Thursday, February 12, 2015

Berbagai Transportasi Perantau

Hai, guys! Lama tak berjumpa. Postingan kali ini gue akan membahas tentang transportasi yang gue pilih untuk pergi merantau. Transportasi apa aja? Ih kepo.

Jarak merupakan satu hal yang identik dengan merantau. Khusus bagi gue, jarak sekitar 600 km memisahkan gue dengan orang-orang terdekat gue. Untuk itu, perlu transportasi yang memadai demi menempuh jarak sekian ratus kilometer. Sampai saat ini, gue baru mencoba dua jenis transportasi yang gue tumpangi dari kota asal gue menuju tanah rantau, yaitu kereta api dan pesawat terbang. Di sini gue akan berbagi sedikit pengalaman gue menggunakan kedua transportasi ini. Selamat menyimak~

1. Kereta Api


Transportasi satu ini sangat populer di kalangan perantau. Selain harganya yang cukup terjangkau, menurut sebagian orang yang bepergian dengan kereta api mengatakan, "sekalian menikmati perjalanan bro,". Bagi gue, itu gak seluruhnya benar. Waktu tempuh dari Serang-Jogja memakan waktu lebih dari 12 jam. Satu jam pertama, okelah kalo gue menikmati perjalanan dengan melihat keluar jendela, walopun yang terpandang hanya sekedar rerumputan atau terkadang sawah hijau yang membentang luas. Jam-jam berikutnya gue akan berpikir, 'anjir, kenapa ga naik pesawat aja, ya. Sial'

Hanya ada satu kereta dari Serang menuju Jogja dan itu sekitar pukul 9.30 WIB. Tau apa artinya? Artinya itu adalah waktu dimana anak-anak kecil masih seger dan waktu yang tepat bagi mereka untuk bermain, sedangkan bagi gue, itu waktu neraka. Gue selalu berharap gak satu gerbong dengan anak kecil yang gak bisa diem, sayangnya, perjalanan terakhir gue dari Serang ke Jogja berakhir mengenaskan. Dua bocah yang gak tau darimana datengnya tiba-tiba lari sambil teriak-teriak. Gue kira mereka turun dari cerobong asap, tapi setelah gue liat ke atas ternyata ga ada cerobong asap di sini. Gue juga gak liat ada tas atau koper yang terbuka lebar di tempat penyimpanan tas di atas.

Kehadiran dua monster kecil di gerbong ini sukses ngebuat hari gue menjadi buruk. Gue liat jam menunjukkan pukul 12.30, udah 2,5 jam mereka memporakporandakan gerbong 3 kereta Krakatau tujuan Serang-Yogyakarta. 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam gue tungguin tapi mereka masih keliatan aktif. Gue curiga mereka pake battre double power, atau mereka lari-lari sambil pake power bank jadi gak ada capeknya. Sampe ketika gue mau tidur dan suasana gerbong mendadak menjadi sunyi. Gue bersyukur karna akhirnya orang tua mereka berhasil menjinakkan monster-monster kecilnya. Saat gue hendak memejamkan mata, gue melihat satu lagi anak kecil, tapi anak yang satu ini sedang dalam gendongan ayahnya. Gue lihat matanya teduh ke arah gue, gue pun melihatnya seakan memberi pesan, 'terima kasih udah tenang dan gak ribut, dek. Kamu mengerti kakak  yang sedang kecapekan akibat kelakuan dua makhluk sebangsamu tadi. Sekali lagi terima kasih, dek, kamu calon penerus bangsa yang hebat. Semoga kelak kamu jadi Presiden, ya,'. Dia nangis. Gue kelamaan ngeliatinnya.

Kejadian unik lainnya yang lo alami ketika naik kereta adalah pertanyaan yang dilontarkan ibu-ibu kalo kebetulan lo dapet tempat duduk di samping atau di depan (buat kereta ekonomi) ibu-ibu. Dari sekian kali gue naik kereta, beberapa diantaranya gue berhadapan dengan ibu-ibu, sehingga gue hafal apa pertanyaan yang akan ditanyakan beserta urutannya, seperti ini:

1. Dari mana, dek?
2. Lalu, mau kemana?
3. Oh, Jogja.. Kerja atau kuliah?
4. Kuliah toh, semester berapa adeknya?
5. Oh baru masuk, ngambil jurusan apa  di sana?
6. Wah, teknik toh, itu loh dek, temennya temen ibu, kalo ga salah anaknya ada yang di situ juga, tapi jurusan manajemen, lulusnya udah lama, sih, adek kenal gak?

Saking seringnya mendapat pertanyaan seperti itu, sempet kepikiran saat gue duduk dan di depan gue ada ibu-ibu, gue berinisiatif memberi tau semuanya terlebih dahulu,

"Permisi ibu, nama saya Aldi, saya dari Serang dan tujuan akhir saya Yogyakarta. Di sana saya kuliah di salah satu PTN di sana. Saya baru masuk tahun ini dan saya ngambil jurusan teknik. Engga bu, saya gak kenal anak temennya temen ibu yang anak manajemen yang lulusnya udah lama itu. Sekian dan selamat menikmati perjalanannya ibu *senyum*," Niat tersebut gue urungkan karna takut anak temennya temen ibu itu bukan anak manajemen.

Sebenernya masih banyak kejadian-kejadian seru yang gue alami ketika berangkat dengan kereta api yang mungkin kalo gue tulis di sini gak akan cukup. Kesimpulan yang gue simpulkan (iyalah, ngaco lo), kereta api punya sisi positif dan negatifnya (semua juga punya positif sama negatif, woy!), yaitu sebagai berikut:

Positif:
1. Harga relatif lebih murah dari pesawat
2. Bisa lebih menikmati perjalanan. -gangguan secara tiba-tiba tidak dapat diprediksi-
3. Gak tau lagi

Negatif:
1. Capek, bro
2. Pegel juga
3. Suka kesel saat berenti untuk menunggu kereta yang lewat
4. Udah sih

Kalo gak mau capek, ada transportasi lain yang lebih cepat yang akan gue bahas setelah ini.

2. Pesawat


Ini dia transportasi tercepat dan tak terlalu menguras tenaga gue ketika harus berangkat merantau. Emang sih gak sesering kereta api, tapi setidaknya cukup lah pengalaman gue dengan menaiki burung besi ini. Burungnya siapa? Gue juga gak tau.

Jujur, gue termasuk orang yang takut dengan ketinggian. Jangankan naik pesawat, naik kora-kora di pasar malem aja gue teriak-teriak, "woy, mas! Udahan woy! Lama banget ini, setaaaaaan!!! Gue belum kawin, maaas, udahaaaan!!!!!". Semenjak itu gue gak akan mau naik kora-kora lagi. Meskipun ditraktir.


Bandara terdekat dari rumah gue (di Serang) adalah bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng). Waktu tempuhnya sekitar 1,5 jam. Biasanya gue dianter sama bokap menuju bandara karena jadwal Damri dari Serang yang gak tentu. Sebenernya gak ada  hal yang spesial sih. Menurut gue, lebih banyak cerita unik yang gue alami ketika naik kereta daripada pesawat. Lalu, kenapa gue nulis ini? Entahlah.

Semuanya terasa biasa di bandara. Orang yang belari-lari karna mengejar jadwal keberangkatan, kerumunan orang yang duduk di luar terminal, keluarga yang bercengkrama lebih lama di depan terminal hanya karna tak ingin melepas kepergian salah satu dari mereka, atau orang-orang yang bepergian sendiri (seperti gue) dengan koper kecil atau tas gunung yang melekat di punggung dan tak lupa earphone untuk melepas kepenatan. Setidaknya dengan mendengarkan lagu, gue gak merasa sendirian amat.

Meskipun gue udah beberapa kali naik pesawat, tapi gue selalu gelisah setiap kali duduk di dalam pesawat. Yah, mungkin ini efek ketakutan gue terhadap ketinggian. Penerbangan terakhir gue ketika (maaf) pasca tragedi jatuhnya pesawaat AirAsia yang ngebuat gue berdoa supaya cepet sampe atau berpikir ulang, 'kenapa gak naik kereta aja, ya?'

Cuaca yang sedang meliputi Indonesia sekarang ini semakin ngebuat gue was-was saat itu. Saat pesawat take-off, cuaca sedang berawan dan mau gak mau pesawat masuk ke dalam awan, lalu pesawat mengalami turbulansi yang lumayan bikin deg-degan. Sebenernya gue udah mencoba biasa aja, santai, tenang, akan tetapi ibu-ibu di belakang gue ngebuat suasana gabisa selow. Selama pesawat berada di dalam awan, ibu-ibu di belakang gue mengucapkan, "bismillah, bismillah, bismillah, bismillah," dengan cepat, reflek jantung gue  juga berdetak lebih cepet. Gue liat orang sebelah kiri gue, dia lagi asik denger lagu pake earphone dan kebetulan saat itu earphone gue lagi rusak. Seketika muncul ide di pikiran gue untuk ngebuka sebelah earphone-nya terus teriak di telinganya, "woy kampret, dengerin tuh ibu-ibu belakang, curang lo!", tapi berhubung gue gak kenal dia siapa dan gue gak tau kalo dia orangnya gampang panik atau engga, maka pikiran tersebut gue urungkan.

Akhirnya pesawat keluar dari awan tersebut yang sebenernya cuma 5 menit berada di sana tapi gue ngerasa kayak 5 jam. Pemandangan yang tersaji setelah keluar dari awan mengerikan itu mampu ngebuat gue merasa lebih tenang dengan lautan awan sebagai panorama utama. Cahaya matahari sore terpancar melengkapi kesempurnaan alam ciptaan Tuhan ini.


Menurut gue, bagian terbaik menggunakan transportasi ini adalah ketika pesawat sudah berada di bandara tujuan. Bersyukur. Itu yang selalu gue lakukan saat bisa kembali memijakkan kaki di aspal bandara. Mungkin itulah salah satu cerita mengenai perjalanan gue dengan transportasi ini. Sekarang, gue kasih kesimpulan (menurut gue pribadi) berupa sisi positif dan negatif menggunakan pesawat terbang,


Positif:

1. Lebih cepet
2. Udah kayaknya

Negatif:

1. Harga relatif lebih mahal

Oh iya, dengan kita memilih menggunakan pesawat, berarti kita udah siap menyerahkan nyawa kita di tangan Tuhan, karna kita gak bisa menebak apa yang akan terjadi di atas sana. Ya, walopun sebenernya dengan apapun kita bepergian, kita selalu dibayangi dengan maut. Maka dari itu, jangan lupa berdoa supaya diberi keselamatan agar sampe ke tempat tujuan. :)


Nah, itulah paparan tentang transportasi yang gue gunakan kala pergi atau pulang merantau. Selain dua itu, masih ada transportasi lainnya seperti bis, atau kendaraan pribadi. Tapi, gue lebih menyukai kereta api kalo dengan perjalanan darat, hehe.


Sekian dulu dari gue untuk kali ini. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Mungkin jika ada yang ingin membagikan pengalamannya yang masih bersangkutan tentang transportasi, silahkan dibagi di comment box. Gue pamit undur diri. Dadah!

Thursday, January 1, 2015

Assalamualaikum 2015




Assalamualaikum... Semangat 2015!

Hai, udah lama semenjak terakhir gue nguli di sini. Kesibukkan sebagai maba ngebuat produktifitas gue di sini agak tersendat #ciegitu. Ditambah kasus dicabutnya koneksi internet kostan karena... belum pada bayar. Ternyata sifat ge'er gue yang ngira gak ada tagihan  internet dari anak-anak, karna gue pikir bagian gue udah ada yang bayarin dulu. Eh, gak taunya....

Gak kerasa udah pergantian tahun lagi aja. Kerasa sih sebenernya, cuma gak dirasa-rasain aja, karena waktu akan berasa lama kalo dirasain. Contohnya pada jam di dinding di ruangan kelas, kalo lo ngerasa bosen dan berharap kelas segera berakhir, jangan pernah ngeliatin jam, dia akan merasa malu dan geraknya jadi lebih lambat. Lo harus melakukan aktifitas lain yang menyimpang, misalkan yang lain belajar, lo main futsal. Yang lain ngerjain soal, lo ngerjain dosennya. Bebas. Berkreasilah sebelum berkreasi itu dilarang. Itu teorinya.

Kembali ke pergantian tahun, kalo dipikir-dipikir setengah dari tahun 2014 gue masih duduk di bangku SMA, setengahnya lagi gue udah berstatus sebagai mahasiswa #ciegitu. Tahun 2014 gue lewati dengan penuh perjuangan, dimulai dengan Ujian Nasional yang kualitas soalnya ditingkatkan, selang beberapa bulan gue udah disuguhin dengan berbagai test perguruan tinggi. Ketika masuk dunia perkuliahan, gue harus menjalani ospek yang cukup menguras tenanga gue. Namun, dari semua perjuangan itu, terdapat kenangan yang indah dan gak akan keulang lagi dalam hidup gue. Momen ketika perpisahan SMA, saat itu gue menyadari, ini lah gue, dengan setelan jas yang mengantikan seragam putih-abu yang sehari-hari gue pake, gue melihat cairnya suasana ruangan besar itu, penuh dengan canda tawa. Tapi gue yakin, di balik wajah yang ceria itu terdapat perasaan ingin terus bersama, karna mungkin obrolan seperti itu tidak akan terluang esok hari. Ketika kita telah menempuh jalan kita masing-masing. Karena itu lah yang juga gue rasain saat itu.

Tahun 2014 juga memberikan pengalaman baru bagi gue, yaitu menjadi anak kost. Pertama kali gue menjadi anak kost, gue masih merasakan hal yang sama sebagaimana anak rumahan yang bedanya kali ini memiliki uang jajan lebih. Makan di restoran menengah ke atas dan jajan-jajan gak penting. Seiring berjalan waktu, gue semakin menyadari berharga arti sebuah rupiah. Ada kembalian 500 perak langsung gue kumpulin, dan kumpulan 500-an gue sekarang udah satu botol air mineral. Mungkin beberapa tahun lagi gue bisa bayar uang kuliah dari uang ini. Intensitas makan di Burjo (semacam warteg gitu) semakin meningkat tiap harinya. Dari data yang telah gue kalkulasi, dalam 7 hari gue bisa 4 harinya makan di Burjo. Dengan sub data sebagai berikut; 3x nasi-telor, 3x nasi-ayam, sisanya random.

Intinya, gue belajar banyak dari 2014. Gue mendapatkan ilmu, pengalaman dan kenangan indah di 2014. Resolusi gue untuk tahun 2015 ini adalah bisa jadi pribadi yang lebih produktif, inovatif, kreatif, dan reproduktif #loh. So, selamat tahun baru buat semuanya. Semoga kita menjadi orang yang lebih berguna di tahun yang baru ini. Walopun gunanya sedikit, setidaknya biar gak parah-parah amatlah jadi orang. Oh iya, kalo ada yang mau ngasih tau resolusi untuk tahun ini, silahkan tulis di comment box ya!

Gue pamit undur diri, si yu nex taim. Wassalam!



Saturday, October 25, 2014

Memories of High School

Ah, gak kerasa udah sekitar 2 bulan gue tinggal di kota pelajar demi menuntut ilmu. Udah banyak kegiatan dan kesibukkan yang gue lewati di sini. Sampe akhirnya gue mengingat kembali masa-masa SMA dulu, terutama saat kelas 12 yang notabene akhir dari perjalanan dijenjang SMA.

Dulu, sewaktu gue tau bahwa gue naik kelas ke kelas 12, gue hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sekuat mungkin. Bukannya seneng jadi 'penguasa' di sekolah karna tingkatan gue paling tinggi, tapi gue malah sedih karna ga lama lagi gue akan berpisah dengan temen-temen seperjuangan gue. Terutama temen-temen satu kelas gue yang udah bareng dari kelas 11 (di SMA gue temen-temen dari kelas 11 gak ganti sampe lulus).

Sungguh aneh tapi nyata tak'kan terlupa...
Kisah-kasih di sekolah... Dengan si dia
Tiada masa paling indah... Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah... Kisah-kasih di sekolah

#np: Chrisye - Kisah-kasih di Sekolah

Banyak orang yang setuju kalo kisah cinta SMA adalah yang terbaik. Gue salah satu yang sependapat dengan itu. Sebenernya gue udah lama suka sama cewek ini, dia temen SMP gue dan kebutlan kita satu kelas di SMA, tapi ada aja halangan buat ngedektin, sampe pada akhirnya waktu itu tiba... Dari awal kelas 12 gue udah bertekad gak akan pindah ke lain hati walopun gue gak dapet sinyal positif dari dia. Gue berpikir, kalo gue gak bergerak dari waktu itu, sampe kapanpun dia gak akan tau kalo ada yang suka sama dia dari jaman SMP. Akhirnya pendekatan itu dimulai.. Gak mudah untuk ngambil hati dia, karna status kita adalah 'sahabat'. Iya. Gue. Kena. Friend. Zone. Asu. Tapi status itu gak mengendurkan semangat gue yang membara, panas, kayak Bekasi -peace, red. Sebenernya gue gak mau nyeritain tentang kisah gue. Gue hanya memberikan sedikit contoh kisah cinta masa SMA dulu, yang pasti, semua perjuangan gue selama hampir 1 tahun memiliki akhir yang manis. :')

Gue juga inget, kelas 12 itu kita udah dituntut harus memiliki universitas tujuan yang akan jadi tempat kita menuntut ilmu kelak. Jujur, sekarang gue kuliah di universtias yang bukan menjadi target gue dulu. Kasarnya gue gak diterima di universitas itu. Buat adek-adek (cie sok tua) kelas 12, percaya aja Tuhan udah ngasih perguruan tinggi terbaik buat kalian dan cepat atau lambat meski kalian gagal masuk universitas impian kalian, kalian akan nyaman berada di universitas yang nantinya menjadi tempat menimba ilmu kalian. Oke, kembali ke pembicaraan awal. Di samping sibuk belajar, gue juga harus tau tentang jurusan dan universitas tujuan gue. Maka dari itu, banyak event seperti bedah kampus dan semacamnya yang gue ikuti. Ada yang menarik dari ini, yaitu dimana sebenernya gak semua anak kelas 12 mau ikut bedah kampus, itu adalah pilihan pribadi. Anak yang males tapi dia ikut bedah kampus berarti ada 2 kemungkinan; 1). Dia bosen di rumah, 2). Gebetannya ikut bedah kampus. Dan moment itu bakal dia manfaatkan sebaik mungkin untuk deketin gebetannya tersebut. Percayalah, ada orang yang seperti itu. Sumber: pengalaman pribadi.

Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

#np: Ipank - Sahabat Kecil

Banyak event yang gue lewatin bersama kelas gue. Dari setiap event yang kita jalani, kita sadar bahwa semakin dekat waktu kita berpisah, semakin terasa kekompakkan kita. Semakin erat kekeluargaan kita. Meskipun dibalik itu semua diiringi oleh canda, tawa, haru, bahkan emosi, tapi kita sadar bahwa semua itu adalah unsur yang mempererat hubungan kita. 

Kadang, saat gue bersama mereka atau beberapa dari mereka, gue seperti kembali ke masa dimana gue alay. Tapi kali ini gue gak perlu malu, karna kita gak pernah ngebiarin satu orang berbuat alay atau gila. Satu gila, semua gila. Itu slogan yang baru gue buat 10 detik yang lalu. Gue rindu saat anak-anak dateng ke rumah gue cuma untuk main PES atau numpang internetan pake wi-fi. Ya, mental anak kost mereka udah terlatih sejak jaman SMA. Gue gak ngerasa keberatan, justru gue open banget kalo mereka dateng. Satu hal yang gak gue rasain sekarang.

Sampe akhirnya saat itu tiba.. Farewell party. Perpisahan. Hal yang paling dibenci dari pertemuan. Saat itu diputar video buatan masing-masing kelas. Video yang berisi aib dan kenangan selama 2 tahun bersama. Jujur, gue merinding saat itu. Gue menyadari semua ini akan berakhir dalam satu malam. Setelah itu, kata-kata, "see you on top, guys", menjadi akhir dari buku SMA kita.

Jika kalian (anak kelas 12) berpikir bahwa pada saat kuliah nanti kita akan bebas dari orang tua dan bebas untuk berbuat apa aja semau kita, percayalah, kalian gak akan nikmatin hal itu. Saat ini, jarak 600 km membentang memisahkan gue dengan keluarga, begitupula dengan kekasih dan sesuatu yang akan kalian dapet adalah pelajaran akan lebih menghargai waktu dan arti dari sebuah pertemuan singkat. Kalian juga gak akan nemuin temen seperti masa SMA, walopun di tempat kalian nanti kalian punya banyak temen tapi tetep ada satu rongga di hati kalian yang merindukan kegilaan masa SMA. Bukannya gue mau nakutin buat anak kelas 12, tapi gue cuma mau bilang, manfaatkanlah sisa waktu kalian bersama temen-temen kalian, bersama sahabat kalian, bersama kekasih kalian yang beda tujuan universitas. Nikmati semua canda tawa kalian. Jadikan tiap pertengkaran sebagai sebuah pelajaran untuk ke depannya supaya gak seperti itu lagi. Karena semua itu akan terus ada dalam ingatan kalian dan kalian akan merindukan itu semua.

Duh, bukannya gue sok menggurui, gue cuma mau berbagi pengalaman yang udah gue lewatin. Jujur, gue juga kangen akan semua itu dan gue bersyukur masih bisa berkomunikasi dengan mereka hingga saat ini.

Mungkin cukup dari gue untuk saat ini. Mohon maaf apabila jarang update, sibuk nemenin Raisa nge-date. Harap dimaklumi. Sekian dan wassalam.

Eh...,

Ketinggalan...,

Ini keluarga gue, 11-12 IPA 1,

our holiday

see u on top, guys

Teman sejati adalah mereka yang membuat kamu seperti bersama keluarga sendiri. -gue

Udah, ah, dadah..,

Mwah :*

Wednesday, September 10, 2014

Semua Tentang Rindu

New world, new step, new hope.

Men, ninggalin kehidupan lama itu ga segampang yang gue kira. Gue sering ngedenger cerita gimana beratnya merantau, meninggalkan orang-orang yang kita cintai, entah itu orang tua, sahabat, pacar ataupun mantan yang tak lekang oleh waktu (cie gitu). Gue ngerasain pada saat ortu gue serta kekasih gue berdiri berdampingan di sisi rel kereta. Menanti waktu keberangkatan kereta. Menanti melihat orang yang mereka sayangi menjauh, lalu hilang dari pandangan.

Problema pasangan korban LDR pertama kali adalah 'takut kehilangan'. Jujur, gue mengalami hal itu. Hampir tiap hari pikiran gue selalu terfokus pada, "kira-kira pas gue pulang nanti, dia masih sama gue gak ya?..". Maklum, gak biasa, sob. Di moment seperti ini, posisi pacar kadang di atas keluarga, karena gue berpikir saat gue pulang, keluarga udah pasti nyambut gue dan ada buat gue tapi pacar? Hmm... Belum tentu tangannya masih terulur untuk gue.

Seandainya jarak tiada berarti
Akan ku arungi ruang dan waktu dalam sekejap saja
Seandainya sang waktu dapat mengerti
Takkan ada rindu yang terus mengganggu
Kau akan kembali bersamaku

Asu, kebawa suasana.

Kembali ke rantauan, ya, gue kini ada di kota pelajar. Dengan tujuan menimba ilmu demi masa depan dan keluarga. Gue di sini atas kemauan gue pribadi. Bukan karena sengaja ingin menjauh dari ortu, tapi karna ada panggilan dari kota ini yang mengharuskan gue untuk menempatinya. Dunia pendidikan yang baru sedang gue jalani, bersama suasana baru, kota baru dan teman baru tentunya. Ini semua mengharuskan gue untuk cepat beradaptasi dengan hal-hal baru tersebut dari awal. Semua yang dari titik nol tidaklah mudah. Sama halnya dengan korban friend zone yang sedang berusaha keluar dari zona itu dan harus memulai semua dari awal. Trust me, itu susah banget.

Jauh dari rumah ngebuat gue, anak yang kadang cuek sama ortu, sekarang jadi lebih care dengan keadaan di rumah. Beberapa hari sekali gue minta nyokap buat nelfon (iya, gue ngirit), dan gue selalu nanya, "mah, gimana kabar rumah?", nyokap gue selalu jawab, "rumahnya masih gini-gini aja kok, baik-baik aja." Beliau ngomong gitu sambil ketawa. Damn! I really miss her laugh. Pada momen itu pikiran gue terbang ke rumah, berada di dekat mereka, berkumpul di ruang TV yang diisi dengan percakapan konyol keluarga. Gue yakin, setiap keluarga punya cara sendiri untuk menghangatkan suasana dan begitu cara kami untuk membuat pikiran salah satu dari kami tetap di rumah walaupun raga terpisah ratusan kilometer.


Fix, gue kena home sick.


Mungkin gambar di bawah ini bisa menjelaskan semuanya.





Mungkin di sini ada sepuh rantauan yang lagi kesasar sampe akhirnya masuk ke blog antah brantah ini. Gue yakin tiap perantau pernah ngerasain saat-saat seperti ini, entah itu dalam skala kecil ataupun besar. Gue juga yakin tiap dari mereka punya caranya sendiri untuk mengatasi hal ini, mungkin ada yang sama sekali ga nunjukin, padahal di dalam dirinya dia sangat rindu rumah, ada yang curhat ke temennya sampai ada yang nulis di blog. Pokoknya macem-macem deh.


Untuk anak rantau, kita, di tempat kini kita berpijak, ingatlah pada alasan kenapa kita ke sini. Ingatlah tujuan kita pertama kali. Ingatlah pesan orang tua kita ketika kita mencium tangannya sebelum berpisah. Doa mereka tak terhalang oleh jarak, men. Untuk kalian yang kini merasakan hal yang sama dengan gue, show if you miss them. Jangan gengsi buat bilang, "mah/pah, aku kangen". Percaya bahwa mereka menantikan kita untuk menghubungi mereka dengan cara seperti itu. Untuk kamu yang aku tinggalkan, yakinkan pada diri masing-masing akan tiba saatnya ketika aku memelukmu erat dengan air mata rindu. Dan untuk gue pribadi, semoga bisa bertahan dengan kondisi ini serta sukses dalam long distance fuckin' relationship-nya. Satu lagi, semoga kalo mau nyeramahin orang lain, harus sadar diri dulu, ya, Di.


Ah, mungkin cukup sekian dari gue kali ini. Itu sebagian kecil dari perasaan rindu gue akan kota tercinta yang di dalamnya ada orang-orang yang gue cintai pula. Gue pamit undur diri, ya. Wassalam!



Monday, August 4, 2014

Mitos Mantan Terindah

Joko dan Ani sudah pacaran selama 20 tahun. Entah apa yang membuat hubungan mereka langgeng. Mungkin Joko yang penyayang sehingga Ani merasa nyaman ada di sisinya, atau orang tua Ani punya hutang kepada keluarga Joko. Entalah, biarkan ini menjadi misteri mereka berdua.

Pertengkaran sudah biasa bagi mereka, mulai dari yang sepele, hingga masalah besar. Karena berhasil melewati segala rintangan selama 20 tahun ini, mereka yakin masalah apapun yang akan menerjang hubungan mereka selanjutnya pasti mereka lewati. Dengan kekuatan cinta, kata mereka.

Joko juga mampu merubah Ani menjadi seseorang yang lebih baik. Dulu Ani adalah orang yang kasar, pemarah, suka ngomong jorok, "Jorok lo, Joko! Jorok lo!", begitu kira-kira, sekarang menjadi orang yang penyayang dan lemah lembut. Di sini mulai menimbulkan pertanyaan, sebenernya Joko ini seorang pacar atau klinik Tong Fang.

Sampai pada suatu hari...

Badai besar menerjang hubungan asmara keduanya. Di pekarangan sebuah rumah nan asri, terdengar suara keributan beberapa orang.

"Tidak! Jangan pisahkan aku dengan Aa Jok!" Ani berteriak ketika tangannya ditarik paksa oleh seseorang yang memiliki tangan lebih besar dan kekar, ayahnya.

"Neng Aniiiiii!!! Tidaaaak!!! Jangan pergiiiii!!!!!" Joko terpaku di depan pintu rumahnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Ani, ditambah gerakan mulutnya yang slow motion ketika mengucapkan, "Jangan pergiiiiiii!!!"

"Ani! Hutang bapak kepada keluarga Joko sudah lunas! Kau harus meninggalkan dia!" (Yes! Tebakan gue tepat! Bapaknya Ani punya hutang!)

"Tapi pak... Cinta kita sudah lengket sepeti Power Glue... Ihik.. Ihik," tangis Ani mulai pecah.

"Ani, asal kamu tahu, lem Power Glue aja bisa lepas, apalagi cinta kalian berdua," mendengar perkataan bapaknya, Ani hanya bisa termenung. Dengan berat hati ia terpaksa meninggalkan Joko. Saking termenungnya, ia tak sadar telah diseret bapaknya hingga ke rumah. Kasian.

Hari-hari pasca tragedi mengerikan tersebut, Ani hanya bisa meratapi kenangan ketika bersama Joko di kamarnya. Ia ingat ketika pertama kali bertemu Joko, ketika ia disuruh orang tuanya pacaran dengan Joko. Ia ingat momen lucu bersama pangerannya tersebut seperti ketika Joko salah menyuapi makan, bukannya nyuapin Ani, dia malah nyuapin bebek. Katanya mulut mereka mirip. Ani kembali melihat barang-barang pemberian Joko. Ia menemukan sedot WC di sudut kamarnya, Joko bilang toilet Ani sering penuh kalo dia pup, makanya ia memberikan alat itu supaya Ani sering mengosongkan septic tank-nya. Semua hal itu membuat Ani memberi cap kepada Joko sebagai.. Mantan terindah.

---



Nah, kira-kira begitulah gambarannya seseorang memberi cap 'Mantan Terindah'. Mungkin ada yang pernah mengalami apa yang terjadi dengan Joko-Ani? Atau ada yang pernah memberi cap yang sama? Jujur, gue sendiri pernah ngasih cap begitu ke mantan gue. Waktu itu gue lagi khilaf.

Beberapa hari lalu, gue menerima pesan dari temen gue dan ia bertanya, "Aldi, gimana sih caranya ngelupain mantan terindah?". Setelah membaca pesan itu gue ga langsung jawab, tapi berpikir pada kata, 'mantan terindah' tersebut.

Apa benar ada istilah itu? Menurut gue, itu cuma istilah yang dibuat-buat oleh diri kita sendiri. Secara tidak sadar, kita sudah terjebak di masa lalu, atau, kita belum mampu bangkit dari masa lalu. Menikmati kesendirian dengan membayangkan masa-masa indah bersama sang mantan. Seperti kita ingin berlari namun membutuhkan sepatu lari, kemudian saat itu sepatu lo ilang sebelah, hal itu yang membuat lo tertahan. Lo terlalu sibuk nyari sepatu yang sebelah itu, bahkan ada yang tidak bergerak karena bingung mau nyari dimana. Ada yang mencari sepatu itu dengan menjelajahi tempat yang ia datangi sebelumnya. Bisa jadi saat menelusuri tempat itu, lo ngelewatin tempat yang dulu pernah lo singgahi bersama mantan, menghabiskan waktu berdua, sehingga lo terpaku dan ga jadi nyari sepatu itu.



Kalo lo niat untuk move, lo pergi ke toko sepatu, cari yang baru, and then.. Run! Jangan lupakan masa lalu tapi jadikan masa lalu sebagai pelajaran, kalo di depan ada rintangan tapi ternyata rintangan itu pernah ada di masa lalu lo, lo bakal dengan mudah melewatinya.

Lagi pula, diliat dari namanya aja udah 'terindah', ter- ... Dimana-mana, ter- itu menunjukkan paling, terindah berarti paling indah. Kalo mantan lo ngasih kenangan super indah kepada lo, dan ketika lo punya pacar baru dan dia memberikan sesuatu yang lebih dari mantan lo itu, lo bakal nyebut apa? Terterindah gitu? Maksa.

Menurut gue, pasangan terindah adalah pasangan yang disiapkan Tuhan untuk mendampingi kita kelak. Bukan pasangan yang pertama buat kita, tapi pasangan yang bakal ada disaat-saat terakhir hidup kita. Pasangan yang memberikan keindahan yang tak pernah ia berikan ke orang lain selain kita. Pasangan yang bersedia membuktikan, bahwa ia pantas menjadi pasangan kita. Gitu.

So, buat lo yang masih nyebut mantan terindah, mungkin saatnya mengganti isitlah itu dengan, "pengalaman berharga," karena pengalaman itu akan membantu lo di cerita asmara lo selanjutnya. Lupakan tentang mantan terindah, anggap aja itu hanya mitos masyarakat sekitar.

Well, gue akhiri deh, udah lama juga gue gak nulis sepanjang ini. Semoga aja ada manfaatnya. Yaaa... Minimal nyantol dikit deh. Sekian dan wassalam!

Friday, August 1, 2014

Good Bye, THR!

Hai! Berhubung masih dalam suasana lebaran, gue mengucapkan, Minal aidzin walfaidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Keep absurd, gais!

Udah, cukup ucapannya. Sekarang kita kembali ke celotehan gak penting gue. Karena masih lebaran, gue akan ngebacot tentang hal yang gak jauh-jauh dari lebaran, yaitu.... *bersambung*


Sinetron abis.


Gue mau ngomongin THR. THR everywhere... Ga dapet THR anytime... Mitos semakin tua THR makin tipis udah lagi gue alami. Sebetulnya gapapa gak dapet THR, tapi dikarenakan status gue sebagai pengangguran (lulus SMA dan belum kuliah), jadi selama nganggur berkepanjangan ini pendapatan gue juga ikut surut.


Sebenernya gue emang seharusnya sadar diri. Di umur gue yang gak-terlalu-muda-lagi, gue gak perlu berharap pada pendapatan THR, apalagi di keluarga nyokap gue, gue termasuk anak yang umurnya lebih banyak (gue gamau ngomong tua) dari yang lainnya.


Banyak awkward moment yang terjadi saat pembagian THR di keluarga, salah satunya ialah ketika semua anak-anak antre untuk mendapatkan THR, dimulai dari yang termuda hingga yang paling banyak umurnya (bukan tua), dimana lo ada di posisi terakhir dan ketika giliran lo tiba dan bokap atau nyokap lo nyeletuk, "Ah, gausah dikasih, dia mah udah gede ini," dan yap, tangan yang dalam posisi memberi itu langsung ditarik sambil berkata, "Oh iya bener, yang ini mah gausah,". Gue cuma bisa senyum mesem. Mending gausah ngantri dari awal daripada harus berakhir seperti demikian. Hiks...


Salah memang kalo lebaran ngarepin THR, karena silaturahmi itu harus didasarkan rasa kekeluargaan, bukan rasa keuang-uangan. Aseeeeek.


Oh iya, mungkin di luar tema, tapi gue cuma pengen tau, kalo lo baca tulisan ini dan udah pernah baca tulisan gue yang lainnya, gue mau minta komentar kalian tentang gaya nulis gue atau tulisan mana yang kalian suka di sini. Komentar kalian bisa ditulis di comment box. Komentar kalian sangat berharga bagi gue lhoo. :)


Sekian dulu deh dari gue, sekali lagi minal adizin walfaidzin dari gue beserta keluarga. Mohon maaf lahir dan batin. Wassalam!







Thursday, June 5, 2014

Twitter, Oh, Twitter...



Halo! Kalo biasanya dari kemarin gue selalu ngepost tentang berbagai tips tentang sesuatu, kali ini gue mau cerita sedikit. Ya, bisa dibilang kembali ke saat pertama kali gue nulis di blog untuk sekedar curhat. Jadi buat kali ini, kalo mau dibaca boleh, kalo engga yaaa baca dulu lah dikit, siapa tau kita punya keresahan yang sama. HeHeHeHe.

Kalo berbicara Twitter, ya, mungkin ini salah satu sosial media terbesar untuk saat ini. Tapi, gue merasakan semakin ke sini gue semakin males, ya, main Twitter? Gue mulai buat Twitter tahun 2010 namun baru aktif sekitar 2011-an. Bukan karena gak ada gadget, tapi lebih ke emang guenya aja yang norak gak tau cara mainnya. Kalo dibandingin sama temen gue yang baru buat saat itu, tweet gue dengan cepat dilewati, bahkan 100x lipat. Karena termotivasi, mulai saat itu gue resmi jadi aktifis Twitter. Nge-tweet hampir tiap menit, bandingkan dengan sekarang yang nge-tweet kalo ada mention doang.

Entah kenapa seperti ada ‘faktor X’ yang ngebuat gue males main Twitter. Apalagi kalo udah ngeliat orang-orang resek yang berkeliaran di TL gue, mau di unfollow kenal sama orangnya, gak di unfollow bikin mata pedes tiap liat timeline.

Salah satu dari orang rese di Twitter adalah orang yang selalu galau kalo nge-tweet. Mungkin orang yang seperti ini memiliki pola hidup begini,

Tidur -> bangun -> makan -> galau -> sekolah -> istirahat -> galau -> pulang -> ngerjain tugas -> galau -> mandi -> galau  -> galau -> galau -> galau -> tidur -> kembali ke awal.

Dan punya siklus hidup seperti ini,

Dibikin sama ortu -> di kandungan -> galau -> lahir ->  hidup -> galau -> mati -> masih galau.

Hampir 80% hidupnya dihabiskan untuk galau, pemirsa. Hebat sekali. Yang begini patut diawetkan di WGM (World Galau Museum).

Orang rese lainnya yaitu orang yang selalu berkicau tentang apa pun yang ia lakukan. Ya main lah, makan lah, boker lah, semuanya deh. Misalnya seperti ini,

@an1cIeim0etZ : “Lage boker niech.”

@an1cIeim0etZ : “Keyaz bingiiiiiiitttsss.”

@an1cIeim0etZ : “Aaaah, ujungnya kliyatan!”

@an1cIeim0etZ : “HMMMMMMMMPPPPPP!!!!!”

@an1cIeim0etZ : “Plung. Yeay keluar jugaaaa!”

Sebenarnya dia sadar telah membuat orang lain ingin meng-klik tombol unfollow di profile page-nya. Dia seakan menguasai timeline sendiran seperti tak ada orang lain yang membacanya. Mungkin dia juga sadar kalo beberapa followers-nya nyindir dia melalui tweet2 mereka. Bukannya sadar, orang seperti Ani ini malah ngebales sindiran mereka dengan tweet seperti ini,

@an1cIeim0etZ : “Kaloe gak cuka cama twit akoeeh, unfollow ajaaah!!”

Setelah dia nge-tweet seperti itu, followers-nya yang berjumlah 5 orang secara serentak meng-unfollow Ani. Ani sadar. Ia galau karena akibat sikapnya dia jadi gak punya follower dan merasa terpinggirkan dari pergaulan. Karena galau, dia ngemis2 minta follback ke orang. Setelah memiliki 4 followers, dia kembali menguasai timeline sendiri. Di unfollow lagi. Galau lagi. Ngemis lagi. Gitu aja terus. Untungnya di Negara kita memenggal kepala orang termasuk salah satu hal yang illegal, maka selamatlah orang-orang seperti Ani.

Selain karena beberapa tipe orang di atas, hal lain yang ngebuat gue merasa jenuh main Twitter adalah karena gak ada game. Oke, ini agak berharap. Tapi, game jadi alasan kuat kenapa Facebook masih rame disinggahi sampe saat ini. Yaaa, siapa tau pembuat Twitter ngebaca tulisan gue ini dan akhirnya memutuskan untuk mengunduh game di sosial media buatannya.

Mungkin gak semua orang setuju sama tulisan gue ini, “gue gak setuju sama lo!” “apa-apaan nih?! Gue masih suka main twitter kok!” “sok ganteng lo, Di!”. Ya, setiap orang kan berhak mengutarakan keluh kesahnya. Lagi pula, buat sebagian orang, terutama penulis, seleb, sampe pedagang jajanan online membutuhkan Twitter sebagai media untuk mempermudah pekerjaan mereka. Gue juga begitu, kalo nge-post link masih mengandalkan Twitter. So, kamu masih cukup berguna kok, Twit…

Ah, ini cuma keisengan gue belaka kok. Cukup segini aja yang gue tulis. Oh iya, apa bila ada yang satu pendapat sama gue dan punya alasan lain, “kenapa twitter membosankan?” boleh bercuap di comment box. :D Gue pamit, dah!