Tuesday, September 20, 2016

Sebuah Tulisan Sederhana: Tentang Waktu

Waktu, salah satu artinya menurut KBBI adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Artinya waktu sangat terkait dengan hidup. Karena hidup manusia tak jauh dari kata proses atau perbuatan. Mulai dari proses penjajakan diri hingga proses pembelajaran semuanya terikat dengan waktu. Bahkan memori manusia terbelenggu oleh waktu. Kali ini gue akan sedikit membahas mengenai waktu.

Sebagai anak rantau, gue semakin menyadari betapa berharganya waktu. Bahkan unutk sepersejuta detik pun gue berusaha menikmatinya. Acap kali saat libur semester tiba, dan rumah menjadi destinasi liburan terbaik, waktu seakan menjadi ‘barang mahal’ dibanding apapun di dunia, bahkan berlian termahal pun tak mampu menyainginya. Waktu seakan mendekap diri gue erat dalam ikatan kebersamaan keluarga. Gue sadar, saat seperti itu gak berlansgung selamanya -pada kondisi ini. Semua kehangatan itu dapat sirna hanya dalam hitungan menit. Keinginan menghentikan waktu hanya berupa angan belaka yang mungkin juga terbesit dalam pikiran beberapa orang. Prinsipnya kuat, waktu akan terus berjalan sampai sang Pencipta yang menghentikannya.

Waktu terkadang membuat gue merasa tergelitik, ketika sadar berkatnya gue dapat berada di dua tempat berbeda, dua situasi kehidupan yang berbeda hanya dengan satu pejaman mata. Ia juga membuat gue sadar betapa cepatnya tahun berganti, umur bertambah dan tren masyarakat berubah. Tanpa disadari, gue udah selesai pada setengah jalan di dunia perkuliahan dan bersiap menaklukan setengah berikutnya.

Menurut gue, waktu punya dua sisi yang berlainan, seperti sisi baik dan jahat. Kadang waktu membuat seseorang bergembira karena pekerjaan, perbuatan atau doanya dijawab olehnya dengan memberikan sesuatu yang mereka impikan. Di sisi lain, waktu seakan membawa kita kembali ke masa yang tak ingin lagi kita kenang bahkan ia sengaja ‘memenjarakan’ kita di sana dan membawa kepedihan dan kesedihan yang nyata.

Waktu juga tak punya batasan yang jelas dan terkesan abstarak. Seperti zaman, apakah satu zaman punya periode tetap? Sekali waktu kita melihat fenomena yang terjadi sekarang mendapat banyak sorotan dan tak sedikit juga yang berucap, “zaman sekarang, gak seperti zaman gue dulu, zaman sekarang moralnya sudah pada rusak.” Padahal jarak antara zaman sekarang dengan zaman orang itu hanya berjarak kurang dari satu dekade. Memang, zaman bisa diartikan jangka waktu tertentu (bisa panjang atau pendek). Tapi apa berarti dalam jangka katakanlah, dua tahun, jika tren dan kebiasaan masyarakat berubah pesat bisa dibilang itu adalah zaman baru? Apakah itu kuasamu, wahai waktu? Membuat pergerakan demikian cepat, menyeret manusia membuat arus baru yang merubah lingkungannya sendiri?

Gue juga menyadari, waktu punya peran penting dalam hidup gue pada khususnya. Ia menjadi salah satu faktor utama dalam membentuk diri serta pola pikir, disamping pengalaman dan usaha kemandirian. Gue yang sekarang berbeda dengan gue setahun lalu atau bahkan berbeda dari lima menit lalu. Sedangkan masa depan masih samar seperti oase padang pasir.

Gue meyakini bahwa hidup pada saat kini adalah yang terbaik. Karena hidup adalah sebuah kepastian yang harus dijalani, sedalam apapun jurang yang menunggu, seterjal apapun batu karang yang menghantam dan setinggi apapun benteng menjulang yang menghadang, hidup adalah hidup, sebuah konsep perjalanan yang ditemani waktu sebagai pendamping. Dan perjalanan ini akan menghanyutkan kita menuju akhir yang abstrak dan penuh pengharapan.

Karena hidup di masa lalu hanya menimbulkan aura pesimisme. Membuat pikiran berkutat dengan penyesalan. Tiap keping kenangan hanya melahirkan kekecewaan. Kenangan manis yang terlintas terlalu sayang untuk dibuang dan kenangan pahit yang membelenggu terlampau sakit untuk terjadi kembali.

Hidup adalah sebuah proses. Dimana masa lalu merupakan ‘literasi’ pribadi untuk pembelajaran dan jadikan masa depan sebagai sebuah rancangan, bukan kepastian. Berharap dengan ‘literasi’ tersebut akan menjadi sesuatu yang berharga pada saat yang akan datang.

Speaking about time
What we have is just present
The past is history and the future is none of ours
Life goes on, but still not yet on our own
What will be, will be
What should be then, let it be
We’re here in the present, no other time than now


Referensi:
- Pemikiran dan kegelisahan pribadi
- dkelana.wordpress.com/2010/09/06/konsepsi-waktu/

Masalah Klasik Dunia Literasi Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim.

Sehubungan dengan kegelisahan yang akhir-akhir ini meresahkan jiwa dan akhirnya menuangkan sedikit pemikiran ke tempat ini. Bahasan ini merupakan bahasan yang sudah sering kali dikaji dan dibicarakan. Bahkan sudah terdapat ribuan tulisan mengenai topik ini di mesin pencari Google, yaitu membaca.

Dengan menggunakan keyword ‘minat membaca’ di Google, kita akan mendapatkan banyak hasil telusuran dari berbagai website, namun hampir semuanya merujuk pada satu judul, ‘Minat Baca Di Indonesia Rendah.’

Memang benar jika tinjauannya adalah buku, maka minat membaca bangsa ini bisa dikatakan rendah. Menurut data dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia.

UNESCO melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 persen! Tepatnya 0,001 persen.

Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun.

Ini persoalan penting, ini perkara genting. Soal minat baca memang terlihat tidak semendesak persoalan energi atau pangan. Tapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah?

Meskipun demikian, jika konteknya diperluas -tidak hanya buku, maka data di atas tidak dipergunakan. Seperti yang dikatakan Windy Ariestanty, Pemimpin Redaksi Gagas Media berikut ini,

“Sekarang di era kemajuan teknologi, kita dapat membaca apapun di internet, baik itu artikel, berita, atau e-book. Kalau kita masih menyempitkannya pada membaca buku, jumlah buku yang terbit memang belum sebanding dengan jumlah penduduk di Indonesia,” imbuhnya.

Windy juga mengungkapkan, ada dua kekeliruan yang muncul dari data di atas. Pertama, konteks minat baca selalu dipersempit untuk membaca buku. Padahal, minat baca sejatinya tidak hanya dilihat dari seberapa sering seseorang membaca buku.

Kekeliruan kedua terletak dari karakteristik minat baca seseorang. Seringkali seseorang memandang rendah minat baca orang lain dilihat dari apa yang dibacanya. Windy menjelaskan, seseorang yang membaca buku-buku yang ringan jangan lalu dianggap memiliki selera membaca yang rendah.

Dengan kata lain, membaca tulisan ini sampai selesai saja sudah mengindikasikan bahwa masyarakat kita masih ada minat untuk membaca. Bahkan untuk hal paling sederhana sekali pun; membaca status di media sosial hingga caption nan panjang di instagram.

Namun pada akhirnya, sebaik-baiknya orang yang membaca adalah orang yang mampu memahami, merangkum dan menceritakan kembali apa yang telah ia dapat kepada orang lain dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahan isi dan sumbernya.

Internet memang memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Namun bagi saya, itu saja tidak cukup. Kelihaian media dalam menyunting informasi sebelum dipublikasi sangat berpengaruh dengan hasilnya sehingga membuat ‘kedahsyatan’ informasi itu berkurang. Ditambah mayoritas dari media hanya mengejar rating semata tanpa memperdulikan apakah isinya bermanfaat atau tidak membuat buku semakin berharga di mata saya.

Saya sendiri menyesal terlambat menyelami dunia literasi. Pepatah mengatakan, 'buku merupakan jendela dunia', ya, buku sebagai media untuk melihat dunia lebih luas tanpa harus menggerakan apapun melainkan pikiran dan imajinasi. Terkadang saya berpikir, dengan jam terbang membaca saya yang minim seperti sekarang ini, sudah seluas apa dunia yang saya lihat? Jika buku adalah jendela dunia, mungkin kini saya hanya dapat ‘mengintip’ dari balik gorden jendela. Namun, hasrat untuk melihat dunia seluruhnya selalu ada dan tetap terjaga.

Ada dual hal utama yang membuat saya begitu mencintai buku, yaitu rasa iri dan keingintahuan yang hebat. Saya iri apabila melihat orang yang lihai berbicara tentang A, padahal cabang ilmu yang dia kuasai B. Contoh sederhananya seperti anak teknik yang paham betul politik dan filsafat. Sehingga membuat dirinya dipenuhi oleh pengetahuan. Karena buku merupakan gudang ilmu, gerbang utama yang menuntun pada cakrawala tak terbatas.

Kedua ialah rasa ingin tahu. Saya membaca kembali perjuangan bangsa ini ketika melawan kolonialisme dahulu karena saya penasaran dengan kisah yang membuat saya dapat hidup tanpa tekanan penjajah sekarang ini. Saya pun yakin bahwa sejarah bangsa yang ada pada buku sejarah sekolah sudah mengalami penyuntingan sana-sini.

Hal unik dari sebuah buku ialah ketika saya membaca buku mengenai A tapi di dalamnya ada tokoh B, C dan seterusnya, hal tersebut memancing gairah keingintahuan saya sehingga memutuskan membaca buku tentang tokoh tersebut. Bagi saya ini merupakan sebuah alur yang immortal.

Di Surabaya, Jakarta, dan di kota-kota yang lain, ada orang-orang dengan semangat serupa yang gigih mengkampanyekan pentingnya membaca. Tanpa dibayar, bahkan mesti keluar uang untuk membeli buku dan ongkos ini itu, mereka dengan keras kepala mengantarkan buku-buku kepada siapa pun yang mau membaca. Bahkan, gangguan aparat tidak menyusutkan semangat mereka dalam menyebarkan ilmu pengetahuan. Karena membaca adalah melawan.

Negara kita berdiri dengan perjuangan para pemikir dan ‘kutu buku’. Mempertahankan keteguhan negara ini juga demikian. Menjadikan budaya membaca sebagai senjata menenggelamkan ‘budaya korupsi’ adalah tugas bersama. Terlampau banyak buku tersedia, tapi apalah arti buku tanpa pembacanya? Ia hanya akan menjadi arsip semata. Laksana raga tanpa jiwa, yang ada hanyalah hampa. Membuat negeri literasi tidak dimulai dari besok atau pun lusa, melainkan sekarang!

“Kalau sebuah bahasa dengan kesusasteraannya tidak didukung oleh tradisi membaca masyarakatnya, maka kematiannya akan segera menyusul.” – Ajip Rosidi.



Referensi:

---http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/18/11140791/menikam.kolonialisme.dan.merdeka.dengan.buku
---http://www.unpad.ac.id/2014/04/siapa-bilang-minat-baca-masyarakat-indonesia-rendah/

Sunday, September 11, 2016

Alur Penghidupan

Malam ini kuguratkan pena
Di atas kertas suci
Berlandaskan sunyi
Berselimutkan malam
Tulisan penghidupan, niatku

Pena meliuk
Garis hitam bergandengan
Seperti muara hidup
Entah apa ujungnya

Aku tak sendiri
Dewi malam bersamaku
Dengan tarian nyata
Menuntunku pada tiap aksara baru

Tapi malam terlalu beringas
Mendekap sang dewi
Lalu dihunuskan angin itu

Aku sendiri
Dewi malam tiada, arahku pun jua
Namun aku tak berhenti
Tiada jurang dalam bagiku

Ah!
Ternyata di sana sandingan sang dewi
Syukurlah, ia kembali
Dari ketiadaan yang hampa
Lintasanku terlihat
Aral makin tiada menghadang
Beginilah sekiranya
Tulisan penghidupan itu

Tuesday, September 6, 2016

Kata Siapa?


google.com

Kata orang, cinta dapat menerbangkan sukma ke angkasa
Tapi langit seakan runtuh ketika angan tak sampai
Kata orang, cinta dapat menumbuhkan semangat hidup
Tapi mudah meredupkannya dengan sejumlah aksara
Kata orang, cinta dapat memperlihatkan dunia penuh warna
Tapi kadang hanya hitam-putih adanya
Kata orang, cinta dapat membuat pikiran syahdu
Tapi persetan dengan mereka yang resah karena cinta
Kata orang, cinta itu perilhal jujur dan setia
Tapi penuh atas dusta serta fana belaka
Kata orang, cinta sejati akan hadir pada waktunya
Tapi bertebar nafsu berkedok ‘cinta sejati’
Kata orang, jangan mudah percaya cinta
Tapi kenapa aku harus mendengarkan kata-kata mu?
Kata orang, yakinlah pada dirimu sendiri
Tapi aku terlalu rapuh untuk melangkah
Aku bahkan tak tau makna sejati satu kata ini
Tapi aku percaya akan keteguhannya

Wednesday, April 13, 2016

Tentang Anak Rantau

Halooo...

Wah, udah lama banget gak main ke sini. Derita sebagai mahasiswa lumayan menyita waktu gue untuk menghabiskan waktu di sini. Apalagi semenjak pindah ke kost yang baru, dimana tidak ada koneksi internet, semakin membuat gue lupa kalo gue punya blog... Maafkeun.

Tulisan kali ini gue mau curhat sekitar hal yang berkaitan dengan anak rantau. Jadi buat kalian yang menginginkan sesuatu yang berbobot dan mempunyai nilai edukasi di dalamnya, kalian salah masuk blog.  Tapi buat kalian yang lagi gabut, mau ngabisin kuota, atau jomlo, blog ini cocok untuk menambah jam terbang kalian dalam kategori ‘melakukan kegiatan sia-sia’. Gue mau cerita tentang daerah asal, tanah rantau dan orang-orang yang ditinggal pergi.

Gue sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di kota yang mempunyai julukan sebagai 'Kota Pelajar'. Sedangkan jarak antara kota asal gue dengan tempat gue sekarang kurang lebih 600 km. Sebenernya jarak segini masih terhitung 'deket' dibandingkan temen-temen gue lainnya yang berasal dari luar pulau Jawa.Yah, tetep aja buat seorang anak dengan tipe anak rumahan yang gak pernah keluar dari zona nyamannya, jarak segini udah cukup untuk menempa diri menjadi lebih mandiri dari sebelumnya.

Sekarang gue sedang menjalani tahun kedua di perkuliahan. Makin banyak cobaan dan makin banyak kesibukkan yang sejatinya emang belum seberapa. Juga banyak hal serta masalah yang gue lewati dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini. Dan dari tiap persoalan itu selalu ada setidaknya satu nilai positif yang dapat gue ambil. Sebenernya tiap masalah atau cobaan yang dateng ke kita, pasti ada satu atau dua hal yang bisa kita ambil hikmahnya, cuma semua kembali ke diri masing-masing gimana caranya mandang masalah tersebut. Gue selalu ngeliat masalah yang dateng sebagai media untuk mengintrospeksi diri agar menjadi lebih baik. Hasilnya? Alhamdulillah… Belum ada perubahan. Ya… Semoga ada. Segera. Amin.

Jujur, gak kerasa udah dua tahun ngejalanin kuliah. Asli. Perasaan baru kemarin gue jadi Maba, baru kemarin botak, baru kemarin nyari perlengkapan ospek sampe ke Malioboro, baru kemarin bangun pagi semangat ke kampus saat hari pertama karena mau ngerasain duduk di bangku kuliah. Udah selesai duduk, berdiri, pulang lagi. Sekarang? Boro-boro semangat ke kampus, kuliah pagi jam 07.30 aja baru berangkat dari kost jam 07.30. Manfaatkanlah batas maksimum waktu telat masuk kelas yang biasa disepakati saat kontrak kuliah pada pertemuan pertama, kawan.

Kadang, di tengah sunyinya malam, gue suka kepikiran, “kenapa sih gue kuliah di Jogja?”. Disaat di daerah pulau Jawa bagian barat sana banyak perguruan tinggi (PT) ternama, gue suka kepikiran hal itu, “kenapa-harus-Jogja?”. Bahkan dalam daftar pilihan SBMPTN gue dulu, gue gak milih PT di daerah Jawa bagian barat sana, melainkan di Jogja. Meskipun gak lolos SBMPTN, gue akhirnya memilih masuk universitas swasta yang pada akhirnya jadi negeri. Juga di Kota Gudeg ini. Satu jawaban yang gue sadari dari sekian banyak yang masih jadi misteri; Gue. Jatuh. Cinta. Dengan. Yogyakarta.

Sebelum gue kuliah di sini, gue pernah beberapa kali dateng ke Jogja dengan tujuan sama seperti kebanyakan orang yang dateng ke sini, liburan. Tapi gue baru jatuh cinta dengan Jogja ketika test masuk universitas, karena kondisinya gue dateng ke sini sendirian dan tinggal di kost sodara. Dan pada saat itu gue merasakan asiknya (dan sekarang ngerasain menderitanya) ngekost. Semenjak saat itu gue memantapkan diri untuk kuliah di sini dan Alhamdulillah Here I am.

Gue berasal dari salah satu ibu kota provinsi yang terletak di ujung barat pulau Jawa. Setelah memastikan bakal menimba ilmu di Jogja, gue suka ngebanding-bandingin kota asal gue dengan Jogja. Bagaikan bumi dan langit. Asli. Mulai dari fasilitas umum, destinasi wisata sampe orang-orangnya gue bandingin. Karena kota asal gue, Serang, merupakan kota kecil. Hampir setiap kali pergi ke suatu tempat di Serang, presentase gue bakal ketemu orang yang gue kenal sekitar 75%, ketemu orang-yang-kayaknya-gue-pernah-liat-tapi-dimana-ya sekitar 60% dan ketemu orang-yang-gue-gak-kenal-tapi-dia-kenal-gue sekitar 48%. Seperti seakan lo berada di lingkaran yang itu-itu aja.

Namun perlahan, Serang mulai mencoba berubah menjadi kota yang cozy dengan banyaknya tempat nongkrong baru. Sebelum gue kuliah, tempat yang biasa buat nongkrong di sana jumlahnya bisa dihitung jari, sebut aja mekdi, sop duren dan BC (buat orang Serang pasti ngerti). Dan kini gue bersyukur udah banyak pilihan tempat buat kumpul-kumpul dan setiap ada tempat baru, hebohnya bukan main, karena hampir semua temen gue di socmed update di tempat yang sama. Setdah. Gue yang jaraknya ratusan kilometer dari Serang jadi tau perkembangan tempat ‘gaul’ di sana. Terus gue catetin dan saat gue pulang tinggal gue datengin satu-satu. HeHe.

Setelah melewati tahun pertama kuliah di Jogja, gue kembali menyadari satu hal; ternyata kota kecil yang gak punya bioskop itu, ngangenin. Faktor utamanya tentu karena orang-orang yang gue sayang semuannya ada di sana. Keluarga dan juga seorang wanita yang gue sayang telah membuat gue mengerti apa makna ‘rumah’ sebenernya. Membuat gue paham alasan gue untuk pulang. Dan menyadarkan gue untuk terus berjuang di sini.

Gue sadar bahwa perjalanan gue masih panjang. Masih banyak rintangan yang siap menghadang gue di depan sana. Masih banyak pelajaran yang harus gue ambil di sini. Salah satu pelajaran penting yang gue dapet setelah merantau adalah selalu pake jas hujan kalo hujan. Karena di Serang jarang ada orang yang pake jas hujan, jadi kalo hujan ya.. bablas aja dan sekalinya ada yang pake jas hujan gatau kenapa kayak ngeliat sesuatu yang tabu, padahal guenya aja yang norak. Tapi dengan memahami apa tujuan gue di sini dan untuk siapa gue seperti ini, gue siap menghadapi apapun yang kelak menghampiri gue. Karena gue sadar, gue bukan ‘Alone Survivor’, sokongan motivasi dan doa dari orang-orang tercinta nun jauh di sana dan bantuan dari temen-temen sesama pejuang di sini membuat gue terus termotivasi untuk menjalani hidup ke arah yang lebih baik. 

Wah, panjang juga ya… Tulisannya. Mungkin segini cukup sebagai postingan pertama di 2K16 ini. Oh iya, maafin kalo jarang banget update, gue berusaha untuk semaksimal mungkin ngejaga blog ini agar terus hidup. Buat temen-temen sesama perantau dimana pun berada, terus kejar apa yang seharusnya kalian kejar, tapi tetep berdasar pada doa dan niat baik kalian pada awalnya; menjadi seseorang yang kelak membawa dampak positif bagi keluarga, agama dan negara. Buset… berat-berat. Kalo ada yang mau disampaikan tulis aja di kolom komentar, ya! Gue pamit undur diri. Bhay!

dari Google


Thursday, November 12, 2015

Teruntuk yang Sedang Patah Hati




Hai, lama tak jumpa. Maaf karena terlalu lama hilang. Banyak tekanan yang membuat gue jarang buka blog, bahkan jarang nyalain laptop Tapi tekanan itu sekarang sedikit berkurang sehingga gue ada kesempatan buat memindahkan isi pikiran gue ke sini. Gue akan ngomongin tentang satu hal, yang mana sepertinya sudah ditakdirkan ada pada tiap insan di bumi ini, patah hati.

Selamat membaca.

Gue percaya kalian yang baca tulisan ini pernah merasakan hal yang sama, namun dengan sakit yang berbeda. Dengan ceritanya sendiri dan dengan pelajarannya sendiri. Patah hati sering dianggap sebagai salah satu bumbu dalam hidup, bisa membuat hidup lebih baik ketika kita bisa mengambil hikmah darinya, namun bisa membuat lebih pahit ketika kita tak urung menemukan bumbu lain yang bisa menutupi pahitnya rasa sebuah patah hati.

Patah hati selalu meninggalkan lubang besar dalam relung hati terdalam, yang bahkan satu-dua kebahagiaan tak cukup untuk menutupi lubang tersebut. Jika kita melihat orang yang sedang patah hati bahagia bersama temannya, belum tentu ia merasakan hal yang sama apabila ia berada di kamarnya sendiri dengan kesendiriannya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa bahagia ialah obat dari patah hati. Mungkin saat bersama teman dan mengunjungi tempat yang dulu pernah dikunjungi dengan orang yang sempat kita sayangi, ada sebuah memori yang sebenarnya tidak ingin diingat, tapi secara spontan muncul ke permukaan. Hal yang harus dilakukan ialah terus tersenyum dan menikmati momen bersama teman tersebut, mungkin tiap tawa yang terpancar di wajah ada hati yang terus teriris. Tawa yang sama namun berbeda rasa. Bagaikan luka yang ditetesi alkohol, perih memang, tapi percayalah, itu obatnya.

Selama hampir 20 tahun gue hidup, banyak hal yang telah terjadi dalam hidup gue. Mencintai dan dicintai. Menyakiti dan disakiti. Meninggalkan dan ditinggalkan. Keberhasilan dan kegagalan. Begitu banyak pelajaran yang gue ambil dari semua pengalaman itu. Hal bersifat positif-negatif kerap gue alami. Seperti yin dan yang, semua itu diciptakan untuk keseimbangan hidup. Gue pernah nangis selama 2 jam dari jam 12 malem sampe jam 2 pagi karena nama gue gak ada di pengumuman “murid diterima” di SMA yang dulu sangat gue impi-impikan. Namun, satu minggu kemudian gue diterima di salah satu SMA negeri terbaik di kota tempat gue tinggal. Kebetulan, itu pertama kalinya gue ketirma di sekolah negeri atas usaha sendiri. Di situ gue percaya, Tuhan punya cara sendiri dalam mengatur semesta, menempatkan kesedihan dan kebahagiaan berdamipingan, menimbulkan senyum dari wajah yang sempat lupa bagaimana caranya tersenyum. Mungkin disaat gue bahagia dengan pengumuman diterimanya gue, ada puluhan atau bahkan ratusan anak lainnya yang ingin ada di posisi gue, tapi sekali lagi gue percaya kalo Tuhan punya cara-Nya sendiri. Gue percaya mereka menemukan kebahagiaan mereka sendiri yang mungkin gak akan mereka dapatkan di tempat lain.

Begitu pula dalam kehidupan asmara gue. Udah banyak cerita terjadi dan pelajaran yang gue ambil. Dari jaman ‘cinta monyet’, sampe jaman: “monyet, pacaran terus lo!”. Dari jaman bales-balesan komen di facebook, sampe akhirnya gue mikir kalo gak perlu ngumbar hubungan, cukup gue dan dia saja yang tau. Dari jaman nembak cewek harus nyari tanggal yang bagus, sampe mikir kalo tanggal bagus itu gak penting, yang penting berapa lama hati gue menetap di hatinya. Tiga masa pacaran pertama gue semuanya dimulai tanggal 1 dan merupakan tanggal bagus menurut gue, dulu hal itu pernah gue banggain, sekarang gue berpikir kalo ternyata taraf kebanggaan atas apa yang gue lakukan hanya serendah itu…

Banyak sakit hati yang gue rasain selama ini, namun gue hanya merasakan beberapa kali patah hati. Karena menurut gue patah hati dan sakit hati merupakan hal yang berbeda, Pedihnya patah hati lebih dalam dari sakit hati. Jujur, gue benci keduanya. Tapi tanpa keduanya gue gak akan jadi gue yang sekarang ini. Gue benci dengan hadirnya dua elemen ini tiap gue memulai suatu hubungan. Tapi jika salah satunya gak ada, mungkin gue gak akan sadar dengan banyaknya kebodohan yang gue lakukan. Hal yang sebenernya kita benci, ternyata menuntun kita ke pribadi yang lebih baik.

Seiring berjalannya waktu serta bertambahnya usia, rasa sakit yang ditimbulkan akibat patah hati semakin dalam meskipun sebenernya udah pernah kita rasakan sebelumnya. Misalkan sewaktu gue diputusin pas SMP dulu-iya, gue yang diputusin-, saat itu ya, cuma sekedar galau-galau najis biasa, mungkin kalo sekarang terjadi hal itu akan terasa lebih berat. Perkembangan jaman juga membuat rasa patah hati yang berbeda, dulu patah hati karena ditolak dengan alasan, “maaf kayaknya kita temenan aja deh,”, lebih ‘mendingan’ dibanding alasan, “maaf, aku udah nganggep kamu kayak om aku sendiri.' Loh?

Seperti yang sudah gue bilang, tiap orang pernah merasakan patah hati dalam hidupnya-setidaknya sekali seumur hidup. Sejatinya patah hati hanya mewariskan dua hal; kenangan dan penyesalan. Dimana jika keduanya berkecamuk dalam diri akan melahirkan kepedihan yang teramat dalam. Luka yang ditimbulkan oleh patah hati tak mudah diobati. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk dapat menutupi luka tersebut, itupun hanya 98% yang dapat terobati, karena 2%nya adalah kenangan; yang tidak bisa dilupakan, tetapi hanya tertimbun diantara jutaan memori lainnya, namun dapat naik ke permukaan kapan pun ia mau.

Yogyakarta, kota dimana gue menuntut ilmu, baru memasuki musim hujan. Musim dimana alam seakan mengerti suasana hati beberapa manusia. Setiap sudut kota Jogja romantis, katanya. Bagi mereka yang mempunyai pasangan, mungkin saat ini agak kesulitan untuk mengeksplore kota Jogja lebih jauh, tapi buat mereka yang tengah dalam kepedihannya, hujan seakan mengingatkan mereka tentang kenangan. Cukup berada di kamar sendiri dengan hujan deras di luar, menangis tanpa takut terdengar yang lain, karena hujan membantu menutup suara tangis tersebut. Hujan tak akan selamanya turun, juga dengan tangis. Begitu hujan reda, tangismu mengikuti. Begitu matahari kembali terlihat, di situ dirimu kembali tampil ceria

Sunday, September 27, 2015

Long Distance Relationshit


Hubungan jarak jauh atau bisa disebut long distance relationship (LDR) adalah salah satu jenis hubungan yang dihindari oleh kebanyakan pasangan di bumi (atau planet lain). Karena LDR membuat suatu pasangan tidak bisa selalu bertemu, tidak bisa selalu ada secara fisik disaat salah satunya membutuhkan, namun akan selalu ada dalam masing-masing relung hati terdalam dan pada setiap doa yang dipanjatkan (bagi jomblo yang baca ini dan mau muntah, dipersilahkan).

Gue ngebahas tentang ini karena gue adalah salah satu pelaku hubungan LDR. Yah, meskipun terhiutng belum lama tapi setidaknya 70.588% dari total lama hubungan gue (sampai saat ini) itu dijalani dengan LDR. Dulu, sewaktu gue mau mulai ngerantau, LDR selalu jadi momok menakutkan bagi gue, apalagi gue belum pernahi ngejalanin LDR, sedangkan cewek gue udah pengalaman. Setidaknya hal itu cukup ngebuat gue tenang karena salah satunya udah ada yang pernah ngejalanin. Tapi dengan pedenya gue bilang ke cewek gue, 'tenang aja, aku juga bisa kok,' kalimat penenang yang sampai saat ini masih terbukti kalau gue bisa dan semoga akan tetap selalu begitu. Karena jika hubungan ini terus berlanjut sampai gue pulang lagi (lulus kuliah), maka presentase hubungan gue tanpa LDR cuma  8.33%. 10 persen aja gak ada... Aku sedih...

Menurut gue, tipe LDR itu ada 2, yaitu 1). Pasangan yang tadinya satu kota, tapi karena tuntutan mencari ilmu/kerja sehingga membuat salah satu atau keduanya mengharuskan pergi ke kota lain dan membuat mereka resmi ber-LDR ria. 2). Pasangan yang bertemu di kota tempatnya singgah (kota cowoknya/ceweknya/merantau), sehingga pada saat liburan tiba (semester/lebaran) membuat mereka harus menjalani LDR walaupun sementara. Atau, jomblo yang jika ditanya oleh temannya, 'bro, pacar lo mana?' dan dia mengelak, 'ada, gue  lagi LDR, kok. Gue di sini dan pacar gue di... Masa depan.' Miris.

Gue termasuk penganut LDR tipe 1. Nah, berhubung gue rasa pengalaman gue dalam bidang ini lumayan banyak, gue akan bagikan tips bagi kalian yang baru atau sedang menjalani long distance relationshit ini. Cekidot!

1. Jaga Komunikasi

dapet dari google
Komunikasi. Satu kata tapi ini merupakan kunci dari LDR. Karena dalam LDR media komunikasi itu hanya melalui handphone dan media sosial yang ada di dalamnya. Buat kalian yang kuliah, kalau kalian sibuk dengan tugas atau kegiatan organisasi, usahakan untuk sesekali ngabarin pacar kalian, walau itu hanya sekedar, 

'Aku lagi ngerjain tugas nih, mungkin akan jarang megang hp dulu. Kamu lagi apa? Jangan telat sampai telat makan, ya. Nanti kalau udah selesai aku segera kabarin kamu lagi. I love you,' 

Geli sih... Tapi percaya deh, kalau si cewek/cowok yang nerima sms itu akan ngerasa lebih tenang atau seenggaknya tersenyum kalau nerima sms seperti itu. Simpelnya aja, jangan sampai gak ngasih kabar seharian, karena itu akan ngebuat salah satu pihak mikir macem-macem, apalagi kalau kalian para cowok, punya trek record buruk sebelumnya (suka gonta-ganti cewek tiap malem minggu), pasti ngebuat cewek kalian khawatir dan bisa jadi nuduh kalian berbuat yang menyimpang.

Jaman sekarang, jaman dimana media sosial bertebaran, mulai dari yang cuma chatting doang sampai video call itu ada semua. Tinggal bagaimana kita yang memanfaatkan semua fitur itu. Ingat, jangan pernah meremehkan the power of communication, karena kata salah satu gambar yang gue dapet di Google mengatakan, "Two things can destroy any relationship: unrealistic expectations and poor communication". Gitu.


2. Jaga Hubungan


google lagi
LDR membuat suatu hubungan menjadi rentan akan kata 'putus' atau kata horror lainnya. Maka berusahalah untuk meminimalisir berantem, karena mungkin aja dengan sekali berantem hubngan lo bisa kandas. Beberapa faktor yang ngebuat berantem menjadi sulit berubah menjadi damai adalah media komunikasi yang terbatas. Dengan jarak ratusan kilometer yang membentang, tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah secara empat mata, berdasarkan pengalaman gue, menyelesaikan suatu maslah dengan bicara langsung itu hasilnya sangat efektif.

Media komunikasi bagi korban LDR hanya sebatas sms atau telfon. Sedangkan dalam kondisi emosi biasanya ada pihak yang malas untuk mengangkat telfon atau membalas sms, atau juga saat berusaha menyelesaikan lewat telfon dan keduanya terus mempertahankan argumennya tanpa ada pihak yang mau mengalah sehingga kembali menyulut emosi dan akhirnya telfon ditutup, HP dimatikan, masalah belum selesai dan hubungan menjadi runyam. Maka dari itu, bagi pasangan LDR berusahalah untuk menahan egonya masing-masing. Inget, media kalian buat nyelesain masalah itu terbatas, harus ada pihak yang mengalah agar penyelesaian masalah dapat berjalan lancar. Juga inget alasan kalian kenapa mau ngelakuin LDR? Karena kalian percaya kalau bisa ngelewatin itu semua! Kalian pasti pernah berpikir bahwa hubungan kalian gak akan kalah 'hanya' karena jarak!! Maka ingatlah kembali janji-janji kalian sesaat sebelum LDR dulu, wahai pemuda-pemudi!!! Gue yakin tiap masalah pasti punya jalan keluarnya, meski media terbatas gue yakin kalian bisa menyelesaikannya dengan bijak!!!! Semangat buat kalian para pejuang LDR!!!!! Merdeka!!!!!!

Udah sih, gitu aja.

3. Kenal Temannya

google semua bray
Nah, ini juga penting. Upayakan kenal dengan teman yang dekat dengan pacar kita, boleh teman main atau teman belajarnya, asal bukan teman tapi mesra aja, sih... Jangan cuma cari teman yang hanya sejurusan, karena satu angkatan aja bisa gak saling kenal, apalagi satu jurusan.

'Eh, kenal Aldi gak?'
'Aldi mana, ya?'
'Yang dari Banten, angkatan '14,'
'Wah, sorry, gak kenal. Gue angkatan '10.'

Kacau. Kenapa hal ini penting? Karena jika gak ada komunikasi dari doi selama seharian, sebagai pasangannya patut untuk khawatir dong. Nah, di sini fungsi kalau kita kenal dengan temannya doi, kita bisa minta tolong dia untuk cek doi di kostannya atau di kampus. Jika setelah di cek ternyata kata temannya doi cuma ketiduran gara-gara minum obat tidur sebotol, segera lapor ke orang tuanya dan suruh temannya bawa dia ke RS, karena itu  sudah OD.

Fungsi lainnya juga bisa untuk membantu kita apabila ingin memberikan suprise ulang tahun ke doi. Kita bisa meminta tolong kepada temannya, jadi tugas kita akan lebih dimudahkan.

4. Manfaatkan Waktu Sebaik Mungkin

terima kasih, google
Puncak kebahagiaan pelaku LDR adalah saat pasangannya pulang ke kampung halaman. Momen ini harus bener-bener dimaksimalkan untuk menghabiskan waktu berdua, karena pasti lo akan sadar bahwa doi gak akan lama ada di sisi lo secara fisik. Gue yakin dah, kalau berantem dan emosi kalian selama LDR bakal hilang saat lo bisa liat dia dengan mata sendiri ada di depan rumah. Bukan cuma ngeliat, bahkan lo bisa megang dia secara langsung. Megang apa, hayooo? Hayooo megang apa? Biarkan itu menjadi urusan dapur masing-masing~

Seiring berjalannya waktu, akan tiba saatnya doi kembali pergi merantau. Meninggalkan orang-orang yang dicintainya, termasuk lo, dan itu merupakan saat-saat yang dibenci tiap pasangan. Melihat sosok yang disayang menjauh, hingga titik dimana mata tak sanggup lagi menjangkau. Melihat punggungnya berjalan menjauh dam terkadang sosoknya menoleh ke tempat dimana lo beridiri hanya untuk sekedar memastikan bahwa lo tetap di sana, seakan berusaha menahan untuk tidak pergi namun tak bisa.

Hal ini yang harus lo ingat untuk terus ngejaga hubungan lo tetap aman. Gimana lo dan doi melakukan hal-hal gila saat kalian bersama. Tawa dan canda kalian saat doi secara nyata ada di sisi lo. Bagaimana lo dan doi merasa berat meninggalkan satu sama lain. Meski gue juga tau kalau orang emosi kadang pikirannya negatif terus, tapi coba mengingat satu dari sekian banyak momen indah lo bareng doi. Gue sih yakin itu bakal ngeredain emosi, setidaknya kalau emosi lo udah reda, lo bisa lebih tenang atau mengalah dalam adu argumen agar masalah lo dan doi cepet selesai.

---

Nah, itulah beberapa tips dari gue buat pasangan LDR. Bukan maksud menggurui, tapi gue hanya sekedar membagikan sedikit pengalaman gue yang siapa tau ada gunanya. Sebenernya gue ada kesempatan buat pindah universitas agar deket sama cewek gue dan bisa keluar dari LDR, tapi selain faktor gue udah nyaman tinggal di kota pelajar ini, gue juga berpikir andai gue sama dia gak LDR, apa ceritanya bakal sekompleks sekarang? Gue ngerasa semakin sayang saat gue pergi ninggalin dia untuk merantau. Gue semakin menghargai arti waktu dan berusaha memberi kesan terbaik kepada dia dengan sedikit waktu yang gue punya. Gue juga ngerasa banyak pelajaran yang diambil agar hubungan gue semakin baik. Belajar lebih tentang arti dari sabar, arti pentingnya komunikasi hingga cara menyelesaikan masalah tanpa berlarut-larut.

Mungkin segini dulu dari gue, apabila ada yang punya tips lainnya bisa ditulis dikolom komentar di bawah. Maaf kalau ada kata-kata yang tidak mengenakkan. Gue pamit undur diri, babay! #ForzaLDR