Tuesday, October 4, 2016

Sebuah Tulisan Sederhana: Tentang Bahagia


google.com
Menjadi orang yang bahagia mungkin merupakan salah satu tujuan hidup seseorang, termasuk saya. Disamping menjadi manusia yang sukses tentu harus diimbangi oleh kebahagiaan dalam hidup. Apa lah artinya sukses besar dalam karir tapi hati selalu ditutupi oleh awan hitam dan senyum di wajah tak urung tersungging?

Sebelumnya mari telaah dulu arti dari kata ‘bahagia’, yang menurut KBBI, bahagia ialah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan), sedangkan kebahagiaan dapat diartikan sebagai kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin). Dari kedua pengertian tersebut dapat saya simpulkan bahwa rasa senang tanpa perasaan yang damai tidak bisa dikatakan bahagia.

Banyak kita jumpai suatu keadaan dimana seseorang jika sedang bersama kelompoknya ia terlihat paling riang dan tertawa paling lepas, akan tetapi saat ia berada di rumah ia merasa seperti orang yang baru saja berduka dan bahkan lupa cara tersenyum.

Apa dia pantas disebut bahagia? Saya rasa, lantang tawanya hanya sebagai tameng dari kesedihan dan kegundahan yang dia alami.

Ada ungkapan yang menyatakan, “uang tidak dapat membeli kebahagiaan.” Bagi saya ungkapan itu tidak sepenuhnya benar, terkecuali jika orang yang memiliki uang itu bisa menggunakan uangnya dengan baik untuk membuat dirinya senang dan hatinya damai. Contoh kecilnya: bersedekah.

Salah satu faktor orang tidak merasa bahagia ialah karena ia selalu melihat kebahagiaan orang lain dan berharap itu merupakan kebahagiannya juga. Padahal setiap orang punya jalan hidup yang berbeda, rintangan hidup yang berbeda, takaran ujian yang diberikan Tuhan berbeda, kesedihan yang berbeda dan kebahagiaan yang berbeda.

Setiap orang punya bahagianya masing-masing. Ada yang dengan pasangannya ia merasa bahagia. Ada yang dengan kerabatnya ia merasa bahagia. Ada yang dengan kesendiriannya ia merasa bahagia. Ada pula yang dengan melihat atau melakukan hal kecil dia merasa bahagia.

Sekali waktu, ditengah himpitan tugas dan kegiatan kuliah yang padat, saya melihat sebuah video di sosial media yang menggambarkan seorang anak kecil perempuan yang selalu menunggu kakaknya acap kali sang kakak pulang dari sekolah. Ketika sang kakak turun dari bus sekolah, adik perempuannya langsung berlari dan memeluk erat kakanya. Diinfokan bahwa kegiatan tersebut berlangsung setiap hari selama pulang sekolah.

Dari melihat video berdurasi beberapa detik tersebut, tanpa sadar sebuah senyuman tersungging dari bibir saya dan menimbulkan ketentraman dalam hati saya yang ditularkan dari kasih sayang adik dan kakak dalam video itu. Satu oase kebahagiaan sederhana ditengah terpaan kesibukkan kuliah.

Mungkin tidak semua orang merasakan hal yang sama dengan saya ketika menyaksikan video tersebut. Karena itu lah uniknya kita sebagai manusia. Kita punya takaran kebahagiaan sendiri-sendiri. Dan karena menurut saya bahagia itu sesuatu yang abstrak jadi bahagianya saya, belum tentu bahagiamu. Begitu pula kesedihan saya, belum tentu kesedihanmu.

Faktor penting lainnya untuk merasa bahagia ialah senantiasa bersyukur. Ketika merasa dirimu bersedih karena patah hati dan seakan kebahagiaanmu ikut pergi seiring perginya sang kekasih, ketahuilah seperti apa kondisimu pada saat itu? Apa air mata masih mengalir? Apa telinga masih bisa mendengar nasihat orang lain? Apa mulut masih dapat berkeluh kesah? Apa dirimu menangis di atas kasur yang nyaman dan di dalam ruangan yang sejuk?

Jika iya, maka sesungguhnya janganlah terlalu larut dalam kesedihan. Bahwasanya kondisimu masih lebih baik dibandingkan mereka yang sedang diterpa cobaan yang lebih berat, anggaplah sebuah bencana alam. Sadarilah bahwa air mata korban suatu bencana jauh lebih mengiris hati pendengarnya. Membuat meringis siapapun yang melihatnya. Maka janganlah merasa kebahagiaan itu telah sirna. Bukalah hatimu, maka dirimu akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat ganda dari sebelumnya.

Karena kesedihan itu selain menutup pintu kebahagiaan juga menenggelamkan semangat dalam diri. Sesungguhnya setelah malam, terbitlah fajar. Setelah badai, terlukis pelangi. Setelah sedih, datang bahagia. Dan setelah kesulitan ada kemudahan.

Bukan maksud diri tuk menggurui, saya pun terus berusaha memahami dan merasakan makna kebahagiaan sesungguhnya dalam hidup. Sekali lagi, karena menjadi manusia yang bahagia seutuhnya merupakan salah satu tujuan hidup saya.

Lakukan apa yang membuatmu bahagia. Senantiasa lapangkan hati ketika didatangi kesedihan dan selalu yakin tidak ada sedikit pun kebahagiaan darimu yang terenggut dan akan tiba waktunya gelombang kebahagiaan akan datang padamu. Juga hendaklah selalu bersyukur dengan apa yang didapat serta apa yang dimiliki. Karena bersyukur dapat membuat diri tidak merasa kekurangan dalam berbagai hal, termasuk kebahagiaan.





Tuesday, September 20, 2016

Sebuah Tulisan Sederhana: Tentang Waktu

Waktu, salah satu artinya menurut KBBI adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Artinya waktu sangat terkait dengan hidup. Karena hidup manusia tak jauh dari kata proses atau perbuatan. Mulai dari proses penjajakan diri hingga proses pembelajaran semuanya terikat dengan waktu. Bahkan memori manusia terbelenggu oleh waktu. Kali ini gue akan sedikit membahas mengenai waktu.

Sebagai anak rantau, gue semakin menyadari betapa berharganya waktu. Bahkan unutk sepersejuta detik pun gue berusaha menikmatinya. Acap kali saat libur semester tiba, dan rumah menjadi destinasi liburan terbaik, waktu seakan menjadi ‘barang mahal’ dibanding apapun di dunia, bahkan berlian termahal pun tak mampu menyainginya. Waktu seakan mendekap diri gue erat dalam ikatan kebersamaan keluarga. Gue sadar, saat seperti itu gak berlansgung selamanya -pada kondisi ini. Semua kehangatan itu dapat sirna hanya dalam hitungan menit. Keinginan menghentikan waktu hanya berupa angan belaka yang mungkin juga terbesit dalam pikiran beberapa orang. Prinsipnya kuat, waktu akan terus berjalan sampai sang Pencipta yang menghentikannya.

Waktu terkadang membuat gue merasa tergelitik, ketika sadar berkatnya gue dapat berada di dua tempat berbeda, dua situasi kehidupan yang berbeda hanya dengan satu pejaman mata. Ia juga membuat gue sadar betapa cepatnya tahun berganti, umur bertambah dan tren masyarakat berubah. Tanpa disadari, gue udah selesai pada setengah jalan di dunia perkuliahan dan bersiap menaklukan setengah berikutnya.

Menurut gue, waktu punya dua sisi yang berlainan, seperti sisi baik dan jahat. Kadang waktu membuat seseorang bergembira karena pekerjaan, perbuatan atau doanya dijawab olehnya dengan memberikan sesuatu yang mereka impikan. Di sisi lain, waktu seakan membawa kita kembali ke masa yang tak ingin lagi kita kenang bahkan ia sengaja ‘memenjarakan’ kita di sana dan membawa kepedihan dan kesedihan yang nyata.

Waktu juga tak punya batasan yang jelas dan terkesan abstarak. Seperti zaman, apakah satu zaman punya periode tetap? Sekali waktu kita melihat fenomena yang terjadi sekarang mendapat banyak sorotan dan tak sedikit juga yang berucap, “zaman sekarang, gak seperti zaman gue dulu, zaman sekarang moralnya sudah pada rusak.” Padahal jarak antara zaman sekarang dengan zaman orang itu hanya berjarak kurang dari satu dekade. Memang, zaman bisa diartikan jangka waktu tertentu (bisa panjang atau pendek). Tapi apa berarti dalam jangka katakanlah, dua tahun, jika tren dan kebiasaan masyarakat berubah pesat bisa dibilang itu adalah zaman baru? Apakah itu kuasamu, wahai waktu? Membuat pergerakan demikian cepat, menyeret manusia membuat arus baru yang merubah lingkungannya sendiri?

Gue juga menyadari, waktu punya peran penting dalam hidup gue pada khususnya. Ia menjadi salah satu faktor utama dalam membentuk diri serta pola pikir, disamping pengalaman dan usaha kemandirian. Gue yang sekarang berbeda dengan gue setahun lalu atau bahkan berbeda dari lima menit lalu. Sedangkan masa depan masih samar seperti oase padang pasir.

Gue meyakini bahwa hidup pada saat kini adalah yang terbaik. Karena hidup adalah sebuah kepastian yang harus dijalani, sedalam apapun jurang yang menunggu, seterjal apapun batu karang yang menghantam dan setinggi apapun benteng menjulang yang menghadang, hidup adalah hidup, sebuah konsep perjalanan yang ditemani waktu sebagai pendamping. Dan perjalanan ini akan menghanyutkan kita menuju akhir yang abstrak dan penuh pengharapan.

Karena hidup di masa lalu hanya menimbulkan aura pesimisme. Membuat pikiran berkutat dengan penyesalan. Tiap keping kenangan hanya melahirkan kekecewaan. Kenangan manis yang terlintas terlalu sayang untuk dibuang dan kenangan pahit yang membelenggu terlampau sakit untuk terjadi kembali.

Hidup adalah sebuah proses. Dimana masa lalu merupakan ‘literasi’ pribadi untuk pembelajaran dan jadikan masa depan sebagai sebuah rancangan, bukan kepastian. Berharap dengan ‘literasi’ tersebut akan menjadi sesuatu yang berharga pada saat yang akan datang.

Speaking about time
What we have is just present
The past is history and the future is none of ours
Life goes on, but still not yet on our own
What will be, will be
What should be then, let it be
We’re here in the present, no other time than now


Referensi:
- Pemikiran dan kegelisahan pribadi
- dkelana.wordpress.com/2010/09/06/konsepsi-waktu/

Masalah Klasik Dunia Literasi Indonesia

Bismillahirrahmanirrahim.

Sehubungan dengan kegelisahan yang akhir-akhir ini meresahkan jiwa dan akhirnya menuangkan sedikit pemikiran ke tempat ini. Bahasan ini merupakan bahasan yang sudah sering kali dikaji dan dibicarakan. Bahkan sudah terdapat ribuan tulisan mengenai topik ini di mesin pencari Google, yaitu membaca.

Dengan menggunakan keyword ‘minat membaca’ di Google, kita akan mendapatkan banyak hasil telusuran dari berbagai website, namun hampir semuanya merujuk pada satu judul, ‘Minat Baca Di Indonesia Rendah.’

Memang benar jika tinjauannya adalah buku, maka minat membaca bangsa ini bisa dikatakan rendah. Menurut data dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia.

UNESCO melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 persen! Tepatnya 0,001 persen.

Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun.

Ini persoalan penting, ini perkara genting. Soal minat baca memang terlihat tidak semendesak persoalan energi atau pangan. Tapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah?

Meskipun demikian, jika konteknya diperluas -tidak hanya buku, maka data di atas tidak dipergunakan. Seperti yang dikatakan Windy Ariestanty, Pemimpin Redaksi Gagas Media berikut ini,

“Sekarang di era kemajuan teknologi, kita dapat membaca apapun di internet, baik itu artikel, berita, atau e-book. Kalau kita masih menyempitkannya pada membaca buku, jumlah buku yang terbit memang belum sebanding dengan jumlah penduduk di Indonesia,” imbuhnya.

Windy juga mengungkapkan, ada dua kekeliruan yang muncul dari data di atas. Pertama, konteks minat baca selalu dipersempit untuk membaca buku. Padahal, minat baca sejatinya tidak hanya dilihat dari seberapa sering seseorang membaca buku.

Kekeliruan kedua terletak dari karakteristik minat baca seseorang. Seringkali seseorang memandang rendah minat baca orang lain dilihat dari apa yang dibacanya. Windy menjelaskan, seseorang yang membaca buku-buku yang ringan jangan lalu dianggap memiliki selera membaca yang rendah.

Dengan kata lain, membaca tulisan ini sampai selesai saja sudah mengindikasikan bahwa masyarakat kita masih ada minat untuk membaca. Bahkan untuk hal paling sederhana sekali pun; membaca status di media sosial hingga caption nan panjang di instagram.

Namun pada akhirnya, sebaik-baiknya orang yang membaca adalah orang yang mampu memahami, merangkum dan menceritakan kembali apa yang telah ia dapat kepada orang lain dan dapat dipertanggungjawabkan keabsahan isi dan sumbernya.

Internet memang memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Namun bagi saya, itu saja tidak cukup. Kelihaian media dalam menyunting informasi sebelum dipublikasi sangat berpengaruh dengan hasilnya sehingga membuat ‘kedahsyatan’ informasi itu berkurang. Ditambah mayoritas dari media hanya mengejar rating semata tanpa memperdulikan apakah isinya bermanfaat atau tidak membuat buku semakin berharga di mata saya.

Saya sendiri menyesal terlambat menyelami dunia literasi. Pepatah mengatakan, 'buku merupakan jendela dunia', ya, buku sebagai media untuk melihat dunia lebih luas tanpa harus menggerakan apapun melainkan pikiran dan imajinasi. Terkadang saya berpikir, dengan jam terbang membaca saya yang minim seperti sekarang ini, sudah seluas apa dunia yang saya lihat? Jika buku adalah jendela dunia, mungkin kini saya hanya dapat ‘mengintip’ dari balik gorden jendela. Namun, hasrat untuk melihat dunia seluruhnya selalu ada dan tetap terjaga.

Ada dual hal utama yang membuat saya begitu mencintai buku, yaitu rasa iri dan keingintahuan yang hebat. Saya iri apabila melihat orang yang lihai berbicara tentang A, padahal cabang ilmu yang dia kuasai B. Contoh sederhananya seperti anak teknik yang paham betul politik dan filsafat. Sehingga membuat dirinya dipenuhi oleh pengetahuan. Karena buku merupakan gudang ilmu, gerbang utama yang menuntun pada cakrawala tak terbatas.

Kedua ialah rasa ingin tahu. Saya membaca kembali perjuangan bangsa ini ketika melawan kolonialisme dahulu karena saya penasaran dengan kisah yang membuat saya dapat hidup tanpa tekanan penjajah sekarang ini. Saya pun yakin bahwa sejarah bangsa yang ada pada buku sejarah sekolah sudah mengalami penyuntingan sana-sini.

Hal unik dari sebuah buku ialah ketika saya membaca buku mengenai A tapi di dalamnya ada tokoh B, C dan seterusnya, hal tersebut memancing gairah keingintahuan saya sehingga memutuskan membaca buku tentang tokoh tersebut. Bagi saya ini merupakan sebuah alur yang immortal.

Di Surabaya, Jakarta, dan di kota-kota yang lain, ada orang-orang dengan semangat serupa yang gigih mengkampanyekan pentingnya membaca. Tanpa dibayar, bahkan mesti keluar uang untuk membeli buku dan ongkos ini itu, mereka dengan keras kepala mengantarkan buku-buku kepada siapa pun yang mau membaca. Bahkan, gangguan aparat tidak menyusutkan semangat mereka dalam menyebarkan ilmu pengetahuan. Karena membaca adalah melawan.

Negara kita berdiri dengan perjuangan para pemikir dan ‘kutu buku’. Mempertahankan keteguhan negara ini juga demikian. Menjadikan budaya membaca sebagai senjata menenggelamkan ‘budaya korupsi’ adalah tugas bersama. Terlampau banyak buku tersedia, tapi apalah arti buku tanpa pembacanya? Ia hanya akan menjadi arsip semata. Laksana raga tanpa jiwa, yang ada hanyalah hampa. Membuat negeri literasi tidak dimulai dari besok atau pun lusa, melainkan sekarang!

“Kalau sebuah bahasa dengan kesusasteraannya tidak didukung oleh tradisi membaca masyarakatnya, maka kematiannya akan segera menyusul.” – Ajip Rosidi.



Referensi:

---http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/18/11140791/menikam.kolonialisme.dan.merdeka.dengan.buku
---http://www.unpad.ac.id/2014/04/siapa-bilang-minat-baca-masyarakat-indonesia-rendah/

Sunday, September 11, 2016

Alur Penghidupan

Malam ini kuguratkan pena
Di atas kertas suci
Berlandaskan sunyi
Berselimutkan malam
Tulisan penghidupan, niatku

Pena meliuk
Garis hitam bergandengan
Seperti muara hidup
Entah apa ujungnya

Aku tak sendiri
Dewi malam bersamaku
Dengan tarian nyata
Menuntunku pada tiap aksara baru

Tapi malam terlalu beringas
Mendekap sang dewi
Lalu dihunuskan angin itu

Aku sendiri
Dewi malam tiada, arahku pun jua
Namun aku tak berhenti
Tiada jurang dalam bagiku

Ah!
Ternyata di sana sandingan sang dewi
Syukurlah, ia kembali
Dari ketiadaan yang hampa
Lintasanku terlihat
Aral makin tiada menghadang
Beginilah sekiranya
Tulisan penghidupan itu

Tuesday, September 6, 2016

Kata Siapa?


google.com

Kata orang, cinta dapat menerbangkan sukma ke angkasa
Tapi langit seakan runtuh ketika angan tak sampai
Kata orang, cinta dapat menumbuhkan semangat hidup
Tapi mudah meredupkannya dengan sejumlah aksara
Kata orang, cinta dapat memperlihatkan dunia penuh warna
Tapi kadang hanya hitam-putih adanya
Kata orang, cinta dapat membuat pikiran syahdu
Tapi persetan dengan mereka yang resah karena cinta
Kata orang, cinta itu perilhal jujur dan setia
Tapi penuh atas dusta serta fana belaka
Kata orang, cinta sejati akan hadir pada waktunya
Tapi bertebar nafsu berkedok ‘cinta sejati’
Kata orang, jangan mudah percaya cinta
Tapi kenapa aku harus mendengarkan kata-kata mu?
Kata orang, yakinlah pada dirimu sendiri
Tapi aku terlalu rapuh untuk melangkah
Aku bahkan tak tau makna sejati satu kata ini
Tapi aku percaya akan keteguhannya

Wednesday, April 13, 2016

Tentang Anak Rantau

Halooo...

Wah, udah lama banget gak main ke sini. Derita sebagai mahasiswa lumayan menyita waktu gue untuk menghabiskan waktu di sini. Apalagi semenjak pindah ke kost yang baru, dimana tidak ada koneksi internet, semakin membuat gue lupa kalo gue punya blog... Maafkeun.

Tulisan kali ini gue mau curhat sekitar hal yang berkaitan dengan anak rantau. Jadi buat kalian yang menginginkan sesuatu yang berbobot dan mempunyai nilai edukasi di dalamnya, kalian salah masuk blog.  Tapi buat kalian yang lagi gabut, mau ngabisin kuota, atau jomlo, blog ini cocok untuk menambah jam terbang kalian dalam kategori ‘melakukan kegiatan sia-sia’. Gue mau cerita tentang daerah asal, tanah rantau dan orang-orang yang ditinggal pergi.

Gue sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di kota yang mempunyai julukan sebagai 'Kota Pelajar'. Sedangkan jarak antara kota asal gue dengan tempat gue sekarang kurang lebih 600 km. Sebenernya jarak segini masih terhitung 'deket' dibandingkan temen-temen gue lainnya yang berasal dari luar pulau Jawa.Yah, tetep aja buat seorang anak dengan tipe anak rumahan yang gak pernah keluar dari zona nyamannya, jarak segini udah cukup untuk menempa diri menjadi lebih mandiri dari sebelumnya.

Sekarang gue sedang menjalani tahun kedua di perkuliahan. Makin banyak cobaan dan makin banyak kesibukkan yang sejatinya emang belum seberapa. Juga banyak hal serta masalah yang gue lewati dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini. Dan dari tiap persoalan itu selalu ada setidaknya satu nilai positif yang dapat gue ambil. Sebenernya tiap masalah atau cobaan yang dateng ke kita, pasti ada satu atau dua hal yang bisa kita ambil hikmahnya, cuma semua kembali ke diri masing-masing gimana caranya mandang masalah tersebut. Gue selalu ngeliat masalah yang dateng sebagai media untuk mengintrospeksi diri agar menjadi lebih baik. Hasilnya? Alhamdulillah… Belum ada perubahan. Ya… Semoga ada. Segera. Amin.

Jujur, gak kerasa udah dua tahun ngejalanin kuliah. Asli. Perasaan baru kemarin gue jadi Maba, baru kemarin botak, baru kemarin nyari perlengkapan ospek sampe ke Malioboro, baru kemarin bangun pagi semangat ke kampus saat hari pertama karena mau ngerasain duduk di bangku kuliah. Udah selesai duduk, berdiri, pulang lagi. Sekarang? Boro-boro semangat ke kampus, kuliah pagi jam 07.30 aja baru berangkat dari kost jam 07.30. Manfaatkanlah batas maksimum waktu telat masuk kelas yang biasa disepakati saat kontrak kuliah pada pertemuan pertama, kawan.

Kadang, di tengah sunyinya malam, gue suka kepikiran, “kenapa sih gue kuliah di Jogja?”. Disaat di daerah pulau Jawa bagian barat sana banyak perguruan tinggi (PT) ternama, gue suka kepikiran hal itu, “kenapa-harus-Jogja?”. Bahkan dalam daftar pilihan SBMPTN gue dulu, gue gak milih PT di daerah Jawa bagian barat sana, melainkan di Jogja. Meskipun gak lolos SBMPTN, gue akhirnya memilih masuk universitas swasta yang pada akhirnya jadi negeri. Juga di Kota Gudeg ini. Satu jawaban yang gue sadari dari sekian banyak yang masih jadi misteri; Gue. Jatuh. Cinta. Dengan. Yogyakarta.

Sebelum gue kuliah di sini, gue pernah beberapa kali dateng ke Jogja dengan tujuan sama seperti kebanyakan orang yang dateng ke sini, liburan. Tapi gue baru jatuh cinta dengan Jogja ketika test masuk universitas, karena kondisinya gue dateng ke sini sendirian dan tinggal di kost sodara. Dan pada saat itu gue merasakan asiknya (dan sekarang ngerasain menderitanya) ngekost. Semenjak saat itu gue memantapkan diri untuk kuliah di sini dan Alhamdulillah Here I am.

Gue berasal dari salah satu ibu kota provinsi yang terletak di ujung barat pulau Jawa. Setelah memastikan bakal menimba ilmu di Jogja, gue suka ngebanding-bandingin kota asal gue dengan Jogja. Bagaikan bumi dan langit. Asli. Mulai dari fasilitas umum, destinasi wisata sampe orang-orangnya gue bandingin. Karena kota asal gue, Serang, merupakan kota kecil. Hampir setiap kali pergi ke suatu tempat di Serang, presentase gue bakal ketemu orang yang gue kenal sekitar 75%, ketemu orang-yang-kayaknya-gue-pernah-liat-tapi-dimana-ya sekitar 60% dan ketemu orang-yang-gue-gak-kenal-tapi-dia-kenal-gue sekitar 48%. Seperti seakan lo berada di lingkaran yang itu-itu aja.

Namun perlahan, Serang mulai mencoba berubah menjadi kota yang cozy dengan banyaknya tempat nongkrong baru. Sebelum gue kuliah, tempat yang biasa buat nongkrong di sana jumlahnya bisa dihitung jari, sebut aja mekdi, sop duren dan BC (buat orang Serang pasti ngerti). Dan kini gue bersyukur udah banyak pilihan tempat buat kumpul-kumpul dan setiap ada tempat baru, hebohnya bukan main, karena hampir semua temen gue di socmed update di tempat yang sama. Setdah. Gue yang jaraknya ratusan kilometer dari Serang jadi tau perkembangan tempat ‘gaul’ di sana. Terus gue catetin dan saat gue pulang tinggal gue datengin satu-satu. HeHe.

Setelah melewati tahun pertama kuliah di Jogja, gue kembali menyadari satu hal; ternyata kota kecil yang gak punya bioskop itu, ngangenin. Faktor utamanya tentu karena orang-orang yang gue sayang semuannya ada di sana. Keluarga dan juga seorang wanita yang gue sayang telah membuat gue mengerti apa makna ‘rumah’ sebenernya. Membuat gue paham alasan gue untuk pulang. Dan menyadarkan gue untuk terus berjuang di sini.

Gue sadar bahwa perjalanan gue masih panjang. Masih banyak rintangan yang siap menghadang gue di depan sana. Masih banyak pelajaran yang harus gue ambil di sini. Salah satu pelajaran penting yang gue dapet setelah merantau adalah selalu pake jas hujan kalo hujan. Karena di Serang jarang ada orang yang pake jas hujan, jadi kalo hujan ya.. bablas aja dan sekalinya ada yang pake jas hujan gatau kenapa kayak ngeliat sesuatu yang tabu, padahal guenya aja yang norak. Tapi dengan memahami apa tujuan gue di sini dan untuk siapa gue seperti ini, gue siap menghadapi apapun yang kelak menghampiri gue. Karena gue sadar, gue bukan ‘Alone Survivor’, sokongan motivasi dan doa dari orang-orang tercinta nun jauh di sana dan bantuan dari temen-temen sesama pejuang di sini membuat gue terus termotivasi untuk menjalani hidup ke arah yang lebih baik. 

Wah, panjang juga ya… Tulisannya. Mungkin segini cukup sebagai postingan pertama di 2K16 ini. Oh iya, maafin kalo jarang banget update, gue berusaha untuk semaksimal mungkin ngejaga blog ini agar terus hidup. Buat temen-temen sesama perantau dimana pun berada, terus kejar apa yang seharusnya kalian kejar, tapi tetep berdasar pada doa dan niat baik kalian pada awalnya; menjadi seseorang yang kelak membawa dampak positif bagi keluarga, agama dan negara. Buset… berat-berat. Kalo ada yang mau disampaikan tulis aja di kolom komentar, ya! Gue pamit undur diri. Bhay!

dari Google


Thursday, November 12, 2015

Teruntuk yang Sedang Patah Hati




Hai, lama tak jumpa. Maaf karena terlalu lama hilang. Banyak tekanan yang membuat gue jarang buka blog, bahkan jarang nyalain laptop Tapi tekanan itu sekarang sedikit berkurang sehingga gue ada kesempatan buat memindahkan isi pikiran gue ke sini. Gue akan ngomongin tentang satu hal, yang mana sepertinya sudah ditakdirkan ada pada tiap insan di bumi ini, patah hati.

Selamat membaca.

Gue percaya kalian yang baca tulisan ini pernah merasakan hal yang sama, namun dengan sakit yang berbeda. Dengan ceritanya sendiri dan dengan pelajarannya sendiri. Patah hati sering dianggap sebagai salah satu bumbu dalam hidup, bisa membuat hidup lebih baik ketika kita bisa mengambil hikmah darinya, namun bisa membuat lebih pahit ketika kita tak urung menemukan bumbu lain yang bisa menutupi pahitnya rasa sebuah patah hati.

Patah hati selalu meninggalkan lubang besar dalam relung hati terdalam, yang bahkan satu-dua kebahagiaan tak cukup untuk menutupi lubang tersebut. Jika kita melihat orang yang sedang patah hati bahagia bersama temannya, belum tentu ia merasakan hal yang sama apabila ia berada di kamarnya sendiri dengan kesendiriannya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa bahagia ialah obat dari patah hati. Mungkin saat bersama teman dan mengunjungi tempat yang dulu pernah dikunjungi dengan orang yang sempat kita sayangi, ada sebuah memori yang sebenarnya tidak ingin diingat, tapi secara spontan muncul ke permukaan. Hal yang harus dilakukan ialah terus tersenyum dan menikmati momen bersama teman tersebut, mungkin tiap tawa yang terpancar di wajah ada hati yang terus teriris. Tawa yang sama namun berbeda rasa. Bagaikan luka yang ditetesi alkohol, perih memang, tapi percayalah, itu obatnya.

Selama hampir 20 tahun gue hidup, banyak hal yang telah terjadi dalam hidup gue. Mencintai dan dicintai. Menyakiti dan disakiti. Meninggalkan dan ditinggalkan. Keberhasilan dan kegagalan. Begitu banyak pelajaran yang gue ambil dari semua pengalaman itu. Hal bersifat positif-negatif kerap gue alami. Seperti yin dan yang, semua itu diciptakan untuk keseimbangan hidup. Gue pernah nangis selama 2 jam dari jam 12 malem sampe jam 2 pagi karena nama gue gak ada di pengumuman “murid diterima” di SMA yang dulu sangat gue impi-impikan. Namun, satu minggu kemudian gue diterima di salah satu SMA negeri terbaik di kota tempat gue tinggal. Kebetulan, itu pertama kalinya gue ketirma di sekolah negeri atas usaha sendiri. Di situ gue percaya, Tuhan punya cara sendiri dalam mengatur semesta, menempatkan kesedihan dan kebahagiaan berdamipingan, menimbulkan senyum dari wajah yang sempat lupa bagaimana caranya tersenyum. Mungkin disaat gue bahagia dengan pengumuman diterimanya gue, ada puluhan atau bahkan ratusan anak lainnya yang ingin ada di posisi gue, tapi sekali lagi gue percaya kalo Tuhan punya cara-Nya sendiri. Gue percaya mereka menemukan kebahagiaan mereka sendiri yang mungkin gak akan mereka dapatkan di tempat lain.

Begitu pula dalam kehidupan asmara gue. Udah banyak cerita terjadi dan pelajaran yang gue ambil. Dari jaman ‘cinta monyet’, sampe jaman: “monyet, pacaran terus lo!”. Dari jaman bales-balesan komen di facebook, sampe akhirnya gue mikir kalo gak perlu ngumbar hubungan, cukup gue dan dia saja yang tau. Dari jaman nembak cewek harus nyari tanggal yang bagus, sampe mikir kalo tanggal bagus itu gak penting, yang penting berapa lama hati gue menetap di hatinya. Tiga masa pacaran pertama gue semuanya dimulai tanggal 1 dan merupakan tanggal bagus menurut gue, dulu hal itu pernah gue banggain, sekarang gue berpikir kalo ternyata taraf kebanggaan atas apa yang gue lakukan hanya serendah itu…

Banyak sakit hati yang gue rasain selama ini, namun gue hanya merasakan beberapa kali patah hati. Karena menurut gue patah hati dan sakit hati merupakan hal yang berbeda, Pedihnya patah hati lebih dalam dari sakit hati. Jujur, gue benci keduanya. Tapi tanpa keduanya gue gak akan jadi gue yang sekarang ini. Gue benci dengan hadirnya dua elemen ini tiap gue memulai suatu hubungan. Tapi jika salah satunya gak ada, mungkin gue gak akan sadar dengan banyaknya kebodohan yang gue lakukan. Hal yang sebenernya kita benci, ternyata menuntun kita ke pribadi yang lebih baik.

Seiring berjalannya waktu serta bertambahnya usia, rasa sakit yang ditimbulkan akibat patah hati semakin dalam meskipun sebenernya udah pernah kita rasakan sebelumnya. Misalkan sewaktu gue diputusin pas SMP dulu-iya, gue yang diputusin-, saat itu ya, cuma sekedar galau-galau najis biasa, mungkin kalo sekarang terjadi hal itu akan terasa lebih berat. Perkembangan jaman juga membuat rasa patah hati yang berbeda, dulu patah hati karena ditolak dengan alasan, “maaf kayaknya kita temenan aja deh,”, lebih ‘mendingan’ dibanding alasan, “maaf, aku udah nganggep kamu kayak om aku sendiri.' Loh?

Seperti yang sudah gue bilang, tiap orang pernah merasakan patah hati dalam hidupnya-setidaknya sekali seumur hidup. Sejatinya patah hati hanya mewariskan dua hal; kenangan dan penyesalan. Dimana jika keduanya berkecamuk dalam diri akan melahirkan kepedihan yang teramat dalam. Luka yang ditimbulkan oleh patah hati tak mudah diobati. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk dapat menutupi luka tersebut, itupun hanya 98% yang dapat terobati, karena 2%nya adalah kenangan; yang tidak bisa dilupakan, tetapi hanya tertimbun diantara jutaan memori lainnya, namun dapat naik ke permukaan kapan pun ia mau.

Yogyakarta, kota dimana gue menuntut ilmu, baru memasuki musim hujan. Musim dimana alam seakan mengerti suasana hati beberapa manusia. Setiap sudut kota Jogja romantis, katanya. Bagi mereka yang mempunyai pasangan, mungkin saat ini agak kesulitan untuk mengeksplore kota Jogja lebih jauh, tapi buat mereka yang tengah dalam kepedihannya, hujan seakan mengingatkan mereka tentang kenangan. Cukup berada di kamar sendiri dengan hujan deras di luar, menangis tanpa takut terdengar yang lain, karena hujan membantu menutup suara tangis tersebut. Hujan tak akan selamanya turun, juga dengan tangis. Begitu hujan reda, tangismu mengikuti. Begitu matahari kembali terlihat, di situ dirimu kembali tampil ceria