Monday, August 4, 2014

Mitos Mantan Terindah

Joko dan Ani sudah pacaran selama 20 tahun. Entah apa yang membuat hubungan mereka langgeng. Mungkin Joko yang penyayang sehingga Ani merasa nyaman ada di sisinya, atau orang tua Ani punya hutang kepada keluarga Joko. Entalah, biarkan ini menjadi misteri mereka berdua.

Pertengkaran sudah biasa bagi mereka, mulai dari yang sepele, hingga masalah besar. Karena berhasil melewati segala rintangan selama 20 tahun ini, mereka yakin masalah apapun yang akan menerjang hubungan mereka selanjutnya pasti mereka lewati. Dengan kekuatan cinta, kata mereka.

Joko juga mampu merubah Ani menjadi seseorang yang lebih baik. Dulu Ani adalah orang yang kasar, pemarah, suka ngomong jorok, "Jorok lo, Joko! Jorok lo!", begitu kira-kira, sekarang menjadi orang yang penyayang dan lemah lembut. Di sini mulai menimbulkan pertanyaan, sebenernya Joko ini seorang pacar atau klinik Tong Fang.

Sampai pada suatu hari...

Badai besar menerjang hubungan asmara keduanya. Di pekarangan sebuah rumah nan asri, terdengar suara keributan beberapa orang.

"Tidak! Jangan pisahkan aku dengan Aa Jok!" Ani berteriak ketika tangannya ditarik paksa oleh seseorang yang memiliki tangan lebih besar dan kekar, ayahnya.

"Neng Aniiiiii!!! Tidaaaak!!! Jangan pergiiiii!!!!!" Joko terpaku di depan pintu rumahnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Ani, ditambah gerakan mulutnya yang slow motion ketika mengucapkan, "Jangan pergiiiiiii!!!"

"Ani! Hutang bapak kepada keluarga Joko sudah lunas! Kau harus meninggalkan dia!" (Yes! Tebakan gue tepat! Bapaknya Ani punya hutang!)

"Tapi pak... Cinta kita sudah lengket sepeti Power Glue... Ihik.. Ihik," tangis Ani mulai pecah.

"Ani, asal kamu tahu, lem Power Glue aja bisa lepas, apalagi cinta kalian berdua," mendengar perkataan bapaknya, Ani hanya bisa termenung. Dengan berat hati ia terpaksa meninggalkan Joko. Saking termenungnya, ia tak sadar telah diseret bapaknya hingga ke rumah. Kasian.

Hari-hari pasca tragedi mengerikan tersebut, Ani hanya bisa meratapi kenangan ketika bersama Joko di kamarnya. Ia ingat ketika pertama kali bertemu Joko, ketika ia disuruh orang tuanya pacaran dengan Joko. Ia ingat momen lucu bersama pangerannya tersebut seperti ketika Joko salah menyuapi makan, bukannya nyuapin Ani, dia malah nyuapin bebek. Katanya mulut mereka mirip. Ani kembali melihat barang-barang pemberian Joko. Ia menemukan sedot WC di sudut kamarnya, Joko bilang toilet Ani sering penuh kalo dia pup, makanya ia memberikan alat itu supaya Ani sering mengosongkan septic tank-nya. Semua hal itu membuat Ani memberi cap kepada Joko sebagai.. Mantan terindah.

---



Nah, kira-kira begitulah gambarannya seseorang memberi cap 'Mantan Terindah'. Mungkin ada yang pernah mengalami apa yang terjadi dengan Joko-Ani? Atau ada yang pernah memberi cap yang sama? Jujur, gue sendiri pernah ngasih cap begitu ke mantan gue. Waktu itu gue lagi khilaf.

Beberapa hari lalu, gue menerima pesan dari temen gue dan ia bertanya, "Aldi, gimana sih caranya ngelupain mantan terindah?". Setelah membaca pesan itu gue ga langsung jawab, tapi berpikir pada kata, 'mantan terindah' tersebut.

Apa benar ada istilah itu? Menurut gue, itu cuma istilah yang dibuat-buat oleh diri kita sendiri. Secara tidak sadar, kita sudah terjebak di masa lalu, atau, kita belum mampu bangkit dari masa lalu. Menikmati kesendirian dengan membayangkan masa-masa indah bersama sang mantan. Seperti kita ingin berlari namun membutuhkan sepatu lari, kemudian saat itu sepatu lo ilang sebelah, hal itu yang membuat lo tertahan. Lo terlalu sibuk nyari sepatu yang sebelah itu, bahkan ada yang tidak bergerak karena bingung mau nyari dimana. Ada yang mencari sepatu itu dengan menjelajahi tempat yang ia datangi sebelumnya. Bisa jadi saat menelusuri tempat itu, lo ngelewatin tempat yang dulu pernah lo singgahi bersama mantan, menghabiskan waktu berdua, sehingga lo terpaku dan ga jadi nyari sepatu itu.



Kalo lo niat untuk move, lo pergi ke toko sepatu, cari yang baru, and then.. Run! Jangan lupakan masa lalu tapi jadikan masa lalu sebagai pelajaran, kalo di depan ada rintangan tapi ternyata rintangan itu pernah ada di masa lalu lo, lo bakal dengan mudah melewatinya.

Lagi pula, diliat dari namanya aja udah 'terindah', ter- ... Dimana-mana, ter- itu menunjukkan paling, terindah berarti paling indah. Kalo mantan lo ngasih kenangan super indah kepada lo, dan ketika lo punya pacar baru dan dia memberikan sesuatu yang lebih dari mantan lo itu, lo bakal nyebut apa? Terterindah gitu? Maksa.

Menurut gue, pasangan terindah adalah pasangan yang disiapkan Tuhan untuk mendampingi kita kelak. Bukan pasangan yang pertama buat kita, tapi pasangan yang bakal ada disaat-saat terakhir hidup kita. Pasangan yang memberikan keindahan yang tak pernah ia berikan ke orang lain selain kita. Pasangan yang bersedia membuktikan, bahwa ia pantas menjadi pasangan kita. Gitu.

So, buat lo yang masih nyebut mantan terindah, mungkin saatnya mengganti isitlah itu dengan, "pengalaman berharga," karena pengalaman itu akan membantu lo di cerita asmara lo selanjutnya. Lupakan tentang mantan terindah, anggap aja itu hanya mitos masyarakat sekitar.

Well, gue akhiri deh, udah lama juga gue gak nulis sepanjang ini. Semoga aja ada manfaatnya. Yaaa... Minimal nyantol dikit deh. Sekian dan wassalam!

Friday, August 1, 2014

Good Bye, THR!

Hai! Berhubung masih dalam suasana lebaran, gue mengucapkan, Minal aidzin walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Keep absurd, gais!

Udah, cukup ucapannya. Sekarang kita kembali ke celotehan gak penting gue. Karena masih lebaran, gue akan ngebacot tentang hal yang gak jauh-jauh dari lebaran, yaitu.... *bersambung*


Sinetron abis.


Gue mau ngomongin THR. THR everywhere... Ga dapet THR anytime... Mitos semakin tua THR makin tipis udah lagi gue alami. Sebetulnya gapapa gak dapet THR, tapi dikarenakan status gue sebagai pengangguran (lulus SMA dan belum kuliah), jadi selama nganggur berkepanjangan ini pendapatan gue juga ikut surut.


Sebenernya gue emang seharusnya sadar diri. Di umur gue yang gak-terlalu-muda-lagi, gue gak perlu berharap pada pendapatan THR, apalagi di keluarga nyokap gue, gue termasuk anak yang umurnya lebih banyak (gue gamau ngomong tua) dari yang lainnya.


Banyak awkward moment yang terjadi saat pembagian THR di keluarga, salah satunya ialah ketika semua anak-anak antre untuk mendapatkan THR, dimulai dari yang termuda hingga yang paling banyak umurnya (bukan tua), dimana lo ada di posisi terakhir dan ketika giliran lo tiba dan bokap atau nyokap lo nyeletuk, "Ah, gausah dikasih, dia mah udah gede ini," dan yap, tangan yang dalam posisi memberi itu langsung ditarik sambil berkata, "Oh iya bener, yang ini mah gausah,". Gue cuma bisa senyum mesem. Mending gausah ngantri dari awal daripada harus berakhir seperti demikian. Hiks...


Salah memang kalo lebaran ngarepin THR, karena silaturahmi itu harus didasarkan rasa kekeluargaan, bukan rasa keuang-uangan. Aseeeeek.


Oh iya, mungkin di luar tema, tapi gue cuma pengen tau, kalo lo baca tulisan ini dan udah pernah baca tulisan gue yang lainnya, gue mau minta komentar kalian tentang gaya nulis gue atau tulisan mana yang kalian suka di sini. Komentar kalian bisa ditulis di comment box. Komentar kalian sangat berharga bagi gue lhoo. :)


Sekian dulu deh dari gue, sekali lagi minal adizin walfaidzin dari gue beserta keluarga. Mohon maaf lahir dan batin. Wassalam!







Thursday, June 5, 2014

Twitter, Oh, Twitter...



Halo! Kalo biasanya dari kemarin gue selalu ngepost tentang berbagai tips tentang sesuatu, kali ini gue mau cerita sedikit. Ya, bisa dibilang kembali ke saat pertama kali gue nulis di blog untuk sekedar curhat. Jadi buat kali ini, kalo mau dibaca boleh, kalo engga yaaa baca dulu lah dikit, siapa tau kita punya keresahan yang sama. HeHeHeHe.

Kalo berbicara Twitter, ya, mungkin ini salah satu sosial media terbesar untuk saat ini. Tapi, gue merasakan semakin ke sini gue semakin males, ya, main Twitter? Gue mulai buat Twitter tahun 2010 namun baru aktif sekitar 2011-an. Bukan karena gak ada gadget, tapi lebih ke emang guenya aja yang norak gak tau cara mainnya. Kalo dibandingin sama temen gue yang baru buat saat itu, tweet gue dengan cepat dilewati, bahkan 100x lipat. Karena termotivasi, mulai saat itu gue resmi jadi aktifis Twitter. Nge-tweet hampir tiap menit, bandingkan dengan sekarang yang nge-tweet kalo ada mention doang.

Entah kenapa seperti ada ‘faktor X’ yang ngebuat gue males main Twitter. Apalagi kalo udah ngeliat orang-orang resek yang berkeliaran di TL gue, mau di unfollow kenal sama orangnya, gak di unfollow bikin mata pedes tiap liat timeline.

Salah satu dari orang rese di Twitter adalah orang yang selalu galau kalo nge-tweet. Mungkin orang yang seperti ini memiliki pola hidup begini,

Tidur -> bangun -> makan -> galau -> sekolah -> istirahat -> galau -> pulang -> ngerjain tugas -> galau -> mandi -> galau  -> galau -> galau -> galau -> tidur -> kembali ke awal.

Dan punya siklus hidup seperti ini,

Dibikin sama ortu -> di kandungan -> galau -> lahir ->  hidup -> galau -> mati -> masih galau.

Hampir 80% hidupnya dihabiskan untuk galau, pemirsa. Hebat sekali. Yang begini patut diawetkan di WGM (World Galau Museum).

Orang rese lainnya yaitu orang yang selalu berkicau tentang apa pun yang ia lakukan. Ya main lah, makan lah, boker lah, semuanya deh. Misalnya seperti ini,

@an1cIeim0etZ : “Lage boker niech.”

@an1cIeim0etZ : “Keyaz bingiiiiiiitttsss.”

@an1cIeim0etZ : “Aaaah, ujungnya kliyatan!”

@an1cIeim0etZ : “HMMMMMMMMPPPPPP!!!!!”

@an1cIeim0etZ : “Plung. Yeay keluar jugaaaa!”

Sebenarnya dia sadar telah membuat orang lain ingin meng-klik tombol unfollow di profile page-nya. Dia seakan menguasai timeline sendiran seperti tak ada orang lain yang membacanya. Mungkin dia juga sadar kalo beberapa followers-nya nyindir dia melalui tweet2 mereka. Bukannya sadar, orang seperti Ani ini malah ngebales sindiran mereka dengan tweet seperti ini,

@an1cIeim0etZ : “Kaloe gak cuka cama twit akoeeh, unfollow ajaaah!!”

Setelah dia nge-tweet seperti itu, followers-nya yang berjumlah 5 orang secara serentak meng-unfollow Ani. Ani sadar. Ia galau karena akibat sikapnya dia jadi gak punya follower dan merasa terpinggirkan dari pergaulan. Karena galau, dia ngemis2 minta follback ke orang. Setelah memiliki 4 followers, dia kembali menguasai timeline sendiri. Di unfollow lagi. Galau lagi. Ngemis lagi. Gitu aja terus. Untungnya di Negara kita memenggal kepala orang termasuk salah satu hal yang illegal, maka selamatlah orang-orang seperti Ani.

Selain karena beberapa tipe orang di atas, hal lain yang ngebuat gue merasa jenuh main Twitter adalah karena gak ada game. Oke, ini agak berharap. Tapi, game jadi alasan kuat kenapa Facebook masih rame disinggahi sampe saat ini. Yaaa, siapa tau pembuat Twitter ngebaca tulisan gue ini dan akhirnya memutuskan untuk mengunduh game di sosial media buatannya.

Mungkin gak semua orang setuju sama tulisan gue ini, “gue gak setuju sama lo!” “apa-apaan nih?! Gue masih suka main twitter kok!” “sok ganteng lo, Di!”. Ya, setiap orang kan berhak mengutarakan keluh kesahnya. Lagi pula, buat sebagian orang, terutama penulis, seleb, sampe pedagang jajanan online membutuhkan Twitter sebagai media untuk mempermudah pekerjaan mereka. Gue juga begitu, kalo nge-post link masih mengandalkan Twitter. So, kamu masih cukup berguna kok, Twit…

Ah, ini cuma keisengan gue belaka kok. Cukup segini aja yang gue tulis. Oh iya, apa bila ada yang satu pendapat sama gue dan punya alasan lain, “kenapa twitter membosankan?” boleh bercuap di comment box. :D Gue pamit, dah!

Sunday, June 1, 2014

5 Tips Keluar dari Friend Zone




Halo! Akhir-akhir ini gue semakin sering ngeliat berbagai keluhan tentang friend zone di socmed. Jujur, hal ini agak mengganggu gue, apa gak ada hal lain yang lebih pantes buat di galauin? Menurut gue, mikirin nanti bakal kuliah dimana jauh lebih cocok untuk digalauin (ini masalah gue, sih). Maka dari itu, kali ini gue mau ngasih tau 5 cara menerjang friend zone! Gue akan share tips buat kalian yang terjebak friend zone agar bisa keluar dari zona kampret tersebut.

Fenomena friend zone udah gak lazim di kalangan kita. Mungkin tiap harinya populasi friend-zoners (sebutan orang yang terjebak friend zone) semakin meningkat. Sejauh ini udah banyak artikel mengenai tips ini, toh, apa salahnya gue ngasih tips versi gue sendiri? Muehehehehe.


Gue takut kalo friend zone tidak juga dibasmi malah akan merajalela, dan mungkin bisa bertahan sampe gue punya cucu kelak dan menjadi salah satu warisan dunia UNESCO. Bahaya. Well, cukup untuk pembukaan, sekarang kita masuk ke intinya, cekidot!


1. Lakukan dengan perlahan

Jangan buru-buru! Ini merupakan step awal dan paling mudah. Ingat, di sini lo harus keluar dari batas pertemanan tanpa menghancurkannya. Jangan karna lo terlalu ngebet sampe akhirnya jadi pacar engga, hubungan pertemanan juga rusak.

Joko : "Ani, kita kan udah temenan sejak di dalem kandungan. Dulu kalo orang tua kita lagi rumpi, kita juga suka ngobrol kan dari dalem kandungan masing-masing."

Ani   : " Iya, terus kenapa?"
Joko : " Kamu mau gak pacaran sama aku?"
Ani   : "Ih, apaan deh, kok tiba-tiba gitu?" *gampar* *tinggalin Joko*

2. Tak kenal lelah!

Kita di sini sebagai pejuang friend zone! Dan seorang pejuang itu tidak kenal dengan kata lelah! Kalo doi merasa ada perubahan dari diri lo, semisal lo jadi lebih perhatian, semakin sering kirim sms, mungkin doi masih ngerasa canggung karna ada yang 'aneh'. Jangan putus asa kalo dicuekin pas mau ngajak ngobrol atau dijutekin saat sms-an, karna doi mungkin sedang menyesuaikan dengan hal 'baru' itu. Kalo lo langsung nyerah dan berpikir bahwa dia ga akan jadi kekasih lo, lo langsung ga perhatian lagi dan kembali seperti awal, bisa-bisa doi berpikir bahwa lo cuma main-main sama dia, dan itu bisa merusak hubungan perteman kalian nanti.

*sms*

Joko : Hai Aniiiii.
Ani   : Iya.
Joko : Lagi apa nih?
*gak dibales*

*sms lagi*

Joko : Ani, besok ada pr, gak?
Ani   : Gak
Joko : Wokeeeeeey. makaci kakak!
*gak dibales*

3. Jangan terlalu agresif

Mungkin step ke-3 ini dilakukan kalo lo udah dapet sinyal dari doi alias udah mulai keluar dari friend zone. Tapi ingat, jangan mentang-mentang udah dapet sinyal positif lo malah semakin agresif. Pada tahap ini, status lo masih sebatas pendekatan, jangan terlalu sering ngikutin atau pergi selalu bareng, ke kantin bareng, ke ruang guru bareng, ke toilet bareng, doi pasti bakal risih dan akhirnya menghilangkan sinyal tadi yang kemudian berefek pada rusaknya pertemanan kalian.

4. Sabar dan let it flow~

Kalo lo udah berhasil keluar dari friend zone, mari saatnya menikmati saat-saat ini, kawan. Lakukan seperti selayaknya pdkt biasa, malah lo punya segudang bahan obrolan semisal kenapa bisa suka sama doi, kenapa bisa baru suka sekarang sampai ngasih tau pelet yang lo gunain buat ngegebet doi.

Sabar. Jangan lupakan kata itu. Untuk keluar dari friend zone mungkin butuh waktu yang gak sebentar, mungkin bisa lama banget, tergantung dari doi ngerasa nyamannya aja, sih. Sabar bisa jadi kunci dalam kasus ini, dengan sabar dicuekin dan segala macem, doi bakal ngerasa lo gak main-main sama dia dan terasa serius. Terus berjuang meskipun itu sampai berbulan-bulan bahkan tahunan, bisa jadi lebih lama waktu nunggunya daripada jadiannya (itu juga kalo jadi).


5. Tembak!





Andai dia udah ngasih lampu hijau maka segera lah nyatain cinta lo, karena lampu hijau deket rumah gue cuma 30 detik, mungkin doi juga gak mau lama-lama nunggu. Jangan ngebuat doi berpikiran lo hanya mempermainkan dia, bisa-bisa pendekatan yang lo lakukan selama ini akan terasa percuma dan hubungan pertemanan lo sama doi udah terlanjur kacau. Batal deh. 

Nah, itu lah 5 langkah agar lo bisa keluar dari friend zone. Langkah-langkah di atas bukan sekedar bualan biasa, karena itu merupakan tips berdasarkan pengalaman pribadi gue. Iya, gue sukses keluar dari friend zone, HAHAHAHA, okesip.


Keuntungan pacaran setelah friend zone adalah lo bakal berasa punya pacar yang komplit. Komplit di sini bukan pake telor dan dagingnya banyak, tapi lebih ke jadi pacar bisa, temen bisa, sahabat bisa, pokoknya fleksibel deh. Gue sama doi udah temenan dari SMP dan baru pacaran ketika akhir SMA, dan alhamdulillah gue bahagia dengan yang sekarang. Iya, kan, Joko sayang?


Ah, sudahlah, semoga tips gue berguna buat khayalak ramai. Kalo ga berguna sekarang, mungkin suatu saat kalian akan membutuhkan tips ini, pokoknya berguna aja, ya. Gue pamit, dah!

Thursday, May 1, 2014

Berbagai Macam Cara Murid Mencontek

Assalamualaikum... Duh jadi berasa stranger lagi nih lama gak posting dimari. Sibuk ujian dan semua tetek-bengeknya, cyin.

Ya, gue baru aja selesai melaksanakan sesuatu yang sering dianggap horror oleh kebanyakkan pelajar di Indonesia, yap, Ujian Nasional (UN). Menurut kabar, UN SMA tahun ini level kesulitannya ditingkatin. Awalnya gue berpikir gak akan beda jauh dari soal try out, eh... gak taunya... ah, sudahlah... jadi ngebahas ini kan. Mungkin di lain kesempatan gue bakal ngomongin ini, tapi buat sekarang, gue akan ngebahas berbagai macam cara murid untuk mencontek.

Dari sekian banyak TO dan sederet ulangan lainnya, gue memerhatikan cara mencontek temen-temen gue (iya, gue termasuk) yang dari ulangan ke ulangan semakin ahli dalam bidang ini. Dari yang awalnya masih malu-malu bangsat hanya untuk sekedar tengok kiri-kanan, kemudian ngebuat contekan di kertas kecil yang diselipin di kotak pensil atau kaos kaki, sampai menahan pengawas dan menyandranya kemudian meminta tebusan ke pihak sekolah berupa kelulusan dengan nilai bagus.

Oke, fokus ke topik dulu. Sebenernya kalo ngebahas masalah pendidikan ini gue jadi suka greget sendiri. Entah kenapa pengen banget ngetik semua yang ada dipikiran gue. Grrrr. *grogotin buku prediksi UN*

Gausah basa-basi lagi, gue mulai dari yang paling general hingga ter-ekstrem.


1. Lihat Kiri-kanan dan Manggil Temen


Nah, ini yang paling umum. Cara ini digunakan hampir semua murid dari tingkat dasar (mungkin), sampai tingkat tertinggi. Cara ini sudah ada sejak lama, entah siapa yang menemukan. Tapi siapapun itu, kami sebagai pelajar sangat berterimakasih atas inovasi Anda.

Walaupun konvensional, teknik menggunakan cara ini sangatlah mudah. Pertama, lihat teman terdekat, pastikan ada yang pintar di sekitar Anda. Jangan memaksakan apabila kemampuan otak teman yang Anda tanya setara atau bahkan di bawah kemampuan Anda. Jangan juga bertanya kepada teman Anda yang selalu fokus pada soalnya, contohnya akan seperti ini;

A: *nengok ke kiri* "Sob, sssst... Sob..."
B: *serius mengerjakan soal*
A: "Woy!!"
B: *masih serius*
A: "Kampret!" *lempar nuklir*
B: "Ya, apa?"

Setelah mengunci target, perhatikan posisi pengawas. Jika aman, lanjut ke tahap selanjutnya. Panggil target dengan volume suara 10-20% saja. Jangan teralu keras, dan jangan pula terlalu pelan. Ingat, pengawas bisa mendengar suaramu kapan saja, kawan. Pastikan target mendengar suara pertolongan Anda. Apabila pandangan target tepat ke arah Anda. Ini adalah moment penentu. Jawaban Anda terisi atau tidak akan ditentukan pada moment ini. Jangan buat kesalahan, manfaatkan sebaik mungkin. Getarkan bibir Anda sesuai nomor soal dan pastikan juga gerakannya dapat dimengerti target. Selanjutnya, target akan memberi jawaban sesuai dengan nomor soal yang Anda tanyakan.

note: sekali lagi, lihat nomor soal dahulu. Jika ternyata soal yang Anda tanya sudah diisi, maka tak ada kesempatan kedua bagimu, nak.

Metode ini akan ampuh apabila lo diawas oleh pengawas yang mudah lengah. Jangan gunakan cara ini apabila pengawas memiliki mata elang, apalagi kalo pengawasnya ngebawa elang beneran. Peluang lo akan mencapai 90% dalam kondisi seperti itu. Bukan peluang sukses, melainkan peluang kertas lo diambil pengawas dan lo gak dikasih nilai sama guru mapel tersebut. Selamat.

2. Membuat Catatan Kecil


Cara yang kedua dilakukan oleh orang yang mulai niat dalam bidang ini. Memang, tak semua yang dicatat itu berupa jawaban, beberapa diantaranya hanya mencatat sejumlah rumus (untuk bidang IPA) dan berdalih, "Ah, gue takut lupa, sob, makanya gue catet aja". Okesip.

Catatan kecil tersebut kemudian diselipkan di kantong baju, kaos kaki, atau ketek pengawas. Ada juga yang membuat catatan di atas meja atau di belakang papan jalan. Tidak menutup kemungkinan pula mencatat di belakang kartu peserta. Semuanya tergantung kebutuhan dan situasi.

3. Melihat Handphone


Yang satu ini butuh keberanian tingkat tinggi untuk melakukannya. Resikonya bukan hanya handphone Anda akan tersita, lembar jawaban Anda pun akan demikian. Apalagi jika Anda duduk di barisan depan, Anda harus mempunyai trik sendiri untuk melakukannya.

Setiap sebelum memulai ujian, pengawas selalu menyuruh kita untuk menyimpan handphone di dalam tas dan di silent. Jangan gunakan cara ini bila Anda menggunakan celana model beggy dan handphone Anda Galaxy S5 atau iPhone atau handphone berlayar besar, karena Insya Allah akan terllihat jelas menjeplak di paha Anda walau dalam radius jarak 10 meter sekalipun.

Oh iya, jangan juga menggunakan handphone BB Curve. Kalaupun memakai itu, janganlah terlalu sering jika tak mau ketauan. Pengguna BB Curve pasti paham dengan maksudnya.

4. Pergi ke Toilet

Memasuki nomor 4, Anda pernah melihat teman Anda yang jarang ke toilet saat KBM biasa kemudian menjadi sering ke toilet saat ujian? Saya pernah. Cara ini bisa juga dibilang 'cara ajaib', kenapa? Karena setiap yang selesai dari toilet, ia akan langsung menjawab soal dengan cepat. Perbandingannya;

sebelum ke toilet


setelah kembali dari toilet

Jadi, untuk yang satu ini saya gak banyak komentar...

5. Chaos di Kelas


Kondisi ini terjadi apabila korelasi antara murid dengan pengawas sangat baik, atau, pengawas sepertinya menyadari muridnya kesulitan dalam mengerjakan soal dan memberi kelonggaran dalam pengawasannya. Pada kondisi seperti ini, murid A bisa pindah ke sebelah murid B. Murid C satu bangku dengan D. Murid E tukeran tempat sama pengawas, gantian dia yang ngawas, pengawasnya ngerjain soal. Itu semua memungkinkan untuk terjadi dalam situasi ini.


Mungkin cukup sekian. Bila ada yang mau menambahkan, monggo komen di comment box. :)
Gue gak bermaksud buat membawa kalian ke jalan yang salah, ya, ini juga sekalian membuat para pengawas lebih waspada setelah memaca tulisan ini (kalau ada itu juga). Bisa jadi pula tulisan ini menimbulkan polemik diantara kaum saya, ada yang pro, ada juga yang kontra. Yah, itu terserah kalian saja pilih yang mana.

Gue sudahi saja. Ingat, gue gak ngajarin buat curang yaaa. Belajar yang serius sebelum ujian, jangan lupa untuk selalu berdoa dan usahakan tiap ujian mengerjakan sendiri, kalau mepet boleh lah sekali-sekali, asal jangan terlalu sering. Paham? Yap, sekian dari gue kali ini. Wassalamualaikum.

Saturday, February 1, 2014

Welcome 2014

Welcome February... Bulan penuh cinta, katanya. Setelah satu bulan kemarin absen untuk bikin postingan karena beberapa alasan tentunya. So, ini bakal jadi postingan pertama gue di tahun 2014. Sebelum peresmian postingan pertama ini, dipersilahkan kepada bapak Aldi, selaku pemilik blog untuk memberi sambutan.                                                                
Ekhem, terima kasih saudara Adam Levine -kembaran, red- atas pembukaannya.

Pada kesempatan kali ini gue gak akan ngebahas banyak hal, bahkan gue juga ga ada pokok bahasan yang enak buat ditulis di sini. Mungkin gue akan mengklarifikasi hilangnya gue dari dunia blog bulan lalu, soalnya media dan infotainment udah mulai ngeberitain yang gak bener tentang gue. Aku lelah.

Masuk bulan Januari sekaligus menandai babak baru di kelas 12. Babak dimana kata-kata, 'Ujian Nasional dan SBMPTN udah di depan mata, waktumu tak banyak, nak', menjadi semakin sering tertangkap telinga, Muak, tapi itu pasti terjadi. Waktu belajar semakin hari semakin meningkat, sampe kepala pusing terus minum obat pusing yang ada efek kantuknya, terpengaruh efek, tidur dan akhirnya ngga jadi belajar.

Rasio belajar meningkat dan kesempatan tidur semakin berkurang. Itu faktor waktu pelajar yang emang gak seimbang, bahkan jika diseimbangakan dengan power balance sekalipun hasilnya bakal nihil. Jangankan untuk nulis, buat nonton film atau baca novel aja gak sempet. Sampe akhirnya gue kuatkan tekad dalam hati gue, 'Mulai besok, 10-15 menit sebelum tidur, harus nyempetin waktu buat nulis'. Besoknya gue ketiduran. Fail.

Itu kenapa gue ngga nge-post apa-apa bulan Januari, emang, ini juga salah gue yang kurang memanfaatkan waktu untuk disiplin nulis. Minimal 2-3 post sebulan gagal dijalani. Aku gagal. Aku salah. Aku kotor. Tolong bersihkan aku...

So, Insya Allah mulai saat ini gue akan lebih meningkatkan kedisiplinan gue, terutama dalam menulis dan belajar tentunya. Ini juga bisa lo ambil sebagai pelajaran betapa berharganya waktu dan manfaat dari disiplin. Sorry bukannya sok ngajarin, tapi kalo ada yang berpikir gue sok ngajarin, emang bener sih, hehe. Semangat semuanya! Aku cinta kamu apa adanya!

Kalimat terakhir paragraf di atas gak ada maksud tersembunyi, ya. Udah deh, sekian pembukaan dari gue selaku empunya blog. Sisanya gue serahkan kembali ke kembaran gue yang jadi pembawa acara, Dam... Adam Levine... Nih giliran lo sekarang. Wassalamualaikum.

Terimakasih kembaran yang udah ngebuka postingan pertama tahun ini dengan pembuka tapi menjurus isi. Panjang banget. Norak sih gak biasa bikin pembukaan. Dengan ini, postingan pertama tahun 2014 resmi diluncurkan. Hore! *tepuk tangan* *penonton bersorak* *sorakin penulisnya, garing*

See u next time, babay!



Tuesday, December 31, 2013

Beautiful Midnight

Tak banyak yang bisa ku ingat. Tentang masa lalu. Tentang semua suka dan duka yang tersimpan dalam kotak memori. Namun, segala hal yang berkaitan tentang dirimu, selalu ku ingat. Jika ku coba melupakan, tak beda dengan ku melupakan kehidupanku sendiri.
---
           Hujan deras turun sejak semalam, membuat udara pada pagi itu menjadi sangat dingin. Ini bukan merupakan daerah dengan cuaca sejuk, melainkan daerah dataran rendah dengan hawa panas yang selalu menyambangi tiap hari. Selasa pagi yang dingin membuat sebagian orang merasa enggan untuk menjalani aktifitas di awal minggu ini. Para pekerja, pelajar, bahkan ibu rumah tangga merasa hawa dingin ini memaksa mereka untuk melekat lebih lama pada kasur. Para pengendara motor yang pada saat itu belum banyak jumlahnya akan memaksimalkan waktu dengan menambah jam tidur dibalik alasan, “Maaf Pak/Bu, tadi hujan deras dan saya tidak punya jas hujan. Jadi, saya menunggu hujan agak reda dulu.”
          Hawa dingin yang tak biasa ini pun memasuki rumah-rumah penduduk. Mereka yang pada hari normal menggunakan air conditioner atau kipas angin, kali ini  harus berpikir ulang karena menganggap bahwa itu bukanlah ide yang baik. Tak terkecuali dengan rumah kecil bergaya zaman Belanda dengan halaman yang membentang luas serta beberapa pohon dengan akar yang menancap kokoh di bawahnya. Hawa itu merambat masuk ke dalam sebuah kamar kecil melalui ventilasi udara.  Kamar yang di dalamnya terdapat bocah berambut cepak sedang terlelap di bawah selimut tebalnya.
          “Dit... Adit... bangun nak, waktunya sekolah,” seorang perempuan paruh baya yang tak lain adalah bunda dari bocah tersebut, tampak mencoba membangunkan anaknya dengan menggoyang-goyangkan tubuh anak itu dari pinggir ranjang.
          “Hmmm... hmmm,” Adit. Begitulah nama bocah itu. Ia menggeliat berusaha kabur dari tangan sang bunda demi meneruskan tidurnya.
          “Adit, bangun dong nak, ini udah hampir jam 6. Kalau kamu gak siap-siap dari sekarang nanti kamu telat,” Bunda tidak menyerah, dengan sifat lembut khas seorang ibu ia terus berusaha membangunkan buah hati tunggalnya itu.
           “Adit, nanti sore bunda sama ayah mau pergi ke rumah nenek. Kalau kamu hari ini gak sekolah, kamu gak bunda ajak ya,” mendengar pernyataan Bunda, Adit langsung melompat keluar dari kasurnya dan berlari ke luar kamar seraya berteriak, “Nanti sore Adit ikut ya, Bun!”. Bunda hanya tersenyum melihat tingkah bocah 8 tahun itu. Bunda beranjak dari tempatnya, kemudian mulai merapikan tempat tidur dengan sprei motif Doraemon tersebut.
---
          Deru mobil BMW 318i keluaran tahun 1990 menggema ketika memasuki pekarangan sebuah rumah tua yang tampak besar. Salah satu mobil yang tergolong mewah pada saat itu. ‘BRAK!’ suara pintu mobil terbanting keras ketika mesin mobil berhenti.
       “Adit! Pelan-pelan dong nutupnya,” seru Bunda. Namun, Adit menghiraukan pernyataan Bundanya, ia berlalu ke arah pintu depan sambil berteriak kencang, “Nek... Nenek... Assalamualaikum Nenek!”.
             Lihat tuh, Bun, Adit selalu semangat kalau diajak ke rumah Ibu,” Ayah tersenyum dari dalam mobil melihat tingkah putranya itu.
          Halaman merupakan tempat favorit Adit untuk bermain. Bukan bermain suatu permainan selayaknya anak seusianya. Ia tak bermain gasing, gundu, atau permainan lainnya. Melainkan membaca berbagai buku cerita yang koleksinya selalu bertambah satu tiap bulannya. Bunda memahami hobi Adit yang gemar membaca, maka dari itu Bunda tak lupa meyisihkan uang bulanan demi membelikan buku cerita untuk Adit.
           Meski banyak koleksi buku cerita, tapi hanya cerita ‘Si Kancil’-lah yang melekat di hati Adit. Cerita tentang bagaimana seekor kancil yang berhasil mengelabui gerombolan buaya agar bisa sampai ke seberang sungai. Entah kenapa cerita ini sangat disukai Adit. Meskipun berulang kali ia membacanya, berulang kali pula ia mengulangnya.
         Sore itu, di halaman rumah nenek, Adit ‘bermain’ dengan buku-buku ceritanya. Dengan posisi tengkurap di atas hamparan rumput yang hijau dan di bawah langit sore yang menguning, Adit membuka lembar demi lembar buku cerita bergambarnya. Ekspresi wajahnya ceria tiap kali halaman ‘mainan’ miliknya berganti. Topi biru muda yang selalu digunakan Adit kalau ke luar rumah seakan melindunginya dari terpaan sinar mentari sore.
        “Kamu lagi baca apa? Kayaknya seru,” suara yang cukup mengagetkan Adit. Ia mengadahkan kepalanya ke arah pemilik suara. Anak perempuan dengan dress putih dan bando dengan warna serupa di atas rambut bergelombangnya berdiri tepat di sebelah Adit.
          “Dongeng kesukaanku, Si Kancil, ngomong-ngomong kamu siapa?”
          “Aku Denia, salam kenal,” gadis perempuan itu menjulurkan tangannya.
          “Adit,” ia menjabat tangan gadis kecil itu dengan hangat.
      “Boleh aku ikut membaca denganmu?” dengan satu anggukan pelan, Denia ikut membaca bersama Adit. Menghabiskan sore berdua dengan canda tawa khas anak kecil yang seakan tak memikirkan hal lain selain bermain dan bermain. Tak ada pikiran membayar tagihan listrik, membayar tagihan telfon, atau tagihan di warung makan yang menumpuk. Hanya ada kegembiraan dan keceriaan yang terbesit pada diri mereka.
         “Kamu kenapa pakai baju serapih itu?” pertanyaan yang sebenarnya sejak awal ingin Adit tanyakan namun tertahan oleh cerita Denia tentang kakak pertamanya yang suka menjahilinya di rumah dan kakak keduanya-lah yang menjadi malaikat pelindung bagi dirinya jika kakak pertama mulai iseng kepadanya.
         “Oh iya! Aku jadi lupa! Aku tadi mau ke pesta ulang tahun temanku, tapi kebetulan lewat sini dan melihat kamu, nggak jauh dari sini kok. Mungkin sekarang masih sempat, kamu mau ikut?”
           “Tapi aku enggak kenal siapa-siapa di sini,” Adit melihat Denia sudah beranjak dari sisinya dan kini berdiri tepat dihadapan Adit yang masih dengan posisinya semula.
         “Aku yakin kamu bisa punya banyak teman di sini. Kamu anaknya asik kok,” Denia kembali menjulurkan tangannya, tanpa menunggu lama Adit meraih tangan gadis itu. Mereka pergi ke pesta ulang tahun teman Denia yang dimaksud dengan bergandengan tangan dan tidak lupa, wajah ceria yang terlukis diantara keduanya.
---
         Hari mulai gelap, di depan teras beralaskan kayu rumah tua tersebut, tampak Bunda sedang gelisah. Menantikan seseorang pulang. Menantikan pangeran dalam hidupnya kembali. Menantikan Adit datang.
           “Duh, ini udah lewat maghrib, kemana ya Adit?” Bunda tak henti-hentinya berjalan untuk meredakan kegelisahanya yang sebenarnya memang tak bisa dihilangkan.
          “Kamu tunggu aja toh dik, kan mas Agung juga lagi nyari pakai mobil, kita doakan aja Adit ndak kenapa-napa,”
        “Tapi bu, Adit nggak biasanya main sampai jam segini, apa lagi ini bukan di daerah rumahnya, dia mana hafal jalan, bu, kalau dia nyasar bagaimana?”
          “Adit itu mirip ayahnya, dulu mas Agung juga sering keluyuran sampai malam, sampai-sampai ibu sama almarhum bapak kewalahan buat nyarinya. Ndak taunya dia ketiduran di taman main deket sini, kelakuan suamimu itu toh dik, ada-ada saja saat masih kecil. Sama kayak Adit sekarang ini,” kenang Nenek Adit mengisahkan. Mendengar cerita itu cukup menenangkan hati Bunda yang gelisah. Tak berapa lama kemudian...
              Brumm... Brumm...
          Suara mobil yang tak asing lagi di telinga Bunda. Bunda masih harap-harap cemas dengan kehadiran suaminya, ia khawatir hanya hasil nihil-lah yang dibawa pulang. Ayah turun dan membuka pintu belakang, dengan menggendong Adit yang dalam keadaan terlelap beliau berjalan memasuki rumah yang disambut tangis haru sang Bunda. Kegelisahannya menghilang ketika ia menggenggam erat tangan pangeran hidupnya tersebut.
         “Mas ketemu Adit di taman deket sini, dia ketiduran di sana dan ditemani gadis bernama Denia, katanya ia tadinya mau membangunkan Adit cuma karena melihat Adit sangat lelap, makannya dia nunggu kita buat nyari Adit,” Ayah menjelaskan.
           Nenek membalas dengan seyuman ketika mendengar cerita tentang cucunya, Bunda tersenyum lega ke arah Nenek. Ternyata benar, sifat dan kelakuan Adit sama seperti Ayahnya ketika masih kecil. Like father like son.
        “Kita biarkan dulu dia tidur di sini, kasihan juga Adit,” Bunda menganggukkan kepala tanda setuju atas pemintaan mas Agung, suaminya.
          Malam itu, hujan kembali turun, di sebuah kamar berukuran kecil dengan satu kasur berukuran sedang, satu keluarga tertidur dengan lelapnya, saling berpelukan membentuk kehangatan dalam dinginnya udara di luar sana. Adit, dengan wajah polosnya, ia sangat nyaman tidur diantara kedua orangtuanya.
---
           Esoknya, mereka pulang dan Adit tak sempat mengucapkan salam perpisahan kepada gadis bernama Denia itu. Perkenalan hangat tanpa diiringi perpisahan yang manis. Ada yang mengganjal di hati Adit ketika melihat pekarangan rumah Neneknya menjauh dari pandangan. Semakin jauh, semu, hingga akhirnya tak tampak lagi. Adit akan merindukan sosok ceria Denia, sedangkan hatinya, akan merindukan kenyamanan yang tercipta antara keduanya. Di pagi dengan langit gelap dan perlahan awan mulai menjatuhkan beban yang ditampungnya, langit seakan mengerti apa yang dirasakan Adit. Seakan tak ikhlas jika mereka harus berpisah.
          Di ruang tamu rumah yang asri, seorang gadis kecil menghadap ke arah luar jendela dengan gorden yang terbuka, menatap kosong ke arah halaman yang mulai tergenang air, menyambut datangnya hujan kecil pada pagi itu. Tetesan air yang jatuh seperti menghantarkan salam perpisahan yang disampaikan Adit di perjalanan pulangnya. Gadis itu tak tahu apakah bocah bertopi biru itu akan kembali atau tidak. Adit tak tahu apakah ia bisa bertemu kembali dengan Denia atau tidak. Mereka hanya diam membisu di tempatnya, berbicara pada hati masing-masing, biarkan hujan yang menerjemahkan kegelisahan mereka.
---
          Perpisahan yang cukup menyita waktuku untuk memikirkannya. Waktuku tersita cukup banyak hanya untuk sekedar memikirkannya pada saat itu. Tapi harus kuakui, senyumnya, tawanya, sikapnya, merupakan yang terbaik setelah Bunda.
          Perlu waktu yang tak sebentar untuk bertemu gadis itu, di saat gadis dengan gaun dan bando putih banyak bermunculan, ia sudah berpenampilan sedikit lebih dewasa dari lainnya.
---
      Kesibukkan Ayah dalam mengurus proyeknya membuat waktu untuk bersama agak berkurang. Kunjungan ke rumah Nenek pun menjadi imbasnya. Kegiatan rutin sebulan sekali menyambangi rumah Nenek menjadi terbengkalai. Sudah 5 bulan ini mereka tak berkunjung ke sana. Mungkin tak terlalu masalah bagi Ayah dan Bunda, tapi bagi Adit, ini merupakan masalah besar. 5 bulan menahan rindu yang tak lain masih dalam lingkup ‘cinta monyet’ tak mudah bagi anak seusianya.
        “Adit, kamu liburan sekolah mau kemana? Sekalian kita ngerayain tahun baru,” pertanyaan dari sang Bunda yang mengejutkan Adit. Tentu Adit sudah tau akan kemana.
         “Adit mau di rumah Nenek aja, Bun,” Bunda hanya mengangguk dan mengelus-elus rambut Adit. Lusa pagi, mereka berangkat ke rumah Nenek. Perasaan senang Adit menjadi dua, pertama karena liburan sekolah dan tahun baru, kedua, ia harap bisa bertemu Denia.
              BRAK!
         Gelengan kepala dari Bunda ketika Adit kembali menutup pintu mobil dengan keras. Ayah kembali melontarkan tersenyum dengan prilaku anaknya itu.
             “Nek.... Nenek.... Assalamualaikum...,”
         Setelah cukup bercertia tentang sekolahnya kepada Nenek, Adit menyanggahi tempat favoritnya. Halaman luas dengan hamparan rumput hijau yang halus. Sore itu, gumpalan awan membentuk karya alam yang indah, menambah rasa nyaman Adit untuk berlama-lama dengan ‘mainannya’ di bawah terik mentari yang tak terlalu panas sebenarnya, namun, topi biru kesukaannya tak jua dilepas walau cuaca sedang bersahabat.
          Adit memanjakan diri dengan bermain bersama ‘mainannya’. Kali ini tampak ada yang berbeda. Lembar demi lembar silih berganti. Gambar dari buku cerita berubah tiap lembarnya. Satu konflik dan konflik lainnya sudah terselesaikan hingga berakhir dengan akhir yang bahagia. Namun berbanding terbalik dengan Adit, gadis yang ia tunggu untuk membaca bersama-pun tak kunjung terlihat batang hidungya.
          Tetesan air kembali jatuh dari angkasa, gerimis kecil melengkapi kesepian bocah lelaki itu. Adit menatap langit. Wajahnya manisnya menantang air untuk membasahi kenignya, turun melalui pelipis hingga akhirnya jatuh ke tanah.
            “Adit, masuk, nak, di luar sudah mulai hujan,” Bunda memanggil Adit dari depan pintu yang terbuka.
         “Iya, Bun,” jawab Adit lemah. Adit berlari kecil menghampiri Bunda, “Bun, pintunya jangan ditutup, ya,” pinta Adit yang membuat Bunda heran.
            “Memangnya kenapa, Adit? Di luar kan dingin, nanti dinginnya masuk ke dalam rumah lho,”
          “Gapapa, Bun, Adit mau ngersain dinginnya hawa hujan di sore ini,” Bunda mengerti keinginan anaknya. Namun, bukan itu maksud sebenarnya, Adit ingin pintu ini selalu terbuka, agar dia, permaisuri dengan gaun putih itu tahu bahwa ada seseorang yang menunggu dirinya. Di depan pintu rumahnya, dibawah tetesan hujan yang mulai membesar, ada bocah lelaki bertopi biru sedang menunggu... dan menunggu....
---
          “Adit, kita ke taman yuk, sebentar lagi kan tahun baru, biasanya di sana ada pesta kembang api, sekalian kita makan jagung bakar di sana,” ajak Ayah. Adit bersoak gembira, ia bergegas mengambil sebuah buku dan senter, serta tak lupa topi biru kesukaannya.
          “Kamu kok bawa buku?” tanya Ayah sambil memakaikan jaket dengan warna serupa kepada anaknya. “Biar kamu nggak kedinginan,” sebuah senyum dari Ayah menyelesaikan proses pemakaian jaket Adit.
         “Selagi nunggu pergantian tahun, Adit mau baca ini dulu, Yah, tadi belum selesai bacanya,” Ayah sangat memahami hobi anaknya ini, ia kembali tersenyum sembari mengangguk, dan menggandeng tangan kecil Adit. “Kita jalan kaki aja ya, nanti Bunda nyusul, lagi ngobrol sama Nenek dulu soalnya,” Adit mengangguk lemah tanda setuju. Mereka berjalan keluar bersama. Hanya seorang ayah dan anaknya yang luar biasa.
---
           “Ayah beli jagung dulu ya di sana, kamu tunggu di sini sebentar, oke?” kata Ayah sambil mengacungkan jempolnya, yang dibalas hal yang sama oleh Adit.
             Duduk dibangku taman sambil membaca sebuah buku dan berkat senter yang tadi ia bawa maka ia tak kekurangan cahaya yang dapat merusak matanya.
          “Sekarang kamu baca buku cerita apa lagi?” suara yang tak asing tertangkap gendang telinga Adit. Suara dari karah kiri dirinya. Dia tau malam ini akan semakin lengkap dengan kehadiran sosok pemilik suara yang barusan menyapanya itu.
           “Ini bukan buku cerita, ini sebuah novel,” Adit tersenyum ketika tahu bahwa ia kini bertemu bidadari kecilnya lagi.
             “Oh ya? Novel apa? Kamu suka banget baca ya?'
            “Tintin, aku penasaran aja sama ceritanya, belum habis semua sih. Iya, aku lebih suka membaca dari pada bermain di luar rumah,” jawaban yang membuat Denia, yang kali ini menggunakan dress yang sama, namun dengan warna berbeda, warna biru dongker. Warna yang terkesan menyatu dengan gelapnya malam. Namun, berkas cahaya yang terpancar dari wajah mungilnya, cukup membuat fokus mata Adit terkunci ke arah Denia.
         “Boleh aku ikut membaca bersamamu?” anggukan pelan dan senyum manis Adit menghangatkan malam dingin itu. Di bawah sinar rembulan, di bawah lampu taman, di bawah sinar dari senter kecil milik Adit, rasa kerinduan yang lama terpendam, akhirnya dapat tersalurkan pada sebuah malam dingin di penghujung tahun.
---
           “Eh, ada temennya Adit ternyata, om lupa, siapa namanya?” tanya Ayah dengan memegang kantung plastik berisi 3 jagung bakar.
          "Denia om,” dengan ramah dan senyum manisnya yang khas, Denia membalas pertanyaan Ayah Adit.
           “Kebetulan, om bawa 3 jagung bakar, tadinya sih... 2 buat Adit, dia suka ngambek kalau cuma makan satu jagung bakar,”
           “Ah, Ayah, jangan ngomong gitu dong,” Ayah tertawa sembari menghidar ketika Adit berusaha mencubitnya. Melihat tingkah ayah dan anak itu, Denia hanya bisa menahan tawa.  Ia diberi 1 jagung bakar oleh ayah Adit, mereka menghabiskannya bersama di atas bangku taman, diselingi canda tawa diantara ketiganya.
         “Nah, itu Bunda sama Nenek datang,” kata Ayah sambil menunjuk ke arah keduanya dengam mulut penuh jagung yang berlum tertelan.
        “Kayaknya ada yang asik makan jagung bakar tapi nggak bagi-bagi nih,” sindir Bunda dan diikuti tawa lainnya.
          “Sebentar lagi pergantian tahun, yuk ke tengah taman, udah ramai juga disitu,” ajak Ayah yang disetujui oleh ‘pasukannya’. Taman dengan air mancur berbentuk lingkaran di bagian tengahnya, di kelilingi rumput halus dan pohon yang rindang, terasa sangat asri. Saat itu, polusi udara belum banyak memberi dampak negatif bagis atmosfer kita. Sangat natural.
          Mereka berlima duduk di atas rumput taman, Bunda, Nenek, Ayah, Adit dan Denia bersiap menyambut tahun baru. Bersiap memulai lembar baru dalam kehidupan masing-masing. Satu genggaman erat tangan Adit pada jemari-jemari Denia cukup menyatakan tak ada hati baru diantara keduanya.
             5....4....3...2...1..
             BAM!!!! TAAAR!!!! PLETAK!!!!
      Suara petasan menggema mengguncang angkasa, menghiasi gelapnya malam, menyaingi terangnya sinar rembulan dan bintang-bintang. Terompet tak henti-hentinya ditiup. Aura perayaan tahun baru terasa sangat kental. Adit dan Denia terpana melihat langit penuh dengan percak-percik kembang api. Malam itu, 1 Januari 1996, kehangatan, kerekatan, kebersamaan, terbalut indah dalam satu malam.
---
             Kini, seorang bernama Denia Alica Wiharja, gadis bergaun biru dongker pada malam tahun baru 17 tahun silam, ada dalam rangkulanku dengan menggunakan gaun serupa dengan ukuran yang berbeda. Dengan terbalut sebuah cincin pada masing-masing jari manis kami. Dengan seorang pangeran kecil yang berada diantara kami. Di atas kap mobil di daerah Ancol, kami menunggu detik-detik pergantian tahun menuju 2014
             5...4....3...2...1
             Ribuan orang yang ada di sana mulai menghitung mundur.
          Aku memejamakan mata. Suara dentuman yang nyaris serupa dengan tahun-tahun sebelumnya kembali terdengar. Aku membuka mataku perlahan, malam dimana bulan merasa memiliki saingan dalam hal menyinari, malam dimana social media penuh dengan kicauan-kicauan berawalan kata, ‘selamat’. Kalian masih ingat dengan hobiku sewaktu kecil? Hobi yang kutekuni hingga dewasa kini, bedanya, kali ini aku berperan sebagai pemain, bukan si penikmat lagi. Percayalah, jika kalian mempunyai hobi yang positif, tekuni dengan perlahan, maka hobimu itu akan mengantarkan kalian pada kesuksesan kelak.
        Malam ini, aku analogikan sebagai buku, dimana pada detik-detik pergantian tahun kita sudah sampai pada bagian daftar pustaka, atau pada sebuah novel.. umm, mungkin bagian tentang penulis. Mereka mengatakan, ‘mari memulai lembar baru’, tapi pada sebuah buku, tak ada lembaran baru setelah daftar pustaka atau tentang penulis. Aku akan mengatakan, seharusnya kita menyiapkan buku baru, buku baru yang polos tanpa goresan tinta sedikit pun. 365 hari ke depan, 365 halaman baru, kita mengisi halaman itu dengan tinta masing-masing. Entah tinta hitam, atau berwarna. Kita mencoba lebih baik di tahun yang baru, mencoba lebih, dari apapun yang kita inginkan.
        “Selamat tahun baru 17 sayang,” bisikku.
        “Lho, sekarang kan 2014, kok 17?” ia menaikan alisnya, aku tersenyum.
      “Tahun baru ke 17 kita bersama,” ia tersenyum, aku pun begitu. Dengan satu kecupan di dahinya, kita menghabiskan waktu di bawah sinar rembulan, dibawah gemerlapnya langit malam. Selamat tahun baru 2014!