Saturday, June 24, 2017

Chapter VIII - Decision


Chapter I-VII bisa dilihat pada tag series.

---

Andre

Ndre, i was married...

Satu kalimat singkat yang masih melekat dipikiran gue hingga detik ini. Apa yang ia katakan setelahnya gue anggap sebagai remeh temeh belaka. Namun mengetahui bahwa ia pernah menikah? What the fuck...gue sama sekali nggak pernah terbayang mengenai hal ini. Bahkan pikiran busuk gue kalau ia menjadi korban pembunuhan dan jasadnya tak pernah ditemukan terdengar lebih masuk akal dibanding dengan kenyataan bahwa ia pernah menikah dengan...dengan seorang cowok yang bahkan nggak pernah ada di lingkaran hidupnya. 

Ah...anjing.

“Aku begini karena terpaksa, Ndre...,” persetan. 

Mungkin alasannya dapat diterima jika ia bercerita dengan orang yang secara langsung tidak terlibat dalam skenarionya. Huh, skenario...berarti penuh dengan kebohongan. Tapi alasan itu nggak dapat gue terima. Oleh pikiran gue. Oleh hati gue. Karena di sini gue berperan sebagai tokoh utama, atau lebih tepat; seorang main character yang nggak tau akhir dari peran yang ia jalani.

Seandainya ia berkata jujur sejak dulu, mungkin gue secara sukarela mundur dari kehidupannya. Terdengar begitu mudah. Atau mungkin dikarenakan sekarang gue menghadapi kondisi yang jauh lebih buruk daripada itu, sehingga apa yang tadi gue katakan terdengar mudah dilakukan? Entahlah. Tapi yang pasti, ditinggalkan tanpa alasan dan datang kembali membawa alasan tersebut itu sungguh menyakitkan.

“Tuh kan, Yan, ini anak nggak bisa ditinggalin sendirian sekarang. Takut gue.”

“Iya, gue juga khawatir...hoi, bangun!”

Gue tersadar ketika Dian menyetakkan jarinya tepat di muka gue. “Eh, sorry,” ucap gue menyadari makna tatapan ‘tuh kan’ teman-teman gue.

“Tuh kan...gue bilang juga apa. Lagi rame begini aja masih bisa bengong, gimana kalau sendirian. Setan juga kayaknya capek mau masuk ke badan dia,” Rama yang duduk berhadapan dengan gue menghembuskan asap rokoknya ke langit-langit.

“Ndre, nggak usah terlalu dipikirin, okey? Sekarang lo lagi sama kita-kita, lupain sejenak pembicaraan lo sama Laila tempo hari,” tangan Dian menepuk bahu gue dan menatap gue dengan tatapan keibuan khas dirinya.

Gue mengangguk perlahan. Gue nggak mau ngerepotin mereka lebih jauh lagi. Meskipun gue sedikit kurang suka saat Dian menyebut nama itu. Nama yang kini berusaha gue hapus dari memori gue.

Namun tak kunjung bisa.

“Eh, waiters di sini cakep juga. Jomblo nggak yah dia?” disaat Rama dan Dian mengkhawatirkan gue, Richard terpaku memandang seorang wanita dibalik mesin kasir.

“Si kampret malah ngeliatin anak orang lagi. Di sebelah lo itu loh ada teman kita yang lagi bermasalah. Fokus woy!” segepal tisu lemparan Rama mendarat tepat di muka Richard.

“Gue udah kesambet sama senyumnya doi, Ram...nah...nah, dia ngeliat ke arah gue kan!” tubuh Richard bergoncang kegirangan dan secara tak sadar ia menepuk bahu kiri gue berulang kali.

“Itu karena dia ngerasa diliatin sama orang freak, bego! Lo ngeliain dia lima menit lagi juga dia minta resign ke bosnya,” balas Rama.

“Biarin kali, Ram, Richard kan punya masalahnya sendiri. Kasihan juga dia udah lama nggak punya gandengan.” Gue menangkis tangan tepukan Richard dari bahu gue karena mulai merasa anak ini sengaja mau nyakitin gue.

“Loh, kata siapa udah lama nggak punya gandengan? Bukannya baru 3 bulan lalu, ya? Tapi...” Rama menahan kalimatnya.

“Tapi nggak taunya si cewek agen MLM yang lagi nyari korban baru,” timpal Dian cepat, membuat meja kami menjadi penuh oleh tawa.

“Bangsat kalian semua ya,” geram Richard.

Love you too, Chard,” Rama masih terpingkal. Karena menghina Richard adalah salah satu hal yang ia sukai--selain tidur dengan wanita tentunya.

Berada di antara mereka membuat gue bisa sedikit melupakan pertemuan itu. Pertemuan pertama gue dengannya dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Meskipun bayang-bayang malam itu kerap melintas dipikiran gue. Jujur, gue berharap bisa masuk ke bagian hipokampus di otak gue untuk membuang memori akan pertemuan itu. Enggak...mungkin memori gue secara keseluruhan dengan dia. Sial, bahkan sekarang gue enggan menyebut namanya.

---

Setelah sekian lama, gue kembali lagi ke sini. Kota penuh cerita akan masa kuliah gue dulu. Kota dimana gue bertemu dengannya, kemudian mulai merajut mimpi bersama serta saling mengisi kehidupan satu sama lain.

Gue sebetulnya bisa saja menolak manggung di acara clothing festival yang baru saja diselenggarakan. Teman-teman pun bahkan sampai menanyakan ketersediaan gue untuk menerima tawaran ini. “Yakin lo, Ndre, mau main di Jogja?” Dian memastikan berulang kali dan gue iyakan berulang kali pula. 

Seperti yang telah gue katakan, gue nggak mau ngerepotin sahabat gue, terutama jika sudah masuk ranah band. Meskipun gue punya alasan untuk menolak tampil di sini; gue kurang suka sama set-list acaranya. Dimana Alchemy tampil setelah Raisa dan sebelum DJ Una. Random abis. Entah kenapa gue pribadi kurang sreg kalau berada satu panggung dengan musisi lain yang genre musiknya saling berbeda. Tapi gue nggak pernah mengungkapkan hal ini. Selama personil lain dan Dian setuju, gue memilih untuk diam dan mengikuti saja.

Pada hari H, gambaran gue tentang acara itu menjadi nyata; dede gemesh penggemar Raisa mundur untuk kemudian digantikan segerombolan anak muda dengan pakaian serba hitam yang segera membentuk circle pit dan mosing ketika musik kami bergema. Setelah kami selesai mereka mundur dan digantikan oleh kelompok anak muda lainnya untuk sama-sama mengangkat tangan ke udara sambil geleng-geleng kepala mengikuti flow musik yang naik turun. Asli..random.

“Itu penggemarnya Raisa nggak usah mundur! Kita mau bawain album Raisa versi rock!” teriak Rama di atas panggung. Penonton tertawa. Gue geleng-geleng kepala.

---

Sebetulnya gue enggan singgah terlalu lama, tapi Dian dan Bram ingin sedikit nostalgia dengan Jogja. Rama mengatakan ia juga butuh jauh-jauh dari Serang. Sedangkan Richard ingin mencari pacar di Jogja. Gue yang tak ingin merusak keinginan mereka memutuskan untuk diam. 

Maka di sinilah kami, bercengkrama di sebuah coffee shop di daerah Pogung. Hanya Bram yang tidak ikut karena ia mengunjungi pacarnya yang notabene merupakan adik tingkat Bram semasa kuliah dulu.

Jogja adalah kota romantis. Itu sudah hakekatnya. Namun pandangan gue terhadap kota ini agak melenceng dari semestinya. Jogja dan kenangan seperti sudah tak bisa dipisahkan. Dan kenangan, adalah musuh terbesar gue saat ini.

Bagi gue sekarang, Jogja merepresentasikan kesedihan.

Aspal jalanannya menyimpan jejak langkah gue dan dia. Nafas kami yang pernah menyatu dengan udara sejuk Jogja malam hari. Tiap elok jalanannya yang pernah kami sanggahi untuk memastikan kebenaran sisi romantis Jogja--dan kami berbagi tawa saat itu.

Ah, anjing! Kenapa gue jadi sentimen gini sih?

“NDRE!”

Gue tersentak.

“Belum lama setelah bengong pertama, sekarang malah kambuh lagi,” kata Rama.

“Apa kita pulang aja? Mungkin lo emang lagi belum bisa ada di kota ini lagi, Ndre,” Richard menambahkan sembari menyeruput kopinya.

Gue mengambil bungkus rokok di hadapan gue, lalu menyulutnya. “Nggak usah, Chard. I’m okay, kok.” Gue mencoba tersenyum meyakinkan mereka.

“Kan, tau gini tadi kita ke Liquid aja,” ujar Rama.

“Ogah.”

“Kenapa? Masih nggak mau mengunjungi tempat yang ada alkoholnya?” balas Rama dingin.

“Lo tau sendiri gue gimana,” gue berujar singkat. Gue memang bukan peminum. Bahkan untuk mengunjungi tempat yang menyediakan alkohol gue kerap menolak.

“Iya, justru karena gue tau lo gimana makanya gue ajak ke sana. Yang gue tau, Andre yang sekarang itu cuma cowok melow yang dengan mudahnya melanggar prinsip yang selama ini dia pegang.” Gue menatap nanar ke sembarang arah, namun gue tau kalau Rama melayangkan pandangan tajam pada gue.

“Yang gue tau, Andre itu juga anti sama rokok dan selalu menolak kalau disodorkan rokok bahkan dengan kita-kita. Bukan orang yang dengan kesadaran penuh mengambil sendiri bungkus rokok di hadapannya yang bahkan bukan miliknya...” Rama menahan kalimatnya. Gue masih belum melihat ke arahnya. “So, nggak nutup kemungkinan kalau Andre yang seorang anti alkohol pun bakal ikut minum saat berada di lingkungan yang mendukung.”

“Ram, udah.” Dian membuka suara. Terdengar berusaha menenangkan seperti semestinya.

“Huh, bangsat...lo nggak tau gimana rasanya aja,” sebuah kalimat meluncur begitu saja dari mulut gue.

“Gue tau...”

“Lo tau karena dia udah cerita ke lo duluan, gitu? Biar lo bisa ada dipihak dia dan ngeyakinin gue untuk balik lagi sama dia? Iya?” Gue menatap Rama. Rama tercengang ketika gue memotong ucapannya. Tergambar raut keheranan pada wajahnya ketika mendengar perkataan gue. Namun dalam sekejap ia bisa kembali menguasai ekspresi wajahnya dan kembali menunjukkan tatapan elang miliknya pada gue.

“Maksud lo apa?” ujarnya dingin.

“Lo jadi orang pertama yang dia pilih buat diajak bicara. Hahahaha. Lucu. Dan lo nggak ngasih tau ke gue tentang pertemuan itu,” gue mengalihkan pandangan lagi. Richard dan Dian tampak khawatir dengan aura ketegangan yang semakin terasa diantara kami.

“Kok jadi ke gue?” Rama meninggikan nada bicaranya. Rokok yang masih setengah dalam jepitan jemarinya pun ia gerus. Gue tau, kalau ia sudah begini, berarti ia tengah kesal dengan lawan bicaranya.

Gue melempar senyum sinis. “Karena lo seakan membenarkan apa yang telah dia lakukan terhadap gue. Atau mungkin selama ini lo turut berkomunikasi diam-diam sama seperti Nadine yang juga membohongi gue?” ada perasaan aneh yang menyelimuti gue. Ada emosi yang ingin gue luapkan. Gue tau ini salah. Gue sadar apa yang terlontar dari mulut gue adalah sebuah kesalahan besar. Tapi semuanya keluar begitu saja tanpa merasa bisa ditahan.

“Tai lo, Ndre,” Rama bangkit dari duduknya. “Lo yang sekarang bukan lo yang gue kenal sebagai sahabat gue. Ini semua masalah lo dengan masa lalu lo. Ini semua tentang ego lo yang menolak menerima kenyataan. Ini semua mengenai kebebalan hati lo sehingga mulai menyalahkan sekitar lo!” Ia mengacungkan telunjuknya ke arah gue. Suaranya meninggi mengakibatkan kami menjadi fokus bagi pengunjung lain. Terlihat para barista saling berbisik, mungkin bingung bagaimana harus bersikap kepada kami. Dan beruntung malam sudah larut sehingga tempat ini tidak seramai beberapa jam lalu. 

“Anjing. Mood gue rusak di sini. Gue cabut duluan,” Rama bergerak meninggalkan kami. Tak ada satu pun dari Dian atau Richard yang menahannya.

“Duh...kok jadi gini sih...,” Richard mengusap keningnya yang berkerut, sedangkan Dian seakan tercekat dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata dari mulutnya. Gue tau, gue telah membuat runyam keadaan. Gue tau bahwa gue salah. Tapi entah mengapa gue enggan mengakui ini sebagai salah gue.

Sorry udah buat chaos,” gue mendengus. “Gue cabut duluan juga ya. Maaf sekali lagi.” Gue beranjak sebelum ada respon dari Dian dan Richard. Gue memutuskan untuk kembali ke hotel yang berada di jalan Margo Utomo.

“Maaf ya, Mas, Mbak, Ded, udah ngebuat sedikit keributan di luar.” Gue juga meminta maaf kepada barista dan pemilik kedai saat berpapasan.

---

Setiba di kamar gue terduduk di tepi ranjang dengan kepala merunduk. Mengutuk kebodohan yang baru saja gue perbuat. What the hell happened to me? Kemana Andre yang biasanya, Ndre?

Berada dikesendirian memaksa memori terbang kembali ke malam itu. Satu malam ketika Kronology Coffee disanggahi tamu mengejutkan. Tamu yang sejujurnya dinanti, tapi bukan dengan cara seperti ini.

“Selamat datang, Kak, silahkan mau order apa? Kebetulan kita sudah last order ya, Kak,” terdengar Alika mengucapkan kalimat sambutan pada pelanggan yang baru datang. Gue yang sedang merapikan barang dan melakukan cek beberapa inventory di ruang belakang segera melirik arloji. “Gila, orang ini nggak tau atau sengaja nih baru datang jam 11?” gue menggerutu. Jujur, gue kurang suka jika mendapat pelanggan yang datang menjelang closing time kafe.

Gue masih disibukkan dengan kegiatan gue sehingga tak sempat melirik ke luar untuk memastikan siapa yang datang. Karena biasanya pelanggan yang datang selarut ini merupakan segerombolan anak muda atau mereka yang biasa disebut ‘pendekar kopi’ di kota ini.

Cukup lama tak terdengar adanya transaksi di kasir sebelum...ah! Wangi ini...gue hafal dengan wangi parfum ini. Wangi parfum yang terakhir kali masuk melewati cuping hidung gue dua tahun lalu. Gue masih meneruskan apa yang sedari tadi gue lakukan, meski dengan perasaan gelisah dan tangan yang mulai gemetar.

“Aku order Laila Speciality.” Gue berhenti seutuhnya mendengar suara itu. Suara lembut itu. Tubuh gue mendadak kaku. Tremor di tangan gue semakin jadi. Jantung gue berdegup lebih cepat. Nggak salah lagi...itu pasti dia.

“Eng...maaf, Kak, kita nggak ada menu itu,” tentu nggak ada, Alika. Nggak ada satu pun yang tau menu itu selain gue dan gue nggak pernah mengumbar mengenai kisah cinta masa lalu gue selain kepada sahabat-sahabat gue.

Laila speciality...sebuah menu imaji yang pernah gue ucapkan ketika kami terlibat pembicaraan sore hari penuh canda tawa di teras kos gue dulu. Sebuah kolaborasi antara pisang goreng, kopi tubruk, senja dan dia yang membuat sore itu menjadi sempurna.

“La, nanti di kafeku akan ada menu dengan namamu sebagai bagian dari signature drinks. Sekaligus, membawa sebagian dari kamu bersemayam di sana,” senyum gue padanya kala itu sambil menyeruput kopi tubruk.

“Hmmm, mulai deh gombalnya si Bapak. Lagian kayak aku udah mati aja pakai kata bersemayam segala,” sahutmu dengan senyum indah itu. “Lagian emang signature drink gimana coba?” kamu melanjutkan.

“Belum kepikiran sih, La. Mungkin campuran velvet sama espresso gitu. Kamu suka velvet dan aku tetap menggunakan base kopi. Cocok nggak?”

“Enggak!” kamu menyumpalkan sepotong pisang goreng ke mulutku sembari menampilkan ekspresi menggemaskan. Tentu siapa yang bisa kesal jika kamu menunjukkan wajah menggemaskan itu?

Ah, good old days.

Kembali ke malam itu, setelah menyuruhnya duduk, gue mulai membuat pesanan. Alika dan para barista gue memerhatikan gue dengan ekspresi heran sekaligus bingung.

Laila Speciality telah berada di atas baki. Akan tetapi gue masih terpaku menatap minuman berisi red velvet, kopi dan kenangan ini.

“Bang? Ini aku serve sekarang?” pertanyaan Alika menyadarkan gue.

“Nggak usah, Ka. Kali ini biar aku yang ngantar,” gue coba menciptakan senyum senatural mungkin. Raut wajah Alika tak berubah, seakan masih menyimpan berbagai pertanyaan yang menunggu waktu untuk diutarakan.

Gue menghela nafas. Mencoba menghadapi sosok nyata dari bagian diri gue yang hilang dua tahun lalu. Gue bahkan belum saling melempar tatap dengannya, gue hanya baru berjumpa dengan wangi parfum dan suara lembutnya saja.

Langkah gue sempat terhenti ketika gue secara langsung melihat sosoknya duduk membelakangi pintu kaca di bagian smoking area kafe. Rambutnya kini dipotong pendek. Gue membawa kaki yang kian berat melangkah menuju meja itu. Semakin dekat, tangan gue semakin bergetar.

Here’s your coffee,” adalah kalimat pertama gue kepadanya setelah dua tahun berlalu.  Kali ini jarak gue dengannya begitu dekat. Wangi tubuhnya pun semakin menusuk indra penciuman gue. Dan diantara kami ada kenangan yang menyeruak ke udara.

Saat itu pula gue kehilangan kendali. Air mata itu tak tertahankan. Gue benci dengan air mata, karena ia dapat keluar sesukanya disaat kita tidak menginginkannya. Gue mencoba tegar, tapi semakin gue mencoba, maka kerapuhan gue semakin tampak.

Malam itu, ia menceritakan segalanya. Merobohkan dinding besar yang selama ini membatasi kami. Dari masa lalunya yang tak pernah ia bagi kepada gue, hingga kehidupannya berumah tangga dengan seorang pria lain dan tinggal di suatu daerah di Prancis selama dua tahun menghilang bak ditelan bumi. Dan memang pantas tak ada kabar, Prancis, bro, haha, siapa yang nyangka? Tolol banget gue nyangka dia mati.

Tak pula banyak kata yang gue ucapkan. Gue lebih banyak terdiam menatap kosong ke berbagai arah dengan telinga terbuka lebar mendengar kebenaran yang menyakitkan.

“Sudah hampir pagi, sebaiknya kita pulang,” gue berdiri dari kursi dengan pandangan melayang ke lantai.

“Ndre...,” gue mengindahkan panggilannya dan mulai melangkah keluar. Mau tak mau ia mengikuti gue untuk menyudahi pertemuan menyakitkan ini.

Sudah sebulan sejak gue bertemu dengannya, tak ada hari tanpa memikirkan malam itu. Gue bingung bagaimana harus bertindak selanjutnya. Sosok yang gue rindukan kini telah kembali, tapi ia sekarang tidak sama dengan ketika ia pergi dahulu. Ada lubang besar yang terbentuk dan sulit untuk ditutup kembali.

“Ndre?” Rama melongok dari balik pintu kamar.

“Eh, Ram, masuk.”

“Lo nggak apa-apa?” gue mengangguk lemah.

“Gue minta maaf soal tadi. Gue juga nggak tau kenapa gue jadi sensitif kayak cewek gini,” ujar gue malu.

“Iya, geli gue kita marahan kok kayak cewek. Mending adu pukul sekalian daripada bentak-bentakan doang,” Rama berdiri bersandar pada dinding di dekat gue.

“Yaudah hayu berantem biar gentle dikit,” gue lirik Rama sambil tersenyum.

“Nggak lah, bisa dibantai gue sama lo. Badan gue kurus gini,” gue terkekeh. “Maaf juga tadi gue udah buat malu ngomong segitu kerasnya di tempat umum.”

“Gimana rasanya, Ram? Nggak enak, kan? Tadi itu lo baru pertama ya ngomong dengan nada tinggi di depan umum dengan kesadaran penuh?” 

“Hehehehehe, jadi gitu yah rasanya, mending nggak sadar sekalian deh,” Rama menggaruk bagian belakang kepalanya. Bukan hal baru kalau ia sering meracau di tempat umum. Tapi jika ia begitu tanpa pengaruh alkohol, kejadian di coffee shop tadi adalah yang pertama.

“Anjing, nggak gitu juga,” kami tertawa.

---

Gue dan Rama menghabiskan malam di pekarangan hotel dengan berbungkus-bungkus rokok dan beberapa gelas kopi. Benar kata Rama, ini hanya masalah gue dengan masa lalu gue dan apa yang akan gue lakukan untuk masa depan gue. Saat ini seakan semuanya menjadi satu; masa lalu, kini dan esok.

Dan sekarang, bergantung pada bagaimana tindakan gue menghadapi situasi pelik ini.

Memafkaan meski sulit?

Atau

Melepaskan?

to be continued

Sunday, June 11, 2017

Tentang Kopi


source: genesistransformation.files.wordpress.com
Akhir-akhir ini gue sedang sibuk bermain dengan kopi. Bukan, bukan karena gue nggak punya teman manusia lain sehingga gue memutuskan untuk berteman baik dengan kopi (which is juga menyenangkan), melainkan karena gue kembali merasakan perasaan yang sama seperti ketika gue bertemu dengan dunia tulis menulis dulu. Atau secara singkat; gue jatuh cinta dengan kopi.

Sebetulnya gue udah lama gemar minum kopi, tapi hanya sebatas itu saja; seorang penikmat kopi. Namun sejak gue mencoba mencari tahu lebih dalam tentang kopi, mulai dari bentuk ceri hingga tersaji dalam gelas, rasa itu mulai timbul. Rasa ingin tahu lebih dan lebih lagi tentang kopi. Berbagai pertanyaan tak henti bersua di dalam kepala gue, seperti kenapa rasa antar biji kopi bisa sedemikian berbeda? Kenapa ada kopi yang memiliki rasa selayaknya teh? Padahal jelas-jelas itu kopi? Kenapa suhu berpengaruh pada metode filter, dan banyak kenapa-kenapa lain yang singgah di kepala dan menunggu antrian untuk diutarakan.

Sejak itu pula gue memulai kembali kebiasaan lama yang sempat terhenti, keliling kedai kopi di Jogja untuk menikmati kopi mereka dan bercengkrama dengan mereka yang meraciknya. Semakin gue mendalami kopi dan semakin intensnya gue mengunjungi kedai kopi, gue turut memerhatikan pengunjung lain yang juga datang ke kedai tersebut. Apa yang mereka pesan, apa yang mereka kerjakan atau lakukan dan bersama siapa mereka menghabiskan waktunya--juga secangkir kopi, di kedai kopi tersebut.

Sebuah pernyataan pernah dilontarkan oleh Ben, karakter dari film Filosofi Kopi, yang mengatakan bahwa kopi yang nikmat akan bertemu dengan penikmatnya sendiri. Gue percaya itu. Gue percaya kalau ada orang yang datang ke kedai kopi hanya untuk mencicipi espresso-nya. Ada orang yang tidak suka kopi yang terlalu pahit sehingga ia lebih memilih cappuccino atau latte. Ada yang suka berbagai single origin dengan seduhan filter dan mencoba menikmati keanekaragaman rasanya. Dan ada juga yang suka kopi tubruk dengan pisang goreng dan sebatang rokok sebagai pelengkapnya.

Entah apapun yang dipesan, semua kembali kepada selera serta lidah orang itu sendiri. Setiap kopi punya penikmatnya sendiri.  Setiap hati pasti punya pasangannya sendiri. Tiap gue mendengar orang berkata, "Ah, kopinya nggak enak. Pahit banget." Di situ gue berpikir kalau itu bukan salah kopinya, karena gue percaya kopi tidak pernah salah. Bisa jadi yang menurut dia pahit, dapat terasa enak di lidah gue. Mungkin kalau ia mencoba 'kopi manis' seperti cappuccino, mungkin ia akan berpendapat sebaliknya, "Ini dia! Ini baru enak." Karena kopi tidak pernah salah, ia hanya belum berjumpa dengan penikmatnya saja. Selayaknya hati, hati tidak pernah salah, ia hanya belum berjumpa dengan takdir sejatinya saja.

Keinginan gue sebagai penikmat kopi perlahan merangsek ingin menjadi bagian dari mereka yang berdiri di belakang bar dengan dedikasi tinggi serta apron yang melekat di tubuhnya. Mimpi gue sudah berada jauh di depan sana, tapi untuk mencapai hal itu gue menyadari bahwa gue masih perlu banyak belajar. Belajar untuk lebih menghargai kopi, dan menghargai pembuatnya, serta mereka yang pertama kali menanam tanaman kopi di perkebunan sana.

Tulisan ini dibuat berdasarkan kecintaan gue terhadap kopi yang semakin bertambah belakangan ini. Gue yakin pada secangkir kopi, selain terdapat kafein, di situ juga mengandung cinta pada tiap tetesnya. Cinta yang kelak mempertemukan kopi dengan penikmatnya. Siapa tahu juga mempertemukan antar penikmatnya. Di sebuah kedai kopi kecil. Dan membangun cerita bersama. Dengan secangkir kopi digenggaman masing-masing.

Sunday, May 14, 2017

Chapter VII - Home




Chapter I-VI bisa dibaca pada kategori Series.

---

Laila

Kebahagiaan bagiku adalah suatu hal yang sifatnya abstrak. Parameter kebahagiaan tiap individu pun berbeda. Ada yang bahagia hidup dengan materi berlimpah. Atau yang bahagia hanya dengan bersama orang yang dicintainya, bagaimanapun kondisi materi yang ia miliki. Juga ada yang rela meninggalkan kehidupan yang mungkin menurut orang lain merupakan kehidupan yang ideal, namun tidak baginya, sehingga ia memutuskan mencari kebahagiaannya kembali, kebahagiaan lamanya.

Dan akulah orang itu.

Aku menemukannya, kebahagiaan lamaku. Melihatnya sejelas janji yang dulu pernah terucap dari bibir kami. Aku menemukannya, namun tak memilikinya.

Dia keluar begitu jarum panjang dan pendek pada jam menyatu di angka 12. Menyapa dua orang yang tak ku kenal, kemudian pergi dengan menaiki skuter matik hitam yang tak asing bagiku. Sosoknya segera lenyap dari pandanganku seiring menjauhnya pantulan cahaya dari back lamp skuter miliknya.

Aku masih terpaku di belakang kemudi mobil. Membayangkan sosoknya yang pergi tanpa pernah sempat melirik ke arahku. Bodoh, tentu dia tak mengenali mobil ini. Mobil yang aku kendarai kini bukanlah mobil yang sama seperti yang diketahuinya dulu. Bukan mobil yang sempat membuatnya kesal karena pernah kutinggalkan dengan bensin yang sudah hampir habis. Dan tentu, siapalah aku sekarang berharap ia melirik ke arahku?

Lima belas menit kuhabiskan dengan termenung. Setelah menarik nafas dalam, aku melajukan mobil menyusuri jalanan kota kecil ini, kembali menuju tempatku menginap selama 4 hari terakhir. Aku tahu, ini sungguh membuang-buang uang. Tapi aku tak sanggup meninggalkan kota ini tanpa bertemu dengannya. Namun, aku tak punya cukup keberanian untuk menegurnya kembali.

Sesampainya di kamar, aku merebahkan diri di atas kasur sembari membuka ponsel yang sedari tadi tak kusentuh. Aku mendapati 38 chat Line serta 14 misscalls dari kontak yang sama, satu-satunya orang yang tahu akan keberadaanku selama ini serta menepati janjinya untuk tidak membocorkan hal itu kepada siapapun, termasuk Andre.

Misscall terakhir tercatat 7 menit lalu. Aku memutuskan menghubunginya kembali.

“Halo,” sapaku.

Babe, kok baru respon sih? Gue coba hubungin lo dari tadi juga,” sahut suara di ujung telefon hampir bersamaan dengan sapaanku.

Sorry, Nad, gue baru megang hp lagi. Tadi lagi pengin sendiri aja, jadi hp gue silent, maaf ya.”

I’m worried about you, La. Gue takut lo kenapa-napa, apalagi lagi di kota orang kan,” senyumku tersungging mendengarnya.

“Iya, gue minta maaf sekali lagi. Thanks for caring me, Nad.” Kadang, aku sempat berpikir bagaimana jika Nadine tidak ada di hidupku? Sosoknya sangat sentral terutama dalam 2 tahun terakhir. She’s always got my back. Dia bahkan tetap memberi saran terbaiknya kala aku membuat keputusan yang seharusnya tidak dapat dimaafkan orang lain. Dia selalu siap menampung cerita dan tangisku. Tak ada tawa yang aku bagi dengannya. Bukan, bukan berarti aku hanya datang padanya when i’m feeling blue, melainkan aku merasa bahwa aku dan bahagia sudah berpisah sejak aku meninggalkannya. Meninggalkan Andre.

“Okay, tapi lain kali jangan gitu lagi ya, La?” Ujarnya kembali.

“Iya, Bu,” balasku singkat.

“Nanti tiap satu misscall dari gue, itu berarti lo hutang satu ice cream sama gue,” sambungnya yang membuatku spontan tertawa.

“Heh! Ngide banget ya ini orang. Main sembarangan nentuin rules. Enggak... Enggak, nanti lo sengaja lagi nelefon gue terus dimatiin biar jadi misscall dan lo akhirnya dapet ice cream gratis,” jawabku menahan tawa.

“AAAH LAILAA! Lo kenapa bisa baca pikiran gue sih? Ah, nggak asih niiih,” ia histeris sendiri. Nadine tahu bagaimana membuatku tertawa ditengah himpitan kesedihan ini.

“Gue kenal lo bukan sehari-dua hari sayaaang. Gue khatam gimana liciknya lo, hahaha,” ucapku.

“Gue licik juga karena bergaul sama lo, ya, La!!” Jawabnya ngotot.

“Gue? Licik? Jangan sembarangan yaa!” Sergahku masih dengan tawa terselip di antara pembicaraan kami.

“Udah, ah, udah. Jadi lupa, kan, gue mau nanya apa tadi.”

“Makanya seimbangin kerja sama refreshing-nya, bu. Kasihan otak lo, kinerjanya jadi nurun gitu. Alhasil lo jadi gampang lupa deh,” aku mendengar ia terkekeh. “Gue ingetin deh, lo mau nanya tadi gimana, kan? Gue berhasil ketemu Andre atau engga, kan?”

“Tapi seinget gue, gue belum bilang apa-apa deh tadi. Kok lo bisa tahu?” Tanyanya heran.

“Karena lo selalu menanyakan pertanyaan yang sama selama 4 hari terakhir ini,” jelasku.

“Eh? Iya, ya? Gue lupa, hahahahahaha,” kembali aku tersenyum mendengarnya.

“Gue jawab, ya? Jawaban yang sama dengan kemarin kok,” aku tersenyum getir.

“Kenapa, La? Kenapa nggak dicoba dulu?”

Kenapa? Katanya. Aku sendiri tak tahu. Seperti ada gaya gravitasi yang begitu besar yang menahanku agar tak beranjak dari balik kemudi mobil. Atau memang aku yang terlalu malu untuk menampakkan batang hidungku di hadapannya.

2 tahun lalu, aku pergi tanpa bertatap muka dengannya. Bahkan, tanpa ucapan selamat tinggal. Sebenarnya aku ingin, tapi aku tak mampu. Aku tak tahu bagaimana cara mengucapkannya. Dan tentu, aku tak ingin menangis dan melihatnya menangis andai waktu itu ia melihat kepergianku.

“La, gimana kalau lo coba ngasih kabar ke salah satu temannya? Setidaknya nggak semua dari mereka kaget dengan kehadiran lo yang tiba-tiba, kemudian men-judge lo sebagai perempuan nggak tahu diri yang udah bikin sahabat mereka hancur hatinya. Biarin salah satu dari mereka tahu alasan kenapa lo sempat pergi dan kini kembali,” hmm, masuk akal. Tapi kepada siapa aku harus bicara? Dian? Mungkin ia akan mengerti karena perasaan sesama wanita, namun ada keraguan yang menahan keyakinanku jika  harus menyampaikan hal ini kepadanya. Atau Rama? Dari semua personil Alchemy, dialah yang terdekat dengan Andre. Mungkin dengannya aku harus berbicara. Ah, biarah kupikirkan lagi nanti.

“Hmm, gue pertimbangin deh, Nad. But, thanks for the advice.”

“Lebay ih pakai makasih segala. By the way, nggak kerasa udah jam setengah dua aja. Ngobrol sama lo selalu kayak masuk mesin waktu, La,” ucapnya diiringi tawa kecil.

“Hahaha, yaudah lo istirahat gih. Kasian juga gue, lo capek seharian ngurusin kafe, setelahnya juga ngurusin gue. Makasih lagi, ya, Nad. Gue sering banget ngerepotin lo,” ujarku tak enak.

“Duh, La, beneran deh.. Sekali lagi lo bilang makasih, lo harus traktir gue ice cream kalau ketemu nanti.”

“Makasih ya, Nad,” balasku.

“Buat ini gue yang bilang makasih, La, karena udah ditraktir ice cream sama lo,” aku yakin kami berdua tersenyum pada saat bersamaan.

---

Aku berada di satu-satunya McDonald’s di kota ini, duduk di bagian luar karena orang yang kutunggu merupakan seorang perokok berat. Sembari menunggunya datang, aku ditemani oleh satu cup McFlurry Oreo kesukaanku. Sebenarnya aku sedikit ragu untuk bertemu dengannya, terlebih setelah semua yang terjadi terhadap kawan baiknya. Namun, pasca mengumpulkan keyakinan lebih serta mendapat dukungan dari Nadine, maka aku putuskan untuk menghubunginya dan di sinilah aku sekarang.

Tak lama kemudian sosok yang kutunggu tiba. Seorang pria dengan rambut gondrong yang diikat serta brewok lebat yang menghiasi wajahnya, seakan mempertegas penampilannya sebagai seorang rockstar. Tak ketinggalan, sebatang rokok terselip pada mulutnya. Segera aku melambaikan tangan ke arahnya. 

“Laila?” Ujarnya saat ia berdiri di hadapanku. Kehadirannya sungguh menarik perhatian orang-orang yang  sedang sibuk melahap makanannya. Aku merasakan bagaimana banyak mata terpaku pada sosoknya semenjak ia turun dari mobil, maklum vokalis band ternama. Dan kini sorotan-sorotan itu beralih padaku, mereka seakan bertanya siapa gerangan perempuan yang dihampirinya.

Ia mengambil tempat di depanku, “Sorry, gue agak pangling ngeliat lo. Kelihatan beda sama terakhir gue liat atau gue aja kali yang lupa, ya? Maklum udah lama juga,” ujarnya.

“Iya, gue manjangin rambut gue, jadi wajar kalau lo pangling gitu,” jawabku dengan senyum canggung. “Mau order dulu?” Tanyaku mencoba menghilangkan perasaan tak enak ini.

Ia menghisap rokoknya kuat, kemudian menghembuskan asap tebal ke udara. “Nanti aja,” sahutnya singkat. “So?” Ia melanjutkan perkataannya, membaca alasanku mengajaknya bertemu.

“Ehm, okay. Sebelumnnya gue mau minta maaf atas apa yang gue lakukan ke Andre. Gue tahu, nggak seharusnya gue ngilang gitu aja dari kehidupan dia. Dan mungkin lo udah bisa nebak apa alasan gue sekarang ada di sini. Dan mungkin juga lo berpikiran bahwa gue cewek nggak tahu diri yang bisa pergi lalu kembali seenaknya gitu aja. Tapi, Ram, gue punya alasan dibalik itu semua,” aku terdiam sejenak setelah kurasakan emosiku kembali naik mengingat sebenarnya aku tidak sanggup untuk menceritakan ulang semua kisahku. Mengingat betapa bersalahnya aku atas apa yang terjadi pada Andre selama dua tahun kepergianku.

Rama menatapku tajam, kembali ia membua kumpulan asap di udara sebelum berbicara, “Go on.”

Aku menghela nafas. “Gue akan ceritain semuanya dari awal, Ram. Mulai dari gue dan Andre belum bertemu. Harapan gue setelah menceritakan semua ini adalah kalau gue nggak berhasil ketemu Andre atau Andre nggak mau ketemu gue lagi, lo, sebagai sahabat terdekatnya bisa meyakinkan ia mengenai apa yang sebenarnya terjadi sama gue. Gue tahu, ini egois, banget. Tapi gue percaya sama lo, Ram. Lo satu-satunya harapan gue.” Rama tak bergeming. Keraguanku untuk menceritakan hal ini kembali menyeruak ke permukaan. Namun, aku rasa sudah terlambat untuk membatalkan semuanya.

Lantas aku bercerita mulai dari kehidupanku sebelum bertemu Andre, kemudian saat aku dan Andre berpacaran hingga aku pergi dari hidupnya, kehidupanku selama menghilang dua tahun ini, lalu mengapa kini aku datang kembali. Rama seorang pendengar yang baik. Ia memang cowok yang gemar bercanda, tapi Andre pernah bilang bahwa Rama dapat menjadi seorang yang serius ketika ada teman yang membutuhkan bantuannya dan saat ini ialah pembuktian atas apa yang pernah Andre katakan.

“Aaaargh, ribet bener,” ujarnya sambil mengacak-ngacak rambut sendiri. “Gue mau beli minum dulu deh. Lo yang cerita tapi gue yang pusing.” Ia berlalu ke dalam, meninggalkanku yang larut dalam emosi sehabis bercerita tadi.

“Nih, buat lo,” Rama menyodorkan satu cup McFloat padaku. Aku balas pemberiannya dengan ucapan terima kasih lirih.

“Cerita lo tadi bikin gue makin males ngejalanin hubungan yang serius. Terlalu ribet,” Rama berujar sembari menatap kosong ke arah dalam.

“Yah, jangan gitu dong. Ini hidup gue doang kok yang ribet, Ram, nggak semua cewek punya kehidupan seribet gue,” jawabku.

“Ribet. Males gue. Santai lah gue mah. Lo duluan aja sama Andre.”

“Gue? Andre? Gue aja belum berani buat ketemu dia, Ram. Dan nggak tahu juga gimana responnya nanti,” ucapku sambil mendengus pelan.

He still loves you, La,” ia mengalihkan pandangan ke arahku. Aku tersentak mendengarnya.

“Sejak awal, gue udah punya jawaban dari semua pertanyaan dan penjelasan lo, La. Tapi sebelum gue bilang itu, gue mau tahu alasan dibalik lo pergi dan menghilang gitu aja hingga ngebuat hidup teman gue kacau,” Rama membuka segel bungkus rokok baru. Entah sudah berapa nikotin hari ini yang ia hisap.

“Dia pernah bilang gitu, Ram? If he still loves me?” Tanya gue memastikan.

“Enggak, tapi dia gue anggap gila karena udah nolak gue comblangin sama Arestika vokalisnya Barasuara. No offense, La, gue juga nggak bisa diam aja ngeliat sahabat gue galau terus-terusan, so, gue coba kenalin dia sama beberapa kenalan gue dan dia kayak, ‘sorry, Ram, gue nggak bisa,’ gue cuma bisa bilang, udah sinting nih orang nolak Arestika. Tapi dari cara ngomongya, gue tahu dia masih sayang sama lo,” mendengar Rama membuatku tanpa sadar tersenyum. Dan pada detik itu pula hatiku berujar, i’ll never go away from your life again, Ndre.

---

Akhirnya ku putuskan membawa langkahku menuju pintu itu.

Kronology Cafe. Nama yang tidak asing bagiku. Karena dulu, ia kerap mengutarakan keinginannya membuat kafe dengan nama demikian.

“Kronologi bagus nggak, La? Itu ngegambarin kita banget nggak, sih? Urutan kejadian pertemuan kita di awali dari kafe, kayak tiba-tiba aja gitu. Sebuah kronologi yang tercipta di dalam kafe, kayak magic-nya kafe gitu, La, when strangers become lover,” ujarmu kala itu disertakan dengan gerakan ‘imajinasi’ ala Spongebob yang membuatmu tampak lucu.

Sounds great, Ndre,” ujarku sambil mengusap rambutmu. Aku selalu suka semangatmu. Karena aku tahu, kamu bukan tipe orang yang membiarkan mimpinya terhenti terkurung dalam batasan imaji. Saat sekarang aku berada di depan pintu masuk kafe yang dulu kamu gebu-gebukan, aku sudah tahu dari dulu bahwa kafe ini akan ada dan memang ada.

Jam di arlojiku menuju pukul 11. Kafe ini tutup kurang lebih satu jam dari sekarang. Kemungkinan sudah masuk waktu last order. Sengaja aku memilih selarut ini. Juga karena aku terlalu lama mengumpulkan keberanian untuk bisa sampai di sini, di depan pintu ini.

Go for him. But promise me, you’ll never leave him again,” kata-kata Rama tadi siang terdengar kembali di dalam kepalaku. Aku menghela nafas. Ku dorong pintu dan melangkahkan kaki perlahan memasuki kafe.

“Selamat datang, Kak, silahkan mau order apa? Kebetulan kita sudah last order ya, Kak,” Sambut seorang wanita dari balik mesin kasir. Juga terdapat seorang barista sedang membersihkan mesin espresso dan seorang lagi sedang membereskan counter di belakang bar.

Dan aku melihatnya. Lagi. Dari jarak cukup dekat. Ia berada di ruangan khusus staff yang berada di bagian belakang bar. Ruangan itu terdapat kaca kecil pada dindingnya sehingga aku dapat melihat ia sedang membereskan beberapa barang.

“Aku order Laila Speciality,” ucapku dengan suara sedikit keras. Waiters itu tampak kebingungan mendengar pesananku, begitu pula dengan dua cowok di dekatnya. Mereka tampak saling bertukar tatap. Aku mengerti kebingungan mereka, tapi mataku terfokus pada gerakan satu orang lagi di ruang staff yang juga ikut terhenti.

“Eng... Maaf, Kak, kita nggak ada menu itu,” jawabnya terbata-bata. Aku masih mematung di depan bar dan tak melepas tatapanku dari sosoknya. Aku yakin menu itu ada. Dulu, Andre pernah mengatakan kalau ia akan menyiapkan satu signature drink khusus untukku dengan menggunakan namaku.

“Ada, Ka,” itu dia. Ia membuka suara.

“Eh? Serius ada, Bang?” Sahut waiters itu bingung.

“Iya, biar gue yang bikin. Disuruh duduk aja,” balasnya.

“Harganya, Bang?”

Free,” sungguh, aku rindu mendengar suara itu.  Namun tubuhnya masih belum beranjak dari dalam ruangan tersebut. Sementara dua orang lainnya masih terheran, lalu mereka menatapku yang kubalas dengan senyuman.

“Kak, silahkan duduk dulu, nanti pesannya diantarkan,” katanya disertai senyum canggung. Aku mengucapkan terima kasih dan mengambil tempat di bagian luar kafe.

Ini pertama kalinya aku berada di sini, tapi aku merasa tempat ini sangat tidak asing bagiku. Sebuah kafe dengan bentuk letter L ditambah mini stage di sebelah barat pintu masuk dan mengusung konsep low light seperti milik Nadine.

Aku tahu kalau panggung itu multi fungsi. Aku tahu bahwa bukan hanya penampilan band yang disajikan di sana. Aku tahu kalau band hanya ditampilkan tiap jum’at malam. Sedangkan di rabu malam akan ada sesi pembacaan puisi. “Ini kan kafe yang merepresentasikan kita, La, jadi aku mau ada part of you yang berhubungan dengan askara juga di sini,” begitu katamu dulu. Serta kamu memberikan tempat bagi komunitas stand-up comedy lokal untuk melakukan open mic setiap minggu sore. Aku memang baru pertama kali datang ke sini, like for real. But i feel like i’ve been here for whole time.

Here's your coffee,” suara itu memecah lamunanku. Suara yang sangat ku rindukan kini terdengar sangat sangat dekat. Aku mendongkakkan wajah dan akhirnya aku melihatnya. Lagi. Ini merupakan jarak terdekat kami dalam dua tahun terakhir. Namun ia tidak memandangku. Ia menatap lekat cangkir kopi yang dipegangnya.

Lama kami terdiam, sampai aku putuskan untuk membuka perkataan, “Ndre..-“

“Kenapa?” Ucapanku langsung dipotongnya. Suaranya bergetar, begitu juga dengan cangkir dalam genggamannya.

“Kenapa baru sekarang?” Kini aku merasakannya. Luka karena kehilangan itu kini sangat terasa. Perasaan itu seketika menghujam relung hatiku dan mengingatkanku kembali terhadap dosa yang telah kulakukan padanya.

Aku berdiri dan memegang satu lengannya. “Can you take a seat? I want to talk, Ndre,” ia tidak menjawab, namun ia menuruti perkataanku. Sekarang, kita berada pada satu meja yang sama. Duduk berhadapan. Tanpa kata. Tanpa suara.

Andre masih belum menatapku. Matanya terpaku pada cangkir kopi yang terletak di antara kami. Tangannya mengepal erat menggambarkan bagaimana perasaannya. Aku tahu ia ingin bicara banyak hal dan aku pun tahu ia tak bisa melakukannya. Itu memang termasuk kelemahannya yang dengan kejam pernah ku manfaatkan.

Kini, aku rasa saat ini adalah waktunya. Waktu untuk menjelaskan segala yang terjadi. Waktu untuk membawa pulang perasaan yang pernah pergi. Meskipun dibutuhkan keteguhan dalam mendengar kenyataan yang akan ku utarakan sekarang, tapi aku rasa tak ada pilihan untuk menundanya lagi.

Aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Ndre, i was married...”

to be continued


Thursday, May 4, 2017

Hal-hal yang Gue Dapat Selama Menjadi Anak Kos

source: google.com

Time flies. Kira-kira itulah yang gue rasakan. Gak kerasa kalau sekarang gue udah memasuki tahun ketiga dari empat tahun (amin) rencana perkuliahan gue. Sebagai anak rantau dan gak ada keluarga di perantauan, hanya ada dua pilihan yang bisa gue ambil; ngekos dan ngontrak. Gue pilih yang pertama.

Dalam rentang waktu tiga tahun ini, gue hanya satu kali pindah kos, tepatnya pada pertengahan tahun 2015. Setelah itu--sampai detik ini, gue masih betah berada di kos yang kini gue tempati. Dan dalam rentang waktu tiga tahun ini pula secara gak sadar gue memerhatikan kebiasaan serta tingkah laku anak kos dan hal demikian juga tertanam dalam diri gue. Seperti makan enak pada awal bulan, tapi nyediain kotak berisi obat maagh pada akhir bulan. Atau menambahkan air pada sabun cair yang mau habis, agar tetesan sabun terakhir bisa keluar. Atau juga kebiasaan anak kos yang dalam satu hari lebih banyak mandinya dibanding makannya.

Namun, dibalik penderitaan tadi, banyak hal yang dapat gue petik selama gue menjadi anak kos. Apa yang akan gue jabarkan adalah berdasarkan pengalaman serta opini gue. Jadi andai kata ada perbedaan pengalaman atau pendapat, harap dimaklumi. Karena apa yang kita rasakan sebagai anak kos berbeda-beda. Berikut beberapa hal yang gue dapat selama menjadi anak kos. Enjoy!

1. Adaptasi dengan lingkungan baru

Saat pertama kali menjajakan kaki di kos baru, itu rasanya seperti idul fitri atau dengan kata lain, merasa suci. Gak tau harus mulai dari mana. Gak kenal siapa-siapa, bahkan tetangga kiri dan kanan kamar gue sekalipun. Maka dari itu gue berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kos gue. Gue mulai SKSD—bukan SNSD, sama tetangga kos. Saling lempar senyum awkward kalau berpapasan. Tapi lambat laun, yang tadinya hanya diawalai dari basa-basi sampah serupa, “Mas, maaf, ini kalau mau gabung wifi bilang ke siapa ya?”, dan seiring berjalannya waktu dalam tiap obrolan akan terselip kata-kata mutiara seperti jancuk dan teman-temannya.

Namun semua kembali ke pribadi masing-masing, bagaimana cara diri sendiri beradaptasi dengan lingkungan kos. Karena para penghuni kos sejatinya adalah teman terdekat dalam keseharian kita. Kos gue yang dulu itu merupakan kos dua lantai dengan bentuk letter L. Kamar gue di lantai atas. Dimulai dari seperti bayi yang baru lahir yang nggak tau apa-apa, lama kelamaan gue dan beberapa anak kos lantai atas membentuk aliansi kos lantai atas, yang bermaterikan anak kos lantai atas yang sering main bareng.

Kita bukannya diskriminasi sama anak lantai bawah, tapi ini persoalan arogansi lantai aja. Kita ingin membuktikan bahwa ikatan kekeluargaan anak kos lantai atas sangat kuat. Meskipun ujung-ujungnya bubar juga karena satu per satu mulai pindah. Ironisnya, di saat anak-anak lantai atas mulai keluar karena berbagai macam alasan, komposisi anak lantai bawah masihlah tetap. Gue curiga anak lantai bawah membuat semacam gerakan bawah tanah untuk memutus ikatan anak lantai atas. Sebuah teori yang masih menjadi misteri hingga kini.

2. Tau kebiasaan orang lain

Setelah melewati tahap adaptasi, akan tiba saatnya kita tau kebiasaan para penghuni kos dengan sendirinya. Seperti di kos gue yang sekarang, gue hafal betul setiap malam penghuni kamar sebelah gue selalu mematikan tiap lampu teras sebelum tidur. Hemat listrik, katanya.

Contoh lain yaitu ketika gue tau ternyata ada anak kos yang menyetel lagu santai sebagai nada alarm. Gue tau ini karena lokasi kamar di kos gue berdekatan, jadi gue bisa mendengar alarm dari banyak sumber tiap pagi. Pada lazimnya orang kerap menggunakan lagu atau musik dengan nada yang keras sebagai nada alarm, tapi yang satu ini beda. Ia lebih memilih I Remember-nya Mocca sebagai nada alarm miliknya. Gue sempat ketawa saat pertama kali mendengarnya. Bahkan, gue mencibir kalau ia gak akan bisa bangun dengan lagu seperti itu. Sampai gue tersadar bahwa gue kebangun gara-gara dengar ada yang nyetel lagu Mocca di pagi hari...

3. Tau cara bertahan hidup

Percayalah, bahwa anak kos dapat menjadi orang paling kreatif di dunia pada saat-saat tertentu (baca: kepepet). Beberapa dari contohnya sudah gue sebutkan di awal. Ditambah dengan orang yang pada mulanya tidak bisa origami, mendadak mahir dalam seni melipat pasta gigi yang isinya sudah sangat memprihatinkan agar bisa digunakan.

Jujur, sebelum gue ngekos gue cuma tau satu fungsi dari magic jar, yaitu menanak nasi. Namun, ternyata nama magic jar bukanlah hanya sekedar nama. Magic jar benar-benar magic, like literally. Seketika semua kebutuhan gue dapat tercover dengan adanya magic jar. Seperti menemukan kepingan puzzle yang hilang dari hidup gue. Mulai dari masak mie sampai ngangetin rendang kiriman orang tua, gue lakukan di magic jar. Slogan ‘magic jar for lyfe’ pun tersemat dalam diri gue. 

Tapi, seperti sudah ditakdirkan bahwa kebahagiaan dan anak kos bukanlah jodoh, maka secepat itulah kebahagiaan gue direnggut. Magic jar yang gue gunakan terpaksa gue kirim balik ke rumah karena adanya UUD Kos yang mematok biaya tambahan sebesar 25 ribu bagi penghuni kos yang ketauan membawa magic jar. Dan gue salah satu korbannya. Shit.

4. Mandiri

Mandiri merupakan hal pertama yang harus disadari ketika memutuskan merantau jauh dari keluarga dan memilih menjadi anak kos. Karena atas dasar inilah kita sebagai anak kos mampu bertahan hidup.

Kehidupan anak kos memang tidak bisa disamakan dengan ketika di rumah. Saat di rumah, ketika kita bangun kesiangan maka orang tua atau siapapun yang ada di rumah mungkin membantu membangunkan kita dan mencegah kita terlambat ke kampus, namun ketika kita ngekos dan gak mampu untuk bangun pagi dengan sendirinya, maka yang terjadi adalah akan adanya sebuah pesan terror jam 3 pagi kepada salah satu teman kita dengan isi, “Bro, kalau nanti gue kesiangan terus gak masuk tolong tipsen ya, susah tidur nih gue.” Nah, loh.

Mungkin banyak dari anak kos yang sebelum ngekos merupakan anak manja atau males-malesan, tapi setelah menjadi anak kos ia menjadi seorang yang rajin dan berbeda. Tapi, satu yang perlu dicatat ialah saat anak kos pulang ke rumahnya, maka ia akan kembali menjadi anak yang manja. Semandiri apapun dia. Hal ini dikarenakan feel saat di rumah dan di kosan berbeda. Juga, karena anak kos tau, surga seperti itu tak akan bertahan lama.

5. Punya berbagai kisah menarik

Beda kos, beda pula cerita yang mengiringinya. Mulai dari anak-anaknya, keseruan di dalamnya, tingkat rese ibu kosnya sampai ke kisah mistis di dalamnya. Berbagai contoh pengalaman gue di atas adalah hanya sepersekian saja dari banyaknya hal yang gue alami selama menjadi anak kos. Dan gue akan menceritakan kembali pengalaman ini kepada anak cucu gue kelak.

Mungkin pada saatnya tiba, kala gue rindu dengan Jogja, gue mengajak anak-anak gue mengunjungi tempat tinggal ayahnya semasa kuliah. Dan disaat-saat seperti itu gue berharap anak-anak gue nggak bertanya, “Oh, jadi di sini tempat kita dibuat, Yah?”

---

Nah, itu segelintir cerita gue mengenai hal-hal yang gue dapatkan selama menjadi anak kos. Dan cerita gue masih akan bertambah mengingat gue masih punya satu tahun masa studi di tanah rantau ini. Mungkin beberapa dari kalian punya kisah (penderitaan) yang sama, atau bahkan nggak ada kesamaan sama sekali, tak apa, itu merupakan sesuatu yang biasa. Karena perbedaan lah yang membuat anak kos menjadi satu kesatuan utuh. Oke, Jaka Sembung bawa golok emang.

Buat kalian yang mau membagi pengalaman sebagai anak kos, bisa ditulis di kolom komentar di bawah. Gue pamit undur diri. Ciao!

Monday, April 24, 2017

Chapter VI - Between Past and Future


Chapter I-V bisa di klik pada tags 'Series'.
 ---

2 years later

Andre

Banyak peristiwa besar yang terjadi dalam semalam, kemudian merubah hidup mereka yang bersangkutan dengan peristiwa itu setelahnya. Seperti kisah para creator saat ciptaannya berbuah manis. Berawal dari puluhan, ratusan hingga ribuan kali percobaan dan pada akhirnya menghasilkan satu keberhasilan. Keberhasilan yang menutupi kisah perjuangan dibaliknya. Keberhasilan yang menasbihkan nama mereka ke dalam daftar manusia berhasil.

Cerita serupa juga terjadi pada gue, namun yang membedakan gue dengan creators itu ialah mereka mengawali kisah dengan kegagalan, lalu berakhir dengan luar biasa. Sedangkan kisah gue diawali dengan hal-hal indah dan hanya dalam semalam kisah tersebut berubah menjadi mimpi paling buruk selama hidup gue.

Dering ponsel menyadarkan gue dari lamunan terkait masa itu. Panggilan dari Ivan, adik gue.

“Halo,” gue membuka percakapan.

“Lagi dimana, Bang?” Tanyanya tanpa basa-basi.

“Di kafe, kenapa?”

“Lagi ada siapa?”

“Berdua sama Rama, kenapa?” Satu pertanyaan lagi keluar dari bibirnya, gue berniat mendaftarkan dia ke redaksi surat kabar lokal sebagai wartawan.

“Sip! Gue ke sana ya, Bang! Jangan pergi dulu!” Ujarnya penuh semangat. Niat mendaftarkannya sebagai wartawan pun gue urungkan.

Ivan mematikan sambungan telfon. Gue meletakkan ponsel pada tempat semula. Meraih gelas berisi kopi dan menyeruputnya perlahan.

“Ivan?” Tanya Rama disusul kepulan asap yang keluar dari rongga mulutnya. Gue jawab pertanyaan tadi dengan anggukan lemah.

“Ke sini?” Gue mengulangi hal yang sama. 

“Mau ada yang diobrolin sama lo kayaknya. Semangat banget dia pas tau ada lo di sini,” ujar gue.

“Paling cewek lagi,” sahut Rama kembali menghisap vape dari genggamannya.

“Iya kali,” ucap gue singkat.

“Lemes amat lo.”

“Kapan lo liat gue semangat?”

“Pas di panggung,” Rama tersenyum tipis. “Meskipun gue tau itu bukan 100 persen semangat manggung, tapi cuma ajang buat lo numpahin emosi yang kerap lo tahan.”

Gue meresponnya dengan diam. Apa yang barusan ia katakan ada benarnya. Panggung adalah satu-satunya tempat bagi gue untuk melampiaskan penderitaan gue. Dan Rickenbacker kesayangan gue merupakan media yang tepat untuk menyalurkan penderitaan tersebut keluar lalu menguap bersama musik yang berdentam dari sound, serta riuh-remah penonton ketika ikut bersuara mengikuti vokal dari Rama.

“Bang Andre sama Bang Rama ada di tempat biasa,” terdengar sayup suara Ben, barista di sini, menyebut nama gue dan Rama, menandakan bahwa Ivan telah sampai.

Gue bisa melihat Ivan berjalan ke arah kami dari pintu kaca yang menghubungkan bagian luar--smoking area, dengan bagian dalam kafe. Raut wajahnya terlihat sumringah. Senyum yang tersungging dari bibirnya selama ia berjalan malah membuat dia terlihat seperti seseorang yang kehilangan akal. Timbul pikiran menghubungi Ibu lalu mengatakan untuk mencoret nama Ivan Rizki Dwiputra dari daftar nama kartu keluarga.

“ASSALAMUALAIKUM ABANG-ABANG SEMUA!” Ia membentangkan kedua tangannya tepat setelah membuka pintu kaca. Teriakannya sungguh memekikan telinga. Gue menjawab salamnya lirih.

“Berisik tai,” umpat Rama.

“Hehehehe, ya maaf, Bang. Lagi semangat nih.” Ivan menempati kursi kosong di sebelah gue.

“Gue tebak, pasti ada hubungannya sama cewek nih kalau semangat begini,” ujar Rama sembari menyesap kopinya yang mulai dingin.

“Hehehe, emang segitu keliatannya, ya?” Ivan nggak berhenti cengengesan. Kalau dia sudah seperti ini dan kita sedang berada di tempat ramai, gue kerap mencabut status dia sebagai adik kandung.

“Karena lo kayak orang bego, Dek, kalau udah berhubungan sama cewek,” sambung gue. Ivan tetap tertawa. Gue mau lempar tisu ke dalam mulutnya.

“Udah, gue tau tujuan lo ke sini. Mana coba fotonya, biar gue liat orangnya gimana,” sahut Rama sembari menjulurkan tangannya.

“Bentar, Bang,” Ivan mengeluarkan ponselnya dan ia mulai tenggelam dengan aktifitas mencari foto ‘gebetannya’ tersebut. “Nih.” Ia menyerahkan ponsel kepada Rama.

Rama menatap layar ponsel lekat. Matanya memicing memerhatikan foto yang diberikan Ivan. Ia berulang kali mengernyitkan dahi, juga jemarinya tak henti mengelus janggut lebatnya berulang-ulang. Seolah ia sedang berpikir keras.

“Si kampret, ini mah Nabela,” ujar Rama.

Ivan melotot. Gue spontan tertawa.

Gue hafal betul siapa Rama. Seorang womanizer merangkap playboy yang sudah terkenal sejak SMA. Gue rasa nggak ada cewek cantik yang nggak dikenal Rama. Dan bagi kami, personil Alchemy, serta beberapa orang yang kenal dekat dengannya, termasuk Ivan, bukan suatu  hal yang asing apabila tahu bahwa ia kerap ‘tidur’ dengan beberapa dari mereka. Pesona serta auranya sebagai frontman dari Alchemy mampu membius gadis-gadis tersebut. Hal ini menjadikan Rama sebagai ‘guru’ oleh Ivan dalam hal wanita. Namun, apabila Ivan mengikuti jejak guru sablengnya tersebut, maka gue sungguh-sungguh untuk menurunkan kastanya sebagai seorang adik.

Butuh beberapa saat bagi Rama untuk menyadari alasan gue tertawa serta arti dari tatapan Ivan kepadanya. Lalu ia menepuk jidatnya dan mulai tertawa.

“Tenang, Van, gue cuma pernah liat foto dia di instagram UI cantik, kok. Kalem, kalem, hahaha,” tawanya mengeras. Perut gue bahkan mulai sakit karena terus-menerus tergelak. Ivan mengalihkan tatapan jengkelnya ke gue. Seakan menyuruh gue untuk diam dan tidak ikut-ikutan memojokkannya.

Ivan menatap tajam Rama dan masih tanpa suara. Ia masih belum sepenuhnya percaya pada kata-kata Rama. Ia nggak sepenuhnya salah kalau bersikap begitu, andai gue ada di posisi Ivan pun gue nggak akan gampang percaya dengan apa yang Rama katakan.

“Yeee si tai, beneran gue nggak kenal, cuma tau doang. Cantik emang anaknya, ya masih cocok lah kalau sama lo,” jelas Rama sambil menyeka air matanya yang keluar akibat tawa tadi.

“Mana coba, Dek, gue mau liat,” gue meraih ponsel yang diserahkan Ivan. Gue tatap foto itu sejenak. Cantik. Banget. Itu yang pertama terlintas dipikiran gue. Ivan melihat gue, menunggu tanggapan dari kakaknya. Tawa Rama mulai mereda.

“Ini bukannya yang waktu itu lo omongin, Ram? Pas abis manggung di Semarang itu loh.” Gue mengucapkannya dengan menahan tawa. Ivan terbelalak, sedangkan tawa Rama kembali pecah.

“Jahat bener lo sama adik sendiri,” Rama memegangi perutnya yang bergejolak. Ivan nampak mulai pasrah sebagai pihak yang tersudutkan. Dan memang sudah seharusnya seperti itu. Pasrah dalam menjadi target bulan-bulanan dari kakaknya beserta teman-temannya.

“Bercanda, Dek, cantik kok,” gue meletakkan ponsel itu di atas meja sambil tersenyum padanya. “Ini lo baru mau kenalan atau emang udah deket?” Tanya gue mencoba serius.

“Udah lumayan deket bang,” suaranya masih terdengar layu.

“Lemes amat woy! Becanda doang kampret. Gue beneran kagak kenal sama dia,” Rama melempar tisu yang tergumpal pada Ivan. Mendengar hal itu secara perlahan senyum di wajahnya timbul kembali dan ia mulai terkekeh.

“Kan, begonya kumat,” tambahku.

---

Setelah Ivan meninggalkan kami berdua kembali, aku terhanyut dalam kesunyian panjang. Kesunyian dalam hati yang lahir dua tahun lalu dan mendekam di dalamnya hingga kini.

“Perasaan baru kemarin dia curhat ke gue tentang hubungannya sama Laura, sekarang udah nunjukin foto yang baru aja,” dengan bersandar pada dinding, Rama mengulangi kegiatannya mengepulkan asap ke ruang kosong di langit-langit. Matanya menatap kumpulan asap itu.

“3 bulan lalu kalau nggak salah. Gue inget karena dia terus-terusan nanyain lo. Bawelnya minta ampun itu anak,” gue terseyum getir.

“Dia aja udah nemuin destinasi selanjutnya. Lo sendiri gimana?” Rama mengubah pandangannya ke gue.

Telak. 

Gue tatap Rama tanpa mampu mengeluarkan kata-kata. Pertanyaan tadi cukup menohok hati gue.

“Udah 2 tahun, bukan? Mau sampai kapan?” Terusnya.

Gue membuang muka. Memerhatikan customer yang datang dan sibuk dengan aktifitas masing-masing di mejanya. Sudah dua tahun. Gue bahkan nggak menyadari kalau waktu berjalan sedemikian cepatnya. Namun, rasa sakit itu masih terasa seperti kemarin.

“Entahlah, Ram. Baru juga dua tahun. Sejauh ini masih nggak ada yang berubah,” gue berbicara tanpa memandangnya.

“Asal lo tau, Ndre, tiap kali Ivan curhat masalah kehidupan cintanya sama gue, sebenarnya gue pun nggak bisa ngasih banyak saran. Dia mungkin cuma ngeliat dari gue sebagai orang yang tau banyak karakteristik perempuan, tapi level percintaan gue masih jauh di bawah lo. Maksud gue, kalau mau ngomongin hubungan yang serius sama satu wanita, lo orang yang tepat, bukan gue,” jelas Rama. Bibir gue masih terkatup.

Lagi. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya sebagian besar adalah kenyataan. Walaupun ia tahu mengenai seluk beluk wanita, tapi ia tak pernah menjalani hubungan yang serius. Rekor terlama ia berpacaran yaitu saat SMA dengan manajer kami, Dian. Setelahnya ia hanya berapacaran tidak pernah lebih dari satu semester, atau bahkan hanya sekedar one night stand.

Sudah dua tahun sejak hari itu. Hari dimana ia mulai menghilang. Hari saat Laila Indrayanti, seseorang yang sangat gue sayangi pergi tanpa meninggalkan kabar satupun. Pada awalnya gue mengira ia hanya sedang pergi ke suatu tempat dan ponselnya tertinggal, hingga lupa menghubungi gue. Namun, kabar darinya tak kunjung datang sampai beberapa hari ke depan. Sampai akhirnya gue tersadar bahwa dia telah berada di luar lingkaran hidup gue.

Panik? Jelas.

Gue terus mencari keberadaannya, hingga detik ini. Meskipun intensitasnya kini berkurang. Tapi hasilnya tetap nihil. Ia seperti hilang ditelan bumi. Dia tidak memperbaharui isi dari tiap sosial media yang dia punya selama dua tahun terakhir. Termasuk saat instagram memperkenalkan fitur stories mereka, ia tidak pernah menggunakannya.

Padahal gue selalu menunggu untuk itu.

Setidaknya untuk sekedar tahu bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.

Gue pun sempat punya pikiran bahwa ia menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Bukannya gue berharap kalau hal itu benar terjadi, tapi saat seseorang menghilang secara tiba-tiba dan tidak ada kabar lagi setelahnya, apakah mempunyai pikiran demikian termasuk naif? Gue beropini itu masih masuk diakal. Atau jika tidak, mungkin gue yang perlahan menjadi gila karenanya.

Saban hari gue menghabiskan waktu dengan browsing dan menonton berita. Mata gue terfokus tiap berita kriminal ditayangkan. Membaca tiap headline dan running text. Berjaga-jaga andai ada berita mengenai seorang wanita berumur dua puluh lima tahun tewas dibunuh setelah sebelumnya diperkosa dan jasadnya dibuang di pinggir jalan tol, di sana. Kabar tersebut tak urung tersiar. Setelah gue menampar diri sendiri, gue mencoba membuang pikiran busuk ini dan berdoa untuk keselamatan Laila dimanapun ia berada.

Saat gue bertanya kepada kawan dekatnya, Nadine, ia menampik kalau tahu keberadaan Laila, sahabatnya dan, ugh, mantan? Atau masih pacar gue? Entah bagaimana gue menyebutnya. Kami tidak berpisah selayaknya sepasang kekasih memutuskan hubungan. Tapi dengan kepergiannya yang tiba-tiba tanpa meninggalkan sepatah kata, gue pun nggak yakin kalau ini bisa disebut ‘putus’.

Dan sebagian dari hati gue yang masih bertahan dengan kondisi ini mengatakan bahwa Laila masihlah milik gue. Mesikpun sisi lainnya sedikit demi sedikit kehilangan kesabaran akan penantian yang tak berujung ini.

Gue sadar kalau gue nggak segitu bego dalam urusan cewek. Gue tahu Nadine selalu menghindar acap kali gue bertanya mengenai Laila. Gue cuma bego dalam usaha menyampaikan apa yang ada dipikiran gue kepada seseorang. Dan saat orang tersebut nggak mau memberitahu apa yang terjadi, gue berhenti bertanya kepadanya karena kerap timbul perasaan nggak enak. Ini menjadi ketololan gue yang lain. 

Hal tersebut sering terjadi saat dulu gue dan Laila masih bersama. 

Huh, masih bersama... Kata itu terdengar aneh bagi gue.

Dulu, Laila selalu menghindar apabila gue bertanya mengenai hal yang sedang tidak mau dia bahas dan gue selalu menerima itu. Termasuk dengan yang dilakukan Nadine kepada gue, sampai gue memutuskan untuk nggak lagi bertanya padanya. 

Setelahnya, ia terlihat mencoba membantu gue dalam berbagai hal—mungkin untuk menambal perasaan nggak enak ke gue, juga termasuk saat gue memutuskan untuk membangun kafe yang gue idamkan. Nadine turut serta dalam proses pembangunannya. Ia banyak memberi masukan dari segi manajemen serta pelayanan, karena ia punya pengalaman lebih dulu di bidang yang sama. Juga kebetulan terdapat kesamaan dari konsep kafe kami, yaitu terdapat live music di dalamnya.

Kafe yang gue bangun ini dulu sering gue diskusikan dengan Laila. Gue mengatakan bahwa suatu saat nanti gue akan membangun sebuah kafe yang merepresentasikan pertemuan kami pertama kali. 

“La, setelah lulus nanti, aku rencananya mau bikin kafe sendiri deh di Serang,” ucap gue saat gue dan Laila duduk berhadapan di sebuah kedai kopi asal Amerika yang terletak di pelataran gedung bioskop tepi jalan Urip Sumoharjo pada penghujung tahun 2014 lalu.

“Sejak kapan kamu punya pikiran itu?” Ujarnya sambil meminum caramel macchiato miliknya.

“Sejak pertemuan kita pertama kali. Entah kenapa aku merasa punya utang budi ke semua kafe-kafe yang ada. Karena adanya mereka, kita bisa bertemu di salah satu diantaranya,” gue menatap tepat pada titik bola mata indahnya. Mata teduh yang selalu membuat jiwa gue merasa tenang.

“Kamu bisa nggak lebay gak, Ndre?” Ia terkekeh.

“Ini serius, La. Lagi pula di kotaku masih jarang kafe yang benar-benar kafe. Maksudku yang menyediakan kopi signature-nya sendiri. Yang benar-benar enak buat catching up sama teman lama, pacar, gebetan ataupun selingkuhan.”

“Jadi kamu mau bikin kafe buat ketemu sama selingkuhan kamu?” Entah kenapa dari omongan gue yang panjang tadi, ia hanya menangkap bagian akhirnya saja.

“Eng...”

“Hayo ngaku!”

“Buk...”

“Ngaku gak?”

“La...”

“Apa?!”

“Denger-denger diskon akhir tahun di Amplaz udah mulai, ya? Mau belanja?”

Hening.

Selang beberapa lama, Laila ketawa dengan kerasnya. Membuat beberapa pengunjung lain menoleh ke meja kami.

“Kamu tuh, ada aja pikirannya. Niat aku cuma mau bercandain kamu. Aku seneng aja ngeliat muka kamu yang kalau nggak salah tapi aku salahin tuh lucu jadinya,” ucapnya masih dengan tertawa, namun kali ini satu tangannya menutupi mulutnya. Ketawa cantik kalau kata orang-orang. Padahal, sesaat lalu caranya tertawa udah mirip nenek lampir. Tapi ia cepat sadar kalau sedang berada di tempat umum. Jaga image, katanya. Tawa nenek lampir tadi cuma terlihat saat kami sedang berduaan saja.

“Hahaha, iya tau kok kamu cuma bercanda. Udah hafal juga aku,” gue pun ikut tertawa. Menghargai candaannya demi keselamatan jiwa.

Laila yang masih tertawa dengan tangan memegang cup caramel macchiato-nya tiba-tiba menghentakkan cup tersebut ke meja dengan cukup keras. Tawanya terhenti. Mata indahnya berubah menjadi mata nenek lampir sungguhan dan menatap tajam menghunus bola mata gue. Auranya berubah hanya dalam hitungan detik. Ia membuka mulutnya, “Tapi ajakan belanja kamu tadi bukan bercandaan, kan?” Gue nelen ludah.

---

“WOY!”

“Wah, gila ini orang.”

“Bang, gimana nih? Panggil ustadz aja? Kayaknya kesurupan deh.”

Gue terperangah mendapati Rama, Ben, Fajar, Alika, Richard bahkan Ivan yang tadi sempat pergi, sekarang tengah berada di hadapan gue dengan masing-masing melayangkan tatapan heran.

“Ada apa nih rame-rame?” Tanya gue.

“Wah, sadar juga nih orang, kirain udah gila,” sahut Richard.

“Kenapa sih?” Jawab gue polos.

“Oy kampret, gue udah panik tadi. Lo bengong lama banget, gue kasih cipratan air lo nggak sadar. Gue goyang-goyangin juga nggak sadar. Terus gue panggil Ben, Fajar sama Alika buat bantu, masih nggak sadar juga. Gue minta bantuan di grup Alchemy yang bisa dateng si tai Richard doang. Akhirnya gue nyuruh Ivan buat balik lagi biar jadi saksi kalau kakaknya udah gila,” jelas Rama panjang lebar.

“Kampret, gue udah dateng masih aja dikatain,” timpal Richard.

“Eh? Serius? Duh, maaf-maaf jadi ngerepotin kalian gini,” gue menggaruk bagian belakang kepala sambil memasang muka nggak enak kepada mereka. Apa selama itu gue melamun? Apakah hanya gegara seorang perempuan bisa menghancurkan mental gue?

Rama mengambil tempat di sebelah gue, lalu melingkarkan lengannya melewati leher. “Take it easy, bro. Jangan lo jadiin beban. Percaya aja kalau ini memang udah bagian dari rencana Tuhan. Dan percaya bahwa suatu saat nanti datang seseorang yang bisa menggantikan posisi Laila di hati lo. Lo punya kita, Ndre,” ia berhenti sejenak, matanya menyapu mereka yang berdiri di hadapan kami. “Kalau gue atau anak-anak Alchemy nggak bisa bantu, masih ada Ben, Fajar sama Alika yang stand by di kafe. Gue tau si Ivan nggak bisa diandelin buat masalah kayak gini, tapi setidaknya sosok dia nyata, Ndre. Dan yang pasti lo nggak sendirian.”

“Nyesel gue dateng, Bang,” sesal Ivan mendengar perkataan Rama.
   
Gue tersenyum. Kembali ia berkata benar. Gue rasa Rama lah yang seharusnya dikira kesurupan, karena hari ini apa yang ia katakan banyak benarnya.

Gue nggak sendirian. Meskipun gue ragu akan perkataan Rama tadi yang membawa nama Tuhan padahal ia sendiri termasuk orang yang tidak taat beragama. Namun ketika gue menatap mereka yang kini berdiri di sekeliling gue dengan raut wajah khawatir, gue sadar mungkin sudah seharusnya gue berdamai dengan masa lalu dan mulai menyusun rencana ke depan serta menapakinya dengan perlahan.

“Mau dilepasin di panggung aja? Biar lo nggak gila beneran,” ajak rama yang segera gue iyakan.

---

Berbeda dengan kafe milik Nadine yang memilih menampilkan live music berupa penampilan akustik, gue lebih kepada penampilan band bagi siapa saja yang mau mengisi. Termasuk Alchemy yang kerap tampil di kafe ini yang ternyata mampu menarik minat pengunjung lebih banyak.

“Mau main apa?” Ujar gue sambil mempersiakan amplifier. Richard bersiap pada posisinya dibalik drum. Begitu pula dengan Rama bersama gitarnya.

Yellow Ledbetter-nya Pearl Jam, gimana?”

“Mainkan!” Sahut Richard dari belakang.

---

Mungkin gue harus merelakan Laila.

Mungkin.

Tapi, apakah gue sanggup?

to be continued


Saturday, April 1, 2017

Chapter V - Doubt




Chapter I-IV bisa di klik pada tags 'Series'.

---
Laila

Pernah gak merasa kalau kita punya segala yang kita inginkan, seperti sahabat yang selalu ada, materi yang tercukupi sampai kekasih terbaik dalam hidup kita. Tapi di sisi lain, timbul perasaan bahwa semua itu kemungkinan besar tidak bisa kita miliki selamanya?

Perasaan itulah yang kini menyelimutiku.

Aku seakan kembali menemukan warna hidupku semenjak dua tahun lalu. Saat pertama kali berjumpa dengannya di sebuah kafe yang terletak persis di tepi jalan besar Gejayan. Gabungan warna indah yang mengisi hitam-putih hidupku sampai detik ini. Dan mungkin hanya sampai beberapa bulan berikutnya.

“Permisi mbak, saya mau ngambil itu,” suara tersebut menyadarkanku. Aku mundur beberapa langkah dan tersenyum ke pemilik suara. Aku sedang berada di sebuah supermarket. Melakukan kebiasaanku selama hidup di kota pelajar ini tiap awal bulan tiba; belanja bulanan.

Entah berapa lama aku termenung  di depan etalase bodyshop itu. Pikiranku kerap mundur pada malam perayaan satu tahun kafe milik Nadine. Saat aku turun dari stage, aku mendapati tatapan itu. Tatapan yang menjadi ciri khasnya kala memproyeksikan pertanyaan, ‘kamu kenapa?’. Namun ia tahu aku tak akan menjawabnya. Jadi, saat aku menempati kursiku, ia langsung mengenggam tanganku. Erat. Aku tahu apa yang ada dipikirannya. Dan aku tahu apa yang seharusnya aku ucapkan.

Tapi aku tidak bisa.

Setelah membayar belanjaan dan berjalan menuju tempat parkir, ponselku berdering. Nama dari seseorang yang sangat aku kenal—dan aku cintai, tampak pada layar.

“Kamu dimana?” tanya suara di seberang telefon. 

Waalaikumsalam,” jawabku.

“Eh, iya, assalamualaikum.” Aku tersenyum sejenak sebelum mengulangi kata yang sama.

“Pelan-pelan aja. Tarik nafas. Cuci muka dulu. Makan siang. Kalau udah beres semua, baru telfon aku lagi.”

“Makan siang? Sarapa... Eh, udah jam 12an yah hehehe,” dia cengengesan. Sedangkan aku hanya meresponnya dengan seutas senyum. Bukan hal baru kalau di hari minggu ia bangun sebegini siangnya.

“Oh iya, kamu berangkat ke Solo jam berapa?”

“Kata Dian sih jam dua, kumpul di kosku,” jawabnya.

“Tau banget aku kenapa Dian minta berangkat jam segitu. Personil bandnya kebo semua sih,” sambungku tertawa kecil dan diikuti respon yang sama dari lawan bicaraku.

Setelah terdiam beberapa saat, aku menarik nafas sejenak, “Kamu tuh, Ndre, hobi banget sih bangun jam segini? Aku udah kemana-mana, Ndre, sekarang aku baru selesai belanja bulanan di Amplaz. Udah, nggak usah nanya, ‘kenapa nggak nungguin aku?’. Kelamaan kalau aku nunggu kamu bangun. Setelah ini aku langsung pulang. Sekarang kamu cuci muka, shalat duhur dulu terus makan!”

Aku senang melakukannya. Tentu aku tak pernah bosan, meskipun harus misuh-misuh tiap akhir pekan. Anggap saja ini caraku menunjukan rasa sayangku padanya. Tiap orang punya caranya sendiri dalam menunjukan rasa sayangnya, bukan?

Aku juga hafal dengan kebiasaannya menjauhkan ponsel dari telinga kala aku menasehatinya. Jadi, saat tak terdengar suara apapun setelah ‘ceramah’-ku tadi, aku tahu ia tak mendengarkan dan kalau sudah begini, maka akan ada ‘ceramah’ bagian dua.

Baru aku membuka mulut untuk melanjutkan perkataanku, terdengar suara darinya. Suaranya begitu tenang sehingga aku sedikit tersentak mendengarnya. Ia berkata, “Iya sayang.”

---

“Lama amet, bu. Eike udah mau mati kelaperan, bo,” ujar Nadine kala aku membuka pintu kamar kos. Ucapannya itu dipertegas dengan apa yang sedang ia lakukan; memakan satu bucket ice cream oreo.

Nadine ada di kamarku sejak semalam. Ia datang dengan setumpuk cerita mengenai cowok yang sedang mencoba mendekatinya. Mulai dari hal yang ia sukai, sampai yang membuatnya ‘ilfeel’ terhadap cowok itu, ia curahkan semuanya hingga tak sadar bahwa malam semakin larut dan ia memutuskan menginap di tempatku.

“Maaf, maaf, tadi sempet telfonan dulu sama Andre. Ini udah gue beliin makanan favorit lo, ayam geprek bu rum,” kataku sembari menaruh dua kantung belanja di meja yang terletak di hadapan tempat tidur. Nadine cengar-cengir mendengarnya. Sungguh, aku sedikit kasihan pada tiap cowok yang mencoba membuat Nadine terkesan dengan membawanya ke restoran pizza atau tempat fancy lainnya, padahal mengajak dia makan di ayam geprek bu rum adalah pilihan yang lebih baik dibanding itu semua. Nadine nggak mungkin bisa nolak ajakan satu ini. 

“Bu Rum yang dimana? Gue nggak mau makan selain yang di Demangan,” protesnya.

“Sumpah ya, ini orang katanya kelaperan, tapi masih aja nanya gitu. Lagian kenapa sih harus yang di sana? Di sekitar sini juga ada, kan?” ujarku kesal.

“Gini ya, Laila Indrayanti,” ia membetulkan posisi duduknya. Menegakkan punggung, serta menaruh bucket es krim di antara dua kaki yang bersila. “Nggak semua cabang tempat makan punya rasa yang sama, meskipun dipayungi satu nama. Gue pernah coba Bu Rum yang di tempat lain, rasanya beda, La. Mulai dari ayam sampai sayurannya. Dan lo tau alasan gue bangun kafe di daerah sana? Salah satunya biar gue nggak terlalu jauh buat beli geprek itu, La,” jelasnya panjang lebar.

Yah, seperti itu Nadine kalau sudah suka dengan sesuatu, khususnya tempat makan. Seperti nggak mau makan bubur selain di tukang bubur belakang kampus. Atau bakmie jawa di dekat kosku. Ayam geprek bu rum hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak hal ribet ala Nadine. Aku melihat itu sebagai satu hal yang lucu, meski terkadang tampak menyebalkan.

“Bawel, Nad,” aku terkekeh sambil mengeluarkan beberapa barang dari kantung belanja. “Udah, katanya laper tapi masih ngemilin es krim aja. Eh, by the way, itu es krim siapa yang lo makan?” lanjutku.

“Ya punya lo, Laila. Gue ambil dari kulkas di dapur saking lapernya. Terus gue liat ada es krim oreo di dalam plastik dengan tulisan ‘Laila’, yaudah gue ambil, hehe. Maaf ya, gue bilangnya belakangan,” ucapnya diikuti satu suap sendok es krim ke mulutnya.

“Nad, lo lupa?” aku menghentikan kegiatanku dan berbalik arah. Mataku menatap Nadine lekat.

“Apaan?” gerakannya pun tertahan kala pipinya menggembung karena es krim di dalamnya. Ia menaikkan satu alisnya dan menatapku heran.

Aku menarik nafas sejenak. “Di kost ini, kan, ada dua nama Laila. Lo lupa itu?”

Nadine menelan es krim yang tertahan di rongga mulutnya. Tatapannya terpaku pada diriku yang mematung tanpa ekspresi. Kini mulutnya sedikit menganga serta mimik muka herannya berubah menjadi panik.

Nadine menepuk dahinya, “Mampus, gue lupa.”

“Gimana dong, La? Duh, ini udah mau abis lagi. La, gimana ini?” ia nampak gusar sehingga tak bisa diam, membuat sprei kasurku berantakan.

Aku mengangkat kedua bahu sambil tersenyum tipis.

“Aduh, gue gantiin aja kali ya? Orangnya yang di kamar atas itu, kan? Duh, La, gue nggak enak ini, mana nggak kenal lagi. Iiiih gimana dong? Jangan diem aja kenapa, La?!” ia semakin panik. Hal itu membuatku tak kuasa melihatnya dan mulai menahan tawa.

Nadine melihatku sejenak, lalu hanya butuh beberapa detik sebelum sadar bahwa aku mengerjainya.

“LAILA RESEEEE!! AWAS YA!!” tawaku pecah. Kemudian Nadine beranjak dari duduknya. Melompat ke arahku yang tak bisa menghindar karena perutku sakit efek terlalu banyak tertawa. Nadine menangkapku, lalu jemarinya dengan lihai menggelitik pinggangku. Ia tahu bahwa itu merupakan titik lemahku. Maka tawaku semakin tak terkontrol akibatnya.

“Hahahahaha, Nadiiiine!! Ampuuun, hahahaha.” Aku mencoba menahan gerakan tangannya yang berpindah-pnidah menghindari sergahan tanganku. “Udah heey, hahaha. Inget ini sahabat lo, Naaaad.”

“Bodo amat. Kita resmi jadi musuh sampai 5 menit ke depan.” Aku tahu ia tak mendengarkan, ia malah mempercepat gerakan menggelitiknya.

“Gilaaaaa, bisa mati ketawa gueeeee, hahahahahahaha.”

“BODOOO!!”

---

Aku tengah berada di sebuah kafe. Terduduk dengan laptop terbuka di hadapanku. Memantulkan cahayanya yang tepat mengenai wajahku. Aku menahan dagu dengan kedua lenganku, memerhatikan sang pemilik kafe sibuk menyiapkan pesanan customer. Aku tersenyum melihatnya. Bagaimana tangannya begitu cekatan dalam mengoperasikan mesin espresso, serta bibirnya yang tak lelah berkomunikasi dengan pegawainya. Padahal kafe ini sudah punya cukup barista untuk melayani pelanggan, namun terkadang ia terjun langsung ke dalamnya, menjadi sosok owner serta leader dari kafe yang dahulu hanya bisa ia bangun dalam mimpi.

Begitulah Nadine, seorang pekerja keras hingga ia dapat mewujudkan mimpinya. Walau tidak besar, namun suasana yang disajikan mampu membuat beberapa orang kembali lagi karena merasa nyaman –atau karena pemiliknya cantik, selain memang kopi di sini nikmat.

Dengan bar di bagian tengah ruangan, kemudian mini stage berada di sisi timur dari bar. Dinding kafe berupa bata abu yang terpasang rapih dan ditimpa mural di beberapa bagian. Sebuah kaca besar terdapat dibagian depan kafe dengan tulisan ‘Nadi Cafe’ terpampang. Membuat siapa pun yang lewat bisa melihat segala aktifitas yang dilakukan di dalam kafe, begitu pula sebaliknya. Dan yang aku suka ialah kondisi di sini pada malam hari, Nadine memasang lampu pijar sebagai lampu mayoritas kafe ini. Menjadikan suasana sedikit redup tapi tidak mengurangi jarak pandang orang di dalamnya. Hal itu mempunyai nilai tambah sendiri bagiku.

Aku pernah menanyakan kenapa ia memilih nama kafe seperti yang sekarang tertulis di kaca besar itu? Ia hanya menjawab bahwa nama itu kalau diucapkan berulang-ulang secara cepat maka akan terdengar seperti namanya. Yang membuatku menggelengkan kepala mendengarnya.

Namun, kalau ada orang lain bertanya, maka ia akan menjawab, “Karena memiliki sebuah kafe sendiri seperti udah terdapat dalam nadi saya, sehingga saya rasa nama ini pantas mewakili apa yang saya rasakan.” Mendengar itu aku hanya menahan tawa karena aku tahu makna sesungguhnya dibalik pemilihan nama ‘Nadi Cafe.’

Babe? Kok bengong?” aku tersentak ketika Nadine menyentakkan jarinya tepat di mukaku.

“Eh, engga, kok. Gue tadi ngeliatin lo aja. Seneng ngeliat lo keliatan sibuk gitu, jadi aura positif lo keluar, Nad, nggak keliatan galau terus,” jawabku.

“Yah, bisa dibilang ini salah satu cara gue biar nggak terus kepikiran Alfa sialan,” ujarnya sambil menempati kursi yang berhadapan denganku. “By the way, gimana nulis lo? Udah selesai?” lanjutnya.

Aku melirik layar laptop yang menampilkan laman kosong Microsoft Word dengan kursor yang berkedip. Tak ada satu kata pun di sana.

“Coba gue liat,” Nadine mencondongkan badannya. 

Dengan cepat aku menutup laptopku. “Enggak, Nad, jelek tulisan gue,” ucapku berbohong, membuat Nadine kembali pada posisi semula.

“La, lo emang bisa ngerjain gue kayak tadi siang, tapi untuk yang satu ini, lo nggak bisa ngehobongin gue,” ia mendengus pelan. “Gue udah sering baca tulisan lo dan nggak ada satu pun yang jelek. Lo kenapa, La? Apa yang mengganggu lo?”

Instingnya selalu tepat untuk hal seperti ini dan aku tak bisa mengelak. Aku menatap kosong ke arah laptopku yang tertutup. Menengguk hot cappuccino dari cangkirnya, lalu melirik Nadine kembali.

“Kenapa, La? Tentang Andre?” lagi. Tebakannya tepat. Jujur, aku belum pernah cerita mengenai hal ‘ini’ kepada orang lain, selain kakak ku, bahkan Nadine sekali pun. Meski tak seharusnya aku berlaku begini. Maksudku, aku yakin Nadine mampu menjaga apa yang aku ceritakan, karena itu lah ia kuberi julukan ‘secret keeper’, karena telah banyak aibku yang kubagi dengannya. Tapi tidak.. Umm, belum untuk yang satu ini. Aku belum siap sampai detik ini. Aku pikir sudah waktunya aku membagi sedikit bebanku kepada Nadine.

Aku merespon dengan anggukan lemah. Nadine menjulurkan tangannya dan menggenggam tanganku erat. Persis apa yang Andre lakukan pada malam itu. Apa yang ia lakukan menyadarkanku bahwa aku punya orang-orang yang sayang dan menaruh perhatian padaku. Seharusnya aku bersyukur, bukan malah mengabaikannya.

“Nggak apa-apa kalau lo belum mau cerita,” ia mengusap punggung tanganku. “Tapi kalau lo butuh seseorang yang setia mendengarkan cerita lo selama seharian penuh ditemani dua bucket es krim dan satu plastik cadburry serta ayam geprek bu rum, lo tau harus ke siapa.” Kalimatnya membuatku tak mampu untuk tidak tersenyum. Aku tau dia akan begitu, she’s always do that.

Sejurus kemudian ia beranjak dari kursinya, bersiap kembali ke belakang bar. Langkahnya mulai meninggalkan meja tempat kami berbicang sebelum ia menghentikan langkahnya karena namanya ku panggil. Ia berbalik arah dan aku berkata, “Nad, gue boleh minta tolong lo? For being my secret keeper, again?” Ia mengangguk dan tersenyum.

---

“Mbak Nadine, ini kita nggak apa-apa pulang duluan?”

“Iya, nggak apa-apa, ini paling sebentar lagi kita selesai kok.”

“Oke deh, aku sama Key pulang duluan ya, Mbak. Mari mbak Laila.”

Take care, Put, Key,” Nadine melambai ke arah Putra dan Key –pegawai Nadine, yang telah menutup pintu masuk dari luar. Aku balas dengan tersenyum tipis pada keduanya.

So,” ia menyesap gelas berisi americano. “Anything else you want to talk?

Aku melirik jam tanganku. Pukul satu lewat lima belas. Aku mendengus pelan, lalu meminum cappucino-ku yang ketiga.

Its okay babe, santai aja. Gue masih sanggup dengerin sampai ayam berkokok nanti kok,” ia mengerling ke arahku dan kubalas senyum getir.

“Gue,” aku menahan kalimatku. Menarik nafas dalam. Nadine mencondongkan sedikit badannya. “Laper, Nad.”

Nadine melempariku dengan tisu yang telah tergumpal. Tisu yang kugunakan untuk menahan air mataku agar tak jatuh membasahi permukaan meja. Kurasa berjam-jam dihabiskan dengan menceritakan kisahku tidak hanya membuat otak dan hati terkuras, melainkan dapat menimbulkan gejolak pada perut.

Kami berakhir di gudeg bromo tak jauh dari daerah kafe milik Nadine. Gudeg ini tergolong unik karena baru buka ketika dini hari. Meskipun begitu, antrean pembeli gudeg bromo selalu panjang. Menandakan kehidupan Jogja tak pernah mati baik siang maupun malam hari.

“Eh, gue penasaran deh, gue kok jarang ngeliat lo main handphone tadi? Nggak chatting sama Andre?” ucap Nadine sambil menyantap gudegnya.

“Dia lagi ada gigs di Solo sama Alchemy. Dia minta gue buat ikut sih, tapi gue bilang lagi mau girlie time dulu sama lo,” aku tersenyum.

“Ampun deh yang pacarnya anak band,” ia terkekeh. “Bisa kali duet di kafe gue. Tarik si Andre ke jazz tuh.”

“Eh, jangan salah, dia bisa kali main jazz,” responku cepat.

“Serius lo?” Aku mengangguk. Andre memang berbakat dalam bermusik.

“Gue sih mau aja tampil di kafe lo sama Andre. Bedanya gue masih bisa dibayar sama owner-nya cuma pakai dua scope gelato, tapi kalau Andre kurang tau deh, harus diskusi sama manajernya dulu,” candaku.

“Yeee gitu amat sama teman sendiri,” kita tertawa bersama sebelum kembali tenggelam dalam kunyahannya masing-masing.

“Eh, La, tentang cerita lo tadi,” Nadine kembali membuka percakapan.

“Hmmm?”

“Gue jadi kepikiran sama gue sendiri,” Nadine menaruh sendoknya, lalu menatap ke arah antrean sebelum kembali kepadaku. “Lo tau kenapa gue lebih milih buka kafe di sini dibandingkan di Bandung?”

“Waktu itu lo pernah bilang kalau pasarnya lebih bagus di Jogja daripada Bandung, kan? Dan sama kayak gue, lo masih mau merantau. Perbedannya cuma di alasannya doang sih. Lo nggak pulang demi kerjaan, merajut mimpi lo. Sedangkan gue? Gue hanya pecundang yang mencoba kabur dari kenyataan.” Aku merasakan tangan Nadine kembali menggenggam tanganku.

“Hey, babe, i wanna tell you something. Oke, kalau dibilang pasar di sini lebih baik. Tapi sebenarnya gue punya pertimbangan lain. Guess what? Gue menghindari Alfa, La,” ia tertahan. “Gue nggak sekuat itu, La. Gue rindu rumah, tapi gue juga nggak bisa kalau harus terus menerus ketemu Alfa. Gue tau dia, La. Kalau gue buka kafe di sana, gak ada alasan baginya untuk gak datang ke tempat gue. Gue cuma... Gue cuma belum bisa maafin dia. Gue belum bisa damai sama masalah gue sendiri, La. Meskipun banyak cowok yang coba deketin gue, tapi jujur, belum ada yang bisa gantiin posisi Alfa dan begonya gue masih bisa galau setelah apa yang pernah dia perbuat.

Seharusnya gue yang dengerin cerita lo, tapi sekarang malah gue yang cerita. Meskipun apa yang gue alamin masih nggak sebanding dengan beban yang lo tanggung, lo harus coba berdamai sama masalah lo, La.” Ia terisak, namun masih tampak untuk mengendalikannya.

Its okay, Nad, anggap aja malam ini jadi malam jujur-jujuran kita,” jawabku dengan senyum, serta kini giliran tanganku terjulur untuknya. Tuk meresapi apa yang ia rasakan.

---

Aku merebahkan diriku ke atas kasur, menerawang langit-langit kamar dengan pikiran berkecamuk. Berdamai dengan masalah sendiri. Teringat aku pada perkataan Nadine tadi. Aku sudah mencobanya berkali-kali, dengan presentase keberhasilan nol persen.

Aku terlampau sering merasakan kehilangan. Bahkan, aku sudah menganggap kehilangan seperti nama tengahku sendiri. Jadi tiap kali aku merasakannya, aku tak tahu kata apa yang tepat mendefinisikannya, seperti tak ada apa-apa, tanpa kesedihan, tanpa air mata berarti.

Namun kali ini berbeda, orang yang kini mewarnai hari-hariku ialah orang yang kuharpkan berakhir jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun aku tersadar, harapan itu hanya sebatas harapan belaka, tak nampak akan jadi nyata, bahkan hanya untuk kemungkinan sekali pun.

Tring.

Ponselku berbunyi, nama Andre terpampang di pop up message Line.

“Still awake?”

Ku tatap pesan itu cukup lama. Sampai akhirnya memutuskan untuk menekan tombol kunci dan meletakkan ponsel di sebelahku.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, dan tanpa sadar air mataku telah membasahi sekujur pipiku. Aku menarik boneka panda pemberian Andre pada perayaan tanggal jadi hubungan kita yang pertama tahun lalu ke dalam dekapanku, lalu aku mengucap lirih, “Ndre, maafin aku.”

 to be continued