Sunday, August 4, 2013

When We Love Someone



Pagi ini, sama seperti pagi sebelumnya dan pagi-pagi lainnya yang akan datang-setidaknya sampai sekitar seminggu ke depan sebelum liburan sekolah, tiba-aku terdiam. Tidak. Memang aku selalu diam. Diam dengan satu alasan jelas. Menunggu seseorang yang pasti akan kembali kepadaku jika waktunya tiba.
Kulirik jam di hadapanku, hmmm, pukul 10, berarti gak lama lagi dia pulang. Entah kenapa kali ini waktu berjalan begitu lambat. Detak jarum  jam  yang bisa kurasakan menyatu dengan tubuhku juga terasa berputar begitu lamban, seolah ia malu jika aku lihat terus-menerus.
Bosan. Sebenarnya banyak yang ingin kulakukan, tapi apa daya, aku tak sanggup melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan. Gerakku terbatas. Yah, mau tidak mau aku harus kembali ke kegiatan awal yang kulakukan, menunggu. Rasanya aku sangat ingin berteriak karena kejenuhan hebat yang melandaku saat ini. Tapi suaraku mustahil bisa didengar. Bahkan jika ada seekor jangrik yang memamerkan suara bisingnya, suara itu tetap mampu mengalahkan teriakanku.
Banyak yang mengatakan kalau merubah diri itu susah, baik diri sendiri ataupun orang lain. Tapi sepertinya,  hal itu tak berlaku bagiku. Selama aku hidup, banyak perubahan yang terjadi pada diriku. Dan setiap detail perubahan yang terjadi padaku, aku ingat semuanya. Papa dan Mama selalu tak puas dengan keadaanku, makannya mereka rela merogoh kocek yang tak sedikit hanya untuk merubahku. Namun berkat mereka, aku yang sekarang tampak lebih segar. Aku juga sangat menyukai penampilan baruku ini.
---
“Assalamualaikum”
Ah! Itu dia! Aku melamun sampai tak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Kalau begini, setiap hari aku melamun saja, supaya waktu terasa berlari dan terasa lebih cepat berlalu.
Sudah hampir setengah jam dia belum juga menghampiriku. Dia malah membanting tasnya di ruang tengah kemudian  masuk ke kamar adiknya. Huh, sial. Padahal biasanya dia buru-buru mendatangiku untuk istirahat. Lagi-lagi aku harus kembali ke pekerjaan yang seharusnya sudah selesai dari setengah jam yang lalu. Menunggu.
---
“Bro, gimana hubungan lu sama Ryana?”
“Begitulah..,”
“Membaik?”
“Gak membaik, tapi juga gak buruk. Melainkan hancur,”
“Terus? Lo mau putus?”
“Gue? Enggak. Dia yang mau,”
“Sayang, padahal Ryana cantik banget, menurut gue dia juga baik. Ya, gue tau lo jauh lebih mengenal dia daripada kita-kita, secara, lo udah lama sama dia. Tapi.. ya, sayang aja gitu kalau putus,”
“Tuhan yang menyatukan gue dan dia untuk bersama, Dia juga yang menentukan takdir kita berdua. Cuma yang gue sayangin, kenapa Tuhan membuat gue dan dia bersama selama 2 tahun? Kenapa gak 5 hari? Atau paling lama 5 bulan? Too much memories with her, and isn’t easy to forget,”
­­­---
“... bola dioper ke M. Ridwan, dia melepaskan umpan ke tengah kotak pinalti, sepertinya tak ada kawan di sana.. oh! GOOOOAAAAL!”
“GOOOOOOOAAAAAL!!! Yeaay! Akhirnya!!”
“.... Sergio Van Dijk! Comin’ from behind! Lolos dari pengawalan para pemain belakang Persipura, menyambar umpan lambung dari Muhammad Ridwan. 2-1 untuk Persib Bandung,”
Argh. Ternyata aku tertidur dan dibangunkan oleh suara komentator sepak bola featuring suara teriakkan Eza yang menonton pertandingan bola di tempatku. Sebenarnya aku sedikit kesal jika Eza nonton bola di sini, lebih-lebih kalau yang bertanding tim kesayangannya, ia bisa berteriak sekeras mungkin apabila terjadi gol bagi tim favoritnya itu. Yah, kadang aku sengaja mengerjai dia supaya dia tidak terlalu berisik. Aku buat ruangan ini seolah-olah ada hembusan angin yang masuk sehingga auranya berbeda, pasti dia langsung keluar, hihi.
Tunggu. Sepertinya aku melupakan sesuatu. Oh iya! Mimpi itu... membawaku kembali beberapa minggu yang lalu. Kenangan lama yang kepingannya masih terbawa sampai saat ini. Percakapan antar 3 sahabat mengenai suatu hubungan yang sepetinya sudah tidak dapat ditolong lagi. Hubungan yang membuat salah satu diantara mereka menjadi berbeda dari biasanya. Dari periang menjadi pemurung. Dari paling banyak membuat ulah menjadi pendiam. Dari yang bersikap bak pemimpin yang bijaksana, menjadi seorang pecundang yang buta akan tujuan hidup.
---
“Udahlah, Bro. Jangan memaksakan suatu hubungan agar tetap berjalan. Kalau emang udah waktunya jatuh, ambruk, hancur, biarin aja. Analoginya gini, lo suka main PES, tapi suatu hari laptop lo rusak, masih bisa dipakai buat main, tapi gambarnya gak jelas, larinya ngadat, dikit-dikit nge-hang. Apa mau lo paksain? Mainnya juga gak enak. Lo pasti coba berusaha buat benerin laptop lo, kalau emang gak bisa, ya, lo beli baru,”
“Terus kalau gue putus sama Ryana. Eh, bakal putus juga, sih. Gue harus beli cewek baru gitu? Analogi lo ngaco. Mending main lagi deh. Ambil stick lo, gue pakai Munchen. Siap gue bantai lo, lagi kesel nih,”
“Oke! Tapi lo jangan ngebayangin gawang musuh itu jadi muka Ryana lho, hahaha,”
“Biarin. Supaya gue semangat jebol gawang lu, hahaha. Yok lanjut!”
---
Aku tahu, kau tidak mengerti apa maksud dari perkataan Hugo tadi. Ya, tapi aku senang, kau bisa dengan cepat kembali tersenyum bahkan langsung bercanda ria dengan 2 sahabatmu, walau hanya untuk saat itu. Benar kiraku, sepulang mereka berdua, pikiranmu lagi-lagi menerawang jauh ke belakang. Aku membaca dari raut wajahmu yang tampak pusing dan lelah memikirkan sesuatu yang kurang pantas untuk kau pikirkan. Kau butuh seseorang untuk membantumu melupakan segelintir masalah yang melandamu. Sahabatmu tak selalu berada disisimu karena pasti mereka punya kegiatan lain. Tapi sadarkah kau bahwa ada aku yang selalu mengawasimu? Ada aku yang selalu ingin menghiburmu, walau aku tak sanggup.
Kini, 2 minggu sudah berlalu. Keadaanmu tak tampak lebih baik dari waktu itu. Kau sudah putus dengan perempuan bernama Ryana. Bisa dikatakan baru. Sekitar 3 atau 4 hari lalu ketika suara handphone-mu berdering keras. Wajahmu berseri kita kau membaca nama yang tertera dilayar ponselmu.
“Ryana Dwi S,” begitu gumamu sembari tersenyum halus. Senyuman yang hanya bertahan kurang dari 5 menit. Setelah kau menutup telfonmu. Kau mulai menangis. Sebenarnya pembicaraan diantara kalian berdua tak begitu lama. Tapi efeknya mampu bertahan sampai detik ini. Kau masih tampak murung. Aku mencoba menghiburmu, walau aku tak sanggup.
---
8 bulan pasca hubunganmu dengan Ryana berakhir. Kau sepertinya mulai terbiasa menjalani hidup sendiri. Dalam konteks pasangan khususnya. Itu bagus untukmu. Kau mencoba berbagai hal yang selama ini tak sempat dirimu lakukan. Segalanya kau kerjakan untuk mengisi waktu kosong. Untuk menyibukkan diri sendiri. Karena aku tahu, kau tak sanggup berdusta apabila rindu dengan Ryana kala sepi melanda.
---
“Kok lu masih jomblo sih? Gak mau cari cewek lagi gitu?”
“Yaelah, Go, cewek mah nanti juga dateng sendiri, hahaha,”
“Bay, temen lu tuh, ganteng-ganteng tapi jomblo,”
“Lo naksir, Go? Pacarin aja gih,”
“Kampret lu berdua, gue bukan maho. Lo lagi, Go, ngomongnya jijik gitu, ih,”
Mereka berdua, Hugo dan Bayu hampir tiap minggu datang berkunjung. Mereka ingin menemanimu. Mereka tahu, bila kau sendiri, kau selalu merindukan masa lalu. Ya, mereka memang sahabat yang baik, kau beruntung bisa bersama mereka. Meskipun, tujuan lainnya untuk bermain game sepak bola kesayang kalian. Aku tak tahu apa serunya permainan itu, sepertinya hampir semua lelaki gemar bermain game bola tersebut. Aku yang melihat kalian bermain sampai saat ini belum mengerti dimana letak serunya game itu. Bahkan kalau kalian bermain sampai teriak-teriak dan tertawa terbahak-bahak, aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku kalian.
Sepertinya akan ada yang datang... ah Mama. Beliau membuka pintu dan bertanya kepada kalian mengapa berisik sekali. Kau sudah bosan menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang dengan jawaban yang sama secara berulang-ulang pula. Tapi jika kau diam, beliau akan menceramahi kaian bertiga tanpa henti. Kecuali beliau sudah lelah.
“Biasa, Ma, permainan laki-laki. Bikin greget,” begitulah jawabmu. Dua lainnya mengangguk setuju seakan menguatkan pernyataanmu tadi. Sedangkan beliau, Mama-mu, hanya menggeleng. Entah itu gelengan kepala untuk yang keberapa kali. Kau tidak memperdulikannya. Aku juga terlalu malas untuk ikut menghitung.
---
            Akhir-akhir ini kau terlihat sibuk. Mama sampai bertanya, apa yang sedang engkau lakukan. Aku juga memiliki pertanyaan yang sama dengan Mama, tapi tak mampu terucap secara lisan. Kau hanya membalas pertanyaan itu dengan senyum tipis yang menjadi salah satu daya tarikmu di mata para gadis. Mama semakin heran. Aku juga semakin heran. Harapan kita sama, semoga apa yang dilakukanmu dapat menghasilkan sesuatu yang positif.
---
            Aw! Sakit sekali! Apa yang membuatku merasa sakit ketika aku sedang tidur? Aku tak bermimpi apa-apa. Aku juga tak bergerak selama aku tidur, ya, karena memang tidak bisa. Aku melihatmu masuk, membawa palu. Hey, palu? Untuk apa?
            BAM! BAM! BAM! BAM!
            “Akhirnya nancep juga ini paku,”
            Argh... apa yang dilakukannya? Apa dia tak sadar bahwa dinding ini juga bagian dari tubuhku? Apa dia tidak tahu rasanya kalau ada bagian dari tubuhnya  yang dipaku? Sangat sakit! Kau keluar lagi seakan ingin mengambil sesuatu. Papan tulis? Buat apa papan tulis itu? Mama melontarkan pertanyaan yang sama dengan apa yang aku pikirkan. Yah, naluri sesama perempuan. Eh, aku perempuan? Entahlah, aku juga tak tahu.
            Papan tulis itu kau letakkan tepat di depan tempat tidurmu dan disamping meja yang lebih senang disebut meja kerja olehmu. Aku tahu, belajar adalah pekerjaan yang paling malas untuk dirmu lakukan. Lantas, apa gunanya papan tulis berukuran 2x1 meter tersebut? Kalau ini dibuat dalam serial sinetron, pasti judulnya Hanya Tuhan-lah yang Tahu.
---
            Kau kini lebih sering bersama dengan laptopmu. Papan tulis itu juga sudah kau penuhi dengan tulisan-tulisan yang tak kumengerti maksudnya. Wait! Setelah kupahami, sepertinya tulisan-tulisan itu adalah sebuah judul. Buku? Novel? Cerpen? Atau puisi? Entahlah. Sekarang aku mengerti kenapa matamu kuat berlama-lama bertatapan dengan layar LCD yang menyala terang. Kau menjadi penulis. Ya, penulis. Sounds good. Aku tak tahu apa yang kamu tulis, tapi jika berkaca pada tulisan di papan tulismu, kau menuliskan kisah hidupmu. Mulai dari senang, bahagia, dan yang terakhir melanda dirimu, kesedihan dan kepedihan.
            Selain menulis, kau juga sepertinya tertarik dengan dunia musik. Bahkan celenganmu rela dibongkar untuk membeli sebuah gitar. Otodidak. Kau lebih suka cara itu. Surfing chord gitar di internet masuk dalam rutinitas kegiatanmu tiap hari. Perlahan, kau mulai mahir memainkan alat musik itu. Aku melihat bakat terpendam yang selama ini tak pernah sekalipun kau tunjukkan. Mulai dari lagu pop, hingga lagu rock yang beisik telah kau kuasai. Tapi, aku punya saran untukmu, lebih baik biarkan alunan gitar yang memenuhi diriku, tak perlu menyanyikan lirik yang selalu bernada sama dari mulutmu, hihi.
---
            Akhir-akhir ini aku semakin susah tidur. Sebabnya, musik rock yang hampir tiap waktu menggema dari speaker simbadda milikmu. Aku tak keberatan apabila kau melantunkan lagu melalui speaker-mu itu. Aku tak akan melarangmu. Tak akan mengganggumu. Karena aku juga milikmu. Tapi bisakah kau memilih lagu yang tepat untuk kita dengar bersama? Kau sadar aku ada. Akan tetapi sadarnya dirimu belum mampu menyadarkan bahwa aku juga bisa merasakan sesatu. Aku punya perasaan. Sama seperti dirmu. Sama seperti kalian.
---
            Kau pulang dengan raut wajah ceria hari ini. Sepertinya, hal baik telah menimpamu. Dengan bergegas kau membuka laptopmu dan menghapus sebagian tulisan di papan tulis. Entah apa lagi yang kau pikirkan. Jalan pikiranmu selalu membuatku bingung. Suara hentakan jari pada keyboard terdengar sampai ke indra pendengaranku. Kau menulis dengan senyum indah terlukis di wajahmu. Perkiraanku sepertinya tepat. Kau mengalami hari yang bagus.
            “Fiuh, kelar juga,” kau menghempaskan punggungmu ke sandaran kusi. Kayaknya apa yang kau kerjakan sudah mencapai akhir. Kau berdiri dari kursi itu. Astaga! Kau melihat kearahku. Matamu bergerak menelusuri ruangan ini. Diriku. Menjamah setiap detail dari setiap sudutnya. Aku merasa tersipu malu jika diperhatikan begini. Kembali kau lontarkan senyum manismu itu. Kau menyalakan speaker-mu. Memutar lagu yang... ah! Salah satu kesukaanku! Kali ini kau memilih lagu yang tepat untuk kau, maksudku, kita dengar bersama. When You Love Someone-nya Endah & Rhesa melantun dengan indah. Tanganmu meraih sebuah spidol dan mulai menggoreskan tinta hitamnya pada papan tulis kesayanganmu. When We Love Someoe. Begitu tulismu.
When you love someone
Just be brave to say
That you want him to be with you
When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true
            Kini kau tahu aku ada.
Kini kita tahu, kita sedang jatuh cinta.





Monday, July 22, 2013

Bingung Ngabuburit Mau Ngapain? Cek Postingan Ini :D

Halo teman-teman yang lagi buka blog ini saking nggak ada kerjaannya. Apa kabar? Udah lama nggak update postingan lagi. Gimana puasanya? Lancar? Bagi yang nggak puasa, gimana gangguin orang yang lagi puasanya? Lancar? Alhamdulillah kalo gitu.

Berhubung sekarang bulan Ramadhan, gue akan ngebahas mengenai salah satu hal yang sudah tak asing lagi orang lakukan pada bulan puasa. Yak, ngabuburit, atau JJS (Jalan-Jalan Sore). Enaknya lo aja pilih yang mana. Gue akan ngebahas apa aja yang biasa (jomblo) lakukan kalo ngabuburit. Langsung aja. Cekidot!

      1. Main bareng temen-temen

Ngabuburit biasanya dilakukan pada sore hari selagi menunggu waktu berbuka puasa. Nah, main/jalan-jalan bareng temen adalah hal yang paling tepat dilakukan. Karena bersama temen, kita seakan lupa dengan waktu. Jadi, nggak akan kerasa kalo maghrib tiba, tau-tau udah imsyak aja.

2. Jalan bareng pacar

Maaf sebelumnya, bagi yang jomblo silahkan skip bagian ini. Dan berhubung gue juga jomblo dari sejak kapan gue juga udah lupa, jadi gue gatau gimana rasanya ngabuburit bareng pacar. Bagi yang punya pengalaman, dipersilahkan untuk berbagi di comment box dibawah postingan ini. Regrads. Anggota Dewan Perwakilan Jomblo regional Banten.

      3. Jalan sendirian

Jalan-jalan sendirian juga nggak kalah asik, kok. Lo bebas mau kemana aja tanpa ada yang ngatur. Mau cari makanan kek, mau cari pacar kek, bebas. Siapa tau kalo nyari pacar pas puasa dapet yang edisi Ramadhan? Shaleh/shalehah, suaranya berat kayak bedug adzan maghrib, mukanya manis kayak takjil buka puasa. Ya, pokoknya Ramadhan version deh.

4. Olahraga

Olahraga sambil menunggu waktu buka puasa merupakan salah satu contoh positif. Salah dua dapet 80 #apasih #iyataugaring. Waktu yang pas buat olahraga menurut gue itu antara jam 5 sampe set. 6. Soalnya kelar olahraga bisa langsung minum guna melepas dahaga. Gak langsung juga, sih, nunggu adzan dulu. Jangan baru imsyak langsung olahraga, apa lagi olahraga marathon, atau angkat beban, atau angkat beban sambil marathon. Jangan, gue jamin nggak nyampe 10 menit puasa lo bakal batal. Gak percaya? Iris kuping adek gue kalo gue bohong.

      5. Nonton film

Buat yang males untuk menggerakan raganya, yang satu ini bisa dijadikan pilihan. Karena rata-rata durasi film itu berkisar antara 1,5 sampe 2 jam lebih. Lumayan, kelar nonton film, adzan maghrib-pun berkumandang. Tapi, jangan coba-coba buat movie marathon, mentang-mentang males olahraga malah marathon film lagi, nanti yang ada, film selesai, adzan subuh-pun berkumandang.

6. Tidur

Cocok buat yang males ngapa-ngapain. Tapi ada aturannya, bagi yang kalo tidur susah dibangunin, atau lebih familiar disebut ‘ngebo’, jangan tidur dalam rangka ngabuburit. Misalkan lo tidur jam 4 sore, iya sih bakal bangun pas maghrib, tapi maghrib keesokan harinya.

7. Les atau bimbel atau belajar

Nah, yang satu ini keren banget nih. Di agama gue, menuntut ilmu itu hukumnya wajib, dan akan diganjar dengan pahala. Sekarang lagi bulan Ramadhan, dengan kondisi sedang menunggu waktu berbuka, kita lebih memilih belajar. Mencari ilmu tambahan. Kebayang pahala kita dilipatgandakan oleh Allah. Jadi waktu kita gak terbuang percuma.

Apa lagi kalo les bareng temen-temen, bisa sambil diskusi pelajaran, untung-untung kalo pacar kita ikut les juga dan satu ruangan dengan kita. Belajar juga bagian dari olahraga. Yap, olahraga otak. Kalo gurunya gak ada, bisa nonton film bareng temen dan pacar atau bahkan bisa tidur di kelas, asalkan, jangan les di hari libur disaat tempat les juga tutup, nanti lo sendiran lagi.

8. Baca blog orang

Bagi yang temennya sibuk, gapunya pacar, gak ada kendaraan buat jalan-jalan, males olahraga, laptopnya rusak sedangkan dvd player baru dijual jadi gabisa nonton film, kasur buat tidur jebol, dan gak ikut les dimana-mana. Cara terakhir ini bisa jadi cara paling alternatif dari yang paling alternatif. Lo bisa buka blog yang lucu-lucu buat ngehibur lo, yang seru-seru buat macu adrenalin, yang semacam tutorial biar pengetahuan lo nambah. Bisa dibuka dari hp kalo ada browsernya, dan kalo koneksi internet lo gak amburadul. Gue rekomendasiin buat gak buka blog ini. Buang-buang waktu lo doang.

Cukup segini dulu deh dari gue untuk hari ini. Kita bertemu di lain post. Selamat menunaikan ibadah puasa, mblo. :D

Monday, July 8, 2013

Dad


Ayah dan Ibu. Dua sosok yang paling berharga dalam kehidupan seseorang. Tak terkecuali dengan gue. Tanpa mereka gue bukanlah apa-apa. Bahkan gue meragukan kalo gue bisa sekolah tanpa mereka. Nabi Muhammad pernah berkata, “Ibumu, Ibumu, Ibumu”, baru kemudian disusul dengan ayah. Itu karena sosok ibu lebih diutamakan. Tapi, di sini gue akan ngebahas tentang bokap gue dulu. Sebelumnya gue udah menceritakan tentang adek gue dan diri gue sendiri. Well, selamat membaca! ;)


Bokap gue itu orangnya keras, tapi baik hati. Yah, sifat dasar seorang ayah. Selama 17 tahun gue hidup, gue merasakan apa yang banyak orang katakan, kalo bokap itu lebih cuek daripada nyokap. Bokap gue terlalu malas untuk melakukan hal yang menurutnya bisa dilakukan oleh nyokap gue ataupun anak-anaknya. Contoh simpelnya adalah saat pengambilan rapot. Dari TK sampe sekarang, rapot gue nggak pernah diambil sama boka. Selalu nyokap. Meskipun kondisi nyokap lagi nggak sehat, beliau tetap menyuruh nyokap untuk ngambil rapot gue, beliau hanya nganter dan tidur di mobil sembari menunggu nyokap selesai.


Jarang marah, tapi sekalinya marah sama kayak gunung merapi yang larvanya tak keluar selama beratus-ratus tahun. Sekalinya meledak, menghasilkan ledakan yang sangat dahsyat. Kemarahan bokap bukan tanpa suatu alasan yang pasti. Kenakalan gue sendiri-lah sumber utama munculnya amarah bokap.


Jujur, gue punya beberapa sifat negatif dan gue yakin semua orang pasti punya itu. Negatif dilambangkan dengan simbol min atau kurang (-). Nah, sifat gue ini mungkin double negatif (--). Kenapa ada dua minus? Minus pertama karena sifat itu sendiri, dan minus kedua karena gue selalu menjadikan ortu gue sebagai sasaran sifat jelek gue itu.


Semakin hari gue semakin sadar. Gue udah dewasa. Gue nggak bisa terus-terusan gini. Gue nggak bisa terus-terusan bikin sakit orang tua. Bukan hanya kecewa yang ortu gue dapet, sakit hati turut serta melengkapi kesedihan mereka karena sifat gue. Dikit-dikit marah. Permintaan nggak dipenuhi marah. Yah, begitulah gue beberapa tahun lalu. Buruk. Gue coba berubah. Merubah sifat tak semudah membalikkan telapak tangan. Of course i can. Perlahan tapi pasti, gue berubah. Sifat buruk itu gue jadikan sumber pelajaran buat ke depan. Akhir yang manis dari sesuatu yang jelek.


Setiap gue ngambek, nyokap-lah yang berusaha menenangkan gue. Dengan cara apapun yang beliau mampu. Apa lagi kalo menyangkut permintaan gue yang beliau pikir, nggak sanggup untuk dipenuhi. Kebutuhan sehari-hari lebih penting daripada keinginan konyol gue. Mulai dari cara halus sampe cara kasar dilakukan nyokap gue (membentak, dll). Hingga yang paling ekstrem... sumpah serapah.


Sumpah adalah jurus andalan nyokap andai kata rengekan gue belum juga reda. Tapi menurut gue, itu tidak akan merubah suasana. Malah memperburuknya. Rengekan gue semakin besar, entah seberapa besar, mungkin para tetangga denger gue nangis. Ah, bodo amat. Pikir gue saat itu. Alasannya hanya satu. Gue cuma mau nyokap membatalkan sumpahnya. Karena ridha Allah tergantung ridha ortu, dan murka Allah tergantung muka ortu. Entah kenapa disaat itu gue masih mengingat hadits tersebut. Padahal perbuatan yang gue lakukan aja, udah membuat nyokap gue marah.


Di saat rengekan gue semakin menjadi, bokap gue yang sedari tadi diem aja, tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah nyokap.


“Udahlah, mah. Jangan ngomong gitu lagi. Namanya juga anak-anak, pasti suka ngerengek minta ini minta itu. Boleh keras, tapi jangan bawa-bawa sumpah,” gue mendengar ucapan bokap. Gue diem.


Orang yang gue nilai paling cuek –karena daritadi hanya diem aja-, ternyata orang yang mampu meredakan hati nyokap gue demi menolong gue yang ketakutan setengah mati karena sumpah nyokap, dan juga... meredakan hati gue. Gue mulai berhenti nangis. Gue diem. Bokap nyamperin gue.


“Nanti papah beliin. Tapi, mungkin nggak sama kayak yang kamu minta. Mungkin yang lebih murah, tapi, papah jamin kualitasnya nggak kalah bagus dari yang asli,” gue masih diem. Suara berat khas seorang ayah ditambah aura wibawanya membuat gue speechless. Tanpa perlu membentak. Tanpa perlu mengucapkan sumpah. Hanya dengan perkataan yang diucapkan satu kali. Bocah 6 tahun yang semenjak 2,5 jam tadi menangis, menjadi diam.


Tangis gue semakin mereda. Kini, gue hanya terisak-isak. Menarik-narik ingus agar tidak keluar akibat tangisan tadi. “Mah, ambilin ember, dong. Lantainya banjir nih, gara-gara Aldi nangis tadi,” sambil teisak-isak gue tersenyum. Senyum geli campur malu. Gue menundukkan kepala. Nyokap tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangannya. Candaan bokap langsung merubah suasana kembali hangat.


Salah satu momen yang membuat gue mengerti, besarnya peranan ayah. Itu cuma satu dari ribuan cerita pendek yang apabila kumpulan cerita itu disatukan, akan menjadi sebuah novel dengan berbagai konflik di dalamnya. Dengan berbagai suasana yang berubah-ubah. Duka, bahagia, haru. Hingga berujung pada sebuah akhir, yang sampe saat ini belum diketahui akan bagaimana jadinya.


Gue bagaikan seorang bocah yang berdiri di sebuah padang rumput yang luas dengan cuaca yang sejuk. Gue dikelilingi oleh tembok besar yang seakan berbicara pada gue, kalo dia akan melindungi gue dari apapun di luar sana yang mencoba mencelakakan gue. Nyokap gue adalah temboknya, dan bokap gue adalah sang padang rumput. Yang membiarkan gue bebas bermain ditempatnya. Yang membuat tenang gue dengan memberikan angin sejuknya. Yang membuat gue, dan nyokap gue berada di dalamnya.


Mungkin, sekian dulu post gue kali ini. Lain kali gue ceritain lagi tentang keluarga gue. See u next time. Dan... mohon maaf lahir batin, kan mau puasa, hehe. Wassalamualaikum! Mwah! :*

Tuesday, June 18, 2013

Makna Dibalik Sweet Seventeen



Menurut lo, apakah sweet seventeen itu merupakan hal penting yang perlu dirayakan layaknya anak muda kebanyakkan? Atau biasa aja seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu flat?

Gue baru tau (atau ketinggalan zaman) alasan kenapa sweet17 itu bermakna. Ternyata tepat saat lo ultah ke-17, itu pas banget harinya dengan hari saat lo lahir. Misalkan lo lahir hari Senin, nah tepat  saat ultah lo ke-17 itu juga hari Senin, begitu pula kelipatannya (34,51,68,85,102,119,136, dst).

Kebanyakkan orang merasa galau kalo sweet17-nya gak dirayain, entah karena orang lain malas buat merayakan, atau karena dia nggak punya pacar yang biasa ngasih suprise sewaku ultah. Reaksi galaunya pun macam-macam, ada yang nulis banyak kartu ucapan terus dimasukkin ke kotak surat rumah sendiri, seakan-akan banyak orang yang ngucapin, ada yang foto sambil pura-pura niup lilin di kue, padahal fotonya sendiri pake timer, ada yang nyebor diri sendiri di kamar mandi pake sabun, shampoo, dan terakhir sikat gigi. Oke barusan gue lagi mandi. Maap.

Dengan makna dibalik sweet17 seseorang, harusnya gak perlu galau lagi. Boleh lah 17 tahun flat, biasa aja, gak ada something special, tapi kan masih ada 17 tahun berikutnya yang bisa lo rayain, kalo dikasih umur juga sih... Mungkin namanya udah bukan sweet17 lagi, tapi ‘agak sweet34’. Masih flat? Santai aja, 17 tahun berikutnya masih ada kok dan udah ganti nama juga, menjadi ‘udah enggak sweet51 lagi kampret’. Flat terus? Gapapa tungguin aja sampe dirayain, sampe umur 136 juga gapapa, nanti namanya berubah jadi ‘umur-segitu-lo-udah-mati-anying’.

Misalkan kalo ada yang ngerayain sweet34 seru kali ya... Nanti sebor-seborannya bukan pake air atau tepung atau telur lagi, tapi pake uang gajian, bon hutang, strip pajak, dan lainnya. Beda lagi kalo yang lagi ultah itu pejabat korupsi, nanti disebor pake hujatan rakyat dan air mata rakyat yang merasa uangnya diambil para bajingan tersebut. *tepuk tangan* Udah ah, serius amat. Kalo pas ultah ke 136 disebornya pake bunga 7 rupa sama doa, kan udah mati.

Sekarang think smart aja, open your mind buat yang ngerasa sweet17 itu hal yang harus dirayakan, dan kalo enggak lo gak mau makan seminggu tapi lo ngemil terus, alhasil makin gendut dan ngambek ke pacar lo kemudian akan ngomong, “sekarang aku gendutan, gak?” kalo pacar lo jawab iya lo bakal bilang, “tuh kan! Kamu gak suka ya aku gendut? Makannya rayain sweet17 aku dong! Kita putus!”, dan kalo pacar lo jawab enggak, reaksi lo, “masa? Kamu bohong ya? Halah bilang aja gendut! Makannya rayain sweet17 aku dong! Kita putus!”. Sabar ya, makannya jomblo aja. #HidupJomblo #DukungAldiJadiDutaJombloInternational.

Lagi pula, 17 tahun itu bukan saatnya kita bersenang-senang lagi, itu udah waktunya menentukan apa yang akan kita lakukan ke depannya, mulai berusaha mencari tau siapa kita dan apa tujuan kita kelak. Berubah menjadi lebih dewasa dimulai saat umur segitu. Tapi nggak nolak juga sih kalo misalkan ada yang ngajak gue ke party sweet17 dia...

Bukannya gue iri atau apapun, gue cuma ngerasa sayang aja kalo uang lo dipake buat pesta atau semacamnya, mending buat traktiran aja. Tapi dibuat lebih Islamiah, traktir 100 anak yatim makan misalnya, atau kalo masih ada uang, satu panti asuhan juga boleh. Semuanya kembali ke diri masing-masing aja, semua yang gue tulis di sini adalah opini gue pribadi, negara kita negara demokratis kan? So, gue menolak kenaikkan BBM, dan gue menyayangkan sikap pemerintah kita yang lebih mengandalkan investor asing daripada SDM negara sendiri di bidang perminyakkan ini. Penulis pamit undur diri. Bhay!