Sunday, May 14, 2017

Chapter VII - Home




Chapter I-VI bisa dibaca pada kategori Series.

---

Laila

Kebahagiaan bagiku adalah suatu hal yang sifatnya abstrak. Parameter kebahagiaan tiap individu pun berbeda. Ada yang bahagia hidup dengan materi berlimpah. Atau yang bahagia hanya dengan bersama orang yang dicintainya, bagaimanapun kondisi materi yang ia miliki. Juga ada yang rela meninggalkan kehidupan yang mungkin menurut orang lain merupakan kehidupan yang ideal, namun tidak baginya, sehingga ia memutuskan mencari kebahagiaannya kembali, kebahagiaan lamanya.

Dan akulah orang itu.

Aku menemukannya, kebahagiaan lamaku. Melihatnya sejelas janji yang dulu pernah terucap dari bibir kami. Aku menemukannya, namun tak memilikinya.

Dia keluar begitu jarum panjang dan pendek pada jam menyatu di angka 12. Menyapa dua orang yang tak ku kenal, kemudian pergi dengan menaiki skuter matik hitam yang tak asing bagiku. Sosoknya segera lenyap dari pandanganku seiring menjauhnya pantulan cahaya dari back lamp skuter miliknya.

Aku masih terpaku di belakang kemudi mobil. Membayangkan sosoknya yang pergi tanpa pernah sempat melirik ke arahku. Bodoh, tentu dia tak mengenali mobil ini. Mobil yang aku kendarai kini bukanlah mobil yang sama seperti yang diketahuinya dulu. Bukan mobil yang sempat membuatnya kesal karena pernah kutinggalkan dengan bensin yang sudah hampir habis. Dan tentu, siapalah aku sekarang berharap ia melirik ke arahku?

Lima belas menit kuhabiskan dengan termenung. Setelah menarik nafas dalam, aku melajukan mobil menyusuri jalanan kota kecil ini, kembali menuju tempatku menginap selama 4 hari terakhir. Aku tahu, ini sungguh membuang-buang uang. Tapi aku tak sanggup meninggalkan kota ini tanpa bertemu dengannya. Namun, aku tak punya cukup keberanian untuk menegurnya kembali.

Sesampainya di kamar, aku merebahkan diri di atas kasur sembari membuka ponsel yang sedari tadi tak kusentuh. Aku mendapati 38 chat Line serta 14 misscalls dari kontak yang sama, satu-satunya orang yang tahu akan keberadaanku selama ini serta menepati janjinya untuk tidak membocorkan hal itu kepada siapapun, termasuk Andre.

Misscall terakhir tercatat 7 menit lalu. Aku memutuskan menghubunginya kembali.

“Halo,” sapaku.

“Babe, kok baru respon sih? Gue coba hubungin lo dari tadi juga,” sahut suara di ujung telefon hampir bersamaan dengan sapaanku.

“Sorry, Nad, gue baru megang hp lagi. Tadi lagi pengin sendiri aja, jadi hp gue silent, maaf ya.”

“I’m worried about you, La. Gue takut lo kenapa-napa, apalagi lagi di kota orang kan,” senyumku tersungging mendengarnya.

“Iya, gue minta maaf sekali lagi. Thanks for caring me, Nad.” Kadang, aku sempat berpikir bagaimana jika Nadine tidak ada di hidupku? Sosoknya sangat sentral terutama dalam 2 tahun terakhir. She’s always got my back. Dia bahkan tetap memberi saran terbaiknya kala aku membuat keputusan yang seharusnya tidak dapat dimaafkan orang lain. Dia selalu siap menampung cerita dan tangisku. Tak ada tawa yang aku bagi dengannya. Bukan, bukan berarti aku hanya datang padanya when i’m feeling blue, melainkan aku merasa bahwa aku dan bahagia sudah berpisah sejak aku meninggalkannya. Meninggalkan Andre.

“Okay, tapi lain kali jangan gitu lagi ya, La?” Ujarnya kembali.

“Iya, Bu,” balasku singkat.

“Nanti tiap satu misscall dari gue, itu berarti lo hutang satu ice cream sama gue,” sambungnya yang membuatku spontan tertawa.

“Heh! Ngide banget ya ini orang. Main sembarangan nentuin rules. Enggak... Enggak, nanti lo sengaja lagi nelefon gue terus dimatiin biar jadi misscall dan lo akhirnya dapet ice cream gratis,” jawabku menahan tawa.

“AAAH LAILAA! Lo kenapa bisa baca pikiran gue sih? Ah, nggak asih niiih,” ia histeris sendiri. Nadine tahu bagaimana membuatku tertawa ditengah himpitan kesedihan ini.

“Gue kenal lo bukan sehari-dua hari sayaaang. Gue khatam gimana liciknya lo, hahaha,” ucapku.

“Gue licik juga karena bergaul sama lo, ya, La!!” Jawabnya ngotot.

“Gue? Licik? Jangan sembarangan yaa!” Sergahku masih dengan tawa terselip di antara pembicaraan kami.

“Udah, ah, udah. Jadi lupa, kan, gue mau nanya apa tadi.”

“Makanya seimbangin kerja sama refreshing-nya, bu. Kasihan otak lo, kinerjanya jadi nurun gitu. Alhasil lo jadi gampang lupa deh,” aku mendengar ia terkekeh. “Gue ingetin deh, lo mau nanya tadi gimana, kan? Gue berhasil ketemu Andre atau engga, kan?”

“Tapi seinget gue, gue belum bilang apa-apa deh tadi. Kok lo bisa tahu?” Tanyanya heran.

“Karena lo selalu menanyakan pertanyaan yang sama selama 4 hari terakhir ini,” jelasku.

“Eh? Iya, ya? Gue lupa, hahahahahaha,” kembali aku tersenyum mendengarnya.

“Gue jawab, ya? Jawaban yang sama dengan kemarin kok,” aku tersenyum getir.

“Kenapa, La? Kenapa nggak dicoba dulu?”

Kenapa? Katanya. Aku sendiri tak tahu. Seperti ada gaya gravitasi yang begitu besar yang menahanku agar tak beranjak dari balik kemudi mobil. Atau memang aku yang terlalu malu untuk menampakkan batang hidungku di hadapannya.

2 tahun lalu, aku pergi tanpa bertatap muka dengannya. Bahkan, tanpa ucapan selamat tinggal. Sebenarnya aku ingin, tapi aku tak mampu. Aku tak tahu bagaimana cara mengucapkannya. Dan tentu, aku tak ingin menangis dan melihatnya menangis andai waktu itu ia melihat kepergianku.

“La, gimana kalau lo coba ngasih kabar ke salah satu temannya? Setidaknya nggak semua dari mereka kaget dengan kehadiran lo yang tiba-tiba, kemudian men-judge lo sebagai perempuan nggak tahu diri yang udah bikin sahabat mereka hancur hatinya. Biarin salah satu dari mereka tahu alasan kenapa lo sempat pergi dan kini kembali,” hmm, masuk akal. Tapi kepada siapa aku harus bicara? Dian? Mungkin ia akan mengerti karena perasaan sesama wanita, namun ada keraguan yang menahan keyakinanku jika  harus menyampaikan hal ini kepadanya. Atau Rama? Dari semua personil Alchemy, dialah yang terdekat dengan Andre. Mungkin dengannya aku harus berbicara. Ah, biarah kupikirkan lagi nanti.

“Hmm, gue pertimbangin deh, Nad. But, thanks for the advice.”

“Lebay ih pakai makasih segala. By the way, nggak kerasa udah jam setengah dua aja. Ngobrol sama lo selalu kayak masuk mesin waktu, La,” ucapnya diiringi tawa kecil.

“Hahaha, yaudah lo istirahat gih. Kasian juga gue, lo capek seharian ngurusin kafe, setelahnya juga ngurusin gue. Makasih lagi, ya, Nad. Gue sering banget ngerepotin lo,” ujarku tak enak.

“Duh, La, beneran deh.. Sekali lagi lo bilang makasih, lo harus traktir gue ice cream kalau ketemu nanti.”

“Makasih ya, Nad,” balasku.

“Buat ini gue yang bilang makasih, La, karena udah ditraktir ice cream sama lo,” aku yakin kami berdua tersenyum pada saat bersamaan.

---

Aku berada di satu-satunya McDonald’s di kota ini, duduk di bagian luar karena orang yang kutunggu merupakan seorang perokok berat. Sembari menunggunya datang, aku ditemani oleh satu cup McFlurry Oreo kesukaanku. Sebenarnya aku sedikit ragu untuk bertemu dengannya, terlebih setelah semua yang terjadi terhadap kawan baiknya. Namun, pasca mengumpulkan keyakinan lebih serta mendapat dukungan dari Nadine, maka aku putuskan untuk menghubunginya dan di sinilah aku sekarang.

Tak lama kemudian sosok yang kutunggu tiba. Seorang pria dengan rambut gondrong yang diikat serta brewok lebat yang menghiasi wajahnya, seakan mempertegas penampilannya sebagai seorang rockstar. Tak ketinggalan, sebatang rokok terselip pada mulutnya. Segera aku melambaikan tangan ke arahnya. 

“Laila?” Ujarnya saat ia berdiri di hadapanku. Kehadirannya sungguh menarik perhatian orang-orang yang  sedang sibuk melahap makanannya. Aku merasakan bagaimana banyak mata terpaku pada sosoknya semenjak ia turun dari mobil, maklum vokalis band ternama. Dan kini sorotan-sorotan itu beralih padaku, mereka seakan bertanya siapa gerangan perempuan yang dihampirinya.

Ia mengambil tempat di depanku, “Sorry, gue agak pangling ngeliat lo. Kelihatan beda sama terakhir gue liat atau gue aja kali yang lupa, ya? Maklum udah lama juga,” ujarnya.

“Iya, gue manjangin rambut gue, jadi wajar kalau lo pangling gitu,” jawabku dengan senyum canggung. “Mau order dulu?” Tanyaku mencoba menghilangkan perasaan tak enak ini.

Ia menghisap rokoknya kuat, kemudian menghembuskan asap tebal ke udara. “Nanti aja,” sahutnya singkat. “So?” Ia melanjutkan perkataannya, membaca alasanku mengajaknya bertemu.

“Ehm, okay. Sebelumnnya gue mau minta maaf atas apa yang gue lakukan ke Andre. Gue tahu, nggak seharusnya gue ngilang gitu aja dari kehidupan dia. Dan mungkin lo udah bisa nebak apa alasan gue sekarang ada di sini. Dan mungkin juga lo berpikiran bahwa gue cewek nggak tahu diri yang bisa pergi lalu kembali seenaknya gitu aja. Tapi, Ram, gue punya alasan dibalik itu semua,” aku terdiam sejenak setelah kurasakan emosiku kembali naik mengingat sebenarnya aku tidak sanggup untuk menceritakan ulang semua kisahku. Mengingat betapa bersalahnya aku atas apa yang terjadi pada Andre selama dua tahun kepergianku.

Rama menatapku tajam, kembali ia membua kumpulan asap di udara sebelum berbicara, “Go on.”

Aku menghela nafas. “Gue akan ceritain semuanya dari awal, Ram. Mulai dari gue dan Andre belum bertemu. Harapan gue setelah menceritakan semua ini adalah kalau gue nggak berhasil ketemu Andre atau Andre nggak mau ketemu gue lagi, lo, sebagai sahabat terdekatnya bisa meyakinkan ia mengenai apa yang sebenarnya terjadi sama gue. Gue tahu, ini egois, banget. Tapi gue percaya sama lo, Ram. Lo satu-satunya harapan gue.” Rama tak bergeming. Keraguanku untuk menceritakan hal ini kembali menyeruak ke permukaan. Namun, aku rasa sudah terlambat untuk membatalkan semuanya.

Lantas aku bercerita mulai dari kehidupanku sebelum bertemu Andre, kemudian saat aku dan Andre berpacaran hingga aku pergi dari hidupnya, kehidupanku selama menghilang dua tahun ini, lalu mengapa kini aku datang kembali. Rama seorang pendengar yang baik. Ia memang cowok yang gemar bercanda, tapi Andre pernah bilang bahwa Rama dapat menjadi seorang yang serius ketika ada teman yang membutuhkan bantuannya dan saat ini ialah pembuktian atas apa yang pernah Andre katakan.

“Aaaargh, ribet bener,” ujarnya sambil mengacak-ngacak rambut sendiri. “Gue mau beli minum dulu deh. Lo yang cerita tapi gue yang pusing.” Ia berlalu ke dalam, meninggalkanku yang larut dalam emosi sehabis bercerita tadi.

“Nih, buat lo,” Rama menyodorkan satu cup McFloat padaku. Aku balas pemberiannya dengan ucapan terima kasih lirih.

“Cerita lo tadi bikin gue makin males ngejalanin hubungan yang serius. Terlalu ribet,” Rama berujar sembari menatap kosong ke arah dalam.

“Yah, jangan gitu dong. Ini hidup gue doang kok yang ribet, Ram, nggak semua cewek punya kehidupan seribet gue,” jawabku.

“Ribet. Males gue. Santai lah gue mah. Lo duluan aja sama Andre.”

“Gue? Andre? Gue aja belum berani buat ketemu dia, Ram. Dan nggak tahu juga gimana responnya nanti,” ucapku sambil mendengus pelan.

“He still loves you, La,” ia mengalihkan pandangan ke arahku. Aku tersentak mendengarnya.

“Sejak awal, gue udah punya jawaban dari semua pertanyaan dan penjelasan lo, La. Tapi sebelum gue bilang itu, gue mau tahu alasan dibalik lo pergi dan menghilang gitu aja hingga ngebuat hidup teman gue kacau,” Rama membuka segel bungkus rokok baru. Entah sudah berapa nikotin hari ini yang ia hisap.

“Dia pernah bilang gitu, Ram? If he still loves me?” Tanya gue memastikan.

“Enggak, tapi dia gue anggap gila karena udah nolak gue comblangin sama Arestika vokalisnya Barasuara. No offense, La, gue juga nggak bisa diam aja ngeliat sahabat gue galau terus-terusan, so, gue coba kenalin dia sama beberapa kenalan gue dan dia kayak, ‘sorry, Ram, gue nggak bisa,’ gue cuma bisa bilang, udah sinting nih orang nolak Arestika. Tapi dari cara ngomongya, gue tahu dia masih sayang sama lo,” mendengar Rama membuatku tanpa sadar tersenyum. Dan pada detik itu pula hatiku berujar, i’ll never go away from your life again, Ndre.

---

Akhirnya ku putuskan membawa langkahku menuju pintu itu.

Kronology Cafe. Nama yang tidak asing bagiku. Karena dulu, ia kerap mengutarakan keinginannya membuat kafe dengan nama demikian.

“Kronologi bagus nggak, La? Itu ngegambarin kita banget nggak, sih? Urutan kejadian pertemuan kita di awali dari kafe, kayak tiba-tiba aja gitu. Sebuah kronologi yang tercipta di dalam kafe, kayak magic-nya kafe gitu, La, when strangers become lover,” ujarmu kala itu disertakan dengan gerakan ‘imajinasi’ ala Spongebob yang membuatmu tampak lucu.

“Sounds great, Ndre,” ujarku sambil mengusap rambutmu. Aku selalu suka semangatmu. Karena aku tahu, kamu bukan tipe orang yang membiarkan mimpinya terhenti terkurung dalam batasan imaji. Saat sekarang aku berada di depan pintu masuk kafe yang dulu kamu gebu-gebukan, aku sudah tahu dari dulu bahwa kafe ini akan ada dan memang ada.

Jam di arlojiku menuju pukul 11. Kafe ini tutup kurang lebih satu jam dari sekarang. Kemungkinan sudah masuk waktu last order. Sengaja aku memilih selarut ini. Juga karena aku terlalu lama mengumpulkan keberanian untuk bisa sampai di sini, di depan pintu ini.

“Go for him. But promise me, you’ll never leave him again,” kata-kata Rama tadi siang terdengar kembali di dalam kepalaku. Aku menghela nafas. Ku dorong pintu dan melangkahkan kaki perlahan memasuki kafe.

“Selamat datang, Kak, silahkan mau order apa? Kebetulan kita sudah last order ya, Kak,” Sambut seorang wanita dari balik mesin kasir. Juga terdapat seorang barista sedang membersihkan mesin espresso dan seorang lagi sedang membereskan counter di belakang bar.

Dan aku melihatnya. Lagi. Dari jarak cukup dekat. Ia berada di ruangan khusus staff yang berada di bagian belakang bar. Ruangan itu terdapat kaca kecil pada dindingnya sehingga aku dapat melihat ia sedang membereskan beberapa barang.

“Aku order Laila Speciality,” ucapku dengan suara sedikit keras. Waiters itu tampak kebingungan mendengar pesananku, begitu pula dengan dua cowok di dekatnya. Mereka tampak saling bertukar tatap. Aku mengerti kebingungan mereka, tapi mataku terfokus pada gerakan satu orang lagi di ruang staff yang juga ikut terhenti.

“Eng... Maaf, Kak, kita nggak ada menu itu,” jawabnya terbata-bata. Aku masih mematung di depan bar dan tak melepas tatapanku dari sosoknya. Aku yakin menu itu ada. Dulu, Andre pernah mengatakan kalau ia akan menyiapkan satu signature drink khusus untukku dengan menggunakan namaku.

“Ada, Ka,” itu dia. Ia membuka suara.

“Eh? Serius ada, Bang?” Sahut waiters itu bingung.

“Iya, biar gue yang bikin. Disuruh duduk aja,” balasnya.

“Harganya, Bang?”

“Free,” sungguh, aku rindu mendengar suara itu.  Namun tubuhnya masih belum beranjak dari dalam ruangan tersebut. Sementara dua orang lainnya masih terheran, lalu mereka menatapku yang kubalas dengan senyuman.

“Kak, silahkan duduk dulu, nanti pesannya diantarkan,” katanya disertai senyum canggung. Aku mengucapkan terima kasih dan mengambil tempat di bagian luar kafe.

Ini pertama kalinya aku berada di sini, tapi aku merasa tempat ini sangat tidak asing bagiku. Sebuah kafe dengan bentuk letter L ditambah mini stage di sebelah barat pintu masuk dan mengusung konsep low light seperti milik Nadine.

Aku tahu kalau panggung itu multi fungsi. Aku tahu bahwa bukan hanya penampilan band yang disajikan di sana. Aku tahu kalau band hanya ditampilkan tiap jum’at malam. Sedangkan di rabu malam akan ada sesi pembacaan puisi. “Ini kan kafe yang merepresentasikan kita, La, jadi aku mau ada part of you yang berhubungan dengan askara juga di sini,” begitu katamu dulu. Serta kamu memberikan tempat bagi komunitas stand-up comedy lokal untuk melakukan open mic setiap minggu sore. Aku memang baru pertama kali datang ke sini, like for real. But i feel like i’ve been here for whole time.

“Here's your coffee,” suara itu memecah lamunanku. Suara yang sangat ku rindukan kini terdengar sangat sangat dekat. Aku mendongkakkan wajah dan akhirnya aku melihatnya. Lagi. Ini merupakan jarak terdekat kami dalam dua tahun terakhir. Namun ia tidak memandangku. Ia menatap lekat cangkir kopi yang dipegangnya.

Lama kami terdiam, sampai aku putuskan untuk membuka perkataan, “Ndre..-“

“Kenapa?” Ucapanku langsung dipotongnya. Suaranya bergetar, begitu juga dengan cangkir dalam genggamannya.

“Kenapa baru sekarang?” Kini aku merasakannya. Luka karena kehilangan itu kini sangat terasa. Perasaan itu seketika menghujam relung hatiku dan mengingatkanku kembali terhadap dosa yang telah kulakukan padanya.

Aku berdiri dan memegang satu lengannya. “Can you take a seat? I want to talk, Ndre,” ia tidak menjawab, namun ia menuruti perkataanku. Sekarang, kita berada pada satu meja yang sama. Duduk berhadapan. Tanpa kata. Tanpa suara.

Andre masih belum menatapku. Matanya terpaku pada cangkir kopi yang terletak di antara kami. Tangannya mengepal erat menggambarkan bagaimana perasaannya. Aku tahu ia ingin bicara banyak hal dan aku pun tahu ia tak bisa melakukannya. Itu memang termasuk kelemahannya yang dengan kejam pernah ku manfaatkan.

Kini, aku rasa saat ini adalah waktunya. Waktu untuk menjelaskan segala yang terjadi. Waktu untuk membawa pulang perasaan yang pernah pergi. Meskipun dibutuhkan keteguhan dalam mendengar kenyataan yang akan ku utarakan sekarang, tapi aku rasa tak ada pilihan untuk menundanya lagi.

Aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Ndre, i was married...”

to be continued


Thursday, May 4, 2017

Hal-hal yang Gue Dapat Selama Menjadi Anak Kos

source: google.com

Time flies. Kira-kira itulah yang gue rasakan. Gak kerasa kalau sekarang gue udah memasuki tahun ketiga dari empat tahun (amin) rencana perkuliahan gue. Sebagai anak rantau dan gak ada keluarga di perantauan, hanya ada dua pilihan yang bisa gue ambil; ngekos dan ngontrak. Gue pilih yang pertama.

Dalam rentang waktu tiga tahun ini, gue hanya satu kali pindah kos, tepatnya pada pertengahan tahun 2015. Setelah itu--sampai detik ini, gue masih betah berada di kos yang kini gue tempati. Dan dalam rentang waktu tiga tahun ini pula secara gak sadar gue memerhatikan kebiasaan serta tingkah laku anak kos dan hal demikian juga tertanam dalam diri gue. Seperti makan enak pada awal bulan, tapi nyediain kotak berisi obat maagh pada akhir bulan. Atau menambahkan air pada sabun cair yang mau habis, agar tetesan sabun terakhir bisa keluar. Atau juga kebiasaan anak kos yang dalam satu hari lebih banyak mandinya dibanding makannya.

Namun, dibalik penderitaan tadi, banyak hal yang dapat gue petik selama gue menjadi anak kos. Apa yang akan gue jabarkan adalah berdasarkan pengalaman serta opini gue. Jadi andai kata ada perbedaan pengalaman atau pendapat, harap dimaklumi. Karena apa yang kita rasakan sebagai anak kos berbeda-beda. Berikut beberapa hal yang gue dapat selama menjadi anak kos. Enjoy!

1. Adaptasi dengan lingkungan baru

Saat pertama kali menjajakan kaki di kos baru, itu rasanya seperti idul fitri atau dengan kata lain, merasa suci. Gak tau harus mulai dari mana. Gak kenal siapa-siapa, bahkan tetangga kiri dan kanan kamar gue sekalipun. Maka dari itu gue berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kos gue. Gue mulai SKSD—bukan SNSD, sama tetangga kos. Saling lempar senyum awkward kalau berpapasan. Tapi lambat laun, yang tadinya hanya diawalai dari basa-basi sampah serupa, “Mas, maaf, ini kalau mau gabung wifi bilang ke siapa ya?”, dan seiring berjalannya waktu dalam tiap obrolan akan terselip kata-kata mutiara seperti jancuk dan teman-temannya.

Namun semua kembali ke pribadi masing-masing, bagaimana cara diri sendiri beradaptasi dengan lingkungan kos. Karena para penghuni kos sejatinya adalah teman terdekat dalam keseharian kita. Kos gue yang dulu itu merupakan kos dua lantai dengan bentuk letter L. Kamar gue di lantai atas. Dimulai dari seperti bayi yang baru lahir yang nggak tau apa-apa, lama kelamaan gue dan beberapa anak kos lantai atas membentuk aliansi kos lantai atas, yang bermaterikan anak kos lantai atas yang sering main bareng.

Kita bukannya diskriminasi sama anak lantai bawah, tapi ini persoalan arogansi lantai aja. Kita ingin membuktikan bahwa ikatan kekeluargaan anak kos lantai atas sangat kuat. Meskipun ujung-ujungnya bubar juga karena satu per satu mulai pindah. Ironisnya, di saat anak-anak lantai atas mulai keluar karena berbagai macam alasan, komposisi anak lantai bawah masihlah tetap. Gue curiga anak lantai bawah membuat semacam gerakan bawah tanah untuk memutus ikatan anak lantai atas. Sebuah teori yang masih menjadi misteri hingga kini.

2. Tau kebiasaan orang lain

Setelah melewati tahap adaptasi, akan tiba saatnya kita tau kebiasaan para penghuni kos dengan sendirinya. Seperti di kos gue yang sekarang, gue hafal betul setiap malam penghuni kamar sebelah gue selalu mematikan tiap lampu teras sebelum tidur. Hemat listrik, katanya.

Contoh lain yaitu ketika gue tau ternyata ada anak kos yang menyetel lagu santai sebagai nada alarm. Gue tau ini karena lokasi kamar di kos gue berdekatan, jadi gue bisa mendengar alarm dari banyak sumber tiap pagi. Pada lazimnya orang kerap menggunakan lagu atau musik dengan nada yang keras sebagai nada alarm, tapi yang satu ini beda. Ia lebih memilih I Remember-nya Mocca sebagai nada alarm miliknya. Gue sempat ketawa saat pertama kali mendengarnya. Bahkan, gue mencibir kalau ia gak akan bisa bangun dengan lagu seperti itu. Sampai gue tersadar bahwa gue kebangun gara-gara dengar ada yang nyetel lagu Mocca di pagi hari...

3. Tau cara bertahan hidup

Percayalah, bahwa anak kos dapat menjadi orang paling kreatif di dunia pada saat-saat tertentu (baca: kepepet). Beberapa dari contohnya sudah gue sebutkan di awal. Ditambah dengan orang yang pada mulanya tidak bisa origami, mendadak mahir dalam seni melipat pasta gigi yang isinya sudah sangat memprihatinkan agar bisa digunakan.

Jujur, sebelum gue ngekos gue cuma tau satu fungsi dari magic jar, yaitu menanak nasi. Namun, ternyata nama magic jar bukanlah hanya sekedar nama. Magic jar benar-benar magic, like literally. Seketika semua kebutuhan gue dapat tercover dengan adanya magic jar. Seperti menemukan kepingan puzzle yang hilang dari hidup gue. Mulai dari masak mie sampai ngangetin rendang kiriman orang tua, gue lakukan di magic jar. Slogan ‘magic jar for lyfe’ pun tersemat dalam diri gue. 

Tapi, seperti sudah ditakdirkan bahwa kebahagiaan dan anak kos bukanlah jodoh, maka secepat itulah kebahagiaan gue direnggut. Magic jar yang gue gunakan terpaksa gue kirim balik ke rumah karena adanya UUD Kos yang mematok biaya tambahan sebesar 25 ribu bagi penghuni kos yang ketauan membawa magic jar. Dan gue salah satu korbannya. Shit.

4. Mandiri

Mandiri merupakan hal pertama yang harus disadari ketika memutuskan merantau jauh dari keluarga dan memilih menjadi anak kos. Karena atas dasar inilah kita sebagai anak kos mampu bertahan hidup.

Kehidupan anak kos memang tidak bisa disamakan dengan ketika di rumah. Saat di rumah, ketika kita bangun kesiangan maka orang tua atau siapapun yang ada di rumah mungkin membantu membangunkan kita dan mencegah kita terlambat ke kampus, namun ketika kita ngekos dan gak mampu untuk bangun pagi dengan sendirinya, maka yang terjadi adalah akan adanya sebuah pesan terror jam 3 pagi kepada salah satu teman kita dengan isi, “Bro, kalau nanti gue kesiangan terus gak masuk tolong tipsen ya, susah tidur nih gue.” Nah, loh.

Mungkin banyak dari anak kos yang sebelum ngekos merupakan anak manja atau males-malesan, tapi setelah menjadi anak kos ia menjadi seorang yang rajin dan berbeda. Tapi, satu yang perlu dicatat ialah saat anak kos pulang ke rumahnya, maka ia akan kembali menjadi anak yang manja. Semandiri apapun dia. Hal ini dikarenakan feel saat di rumah dan di kosan berbeda. Juga, karena anak kos tau, surga seperti itu tak akan bertahan lama.

5. Punya berbagai kisah menarik

Beda kos, beda pula cerita yang mengiringinya. Mulai dari anak-anaknya, keseruan di dalamnya, tingkat rese ibu kosnya sampai ke kisah mistis di dalamnya. Berbagai contoh pengalaman gue di atas adalah hanya sepersekian saja dari banyaknya hal yang gue alami selama menjadi anak kos. Dan gue akan menceritakan kembali pengalaman ini kepada anak cucu gue kelak.

Mungkin pada saatnya tiba, kala gue rindu dengan Jogja, gue mengajak anak-anak gue mengunjungi tempat tinggal ayahnya semasa kuliah. Dan disaat-saat seperti itu gue berharap anak-anak gue nggak bertanya, “Oh, jadi di sini tempat kita dibuat, Yah?”

---

Nah, itu segelintir cerita gue mengenai hal-hal yang gue dapatkan selama menjadi anak kos. Dan cerita gue masih akan bertambah mengingat gue masih punya satu tahun masa studi di tanah rantau ini. Mungkin beberapa dari kalian punya kisah (penderitaan) yang sama, atau bahkan nggak ada kesamaan sama sekali, tak apa, itu merupakan sesuatu yang biasa. Karena perbedaan lah yang membuat anak kos menjadi satu kesatuan utuh. Oke, Jaka Sembung bawa golok emang.

Buat kalian yang mau membagi pengalaman sebagai anak kos, bisa ditulis di kolom komentar di bawah. Gue pamit undur diri. Ciao!

Monday, April 24, 2017

Chapter VI - Between Past and Future


Chapter I-V bisa di klik pada tags 'Series'.
 ---

2 years later

Andre

Banyak peristiwa besar yang terjadi dalam semalam, kemudian merubah hidup mereka yang bersangkutan dengan peristiwa itu setelahnya. Seperti kisah para creator saat ciptaannya berbuah manis. Berawal dari puluhan, ratusan hingga ribuan kali percobaan dan pada akhirnya menghasilkan satu keberhasilan. Keberhasilan yang menutupi kisah perjuangan dibaliknya. Keberhasilan yang menasbihkan nama mereka ke dalam daftar manusia berhasil.

Cerita serupa juga terjadi pada gue, namun yang membedakan gue dengan creators itu ialah mereka mengawali kisah dengan kegagalan, lalu berakhir dengan luar biasa. Sedangkan kisah gue diawali dengan hal-hal indah dan hanya dalam semalam kisah tersebut berubah menjadi mimpi paling buruk selama hidup gue.

Dering ponsel menyadarkan gue dari lamunan terkait masa itu. Panggilan dari Ivan, adik gue.

“Halo,” gue membuka percakapan.

“Lagi dimana, Bang?” Tanyanya tanpa basa-basi.

“Di kafe, kenapa?”

“Lagi ada siapa?”

“Berdua sama Rama, kenapa?” Satu pertanyaan lagi keluar dari bibirnya, gue berniat mendaftarkan dia ke redaksi surat kabar lokal sebagai wartawan.

“Sip! Gue ke sana ya, Bang! Jangan pergi dulu!” Ujarnya penuh semangat. Niat mendaftarkannya sebagai wartawan pun gue urungkan.

Ivan mematikan sambungan telfon. Gue meletakkan ponsel pada tempat semula. Meraih gelas berisi kopi dan menyeruputnya perlahan.

“Ivan?” Tanya Rama disusul kepulan asap yang keluar dari rongga mulutnya. Gue jawab pertanyaan tadi dengan anggukan lemah.

“Ke sini?” Gue mengulangi hal yang sama. 

“Mau ada yang diobrolin sama lo kayaknya. Semangat banget dia pas tau ada lo di sini,” ujar gue.

“Paling cewek lagi,” sahut Rama kembali menghisap vape dari genggamannya.

“Iya kali,” ucap gue singkat.

“Lemes amat lo.”

“Kapan lo liat gue semangat?”

“Pas di panggung,” Rama tersenyum tipis. “Meskipun gue tau itu bukan 100 persen semangat manggung, tapi cuma ajang buat lo numpahin emosi yang kerap lo tahan.”

Gue meresponnya dengan diam. Apa yang barusan ia katakan ada benarnya. Panggung adalah satu-satunya tempat bagi gue untuk melampiaskan penderitaan gue. Dan Rickenbacker kesayangan gue merupakan media yang tepat untuk menyalurkan penderitaan tersebut keluar lalu menguap bersama musik yang berdentam dari sound, serta riuh-remah penonton ketika ikut bersuara mengikuti vokal dari Rama.

“Bang Andre sama Bang Rama ada di tempat biasa,” terdengar sayup suara Ben, barista di sini, menyebut nama gue dan Rama, menandakan bahwa Ivan telah sampai.

Gue bisa melihat Ivan berjalan ke arah kami dari pintu kaca yang menghubungkan bagian luar--smoking area, dengan bagian dalam kafe. Raut wajahnya terlihat sumringah. Senyum yang tersungging dari bibirnya selama ia berjalan malah membuat dia terlihat seperti seseorang yang kehilangan akal. Timbul pikiran menghubungi Ibu lalu mengatakan untuk mencoret nama Ivan Rizki Dwiputra dari daftar nama kartu keluarga.

“ASSALAMUALAIKUM ABANG-ABANG SEMUA!” Ia membentangkan kedua tangannya tepat setelah membuka pintu kaca. Teriakannya sungguh memekikan telinga. Gue menjawab salamnya lirih.

“Berisik tai,” umpat Rama.

“Hehehehe, ya maaf, Bang. Lagi semangat nih.” Ivan menempati kursi kosong di sebelah gue.

“Gue tebak, pasti ada hubungannya sama cewek nih kalau semangat begini,” ujar Rama sembari menyesap kopinya yang mulai dingin.

“Hehehe, emang segitu keliatannya, ya?” Ivan nggak berhenti cengengesan. Kalau dia sudah seperti ini dan kita sedang berada di tempat ramai, gue kerap mencabut status dia sebagai adik kandung.

“Karena lo kayak orang bego, Dek, kalau udah berhubungan sama cewek,” sambung gue. Ivan tetap tertawa. Gue mau lempar tisu ke dalam mulutnya.

“Udah, gue tau tujuan lo ke sini. Mana coba fotonya, biar gue liat orangnya gimana,” sahut Rama sembari menjulurkan tangannya.

“Bentar, Bang,” Ivan mengeluarkan ponselnya dan ia mulai tenggelam dengan aktifitas mencari foto ‘gebetannya’ tersebut. “Nih.” Ia menyerahkan ponsel kepada Rama.

Rama menatap layar ponsel lekat. Matanya memicing memerhatikan foto yang diberikan Ivan. Ia berulang kali mengernyitkan dahi, juga jemarinya tak henti mengelus janggut lebatnya berulang-ulang. Seolah ia sedang berpikir keras.

“Si kampret, ini mah Nabela,” ujar Rama.

Ivan melotot. Gue spontan tertawa.

Gue hafal betul siapa Rama. Seorang womanizer merangkap playboy yang sudah terkenal sejak SMA. Gue rasa nggak ada cewek cantik yang nggak dikenal Rama. Dan bagi kami, personil Alchemy, serta beberapa orang yang kenal dekat dengannya, termasuk Ivan, bukan suatu  hal yang asing apabila tahu bahwa ia kerap ‘tidur’ dengan beberapa dari mereka. Pesona serta auranya sebagai frontman dari Alchemy mampu membius gadis-gadis tersebut. Hal ini menjadikan Rama sebagai ‘guru’ oleh Ivan dalam hal wanita. Namun, apabila Ivan mengikuti jejak guru sablengnya tersebut, maka gue sungguh-sungguh untuk menurunkan kastanya sebagai seorang adik.

Butuh beberapa saat bagi Rama untuk menyadari alasan gue tertawa serta arti dari tatapan Ivan kepadanya. Lalu ia menepuk jidatnya dan mulai tertawa.

“Tenang, Van, gue cuma pernah liat foto dia di instagram UI cantik, kok. Kalem, kalem, hahaha,” tawanya mengeras. Perut gue bahkan mulai sakit karena terus-menerus tergelak. Ivan mengalihkan tatapan jengkelnya ke gue. Seakan menyuruh gue untuk diam dan tidak ikut-ikutan memojokkannya.

Ivan menatap tajam Rama dan masih tanpa suara. Ia masih belum sepenuhnya percaya pada kata-kata Rama. Ia nggak sepenuhnya salah kalau bersikap begitu, andai gue ada di posisi Ivan pun gue nggak akan gampang percaya dengan apa yang Rama katakan.

“Yeee si tai, beneran gue nggak kenal, cuma tau doang. Cantik emang anaknya, ya masih cocok lah kalau sama lo,” jelas Rama sambil menyeka air matanya yang keluar akibat tawa tadi.

“Mana coba, Dek, gue mau liat,” gue meraih ponsel yang diserahkan Ivan. Gue tatap foto itu sejenak. Cantik. Banget. Itu yang pertama terlintas dipikiran gue. Ivan melihat gue, menunggu tanggapan dari kakaknya. Tawa Rama mulai mereda.

“Ini bukannya yang waktu itu lo omongin, Ram? Pas abis manggung di Semarang itu loh.” Gue mengucapkannya dengan menahan tawa. Ivan terbelalak, sedangkan tawa Rama kembali pecah.

“Jahat bener lo sama adik sendiri,” Rama memegangi perutnya yang bergejolak. Ivan nampak mulai pasrah sebagai pihak yang tersudutkan. Dan memang sudah seharusnya seperti itu. Pasrah dalam menjadi target bulan-bulanan dari kakaknya beserta teman-temannya.

“Bercanda, Dek, cantik kok,” gue meletakkan ponsel itu di atas meja sambil tersenyum padanya. “Ini lo baru mau kenalan atau emang udah deket?” Tanya gue mencoba serius.

“Udah lumayan deket bang,” suaranya masih terdengar layu.

“Lemes amat woy! Becanda doang kampret. Gue beneran kagak kenal sama dia,” Rama melempar tisu yang tergumpal pada Ivan. Mendengar hal itu secara perlahan senyum di wajahnya timbul kembali dan ia mulai terkekeh.

“Kan, begonya kumat,” tambahku.

---

Setelah Ivan meninggalkan kami berdua kembali, aku terhanyut dalam kesunyian panjang. Kesunyian dalam hati yang lahir dua tahun lalu dan mendekam di dalamnya hingga kini.

“Perasaan baru kemarin dia curhat ke gue tentang hubungannya sama Laura, sekarang udah nunjukin foto yang baru aja,” dengan bersandar pada dinding, Rama mengulangi kegiatannya mengepulkan asap ke ruang kosong di langit-langit. Matanya menatap kumpulan asap itu.

“3 bulan lalu kalau nggak salah. Gue inget karena dia terus-terusan nanyain lo. Bawelnya minta ampun itu anak,” gue terseyum getir.

“Dia aja udah nemuin destinasi selanjutnya. Lo sendiri gimana?” Rama mengubah pandangannya ke gue.

Telak. 

Gue tatap Rama tanpa mampu mengeluarkan kata-kata. Pertanyaan tadi cukup menohok hati gue.

“Udah 2 tahun, bukan? Mau sampai kapan?” Terusnya.

Gue membuang muka. Memerhatikan customer yang datang dan sibuk dengan aktifitas masing-masing di mejanya. Sudah dua tahun. Gue bahkan nggak menyadari kalau waktu berjalan sedemikian cepatnya. Namun, rasa sakit itu masih terasa seperti kemarin.

“Entahlah, Ram. Baru juga dua tahun. Sejauh ini masih nggak ada yang berubah,” gue berbicara tanpa memandangnya.

“Asal lo tau, Ndre, tiap kali Ivan curhat masalah kehidupan cintanya sama gue, sebenarnya gue pun nggak bisa ngasih banyak saran. Dia mungkin cuma ngeliat dari gue sebagai orang yang tau banyak karakteristik perempuan, tapi level percintaan gue masih jauh di bawah lo. Maksud gue, kalau mau ngomongin hubungan yang serius sama satu wanita, lo orang yang tepat, bukan gue,” jelas Rama. Bibir gue masih terkatup.

Lagi. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya sebagian besar adalah kenyataan. Walaupun ia tahu mengenai seluk beluk wanita, tapi ia tak pernah menjalani hubungan yang serius. Rekor terlama ia berpacaran yaitu saat SMA dengan manajer kami, Dian. Setelahnya ia hanya berapacaran tidak pernah lebih dari satu semester, atau bahkan hanya sekedar one night stand.

Sudah dua tahun sejak hari itu. Hari dimana ia mulai menghilang. Hari saat Laila Indrayanti, seseorang yang sangat gue sayangi pergi tanpa meninggalkan kabar satupun. Pada awalnya gue mengira ia hanya sedang pergi ke suatu tempat dan ponselnya tertinggal, hingga lupa menghubungi gue. Namun, kabar darinya tak kunjung datang sampai beberapa hari ke depan. Sampai akhirnya gue tersadar bahwa dia telah berada di luar lingkaran hidup gue.

Panik? Jelas.

Gue terus mencari keberadaannya, hingga detik ini. Meskipun intensitasnya kini berkurang. Tapi hasilnya tetap nihil. Ia seperti hilang ditelan bumi. Dia tidak memperbaharui isi dari tiap sosial media yang dia punya selama dua tahun terakhir. Termasuk saat instagram memperkenalkan fitur stories mereka, ia tidak pernah menggunakannya.

Padahal gue selalu menunggu untuk itu.

Setidaknya untuk sekedar tahu bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.

Gue pun sempat punya pikiran bahwa ia menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Bukannya gue berharap kalau hal itu benar terjadi, tapi saat seseorang menghilang secara tiba-tiba dan tidak ada kabar lagi setelahnya, apakah mempunyai pikiran demikian termasuk naif? Gue beropini itu masih masuk diakal. Atau jika tidak, mungkin gue yang perlahan menjadi gila karenanya.

Saban hari gue menghabiskan waktu dengan browsing dan menonton berita. Mata gue terfokus tiap berita kriminal ditayangkan. Membaca tiap headline dan running text. Berjaga-jaga andai ada berita mengenai seorang wanita berumur dua puluh lima tahun tewas dibunuh setelah sebelumnya diperkosa dan jasadnya dibuang di pinggir jalan tol, di sana. Kabar tersebut tak urung tersiar. Setelah gue menampar diri sendiri, gue mencoba membuang pikiran busuk ini dan berdoa untuk keselamatan Laila dimanapun ia berada.

Saat gue bertanya kepada kawan dekatnya, Nadine, ia menampik kalau tahu keberadaan Laila, sahabatnya dan, ugh, mantan? Atau masih pacar gue? Entah bagaimana gue menyebutnya. Kami tidak berpisah selayaknya sepasang kekasih memutuskan hubungan. Tapi dengan kepergiannya yang tiba-tiba tanpa meninggalkan sepatah kata, gue pun nggak yakin kalau ini bisa disebut ‘putus’.

Dan sebagian dari hati gue yang masih bertahan dengan kondisi ini mengatakan bahwa Laila masihlah milik gue. Mesikpun sisi lainnya sedikit demi sedikit kehilangan kesabaran akan penantian yang tak berujung ini.

Gue sadar kalau gue nggak segitu bego dalam urusan cewek. Gue tahu Nadine selalu menghindar acap kali gue bertanya mengenai Laila. Gue cuma bego dalam usaha menyampaikan apa yang ada dipikiran gue kepada seseorang. Dan saat orang tersebut nggak mau memberitahu apa yang terjadi, gue berhenti bertanya kepadanya karena kerap timbul perasaan nggak enak. Ini menjadi ketololan gue yang lain. 

Hal tersebut sering terjadi saat dulu gue dan Laila masih bersama. 

Huh, masih bersama... Kata itu terdengar aneh bagi gue.

Dulu, Laila selalu menghindar apabila gue bertanya mengenai hal yang sedang tidak mau dia bahas dan gue selalu menerima itu. Termasuk dengan yang dilakukan Nadine kepada gue, sampai gue memutuskan untuk nggak lagi bertanya padanya. 

Setelahnya, ia terlihat mencoba membantu gue dalam berbagai hal—mungkin untuk menambal perasaan nggak enak ke gue, juga termasuk saat gue memutuskan untuk membangun kafe yang gue idamkan. Nadine turut serta dalam proses pembangunannya. Ia banyak memberi masukan dari segi manajemen serta pelayanan, karena ia punya pengalaman lebih dulu di bidang yang sama. Juga kebetulan terdapat kesamaan dari konsep kafe kami, yaitu terdapat live music di dalamnya.

Kafe yang gue bangun ini dulu sering gue diskusikan dengan Laila. Gue mengatakan bahwa suatu saat nanti gue akan membangun sebuah kafe yang merepresentasikan pertemuan kami pertama kali. 

“La, setelah lulus nanti, aku rencananya mau bikin kafe sendiri deh di Serang,” ucap gue saat gue dan Laila duduk berhadapan di sebuah kedai kopi asal Amerika yang terletak di pelataran gedung bioskop tepi jalan Urip Sumoharjo pada penghujung tahun 2014 lalu.

“Sejak kapan kamu punya pikiran itu?” Ujarnya sambil meminum caramel macchiato miliknya.

“Sejak pertemuan kita pertama kali. Entah kenapa aku merasa punya utang budi ke semua kafe-kafe yang ada. Karena adanya mereka, kita bisa bertemu di salah satu diantaranya,” gue menatap tepat pada titik bola mata indahnya. Mata teduh yang selalu membuat jiwa gue merasa tenang.

“Kamu bisa nggak lebay gak, Ndre?” Ia terkekeh.

“Ini serius, La. Lagi pula di kotaku masih jarang kafe yang benar-benar kafe. Maksudku yang menyediakan kopi signature-nya sendiri. Yang benar-benar enak buat catching up sama teman lama, pacar, gebetan ataupun selingkuhan.”

“Jadi kamu mau bikin kafe buat ketemu sama selingkuhan kamu?” Entah kenapa dari omongan gue yang panjang tadi, ia hanya menangkap bagian akhirnya saja.

“Eng...”

“Hayo ngaku!”

“Buk...”

“Ngaku gak?”

“La...”

“Apa?!”

“Denger-denger diskon akhir tahun di Amplaz udah mulai, ya? Mau belanja?”

Hening.

Selang beberapa lama, Laila ketawa dengan kerasnya. Membuat beberapa pengunjung lain menoleh ke meja kami.

“Kamu tuh, ada aja pikirannya. Niat aku cuma mau bercandain kamu. Aku seneng aja ngeliat muka kamu yang kalau nggak salah tapi aku salahin tuh lucu jadinya,” ucapnya masih dengan tertawa, namun kali ini satu tangannya menutupi mulutnya. Ketawa cantik kalau kata orang-orang. Padahal, sesaat lalu caranya tertawa udah mirip nenek lampir. Tapi ia cepat sadar kalau sedang berada di tempat umum. Jaga image, katanya. Tawa nenek lampir tadi cuma terlihat saat kami sedang berduaan saja.

“Hahaha, iya tau kok kamu cuma bercanda. Udah hafal juga aku,” gue pun ikut tertawa. Menghargai candaannya demi keselamatan jiwa.

Laila yang masih tertawa dengan tangan memegang cup caramel macchiato-nya tiba-tiba menghentakkan cup tersebut ke meja dengan cukup keras. Tawanya terhenti. Mata indahnya berubah menjadi mata nenek lampir sungguhan dan menatap tajam menghunus bola mata gue. Auranya berubah hanya dalam hitungan detik. Ia membuka mulutnya, “Tapi ajakan belanja kamu tadi bukan bercandaan, kan?” Gue nelen ludah.

---

“WOY!”

“Wah, gila ini orang.”

“Bang, gimana nih? Panggil ustadz aja? Kayaknya kesurupan deh.”

Gue terperangah mendapati Rama, Ben, Fajar, Alika, Richard bahkan Ivan yang tadi sempat pergi, sekarang tengah berada di hadapan gue dengan masing-masing melayangkan tatapan heran.

“Ada apa nih rame-rame?” Tanya gue.

“Wah, sadar juga nih orang, kirain udah gila,” sahut Richard.

“Kenapa sih?” Jawab gue polos.

“Oy kampret, gue udah panik tadi. Lo bengong lama banget, gue kasih cipratan air lo nggak sadar. Gue goyang-goyangin juga nggak sadar. Terus gue panggil Ben, Fajar sama Alika buat bantu, masih nggak sadar juga. Gue minta bantuan di grup Alchemy yang bisa dateng si tai Richard doang. Akhirnya gue nyuruh Ivan buat balik lagi biar jadi saksi kalau kakaknya udah gila,” jelas Rama panjang lebar.

“Kampret, gue udah dateng masih aja dikatain,” timpal Richard.

“Eh? Serius? Duh, maaf-maaf jadi ngerepotin kalian gini,” gue menggaruk bagian belakang kepala sambil memasang muka nggak enak kepada mereka. Apa selama itu gue melamun? Apakah hanya gegara seorang perempuan bisa menghancurkan mental gue?

Rama mengambil tempat di sebelah gue, lalu melingkarkan lengannya melewati leher. “Take it easy, bro. Jangan lo jadiin beban. Percaya aja kalau ini memang udah bagian dari rencana Tuhan. Dan percaya bahwa suatu saat nanti datang seseorang yang bisa menggantikan posisi Laila di hati lo. Lo punya kita, Ndre,” ia berhenti sejenak, matanya menyapu mereka yang berdiri di hadapan kami. “Kalau gue atau anak-anak Alchemy nggak bisa bantu, masih ada Ben, Fajar sama Alika yang stand by di kafe. Gue tau si Ivan nggak bisa diandelin buat masalah kayak gini, tapi setidaknya sosok dia nyata, Ndre. Dan yang pasti lo nggak sendirian.”

“Nyesel gue dateng, Bang,” sesal Ivan mendengar perkataan Rama.
   
Gue tersenyum. Kembali ia berkata benar. Gue rasa Rama lah yang seharusnya dikira kesurupan, karena hari ini apa yang ia katakan banyak benarnya.

Gue nggak sendirian. Meskipun gue ragu akan perkataan Rama tadi yang membawa nama Tuhan padahal ia sendiri termasuk orang yang tidak taat beragama. Namun ketika gue menatap mereka yang kini berdiri di sekeliling gue dengan raut wajah khawatir, gue sadar mungkin sudah seharusnya gue berdamai dengan masa lalu dan mulai menyusun rencana ke depan serta menapakinya dengan perlahan.

“Mau dilepasin di panggung aja? Biar lo nggak gila beneran,” ajak rama yang segera gue iyakan.

---

Berbeda dengan kafe milik Nadine yang memilih menampilkan live music berupa penampilan akustik, gue lebih kepada penampilan band bagi siapa saja yang mau mengisi. Termasuk Alchemy yang kerap tampil di kafe ini yang ternyata mampu menarik minat pengunjung lebih banyak.

“Mau main apa?” Ujar gue sambil mempersiakan amplifier. Richard bersiap pada posisinya dibalik drum. Begitu pula dengan Rama bersama gitarnya.

“Yellow Ledbetter-nya Pearl Jam, gimana?”

“Mainkan!” Sahut Richard dari belakang.

---

Mungkin gue harus merelakan Laila.

Mungkin.

Tapi, apakah gue sanggup?

to be continued


Saturday, April 1, 2017

Chapter V - Doubt




Chapter I-IV bisa di klik pada tags 'Series'.

---
Laila

Pernah gak merasa kalau kita punya segala yang kita inginkan, seperti sahabat yang selalu ada, materi yang tercukupi sampai kekasih terbaik dalam hidup kita. Tapi di sisi lain, timbul perasaan bahwa semua itu kemungkinan besar tidak bisa kita miliki selamanya?

Perasaan itulah yang kini menyelimutiku.

Aku seakan kembali menemukan warna hidupku semenjak dua tahun lalu. Saat pertama kali berjumpa dengannya di sebuah kafe yang terletak persis di tepi jalan besar Gejayan. Gabungan warna indah yang mengisi hitam-putih hidupku sampai detik ini. Dan mungkin hanya sampai beberapa bulan berikutnya.

“Permisi mbak, saya mau ngambil itu,” suara tersebut menyadarkanku. Aku mundur beberapa langkah dan tersenyum ke pemilik suara. Aku sedang berada di sebuah supermarket. Melakukan kebiasaanku selama hidup di kota pelajar ini tiap awal bulan tiba; belanja bulanan.

Entah berapa lama aku termenung  di depan etalase bodyshop itu. Pikiranku kerap mundur pada malam perayaan satu tahun kafe milik Nadine. Saat aku turun dari stage, aku mendapati tatapan itu. Tatapan yang menjadi ciri khasnya kala memproyeksikan pertanyaan, ‘kamu kenapa?’. Namun ia tahu aku tak akan menjawabnya. Jadi, saat aku menempati kursiku, ia langsung mengenggam tanganku. Erat. Aku tahu apa yang ada dipikirannya. Dan aku tahu apa yang seharusnya aku ucapkan.

Tapi aku tidak bisa.

Setelah membayar belanjaan dan berjalan menuju tempat parkir, ponselku berdering. Nama dari seseorang yang sangat aku kenal—dan aku cintai, tampak pada layar.

“Kamu dimana?” tanya suara di seberang telefon. 

“Waalaikumsalam,” jawabku.

“Eh, iya, assalamualaikum.” Aku tersenyum sejenak sebelum mengulangi kata yang sama.

“Pelan-pelan aja. Tarik nafas. Cuci muka dulu. Makan siang. Kalau udah beres semua, baru telfon aku lagi.”

“Makan siang? Sarapa... Eh, udah jam 12an yah hehehe,” dia cengengesan. Sedangkan aku hanya meresponnya dengan seutas senyum. Bukan hal baru kalau di hari minggu ia bangun sebegini siangnya.

“Oh iya, kamu berangkat ke Solo jam berapa?”

“Kata Dian sih jam dua, kumpul di kosku,” jawabnya.

“Tau banget aku kenapa Dian minta berangkat jam segitu. Personil bandnya kebo semua sih,” sambungku tertawa kecil dan diikuti respon yang sama dari lawan bicaraku.

Setelah terdiam beberapa saat, aku menarik nafas sejenak, “Kamu tuh, Ndre, hobi banget sih bangun jam segini? Aku udah kemana-mana, Ndre, sekarang aku baru selesai belanja bulanan di Amplaz. Udah, nggak usah nanya, ‘kenapa nggak nungguin aku?’. Kelamaan kalau aku nunggu kamu bangun. Setelah ini aku langsung pulang. Sekarang kamu cuci muka, shalat duhur dulu terus makan!”

Aku senang melakukannya. Tentu aku tak pernah bosan, meskipun harus misuh-misuh tiap akhir pekan. Anggap saja ini caraku menunjukan rasa sayangku padanya. Tiap orang punya caranya sendiri dalam menunjukan rasa sayangnya, bukan?

Aku juga hafal dengan kebiasaannya menjauhkan ponsel dari telinga kala aku menasehatinya. Jadi, saat tak terdengar suara apapun setelah ‘ceramah’-ku tadi, aku tahu ia tak mendengarkan dan kalau sudah begini, maka akan ada ‘ceramah’ bagian dua.

Baru aku membuka mulut untuk melanjutkan perkataanku, terdengar suara darinya. Suaranya begitu tenang sehingga aku sedikit tersentak mendengarnya. Ia berkata, “Iya sayang.”

---

“Lama amet, bu. Eike udah mau mati kelaperan, bo,” ujar Nadine kala aku membuka pintu kamar kos. Ucapannya itu dipertegas dengan apa yang sedang ia lakukan; memakan satu bucket ice cream oreo.

Nadine ada di kamarku sejak semalam. Ia datang dengan setumpuk cerita mengenai cowok yang sedang mencoba mendekatinya. Mulai dari hal yang ia sukai, sampai yang membuatnya ‘ilfeel’ terhadap cowok itu, ia curahkan semuanya hingga tak sadar bahwa malam semakin larut dan ia memutuskan menginap di tempatku.

“Maaf, maaf, tadi sempet telfonan dulu sama Andre. Ini udah gue beliin makanan favorit lo, ayam geprek bu rum,” kataku sembari menaruh dua kantung belanja di meja yang terletak di hadapan tempat tidur. Nadine cengar-cengir mendengarnya. Sungguh, aku sedikit kasihan pada tiap cowok yang mencoba membuat Nadine terkesan dengan membawanya ke restoran pizza atau tempat fancy lainnya, padahal mengajak dia makan di ayam geprek bu rum adalah pilihan yang lebih baik dibanding itu semua. Nadine nggak mungkin bisa nolak ajakan satu ini. 

“Bu Rum yang dimana? Gue nggak mau makan selain yang di Demangan,” protesnya.

“Sumpah ya, ini orang katanya kelaperan, tapi masih aja nanya gitu. Lagian kenapa sih harus yang di sana? Di sekitar sini juga ada, kan?” ujarku kesal.

“Gini ya, Laila Indrayanti,” ia membetulkan posisi duduknya. Menegakkan punggung, serta menaruh bucket es krim di antara dua kaki yang bersila. “Nggak semua cabang tempat makan punya rasa yang sama, meskipun dipayungi satu nama. Gue pernah coba Bu Rum yang di tempat lain, rasanya beda, La. Mulai dari ayam sampai sayurannya. Dan lo tau alasan gue bangun kafe di daerah sana? Salah satunya biar gue nggak terlalu jauh buat beli geprek itu, La,” jelasnya panjang lebar.

Yah, seperti itu Nadine kalau sudah suka dengan sesuatu, khususnya tempat makan. Seperti nggak mau makan bubur selain di tukang bubur belakang kampus. Atau bakmie jawa di dekat kosku. Ayam geprek bu rum hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak hal ribet ala Nadine. Aku melihat itu sebagai satu hal yang lucu, meski terkadang tampak menyebalkan.

“Bawel, Nad,” aku terkekeh sambil mengeluarkan beberapa barang dari kantung belanja. “Udah, katanya laper tapi masih ngemilin es krim aja. Eh, by the way, itu es krim siapa yang lo makan?” lanjutku.

“Ya punya lo, Laila. Gue ambil dari kulkas di dapur saking lapernya. Terus gue liat ada es krim oreo di dalam plastik dengan tulisan ‘Laila’, yaudah gue ambil, hehe. Maaf ya, gue bilangnya belakangan,” ucapnya diikuti satu suap sendok es krim ke mulutnya.

“Nad, lo lupa?” aku menghentikan kegiatanku dan berbalik arah. Mataku menatap Nadine lekat.

“Apaan?” gerakannya pun tertahan kala pipinya menggembung karena es krim di dalamnya. Ia menaikkan satu alisnya dan menatapku heran.

Aku menarik nafas sejenak. “Di kost ini, kan, ada dua nama Laila. Lo lupa itu?”

Nadine menelan es krim yang tertahan di rongga mulutnya. Tatapannya terpaku pada diriku yang mematung tanpa ekspresi. Kini mulutnya sedikit menganga serta mimik muka herannya berubah menjadi panik.

Nadine menepuk dahinya, “Mampus, gue lupa.”

“Gimana dong, La? Duh, ini udah mau abis lagi. La, gimana ini?” ia nampak gusar sehingga tak bisa diam, membuat sprei kasurku berantakan.

Aku mengangkat kedua bahu sambil tersenyum tipis.

“Aduh, gue gantiin aja kali ya? Orangnya yang di kamar atas itu, kan? Duh, La, gue nggak enak ini, mana nggak kenal lagi. Iiiih gimana dong? Jangan diem aja kenapa, La?!” ia semakin panik. Hal itu membuatku tak kuasa melihatnya dan mulai menahan tawa.

Nadine melihatku sejenak, lalu hanya butuh beberapa detik sebelum sadar bahwa aku mengerjainya.

“LAILA RESEEEE!! AWAS YA!!” tawaku pecah. Kemudian Nadine beranjak dari duduknya. Melompat ke arahku yang tak bisa menghindar karena perutku sakit efek terlalu banyak tertawa. Nadine menangkapku, lalu jemarinya dengan lihai menggelitik pinggangku. Ia tahu bahwa itu merupakan titik lemahku. Maka tawaku semakin tak terkontrol akibatnya.

“Hahahahaha, Nadiiiine!! Ampuuun, hahahaha.” Aku mencoba menahan gerakan tangannya yang berpindah-pnidah menghindari sergahan tanganku. “Udah heey, hahaha. Inget ini sahabat lo, Naaaad.”

“Bodo amat. Kita resmi jadi musuh sampai 5 menit ke depan.” Aku tahu ia tak mendengarkan, ia malah mempercepat gerakan menggelitiknya.

“Gilaaaaa, bisa mati ketawa gueeeee, hahahahahahaha.”

“BODOOO!!”

---

Aku tengah berada di sebuah kafe. Terduduk dengan laptop terbuka di hadapanku. Memantulkan cahayanya yang tepat mengenai wajahku. Aku menahan dagu dengan kedua lenganku, memerhatikan sang pemilik kafe sibuk menyiapkan pesanan customer. Aku tersenyum melihatnya. Bagaimana tangannya begitu cekatan dalam mengoperasikan mesin espresso, serta bibirnya yang tak lelah berkomunikasi dengan pegawainya. Padahal kafe ini sudah punya cukup barista untuk melayani pelanggan, namun terkadang ia terjun langsung ke dalamnya, menjadi sosok owner serta leader dari kafe yang dahulu hanya bisa ia bangun dalam mimpi.

Begitulah Nadine, seorang pekerja keras hingga ia dapat mewujudkan mimpinya. Walau tidak besar, namun suasana yang disajikan mampu membuat beberapa orang kembali lagi karena merasa nyaman –atau karena pemiliknya cantik, selain memang kopi di sini nikmat.

Dengan bar di bagian tengah ruangan, kemudian mini stage berada di sisi timur dari bar. Dinding kafe berupa bata abu yang terpasang rapih dan ditimpa mural di beberapa bagian. Sebuah kaca besar terdapat dibagian depan kafe dengan tulisan ‘Nadi Cafe’ terpampang. Membuat siapa pun yang lewat bisa melihat segala aktifitas yang dilakukan di dalam kafe, begitu pula sebaliknya. Dan yang aku suka ialah kondisi di sini pada malam hari, Nadine memasang lampu pijar sebagai lampu mayoritas kafe ini. Menjadikan suasana sedikit redup tapi tidak mengurangi jarak pandang orang di dalamnya. Hal itu mempunyai nilai tambah sendiri bagiku.

Aku pernah menanyakan kenapa ia memilih nama kafe seperti yang sekarang tertulis di kaca besar itu? Ia hanya menjawab bahwa nama itu kalau diucapkan berulang-ulang secara cepat maka akan terdengar seperti namanya. Yang membuatku menggelengkan kepala mendengarnya.

Namun, kalau ada orang lain bertanya, maka ia akan menjawab, “Karena memiliki sebuah kafe sendiri seperti udah terdapat dalam nadi saya, sehingga saya rasa nama ini pantas mewakili apa yang saya rasakan.” Mendengar itu aku hanya menahan tawa karena aku tahu makna sesungguhnya dibalik pemilihan nama ‘Nadi Cafe.’

“Babe? Kok bengong?” aku tersentak ketika Nadine menyentakkan jarinya tepat di mukaku.

“Eh, engga, kok. Gue tadi ngeliatin lo aja. Seneng ngeliat lo keliatan sibuk gitu, jadi aura positif lo keluar, Nad, nggak keliatan galau terus,” jawabku.

“Yah, bisa dibilang ini salah satu cara gue biar nggak terus kepikiran Alfa sialan,” ujarnya sambil menempati kursi yang berhadapan denganku. “By the way, gimana nulis lo? Udah selesai?” lanjutnya.

Aku melirik layar laptop yang menampilkan laman kosong Microsoft Word dengan kursor yang berkedip. Tak ada satu kata pun di sana.

“Coba gue liat,” Nadine mencondongkan badannya. 

Dengan cepat aku menutup laptopku. “Enggak, Nad, jelek tulisan gue,” ucapku berbohong, membuat Nadine kembali pada posisi semula.

“La, lo emang bisa ngerjain gue kayak tadi siang, tapi untuk yang satu ini, lo nggak bisa ngehobongin gue,” ia mendengus pelan. “Gue udah sering baca tulisan lo dan nggak ada satu pun yang jelek. Lo kenapa, La? Apa yang mengganggu lo?”

Instingnya selalu tepat untuk hal seperti ini dan aku tak bisa mengelak. Aku menatap kosong ke arah laptopku yang tertutup. Menengguk hot cappuccino dari cangkirnya, lalu melirik Nadine kembali.

“Kenapa, La? Tentang Andre?” lagi. Tebakannya tepat. Jujur, aku belum pernah cerita mengenai hal ‘ini’ kepada orang lain, selain kakak ku, bahkan Nadine sekali pun. Meski tak seharusnya aku berlaku begini. Maksudku, aku yakin Nadine mampu menjaga apa yang aku ceritakan, karena itu lah ia kuberi julukan ‘secret keeper’, karena telah banyak aibku yang kubagi dengannya. Tapi tidak.. Umm, belum untuk yang satu ini. Aku belum siap sampai detik ini. Aku pikir sudah waktunya aku membagi sedikit bebanku kepada Nadine.

Aku merespon dengan anggukan lemah. Nadine menjulurkan tangannya dan menggenggam tanganku erat. Persis apa yang Andre lakukan pada malam itu. Apa yang ia lakukan menyadarkanku bahwa aku punya orang-orang yang sayang dan menaruh perhatian padaku. Seharusnya aku bersyukur, bukan malah mengabaikannya.

“Nggak apa-apa kalau lo belum mau cerita,” ia mengusap punggung tanganku. “Tapi kalau lo butuh seseorang yang setia mendengarkan cerita lo selama seharian penuh ditemani dua bucket es krim dan satu plastik cadburry serta ayam geprek bu rum, lo tau harus ke siapa.” Kalimatnya membuatku tak mampu untuk tidak tersenyum. Aku tau dia akan begitu, she’s always do that.

Sejurus kemudian ia beranjak dari kursinya, bersiap kembali ke belakang bar. Langkahnya mulai meninggalkan meja tempat kami berbicang sebelum ia menghentikan langkahnya karena namanya ku panggil. Ia berbalik arah dan aku berkata, “Nad, gue boleh minta tolong lo? For being my secret keeper, again?” Ia mengangguk dan tersenyum.

---

“Mbak Nadine, ini kita nggak apa-apa pulang duluan?”

“Iya, nggak apa-apa, ini paling sebentar lagi kita selesai kok.”

“Oke deh, aku sama Key pulang duluan ya, Mbak. Mari mbak Laila.”

“Take care, Put, Key,” Nadine melambai ke arah Putra dan Key –pegawai Nadine, yang telah menutup pintu masuk dari luar. Aku balas dengan tersenyum tipis pada keduanya.

“So,” ia menyesap gelas berisi americano. “Anything else you want to talk?”

Aku melirik jam tanganku. Pukul satu lewat lima belas. Aku mendengus pelan, lalu meminum cappucino-ku yang ketiga.

“Its okay babe, santai aja. Gue masih sanggup dengerin sampai ayam berkokok nanti kok,” ia mengerling ke arahku dan kubalas senyum getir.

“Gue,” aku menahan kalimatku. Menarik nafas dalam. Nadine mencondongkan sedikit badannya. “Laper, Nad.”

Nadine melempariku dengan tisu yang telah tergumpal. Tisu yang kugunakan untuk menahan air mataku agar tak jatuh membasahi permukaan meja. Kurasa berjam-jam dihabiskan dengan menceritakan kisahku tidak hanya membuat otak dan hati terkuras, melainkan dapat menimbulkan gejolak pada perut.

Kami berakhir di gudeg bromo tak jauh dari daerah kafe milik Nadine. Gudeg ini tergolong unik karena baru buka ketika dini hari. Meskipun begitu, antrean pembeli gudeg bromo selalu panjang. Menandakan kehidupan Jogja tak pernah mati baik siang maupun malam hari.

“Eh, gue penasaran deh, gue kok jarang ngeliat lo main handphone tadi? Nggak chatting sama Andre?” ucap Nadine sambil menyantap gudegnya.

“Dia lagi ada gigs di Solo sama Alchemy. Dia minta gue buat ikut sih, tapi gue bilang lagi mau girlie time dulu sama lo,” aku tersenyum.

“Ampun deh yang pacarnya anak band,” ia terkekeh. “Bisa kali duet di kafe gue. Tarik si Andre ke jazz tuh.”

“Eh, jangan salah, dia bisa kali main jazz,” responku cepat.

“Serius lo?” Aku mengangguk. Andre memang berbakat dalam bermusik.

“Gue sih mau aja tampil di kafe lo sama Andre. Bedanya gue masih bisa dibayar sama owner-nya cuma pakai dua scope gelato, tapi kalau Andre kurang tau deh, harus diskusi sama manajernya dulu,” candaku.

“Yeee gitu amat sama teman sendiri,” kita tertawa bersama sebelum kembali tenggelam dalam kunyahannya masing-masing.

“Eh, La, tentang cerita lo tadi,” Nadine kembali membuka percakapan.

“Hmmm?”

“Gue jadi kepikiran sama gue sendiri,” Nadine menaruh sendoknya, lalu menatap ke arah antrean sebelum kembali kepadaku. “Lo tau kenapa gue lebih milih buka kafe di sini dibandingkan di Bandung?”

“Waktu itu lo pernah bilang kalau pasarnya lebih bagus di Jogja daripada Bandung, kan? Dan sama kayak gue, lo masih mau merantau. Perbedannya cuma di alasannya doang sih. Lo nggak pulang demi kerjaan, merajut mimpi lo. Sedangkan gue? Gue hanya pecundang yang mencoba kabur dari kenyataan.” Aku merasakan tangan Nadine kembali menggenggam tanganku.

“Hey, babe, i wanna tell you something. Oke, kalau dibilang pasar di sini lebih baik. Tapi sebenarnya gue punya pertimbangan lain. Guess what? Gue menghindari Alfa, La,” ia tertahan. “Gue nggak sekuat itu, La. Gue rindu rumah, tapi gue juga nggak bisa kalau harus terus menerus ketemu Alfa. Gue tau dia, La. Kalau gue buka kafe di sana, gak ada alasan baginya untuk gak datang ke tempat gue. Gue cuma... Gue cuma belum bisa maafin dia. Gue belum bisa damai sama masalah gue sendiri, La. Meskipun banyak cowok yang coba deketin gue, tapi jujur, belum ada yang bisa gantiin posisi Alfa dan begonya gue masih bisa galau setelah apa yang pernah dia perbuat.

Seharusnya gue yang dengerin cerita lo, tapi sekarang malah gue yang cerita. Meskipun apa yang gue alamin masih nggak sebanding dengan beban yang lo tanggung, lo harus coba berdamai sama masalah lo, La.” Ia terisak, namun masih tampak untuk mengendalikannya.

“Its okay, Nad, anggap aja malam ini jadi malam jujur-jujuran kita,” jawabku dengan senyum, serta kini giliran tanganku terjulur untuknya. Tuk meresapi apa yang ia rasakan.

---

Aku merebahkan diriku ke atas kasur, menerawang langit-langit kamar dengan pikiran berkecamuk. Berdamai dengan masalah sendiri. Teringat aku pada perkataan Nadine tadi. Aku sudah mencobanya berkali-kali, dengan presentase keberhasilan nol persen.

Aku terlampau sering merasakan kehilangan. Bahkan, aku sudah menganggap kehilangan seperti nama tengahku sendiri. Jadi tiap kali aku merasakannya, aku tak tahu kata apa yang tepat mendefinisikannya, seperti tak ada apa-apa, tanpa kesedihan, tanpa air mata berarti.

Namun kali ini berbeda, orang yang kini mewarnai hari-hariku ialah orang yang kuharpkan berakhir jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun aku tersadar, harapan itu hanya sebatas harapan belaka, tak nampak akan jadi nyata, bahkan hanya untuk kemungkinan sekali pun.

Tring.

Ponselku berbunyi, nama Andre terpampang di pop up message Line.

“Still awake?”

Ku tatap pesan itu cukup lama. Sampai akhirnya memutuskan untuk menekan tombol kunci dan meletakkan ponsel di sebelahku.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, dan tanpa sadar air mataku telah membasahi sekujur pipiku. Aku menarik boneka panda pemberian Andre pada perayaan tanggal jadi hubungan kita yang pertama tahun lalu ke dalam dekapanku, lalu aku mengucap lirih, “Ndre, maafin aku.”

 to be continued

Saturday, March 11, 2017

Chapter IV - Fear




Chapter I
Chapter II
Chapter III

---

Gue terbangun karena sinar matahari menyusup masuk melalui celah jendela kamar. Mengenai tepat bagian wajah. Menimbulkan kehangatan yang mengganggu. Sayup-sayup terdengar suara televisi. Perlahan gue membuka mata dan menemukan bidadari duduk bersandar pada dinding ranjang.

Tunggu, ini gue masih hidup, kan?

Gue memicingkan mata, memastikan sosok di hadapan gue. Rambut hitam kecoklatan yang dicepol dengan ikat rambut violet. Jumper abu-abu belel. Mata belonya terfokus ke arah televisi. Sebuah mangkuk biru berada di tangannya serta mulut penuh dengan makanan.

“Hoi, sadar. Bangun-bangun langsung bengong gitu ih,” bidadari itu menyentakkan jarinya tepat di muka gue.

Oh, Laila.

“Ngapain?”

“Sarapan. Aku beliin buat kamu juga. Bubur doang tapi. Ada di meja belajar, ya,” ucapnya tanpa menoleh, tetap dengan gerakan mengunyahnya.

“Maksud aku, kamu ngapain ke sini pagi-pagi?” Gue mendekap guling. Mata gue perlahan memejam kembali.

“Bangunin kamu. Selesai makan ini tadinya mau ngambil ember di kamar mandi terus nyiram kamu. Dan sekarang udah jam 9 lewat, kamu mau bimbingan skripsi jam 10, kan?”

Gue membelalak kemudian bangkit. Mampus. Gue lupa.

“Tuh kan, pasti lupa deh,” ujar Laila. Gue cengengesan. “Makan dulu, Ndre, masih sempet kok.” Ia melirik sambil tersenyum. Senyum favorit gue.

Gue bangkit dan bergerak menuju meja tempat Laila menaruh bubur itu. Membuka plastik pembungkusnya, kemudian menyantapnya dengan nikmat. “Ndre, tadi Dian nelfon kamu, aku yang angkat.”

“Ada apa?”

“Minta konfirmasi kamu. Soalnya 3 minggu lagi Alchemy manggung di Bandung.”

“Terus, kamu iyain?” dia mengangguk. Gue tepok jidat.

“Tenang, aku pastiin jadwal kamu aman kok. Makanya sekarang kamu bimbingan. Semangat ngerjain skripsinya. Biar setiap ada panggilan manggung nggak repot mikirin jadwal yang takut bentrok.” She already has become my private manager. And i love when she do that managers things.

Gue memang memberikan kunci duplikat kamar gue ke Laila. Just in case kalau kunci gue hilang gara-gara keteledoran gue. Namun, semenjak gue gencar mengerjakan skripsi, hampir tiap hari Laila mampir hanya sekedar memastikan gue nggak telat ketemu dosen pembimbing. Juga nggak lupa dia selalu membawakan sarapan kala datang. Pagi ini contohnya.

“Kamu abis dari sini mau kemana?” tanya gue sambil menikmati bubur yang dibawa Laila.

“Ke cafenya Nadine paling.”

“Oh, ngomongin buat nanti malam?” Laila mengangguk. Nadine merupakan teman kuliah Laila sekaligus owner sebuah cafe yang berbasis di daerah Demangan. Nanti malam cafe milik Nadine merayakan first anniversary mereka serta meminta Laila tampil sebagai performer dalam sesi live music.

“Ndre, aku pinjem Blacky, ya?”

“Emang mobil kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa, Ndre, aku lagi kangen Blacky aja.”

“Terus aku ke kampus naik apa? Mobilku kan lagi dipinjam Bram.”

“Pakai mobilku aja, Ndre, ya ya ya?” pintanya memelas. Sial. Dia tau banget tatapannya yang teduh itu selalu berhasil menaklukan hati gue kalau ia sedang memiliki permintaan.

“Tapi, La, nggak sembarangan orang bisa naik Blacky tau,” Laila menaikkan satu alisnya, seakan bertanya, kenapa gitu? “Blacky itu, sebelum dinyalain harus dielus-elus dulu, di sayang, terus diengkol secara perlahan. Pokoknya repot deh, harus sama yang punya.”

“Ndre,” Laila menghela nafas.

“Apa?”

“Mau tau nggak cara lebih mudah nyalain Blacky?” gue menggeleng. “Bawa ke bengkel, Ndre, udah berapa lama Blacky nggak kamu service.” Berapa ya? Satu semester? Entahlah, mungkin lebih.

“Boleh, sekalian kamu service ya, La,” jawab gue semangat.

“Tapi kamu traktir aku, ya?”

“Siap. Burjo, kan?”

“Matamu!” gue tertawa.

“Terus apa dong?” tanya gue lagi.

“Gelato!” teriaknya sumringah.

“Deal!”

“Tiap hari selama sebulan,” Laila menahan tawa.

“Matamu!” dan tawanya pecah.

Bagi gue, cinta itu undefined. Susah menemukan definisi yang tepat untuk satu kata ini. Cinta nggak melulu harus diungkapkan dengan bilang, ‘I love you’ ke pasangan kita puluhan kali dalam sehari. Atau menyiapkan makan malam romantis acap tiap kali merayakan anniversary. Cinta bisa lebih lucu dari itu, bahkan hanya dengan kelakuan orang yang kita cintai. Meskipun apa yang dilakukannya sangat menyebalkan. Gue sempat membaca sebuah kutipan yang mengatakan, love is spending the rest of your life with someone you want to kill and not doing it because you’d miss them. Yap, dan Laila salah satunya. Dia rese, menyebalkan, cerewet, perusak bagian tubuh orang lain (telinga gue), tapi hal-hal demikian justru kerap membuat gue rindu akan sosoknya. Termasuk apa yang diperbuatnya pada pagi hari ini.

Gue bersiap ke kampus. Menaiki mobil Laila. Menyimpan draft skripsi serta ransel di kursi penumpang. Menyalakan mobil dan seketika gue dapati pemandangan nggak enak terpampang. Indikator yang menandakan kapasitas bensin berkedip berulang kali, tanda bahwa mobil ini sekarat. Pantas nenek sihir tadi minta tukar kendaraan. Satu dari ratusan kejahilan Laila. Gue bersandar pada jok, mengirim pesan kepada Laila.

‘Lain kali gak usah sok bilang kangen sama Blacky. Awas nanti kalau ketemu!’ sent.

‘:-p’ hanya itu balasan dari Laila. Sebuah emoticon tanpa aksara. Secara nggak sadar gue tersenyum dan mendesah pelan. “Untung gue cinta lo, La.”

---

Pikiran gue kerap melayang melewati lorong ruang dan waktu menuju pada saat bagaimana semesta mempertemukan gue dan Laila dulu. Kadang gue lakukan hal ini kala menghadapi hari yang buruk, seperti mendapat kabar kalau dosen pembimbing gue pergi ke luar kota secara mendadak, seperti saat ini. Dimana sewaktu gue mengingat detail itu kembali, securah senyuman tersungging dari bibir gue.

Suatu malam dipenghujung tahun 2012, gue dalam perjalanan bertemu dengan Bram dan Dian untuk membahas lagu baru Alchemy yang gue ciptakan. Gue dan Blacky menyusuri jalanan Jogja yang kala itu cukup padat. Baru setengah perjalanan, hujan mengguyur Jogja dengan derasnya, membuat tiap pengendara motor panik. Menghentikan kendaraan mereka di tepi jalan. Membuka jok, mengambil jas hujan serta memakainya dengan terburu-buru.

Sedangkan gue memutar gas lebih dalam sambil memperhatikan tepi jalan. Hampir semua tempat sudah dipenuhi pengendara motor yang tidak membawa jas hujan, termasuk gue. Jas hujan gue tertinggal setelah dikeluarkan dari tempatnya karena harus gue jemur diakibatkan hujan dengan intensitas sama membasahi Jogja pada malam sebelumnya.

Setelah tak tahan lagi dengan derasnya hujan, gue menepikan Blacky dimana pun itu tanpa melihat nama tempatnya. Dan tersadar kalau gue berhenti di sebuah cafe. Gue menunggu di pelataran cafe tersebut, berharap hujan segera reda. Gue mengigil, pakaian gue basah kuyup. Gue mengeluarkan ponsel dari saku yang layarnya sedikit basah, pengin memberitahu Dian dan Bram kalau gue akan terlambat datang—atau bahkan tidak sama sekali. And then shit happens; daya ponsel gue habis. Fuck.

30 menit kemudian gue duduk di sebuah sofa panjang di lantai dua cafe tersebut. Tubuh gue masih gemetar menahan dinginnya memakai pakaian basah serta ditambah suhu minim dari air conditioner. Sedangkan tangan gue menggenggam secangkir Hot Americano. Gue sungguh membutuhkan kafein untuk menetralkan hari buruk gue. One of my worst day.

Kala itu, hanya ada dua orang yang berada di sana. Gue dan seorang gadis dengan beanie ungu yang duduk di sudut ruangan dekat jendela berhadapan dengan tempat gue duduk. Dengan sepasang earphone terselip di telinga. Wajahnya cerah diakibatkan pantulan cahaya dari laptop yang sedang ia tatap. Sesekali ia menoleh ke jendela, memproyeksikan bayangannya sendiri di jendela tersebut.

She’s pretty enough, i think. Gue memperhatikan gadis itu cukup lama. Mata bulatnya terkunci pada layar laptop dan beberapa kali ia tersenyum. Shit, her smiles also sweet. Mungkin ia sedang ber-chatting ria dengan pacarnya, gue menerka-nerka. Kegiatan gue hanya sebatas memandanginya entah berapa lama. Ponsel gue mati dan gue nggak tau harus ngapain lagi.

Gue pernah baca sebuah cuitan di Twitter, isinya begini, ‘65% orang mempunyai kemampuan merasakan seseorang yang melihat dia’. 

Gadis itu melirik ke arah gue. Mata kami sempat bertemu, seketika gue buang buka. Menahan malu karena tertangkap basah meperhatikan dia. Namun anehnya, gue merasakan hal yang sama. Masih dengan wajah tertunduk menatap cangkir yang mulai kosong, sesekali mata gue ‘mengintip’ ke tempat gadis itu duduk. Dan gue dapati beberapa kali dengan gerakan cepat, ia melihat gue.

Hujan belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Saat gue kembali memperhatikan gadis itu, gue menyadari ternyata ia menggunakan MacBook. Hal itu membuka kemungkinan bahwa ia menggunakan ponsel dengan merk yang sama.

Setelah mempertimbangkan dengan matang, gue melangkah mendekati meja sang gadis. Jantung gue berdegup cepat. Bukan, bukan karena gue merasakan jatuh cinta, tapi gue emang terlalu malu untuk melakukan hal seperti ini.

“Permisi,” ucap gue. Ia menghentikan aktifitas mengetiknya. Menoleh, kemudian melepas satu earphone-nya.

“Ya? Ada yang bisa saya bantu, Mas?” suaranya... Lembut.

“Eng.. Anu.. Mbak pakai iPhone?” dia mengangguk. “Eng... Itu.. Punya charger nggak, Mbak?” sumpah, gue nggak bisa ngebayangin muka gue gimana.

Dia tertawa. Manis. “Ada kok, Mas. Mau pinjam?” gue iyakan. “Gak usah grogi gitu kali, Mas, saya nggak galak kok.” Lanjutnya dengan senyum sambil menyerahkan charger kepada gue.

“Eh, iya, Mbak, makasih,” jawab gue menerima uluran tangannya. Gue masih mematung di sisi meja gadis itu. Matanya kembali menatap layar laptop.

“Mbak,” panggil gue.

“Hmm?” ujarnya tanpa mengalihkan pandangan.

“Boleh saya charge di sini? Biar Mbak percaya kalau saya nggak ngambil charger punya Mbak,” kata-kata itu meluncur begitu saja. Gue tersadar kalau salah ngomong. Tolol, Ndre, tolol.

Ia menatap gue sejenak, lalu meringis menahan tawa. “Boleh kok, Mas,” ucapnya diakhiri segurat senyum manis.

Kini kami duduk berhadapan dan kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ia masih dengan laptopnya. Gue sibuk dengan ponsel yang akhirnya menyala, membalas beberapa pesan serta memberi kabar kepada dua orang yang menunggu kedatangan gue. Benar saja, terdapat beberapa misscall dari mereka. Tak ketinggalan mereka menghujani kolom chat gue dengan spam.

‘Woy kampret, dimana?’ tanya Bram di WhatsApp. 35 menit lalu.

‘Neduh. Hujan. Gak bawa jas hujan. HP lowbatt.’

“Pasti pas nyala banyak banget pesan yang masuk, ya?” ia memecah keheningan.

“Banget. Udah janjian sama teman tapi hujannya nggak santai, batal deh.”

“Kenapa gak pinjem charger dari tadi aja?”

“Malu,” gue menjawab dengan menundukkan kepala. Bocah banget lo, Ndre.

“Bedanya sama barusan apa?”

“Eh, sama aja ya?” ia tertawa. Tak lama berselang suasana berubah jadi hangat. Akhirnya gue tau nama gadis ini, Laila. Such a nice name. Kuliah semester 6 di kampus yang sama dengan gue. Mengambil jurusan ekonomi bisnis. Dan juga anak rantau seperti gue.

Gue jadi tau dia beberapa kali mengunjungi cafe ini karena suasananya tidak terlalu ramai. Cukup mendukung ia untuk menulis artikel atau cerpen yang ia muat di blog pribadinya atau ia kirimkan ke beberapa media online. Ternyata sedari tadi ia tersenyum sendiri karena geli membaca dialog yang ia bangun. Mendengar hal itu timbul perasaan lega dalam diri gue karena tau bahwa terkaan gue tadi salah.

Obrolan-obrolan berikutnya mengalir begitu saja. Menghilangkan kecanggungan yang sempat timbul. Gue bukan tipe cowok yang mudah tertarik dengan seorang gadis. Tapi Laila, ia berbeda. Ada sesuatu yang membuat gue ingin mengenalnnya lebih jauh. Tidak hanya sebatas stranger yang meminjam charger ponsel di sebuah cafe, kemudian kembali menjadi stranger setelah melangkah keluar dari cafe ini begitu saja.

I think i’m in love with her at first sight.

Hujan mulai mereda. Laila merapikan barang-barang miliknya dan memasukkan semua ke dalam sebuah totebag abu-abu. Gue memperhatikan tiap gerak yang ia ciptakan. Tak lupa menyerahkan kembali charger yang gue pinjam lalu mengucapkan terima kasih.

Ia beranjak pergi. Gue masih duduk terpaku dengan pikiran berkecamuk. La, jangan pergi dulu, gue masih mau ngobrol. Dikira lo siapa, Ndre, nahan-nahan dia? La, gue mau kenal lo lebih jauh. Dikira weirdo, Ndre. La, bisa minta ID Line? Terlalu agresif.

Laila kini berada di ambang tangga.

“La,” dia berhenti tanpa menoleh. “Can we get some coffee another time?”

Ia memutar badan dan tersenyum—senyuman terindah malam itu, “Sure.”

---

“And last performer, dari sahabat aku yang dulu meyakinkan aku untuk membuka cafe ini. Ia yang mengusulkan adanya live music di sini, serta ia pribadi bersedia mengisi sesi live music tiap weekend. Perempuan cantik, dengan suara merdu dan petikan gitarnya mampu menyihir siapapun yang mendengarnya. Tapi jangan macam-macam ya, dia udah ada yang punya. Cowoknya bassis band rock terkenal dan sekarang juga ada di tengah-tengah kita,” Nadine mengerling ke meja kami. Pengunjung melihat arah tatapan Nadine dan suasana menjadi riuh dengan bisikan ketika melihat gue ada di sini.

Kami hanya tersenyum. “Dia cuma membual, Ndre.” Laila berbisik.

“Hanya pada bagian, ‘bassis band rock terkenal’ doang, La, sisanya kenyataan,” gue balas dengan senyum.

“... Beri tepuk tangan untuk kesayangan aku, Laila Indrayanti,” suara Nadine diikuti riuhnya tepuk tangan pengunjung yang hadir meramaikan malam ini. Nadine menyerahkan microphone kepada Laila dan memberinya sedikit kecupan di pipi sebelum meninggalkannya sendirian di mini stage itu.

“Lo beruntung, Ndre, punya cewek sekomplit Laila,” Nadine kini menempati kursinya. Gue dan Laila memang diminta untuk duduk satu meja dengan Nadine, special guest katanya.

Gue hanya tersenyum menanggapi perkataan Nadine. Lalu menatap kembali ke arah perempuan dengan short dress hitam yang membuatnya tampak anggun. Ia duduk di atas kursi kayu tinggi dengan jemari lentiknya memetikan senar gitar sehingga menghasilkan nada-nada indah. Suaranya sungguh membuat teduh pendengarnya.

“Last but not least, i want to dedicate this song for someone special. Someone who give me a chance to feel a true love. Someone who hold me when i’m down. And someone who i loved that much,” mukanya memerah, kemudian beberapa suitan terdengar dari pengunjung. Tatapan serta senyum gue nggak pernah lepas dari fokusnya.

Jemari Laila mulai beraksi. Memulai intro dari lagu terakhir malam ini. Ia membawakan lagu dari Dido dengan judul Thank You.

I drank too much last night, got bills to pay
my head just feels in pain
I missed the bus and there'll be hell today
I'm late for work again
and even if I'm there, they'll all imply that I might not last the
day
and then you call me and it's not so bad
it's not so bad and

Matanya menyapu sekeliling dan terhenti saat kedua mata kami bertemu. Tunggu, ada yang berbeda dari Laila. Matanya tampak... Berkaca-kaca. Gue menoleh kepada Nadine, ia juga menyadari ada ‘sesuatu’ tapi hanya bisa mengangkat kedua bahu dan menggeleng pasrah.

I want to thank you for giving me the best day of my life
Oh just to be with you is having the best day of my life

Mendadak perasaan ini kembali timbul. Perasaan takut akan kehilangan sosok perempuan yang gue sayang. Ada sesuatu dari Laila yang tidak gue ketahui. Sesuatu yang kompleks. Seperti sebuah dinding tinggi yang tak bisa gue panjat. Dia pernah mengatakan ini saat status kita beralih menjadi sepasang kekasih dahulu. 

Sebenarnya Laila sudah diwisuda setahun lalu, namun ia memutuskan tetap tinggal di Jogja. Ia mengatakan malas jika harus bertemu ibundanya. Kenyataan menyedihkannya adalah gue nggak tau apa yang sebenarnya terjadi antara Laila dengan ibunya dan ia selalu menolak membicarakan hal itu.

Push the door, I'm home at last and I'm soaking through and
through
then you handed me a towel and all I see is you
and even if my house falls down now, I wouldn't have a clue
because you're near me and

Dan gue dari dulu mempunyai pemikiran bahwa tiap orang punya dimensi personal yang berbeda. Tempat dimana ia tak mau disentuh oleh siapa pun. Termasuk orang yang ia sayangi. Gue anggap Laila punya dimensi itu dan gue harus berdiri terpaku pada horizon batas dimensi personal Laila. Menjalani hubungan dengan perasaan was-was merupakan konsekuensi pasti yang gue dapat.

I want to thank you for giving me the best day of my life
Oh just to be with you is having the best day of my life

Laila menyelesaikan lagunya. Menebar senyum getir kepada mereka yang memberikan standing applause. Sedangkan gue menangkap ada maksud yang coba disampaikan Laila secara implisit. Gue paham betul Laila, ia tak akan membahas ini apabila gue tanya nanti.

Entah pesan apa yang coba Laila sampaikan dari lagu itu, gue hanya berharap kemungkinan buruk tidak datang. Meskipun malam ini ketakukan itu muncul dalam kuantitas terbesar selama gue berpacaran dengannya.

to be continued