mungkin juga ada yang langsung muntah ketika mendengar kata itu?

Permasalahan menyangkut hal ini seakan semakin ribet seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia. Dulu, pas masih jamannya cinta, Monyet. Eh, cinta monyet, kayaknya sederhana aja gitu masalah yang ditimbulkan satu kata ini. Semisal marah karena nggak bales SMS (iya, jaman gue cinta monyet dulu masih pakai SMS, Line belum lahir, BBM aja belum eksis, masih mainan YM, iya, nggak usah tanya umur, ya), terus perihal apa lagi, ya...umm atau masih bisa putus dengan alasan bosan dengan pacarnya (ini juga masih bisa terjadi di umur 20++, hanya penyelesaian masalahnya bukan dengan ganti dengan pacar baru), ya pokoknya semacam itu lah.

Sedangkan apa yang gue rasakan sekarang mengenai hal yang berkaitan dengan l-o-v-e itu begitu sulit dimengerti. Bagi hati gue, yang ia butuhkan di umur segini hanyalah rumah. Dia udah lelah dengan siklus pacaran yang menguras waktu itu, ada cewek baru-kenalan-mulai pendekatan-mulai ngerasa ada aura yang beda-ternyata dia boker di celana.

Oke, maaf kelewatan.

Siklus sederhana berupa kenalan-PDKT-jadian-berantem-putus itu akan menjadi sangat melelahkan apabila dilakukan berulang kali. Setiap hati pasti punya batas capeknya masing-masing dalam menjalani siklus iu. Hingga pada suatu saat, hati akan berbicara. “Gue udah nggak capek sama tahapan pacarnya, gue harus ketemu sama orang yang gue yakini bersama dialah gue menjalani siklus ini untuk terakhir kalinya.”

Eh, taunya nggak sesuai realita.

Emang sih, kadang hati juga nggak konsisten, ketika dia bilang. “Dia harus jadi yang terakhir.” Taunya bukan. Masih ada ‘dia-dia’ lainnya yang menunggu singgah sampai menemukan yang benar-benar menetap dan menjadikan hati itu sebagai rumahnya.

Begitu pula dengan hati gue, terakhir dia membisikan suatu hal ke gue.

“Skripsi kerjain, Di.”

Oh shit.

Salah, itu alam bawah sadar gue yang sengaja gue masukin ke penjara biar nggak berisik berbicara mengenai skripsi lagi.

Hati gue bilang kalau pilihannya kali ini nggak salah.

Kenyataannya? Ah, gue belum bisa menyimpulkan. Logika gue bilang kalau pilihan hati gue kali ini lagi-lagi salah, tapi doi kekeuh bertahan dengan pilihannya. Dia bilang, kalau ada something yang berbeda yang dimiliki dari pilihannya tapi belum kelihatan sama khalayak aja.

Gue cuma bisa nurut sambil ngerasain akibat dari kebebalan hati gue aja sih....

As i said before, persoalan tentang ini semakin ribet seiring bertambahnya umur. Atau emang guenya aja kali ya yang bikin ribet. Ah, entahlah, sebenarnya tulisan ini nggak ada poinnya. Gue cuma mau nambahain post aja biar terkesan nggak sepi ini blog.

Dan gue juga nggak mau banyak nulis kali ini, tapi ternyata udah dapat dua halaman aja di Word. Yasudah, sepertinya gue sudahi aja post ini. Untuk kalian yang sekiranya membaca ini, gue kasih standing applause karena udah bersedia membaca tulisan nirfaedah ini sampai selesai. Maaf kalau gue membuang sedikit waktu kalian yang mungkin bisa kalian gunakan untuk merubah dunia, tapi malah kalian habiskan dengan membaca tulisan ini.

Tapi, semoga inti dari maksud pikiran gue bisa ditangkap. Apa? Ya, nambah-nambahin post di blog. Sip.

Gue cabut, ya. Sampai bertemu di tulisan gue selanjutnya yang kemungkinan akan diisi kembali oleh Andre dan Laila.  Ciao!

Friday, December 9, 2016

Sebuah Tulisan Random - Kata Hati

 
source: google.com
Sering gue denger perkataan, “udah, ikutin aja apa kata hati lo. Dia lebih tau mana yang terbaik.” Tapi kini gue bertanya, apakah yang hati gue katakan selalu benar? Apakah yang ditunjukkan olehnya selalu mengarah kepada suatu nilai positif bagi gue pribadi? Pada sore hari yang gabut ini gue tertarik tuk sedikit membahas tentang apa yang namanya ‘kata hati’.

Perkataan di atas sering dilontarkan apabila seorang sedang bimbang dalam menentukan pilihan. Karena pada umumnya, kata hati dapat menuntun seorang itu untuk menentukan pilihan mana yang terbaik baginya. Namun tidak semua orang (termasuk gue) bisa menerima pilihan hati gue gitu aja, karena biasanya apa yang telah dipilih oleh hati itu mempunyai resiko dan memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman dimana dua hal itu udah cukup membuat gue menahan langkah untuk mengikuti apa yang hati gue katakan.

Maka dari itu beberapa orang mungkin lebih menyarankan untuk mengikuti logika atau berpikir rasional yang notabene kebalikan dari hati. Karena dengan berpikir rasional seseorang dapat meninjau kembali baik-buruk serta resiko keputusan yang akan ia buat. Meskipun itu bertentangan dengan kata hatinya.

“Kayaknya gue lebih milih kerja di A deh. Gajinya lebih gede, tapi gue harus jauh dari keluarga.  Ah, gapapa deh, daripada di B gajinya cuma segitu walaupun deket sama rumah.” Untuk seorang family man, berada jauh dari keluarga bukanlah suatu keputusan yang mudah. Ia lebih memilih pendapatan yang lebih besar karena ia berpikir biaya hidup sekarang ini semakin mahal, meskipun hatinya mengatakan jangan jauh dari keluarga, tapi ia tetap mengikuti logikanya.

Atau contoh lain ketika gue melaksanakan ujian dengan soal pilihan ganda. Disaat gue frustasi pada satu jawaban, di situlah gue mengandalkan kekuatan tebakan dan insting dalam memilih jawaban. Saat itu logika gue memilih opsi C karena terlihat paling bersinar juga lebih masuk akal dibanding jawaban lain. Tapi di sisi lain, hati gue merujuk pada opsi A dengan alasan yang gak bisa gue mengerti. Pertentangan antara logika dan hati membuat gue mengambil jalan tengah untuk tidak memilih keduanya. Akhirnya gue pilih opsi B. Setelah dikoreksi, jawaban yang benar adalah opsi D. Shit.

Iya, iya. Itu guenya aja yang bego.

Tapi terkadang banyak orang yang sulit membedakan mana kata hati, mana ego. Karena emang keduanya mempunyai perbedaan yang sangat tipis. Keduanya sama-sama muncul dari dalam diri. Disaat lo merasa yakin pada satu pilihan, pastikan bahwa itu adalah kata hati lo, bukan ego semata. Karena apa yang diinginkan oleh ego adalah kenyamanan atau kesenangan yang hanya bersifat sementara. Dan pastikan pilihan yang lo buat apakah sejalan dengan keinginan lo atau tidak. Kalau sejalan, kemungkinan besar itu adalah ego yang jika diikuti kemauannya hanya akan bermuara pada penyesalan di akhir.
 
Pada kenyataannya, pilihan hati selalu punya resiko lebih besar dibanding pikiran rasional. Bahkan terkadang ia membutuhkan pengorbanan. Termasuk sesuatu yang ia sayangi. Tapi menurut gue, mengikuti kata hati dapat membuat kita belajar untuk keluar dari zona nyaman. Belajar untuk berani mengambil resiko dan belajar untuk siap dalam menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi.

Selama ini sering gue mengabaikan kata hati dan berbohong padanya, padahal ia gak pernah berbohong dengan putusannya. Menurut gue, mengikuti kata hati itu penting. Kata hati yang sesungguhnya akan menuntun kita pada pilihan dan keputusan terbaik. Karena sejatinya ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Tuhan ingin kita melakukan apa yang Ia inginkan dan Tuhan tau apa yang baik untuk kita. Ikutilah kata hati kita, bukan ego kita. Seburuk apapun pilihan yang ditentukan hati kita di mata manusia, percayalah bahwa putusan itu baik di mata Tuhan. Percaya bahwa selalu ada hal positif yang terkandung di dalamnya.

Sekian dan salam super.