Saturday, November 12, 2016

Rindu


google.com
Aku rindu pada hal-hal sederhana
ketika kita tertawa
tanpa tahu karena apa

Aku rindu pada hal-hal sederhana
ketika senyum mu tak kunjung tampak
tanpa tahu karena apa

Kita tak selalu berjalan seiringan
tapi Tuhan menggiring kita
hingga aku menyalahi kuasa-Nya
memisahkan jalan menuju parung kehancuran

Ada satu waktu kita menyukai rindu
bagaimana caranya,
ia mempermainkan perasaan
meluapkan gejolak ingin bertemu
pada waktu yang tak tentu

Ada satu saat kita membenci pertemuan
bagaimana caranya,
ia menghilangkan keberadaan rindu    
serta ia tak pernah sendirian
perpisahan setia menantinya

Kini,
rindu bukan apa yang kita suka
Mungkin aku akan,
menjadikannya sahabat
ketika,
sepi mengetuk pintu
hati yang pilu

Tuesday, October 11, 2016

Secuil Memori Masa Lalu

kfk.kompas.com
Tulisan ini dibuat ketika sore hari ditingah himpitan tugas kuliah, beban pikiran dan kenyataan bahwa ujian tengah semester hanya tinggal menghitung hari.

Gue mencoba sedikit membuat pikiran rileks dengan membaca dan menulis, juga mengenang. Mengenang masa lalu, tepatnya kembali pada masa ketika pada kesehariannya hanya ada kegembiraan. Yap, gue akan berbicara tentang masa kecil.

Seiring bertambahnya usia, permasalahan hidup yang datang juga semakin rumit adanya. Meskipun semua masalah itu datang dengan hikmah tersendiri dibaliknya, tetap saja jika datangnya bertubi-tubi kerap membuat kepala pening rasanya.

Ditemani alunan lagu yang keluar dari speaker kesayangan, gue mencoba melintasi ruang dan waktu, berjalan bertahun-tahun ke belakang hanya sekedar untuk mengundang senyum di bibir. Kenangan seperti ini seakan tertimbun oleh berbagai masalah dan beban pikiran lainnya. Seakan dewasa ini, hanya kenangan seputar asmara saja yang kita punya, padahal kita punya harta karun terpendam yang terkubur di dasar pikiran kita; kenangan masa kecil.

Ah, betapa asyiknya masa itu. Masa dimana gak ada persoalan tentang cinta. Masa dimana saat lo dateng ke sekolah, yang lo rumpiin bareng teman-teman lo ialah seputar film kartun yang hari minggu kemarin lo tonton. Bukan ngomongin si A atau si B atau si C. Masa dimana persoalan akademis hanya tentang matematika semata. 

Masa itu... Ialah masa dimana hari minggu pagi merupakan waktunya marathon film kartun. Bangun dari pagi, sarapan sembari duduk manis di depan TV. Di mulai dari Ultraman hingga Yu-Gi-Oh!. Siang hari merupakan saat istirahat dan sore ialah waktu terbaik untuk bermain bola bersama teman-teman masa kecil sampai pluit tanda akhir permainan berkumandang (baca: adzan maghrib).

Kini, berstatus sebagai mahasiswa ditambah menjadi anak kost sangat merubah gaya hidup gue. Belajar juga mengerjakan tugas sampai larut malam (bahkan pagi) dan ketika pagi hari tiba, dikombinasikan dengan cuaca dingin seketika menjelma menjadi jam tidur terbaik. Bangun tidur ketika matahari sedang terik-teriknya sehingga waktu sarapan terlewatkan dan terpaksa ‘merapel’ makan pagi dan makan siang. Rutinitas yang sangat miris tapi harus tetap dijalankan dengan... Menyedihkan.

Gue inget, selain bermain bola, gue juga pernah main kartu. Percayalah, pada waktu itu kartu merupakan jajanan yang menggiurkan untuk dibeli. Dari kartu Yu-Gi-Oh! sampai kartu Pokemon gue koleksi.

Kalau saat ini sedang viral tentang ‘kehebatan’ Kanjeng Taat Pribadi dalam menggandakan uang, sebenarnya gue pernah melakukan hal yang serupa dulu. Bukan uang, tapi kartu Yugi! Caranya cukup mudah, tinggal ngajak teman untuk main kartu Yugi dengan berbagai metode, di daerah gue ada yang namanya lemparan, tepokan, banting sampai main bandar. Siapa yang kalah dia harus menyerahkan kartunya sebanyak jumlah yang telah disepakati sesaat sebelum bermain.

Jika ada yang berpikiran bahwa itu adalah judi, sesungguhnya pikiran kalian gak salah. Ya, masa lalu gue jauh lebih suram dari gue yang sekarang.

Metode permainan yang sama bisa juga dilakukan dengan tazos. Sebuah mainan laknat yang membuat gue jadi orang yang gak bersyukur karena sering berprikalu mubazir; beli ciki, tazos-nya diambil, cikinya dibuang. Setelah judi, kemudian mubazir, sungguh masa lalu yang suram
.
Sekarang ini banyak anak kecil yang udah pacaran karena katanya ‘terinspirasi’ dari tayangan favorit mereka, yaitu sinetron hasil peranakan dari Bapak Jalanan dan Ibu Jalanan. Ya.. Itu pokoknya.

Bahkan sampai ada yang minta dibelikan motor Ninja! Mantapsoul! Tapi sesungguhnya, gue pun termasuk orang yang mudah terpengaruhi tontonan. Bukti nyatanya adalah ketika gue kecil, gue terpana melihat mobil balap mainan yang bisa nurut apa pun yang diperintahkan empunyanya. Mungkin karena pemiliknya selalu ngikutin kemana pun, sejauh apa pun dan dalam kondisi bagaimana pun mobilnya melaju, makanya mobil itu merasa gak enak kalau gak nurut perintah pemiliknya. Disuruh belok, bisa. Disuruh loncat, bisa. Disuruh terbang sambil muter-muter juga bukan masalah.

Terinspirasi dari hal itu, ketika gue punya salah satu diantara mobil balapnya, yaitu Cyclone Magnum TRF lengkap dengan ban basahnya, gue coba menerapkan apa yang gue tonton. Di jalanan depan rumah, di bawah guyuran hujan, dengan penuh percaya diri gue simpen Magnum di permukaan jalan dan gue lepas. Cyclone Magnum sukses melaju sedangkan gue dengan senyum mengembang berlari di belakangnya. Gue dan Magnum tercinta berlari bersama di bawah rintik hujan. Sungguh, sesuatu yang terlalu indah jikalau dilupakan. Kebahagiaan itu terhenti ketika akhirnya Cyclone Magnum menabrak tembok tiang listrik dan terbalik.

Cylcone Magnum Tercinta

Waktu itu gak ada yang gue pikirin selain ngikutin persis dari apa yang gue tonton dan ternyata sukses. Sekarang gue berpikir, untung waktu itu Magnum gue gak mati karena kemasukan air hujan. Apalagi body-nya penuh dengan bolongan. Ah, sungguh kebodohan yang membahagiakan.

Banyak dari permainan, kegiatan dan benda-benda 'aneh' yang ada pada masa kecil gue yang gabisa diceritain secara detail di sini. Permainan macam bentengan, petak umpet, polisi-polisian, jibeh, lompat tali, layangan, kelereng, gasing, sampai ngejar kelelawar juga pernah gue lakuin.

Gue bersyukur bahwa gue masih punya kenangan indah tentang masa kecil gue. Gue percaya kalau masih banyak orang yang kenangan masa kecilnya kurang mengenakkan. Atau anak-anak yang tidak berkesempatan menikmati masa kecilnya. Seperti di Timur Tengah sana, banyak anak-anak yang sejak kecil melihat rudal berjatuhan dan melihat orang terdekatnya terluka sehingga tak sepenuhnya kenangan masa kecil mereka terisi oleh permainan, melainkan juga oleh duka dan air mata.

Semoga mereka yang mengalami hal demikian, yaitu yang gak bisa menimkati masa kecil secara utuh, kelak menjadi orang yang kuat baik fisik maupun mental. Menjadi orang yang hidup berbahagia sehingga ketika pada waktunya mereka menjadi orang tua dan mempunyai anak, anak-anak mereka dapat menikmati masa kecilnya dengan tenang dan bahagia.

Terima kasih untuk kalian, tontonan yang gak pernah jenuh menghibur gue tiap minggu. Permainan yang gak pernah bosan tuk selalu dimainkan. Teman-teman semasa kecil yang sekarang udah gak ada yang kecil lagi. Terima kasih kalian, atas riang tawa yang kalian bagikan, atas kebahagiaan yang kalian berikan serta atas kenangan indah yang kalian tanamkan. Terima kasih sekali lagi atas masa yang gak akan pernah terulang dan gak akan terlupakan itu.

Sekarang saatnya kembali ke realita, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dan anak kost. Bersiap menghadapi rintangan dan persoalan hidup baru dengan semangat yang membara. 


nb: 15 menit setelah nulis 3 kata terakhir semangatnya udah redup lagi.

Tuesday, October 4, 2016

Sebuah Tulisan Sederhana: Tentang Bahagia


google.com
Menjadi orang yang bahagia mungkin merupakan salah satu tujuan hidup seseorang, termasuk saya. Disamping menjadi manusia yang sukses tentu harus diimbangi oleh kebahagiaan dalam hidup. Apa lah artinya sukses besar dalam karir tapi hati selalu ditutupi oleh awan hitam dan senyum di wajah tak urung tersungging?

Sebelumnya mari telaah dulu arti dari kata ‘bahagia’, yang menurut KBBI, bahagia ialah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan), sedangkan kebahagiaan dapat diartikan sebagai kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin). Dari kedua pengertian tersebut dapat saya simpulkan bahwa rasa senang tanpa perasaan yang damai tidak bisa dikatakan bahagia.

Banyak kita jumpai suatu keadaan dimana seseorang jika sedang bersama kelompoknya ia terlihat paling riang dan tertawa paling lepas, akan tetapi saat ia berada di rumah ia merasa seperti orang yang baru saja berduka dan bahkan lupa cara tersenyum.

Apa dia pantas disebut bahagia? Saya rasa, lantang tawanya hanya sebagai tameng dari kesedihan dan kegundahan yang dia alami.

Ada ungkapan yang menyatakan, “uang tidak dapat membeli kebahagiaan.” Bagi saya ungkapan itu tidak sepenuhnya benar, terkecuali jika orang yang memiliki uang itu bisa menggunakan uangnya dengan baik untuk membuat dirinya senang dan hatinya damai. Contoh kecilnya: bersedekah.

Salah satu faktor orang tidak merasa bahagia ialah karena ia selalu melihat kebahagiaan orang lain dan berharap itu merupakan kebahagiannya juga. Padahal setiap orang punya jalan hidup yang berbeda, rintangan hidup yang berbeda, takaran ujian yang diberikan Tuhan berbeda, kesedihan yang berbeda dan kebahagiaan yang berbeda.

Setiap orang punya bahagianya masing-masing. Ada yang dengan pasangannya ia merasa bahagia. Ada yang dengan kerabatnya ia merasa bahagia. Ada yang dengan kesendiriannya ia merasa bahagia. Ada pula yang dengan melihat atau melakukan hal kecil dia merasa bahagia.

Sekali waktu, ditengah himpitan tugas dan kegiatan kuliah yang padat, saya melihat sebuah video di sosial media yang menggambarkan seorang anak kecil perempuan yang selalu menunggu kakaknya acap kali sang kakak pulang dari sekolah. Ketika sang kakak turun dari bus sekolah, adik perempuannya langsung berlari dan memeluk erat kakanya. Diinfokan bahwa kegiatan tersebut berlangsung setiap hari selama pulang sekolah.

Dari melihat video berdurasi beberapa detik tersebut, tanpa sadar sebuah senyuman tersungging dari bibir saya dan menimbulkan ketentraman dalam hati saya yang ditularkan dari kasih sayang adik dan kakak dalam video itu. Satu oase kebahagiaan sederhana ditengah terpaan kesibukkan kuliah.

Mungkin tidak semua orang merasakan hal yang sama dengan saya ketika menyaksikan video tersebut. Karena itu lah uniknya kita sebagai manusia. Kita punya takaran kebahagiaan sendiri-sendiri. Dan karena menurut saya bahagia itu sesuatu yang abstrak jadi bahagianya saya, belum tentu bahagiamu. Begitu pula kesedihan saya, belum tentu kesedihanmu.

Faktor penting lainnya untuk merasa bahagia ialah senantiasa bersyukur. Ketika merasa dirimu bersedih karena patah hati dan seakan kebahagiaanmu ikut pergi seiring perginya sang kekasih, ketahuilah seperti apa kondisimu pada saat itu? Apa air mata masih mengalir? Apa telinga masih bisa mendengar nasihat orang lain? Apa mulut masih dapat berkeluh kesah? Apa dirimu menangis di atas kasur yang nyaman dan di dalam ruangan yang sejuk?

Jika iya, maka sesungguhnya janganlah terlalu larut dalam kesedihan. Bahwasanya kondisimu masih lebih baik dibandingkan mereka yang sedang diterpa cobaan yang lebih berat, anggaplah sebuah bencana alam. Sadarilah bahwa air mata korban suatu bencana jauh lebih mengiris hati pendengarnya. Membuat meringis siapapun yang melihatnya. Maka janganlah merasa kebahagiaan itu telah sirna. Bukalah hatimu, maka dirimu akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda dari sebelumnya.

Karena kesedihan itu selain menutup pintu kebahagiaan juga menenggelamkan semangat dalam diri. Sesungguhnya setelah malam, terbitlah fajar. Setelah badai, terlukis pelangi. Setelah sedih, datang bahagia. Dan setelah kesulitan ada kemudahan.

Bukan maksud diri tuk menggurui, saya pun terus berusaha memahami dan merasakan makna kebahagiaan sesungguhnya dalam hidup. Sekali lagi, karena menjadi manusia yang bahagia seutuhnya merupakan salah satu tujuan hidup saya.

Lakukan apa yang membuatmu bahagia. Senantiasa lapangkan hati ketika didatangi kesedihan dan selalu yakin tidak ada sedikit pun kebahagiaan darimu yang terenggut dan akan tiba waktunya gelombang kebahagiaan akan datang padamu. Juga hendaklah selalu bersyukur dengan apa yang didapat serta apa yang dimiliki. Karena bersyukur dapat membuat diri tidak merasa kekurangan dalam berbagai hal, termasuk kebahagiaan.





Tuesday, September 20, 2016

Sebuah Tulisan Sederhana: Tentang Waktu

Waktu, salah satu artinya menurut KBBI adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Artinya waktu sangat terkait dengan hidup. Karena hidup manusia tak jauh dari kata proses atau perbuatan. Mulai dari proses penjajakan diri hingga proses pembelajaran semuanya terikat dengan waktu. Bahkan memori manusia terbelenggu oleh waktu. Kali ini gue akan sedikit membahas mengenai waktu.

Sebagai anak rantau, gue semakin menyadari betapa berharganya waktu. Bahkan unutk sepersejuta detik pun gue berusaha menikmatinya. Acap kali saat libur semester tiba, dan rumah menjadi destinasi liburan terbaik, waktu seakan menjadi ‘barang mahal’ dibanding apapun di dunia, bahkan berlian termahal pun tak mampu menyainginya. Waktu seakan mendekap diri gue erat dalam ikatan kebersamaan keluarga. Gue sadar, saat seperti itu gak berlansgung selamanya -pada kondisi ini. Semua kehangatan itu dapat sirna hanya dalam hitungan menit. Keinginan menghentikan waktu hanya berupa angan belaka yang mungkin juga terbesit dalam pikiran beberapa orang. Prinsipnya kuat, waktu akan terus berjalan sampai sang Pencipta yang menghentikannya.

Waktu terkadang membuat gue merasa tergelitik, ketika sadar berkatnya gue dapat berada di dua tempat berbeda, dua situasi kehidupan yang berbeda hanya dengan satu pejaman mata. Ia juga membuat gue sadar betapa cepatnya tahun berganti, umur bertambah dan tren masyarakat berubah. Tanpa disadari, gue udah selesai pada setengah jalan di dunia perkuliahan dan bersiap menaklukan setengah berikutnya.

Menurut gue, waktu punya dua sisi yang berlainan, seperti sisi baik dan jahat. Kadang waktu membuat seseorang bergembira karena pekerjaan, perbuatan atau doanya dijawab olehnya dengan memberikan sesuatu yang mereka impikan. Di sisi lain, waktu seakan membawa kita kembali ke masa yang tak ingin lagi kita kenang bahkan ia sengaja ‘memenjarakan’ kita di sana dan membawa kepedihan dan kesedihan yang nyata.

Waktu juga tak punya batasan yang jelas dan terkesan abstarak. Seperti zaman, apakah satu zaman punya periode tetap? Sekali waktu kita melihat fenomena yang terjadi sekarang mendapat banyak sorotan dan tak sedikit juga yang berucap, “zaman sekarang, gak seperti zaman gue dulu, zaman sekarang moralnya sudah pada rusak.” Padahal jarak antara zaman sekarang dengan zaman orang itu hanya berjarak kurang dari satu dekade. Memang, zaman bisa diartikan jangka waktu tertentu (bisa panjang atau pendek). Tapi apa berarti dalam jangka katakanlah, dua tahun, jika tren dan kebiasaan masyarakat berubah pesat bisa dibilang itu adalah zaman baru? Apakah itu kuasamu, wahai waktu? Membuat pergerakan demikian cepat, menyeret manusia membuat arus baru yang merubah lingkungannya sendiri?

Gue juga menyadari, waktu punya peran penting dalam hidup gue pada khususnya. Ia menjadi salah satu faktor utama dalam membentuk diri serta pola pikir, disamping pengalaman dan usaha kemandirian. Gue yang sekarang berbeda dengan gue setahun lalu atau bahkan berbeda dari lima menit lalu. Sedangkan masa depan masih samar seperti oase padang pasir.

Gue meyakini bahwa hidup pada saat kini adalah yang terbaik. Karena hidup adalah sebuah kepastian yang harus dijalani, sedalam apapun jurang yang menunggu, seterjal apapun batu karang yang menghantam dan setinggi apapun benteng menjulang yang menghadang, hidup adalah hidup, sebuah konsep perjalanan yang ditemani waktu sebagai pendamping. Dan perjalanan ini akan menghanyutkan kita menuju akhir yang abstrak dan penuh pengharapan.

Karena hidup di masa lalu hanya menimbulkan aura pesimisme. Membuat pikiran berkutat dengan penyesalan. Tiap keping kenangan hanya melahirkan kekecewaan. Kenangan manis yang terlintas terlalu sayang untuk dibuang dan kenangan pahit yang membelenggu terlampau sakit untuk terjadi kembali.

Hidup adalah sebuah proses. Dimana masa lalu merupakan ‘literasi’ pribadi untuk pembelajaran dan jadikan masa depan sebagai sebuah rancangan, bukan kepastian. Berharap dengan ‘literasi’ tersebut akan menjadi sesuatu yang berharga pada saat yang akan datang.

Speaking about time
What we have is just present
The past is history and the future is none of ours
Life goes on, but still not yet on our own
What will be, will be
What should be then, let it be
We’re here in the present, no other time than now


Referensi:
- Pemikiran dan kegelisahan pribadi
- dkelana.wordpress.com/2010/09/06/konsepsi-waktu/

Masalah Klasik Dunia Literasi Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim.

Sehubungan dengan kegelisahan yang akhir-akhir ini meresahkan jiwa dan akhirnya menuangkan sedikit pemikiran ke tempat ini. Bahasan ini merupakan bahasan yang sudah sering kali dikaji dan dibicarakan. Bahkan sudah terdapat ribuan tulisan mengenai topik ini di mesin pencari Google, yaitu membaca.

Dengan menggunakan keyword ‘minat membaca’ di Google, kita akan mendapatkan banyak hasil telusuran dari berbagai website, namun hampir semuanya merujuk pada satu judul, ‘Minat Baca Di Indonesia Rendah.’

Memang benar jika tinjauannya adalah buku, maka minat membaca bangsa ini bisa dikatakan rendah. Menurut data dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia.

UNESCO melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 persen! Tepatnya 0,001 persen.

Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun.

Ini persoalan penting, ini perkara genting. Soal minat baca memang terlihat tidak semendesak persoalan energi atau pangan. Tapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah?

Meskipun demikian, jika konteknya diperluas -tidak hanya buku, maka data di atas tidak dipergunakan. Seperti yang dikatakan Windy Ariestanty, Pemimpin Redaksi Gagas Media berikut ini,

“Sekarang di era kemajuan teknologi, kita dapat membaca apapun di internet, baik itu artikel, berita, atau e-book. Kalau kita masih menyempitkannya pada membaca buku, jumlah buku yang terbit memang belum sebanding dengan jumlah penduduk di Indonesia,” imbuhnya.

Windy juga mengungkapkan, ada dua kekeliruan yang muncul dari data di atas. Pertama, konteks minat baca selalu dipersempit untuk membaca buku. Padahal, minat baca sejatinya tidak hanya dilihat dari seberapa sering seseorang membaca buku.

Kekeliruan kedua terletak dari karakteristik minat baca seseorang. Seringkali seseorang memandang rendah minat baca orang lain dilihat dari apa yang dibacanya. Windy menjelaskan, seseorang yang membaca buku-buku yang ringan jangan lalu dianggap memiliki selera membaca yang rendah.

Dengan kata lain, membaca tulisan ini sampai selesai saja sudah mengindikasikan bahwa masyarakat kita masih ada minat untuk membaca. Bahkan untuk hal paling sederhana sekali pun; membaca status di media sosial hingga caption nan panjang di instagram.

Namun pada akhirnya, sebaik-baiknya orang yang membaca adalah orang yang mampu memahami, merangkum dan menceritakan kembali apa yang telah ia dapat kepada orang lain dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahan isi dan sumbernya.

Internet memang memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Namun bagi saya, itu saja tidak cukup. Kelihaian media dalam menyunting informasi sebelum dipublikasi sangat berpengaruh dengan hasilnya sehingga membuat ‘kedahsyatan’ informasi itu berkurang. Ditambah mayoritas dari media hanya mengejar rating semata tanpa memperdulikan apakah isinya bermanfaat atau tidak membuat buku semakin berharga di mata saya.

Saya sendiri menyesal terlambat menyelami dunia literasi. Pepatah mengatakan, 'buku merupakan jendela dunia', ya, buku sebagai media untuk melihat dunia lebih luas tanpa harus menggerakan apapun melainkan pikiran dan imajinasi. Terkadang saya berpikir, dengan jam terbang membaca saya yang minim seperti sekarang ini, sudah seluas apa dunia yang saya lihat? Jika buku adalah jendela dunia, mungkin kini saya hanya dapat ‘mengintip’ dari balik gorden jendela. Namun, hasrat untuk melihat dunia seluruhnya selalu ada dan tetap terjaga.

Ada dual hal utama yang membuat saya begitu mencintai buku, yaitu rasa iri dan keingintahuan yang hebat. Saya iri apabila melihat orang yang lihai berbicara tentang A, padahal cabang ilmu yang dia kuasai B. Contoh sederhananya seperti anak teknik yang paham betul politik dan filsafat. Sehingga membuat dirinya dipenuhi oleh pengetahuan. Karena buku merupakan gudang ilmu, gerbang utama yang menuntun pada cakrawala tak terbatas.

Kedua ialah rasa ingin tahu. Saya membaca kembali perjuangan bangsa ini ketika melawan kolonialisme dahulu karena saya penasaran dengan kisah yang membuat saya dapat hidup tanpa tekanan penjajah sekarang ini. Saya pun yakin bahwa sejarah bangsa yang ada pada buku sejarah sekolah sudah mengalami penyuntingan sana-sini.

Hal unik dari sebuah buku ialah ketika saya membaca buku mengenai A tapi di dalamnya ada tokoh B, C dan seterusnya, hal tersebut memancing gairah keingintahuan saya sehingga memutuskan membaca buku tentang tokoh tersebut. Bagi saya ini merupakan sebuah alur yang immortal.

Di Surabaya, Jakarta, dan di kota-kota yang lain, ada orang-orang dengan semangat serupa yang gigih mengkampanyekan pentingnya membaca. Tanpa dibayar, bahkan mesti keluar uang untuk membeli buku dan ongkos ini itu, mereka dengan keras kepala mengantarkan buku-buku kepada siapa pun yang mau membaca. Bahkan, gangguan aparat tidak menyusutkan semangat mereka dalam menyebarkan ilmu pengetahuan. Karena membaca adalah melawan.

Negara kita berdiri dengan perjuangan para pemikir dan ‘kutu buku’. Mempertahankan keteguhan negara ini juga demikian. Menjadikan budaya membaca sebagai senjata menenggelamkan ‘budaya korupsi’ adalah tugas bersama. Terlampau banyak buku tersedia, tapi apalah arti buku tanpa pembacanya? Ia hanya akan menjadi arsip semata. Laksana raga tanpa jiwa, yang ada hanyalah hampa. Membuat negeri literasi tidak dimulai dari besok atau pun lusa, melainkan sekarang!

“Kalau sebuah bahasa dengan kesusasteraannya tidak didukung oleh tradisi membaca masyarakatnya, maka kematiannya akan segera menyusul.” – Ajip Rosidi.



Referensi:

---http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/18/11140791/menikam.kolonialisme.dan.merdeka.dengan.buku
---http://www.unpad.ac.id/2014/04/siapa-bilang-minat-baca-masyarakat-indonesia-rendah/

Sunday, September 11, 2016

Alur Penghidupan

Malam ini kuguratkan pena
Di atas kertas suci
Berlandaskan sunyi
Berselimutkan malam
Tulisan penghidupan, niatku

Pena meliuk
Garis hitam bergandengan
Seperti muara hidup
Entah apa ujungnya

Aku tak sendiri
Dewi malam bersamaku
Dengan tarian nyata
Menuntunku pada tiap aksara baru

Tapi malam terlalu beringas
Mendekap sang dewi
Lalu dihunuskan angin itu

Aku sendiri
Dewi malam tiada, arahku pun jua
Namun aku tak berhenti
Tiada jurang dalam bagiku

Ah!
Ternyata di sana sandingan sang dewi
Syukurlah, ia kembali
Dari ketiadaan yang hampa
Lintasanku terlihat
Aral makin tiada menghadang
Beginilah sekiranya
Tulisan penghidupan itu

Tuesday, September 6, 2016

Kata Siapa?


google.com

Kata orang, cinta dapat menerbangkan sukma ke angkasa
Tapi langit seakan runtuh ketika angan tak sampai
Kata orang, cinta dapat menumbuhkan semangat hidup
Tapi mudah meredupkannya dengan sejumlah aksara
Kata orang, cinta dapat memperlihatkan dunia penuh warna
Tapi kadang hanya hitam-putih adanya
Kata orang, cinta dapat membuat pikiran syahdu
Tapi persetan dengan mereka yang resah karena cinta
Kata orang, cinta itu perilhal jujur dan setia
Tapi penuh atas dusta serta fana belaka
Kata orang, cinta sejati akan hadir pada waktunya
Tapi bertebar nafsu berkedok ‘cinta sejati’
Kata orang, jangan mudah percaya cinta
Tapi kenapa aku harus mendengarkan kata-kata mu?
Kata orang, yakinlah pada dirimu sendiri
Tapi aku terlalu rapuh untuk melangkah
Aku bahkan tak tau makna sejati satu kata ini
Tapi aku percaya akan keteguhannya